Terbelenggu Oleh CEO Angkuh

Terbelenggu Oleh CEO Angkuh
72. Salah Mengira


__ADS_3

"Tuan, tadi ibu Amira menelpon jika ibu akan datang ke sini."


"Untuk apa?" Tanya Arya sewot


"Saya sendiri tidak tahu, Tuan. Ibu juga akan mengajak ibuku datang."


"Baiklah, Tidak ada yang bisa mencegah mereka untuk datang ke sini. persiapkan dirimu dengan baik dan hari ini tidak perlu datang untuk bekerja.Aku peringatkan padamu untuk selalu mengingatgat bahwa kau harus tunjukkan pada mereka seolah-olah tidak ada yang terjadi, jangan membuat mereka curiga. Aku akan pergi ke perusahaan sekarang. Jika kau berani mengatakan sesuatu pada mereka, akan ku pastikan tanganmu hanya tinggal satu."


"B-baik, Tuan. Apakah saya bisa masuk ke kamar sekarang?"


"Kenapa kau meminta? hukuman mu sudah selesai bukan. lain kali jangan membuat kesalahan lain yang akan membuatmu dihukum lebih dibandingkan tadi malam." Ujar Arya pada Dini yang kemarin malam ia tidur di luar rumah di suasana malam teras yang dingin tanpa alas, bantal, hanya selimut


Arya berlenggang dengan gagah dan angkuh keluar dari rumahnya.


Dini segera bersiap-siap menggunakan pakaian bagus, yang tidak lusuh dan pantas untuk dilihat orang lain. Keadaanya fresh dibandingkan hari-hari kemarin seperti tubuh yang tidak terawat.


"Rumahnya besar, mewah, dan bagus sekali.sepertinya nyaman jika tinggal di sini, ada lahan hijau kosong yang luas cocok untuk bermain.apalagi jika anak-anak mereka yang akan berlarian di sana." Ucap Bu Amira pada Bu Lia di mobil


"Iya, Bu Amira tempatnya nyaman sekali."


"Di mana penjaga rumah ini. Apakah dia tidak tahu jika ada tamu yang datang?" Jengkel Bu Amira


"Sepertinya tidak ada penjaga di sini, Bu Amira. Pintu gerbang nya pun tidak terkunci.mungkin Orang rumah membiarkannya terbuka saja." Ujar Bu Lia


"Sepertinya begitu. Sayang sekali rumah sebesar ini tidak ada yang menjaga. Bagaimana jika ada orang jahat yang masuk sembarangan mencuri barang di dalam rumahnya. Arya memang ceroboh." Bu Amira yang mengungkapkan kekesalannya


"Ya, Sudah kita masuk saja. mungkin Dini ada di dalam."


Bel dibunyikan beberapa kali namun, tidak ada sahutan dari dalam dan pintunya pun tidak terkunci.


"Apakah tidak ada orang di dalam? atau tidak ada seseorang yang mendengar. Tapi pintunya tidak terkunci." Bingung Bu Lia


"Kita masuk saja! mungkin Pelayan atau Dini tidak mendengarnya." Ucap Bu Amira membuka pintu dan masuk ke dalam


Hoeekk...hoeekk...


"Ini penyebab angin malam kemarin tidur di luar, aku sampai masuk angin." Ujar Dini dengan sudah kelelahan muntahnya tidak berhenti


"Tunggu...kau dengar itu!!" Jeli Bu Amira mendengar suara orang mual saat masuk menelusuri rumah


"Suara orang yang mual!"

__ADS_1


"Itu mungkin saja Dini! ada alasan kenapa dia tidak membuka pintunya, karena dia sedang mengalami morning sickness." Ujar Bu Amira kegirangan


"Kenapa Arya tega meninggalkan istrinya bekerja yang sedang hamil kesusahan seperti ini." Jengkel lanjutnya Bu Amira


Bu Lia dan Bu Amira pergi menaiki tangga menuju toilet dengan mencari arah menyusuri sumber suara.


Dalam toilet dengan pintu yang terbuka, Bu Amira dan Bu Lia melihat Dini yang sedang muntah di wastafel. Hal itu mencuat spekulasi mereka yang semakin tinggi.


"Din...kau tidak apa-apa, Nak." Ucap Bu Amira datang-datang


"Ibu,,,kalian sudah datang. Maaf aku tidak membukakan pintu untuk kalian." Ucap Dini dengan suara lemahnya


"Tidak apa, Nak. lagipula tidak baik jika kau naik turun tangga di rumah besar ini." Ucap Bu Amira dengan cengengesan


Dini mengerutkan dahinya.


"Memangnya kenapa?" Tanya Dini bingung


"Ah, Tidak ada, Nak. Kau pasti sangat tersiksa karena harus mengalami hal ini setiap pagi." Ujar Bu Lia


"Tidak, Bu. ini pertama kalinya kembali aku masuk angin sampai mual dan muntah setelah hari itu." Ujar Dini polos


Ucapan Bu Amira semakin melantur membuat Dini semakin kebingungan.


"Ibu apa kabarmu?" Ucap Dini pada Bu Lia


"Ibu sangat baik." Jawab Bu Lia


"Di mana Bapak? Kenapa tidak ikut bersama kalian."


"Bapak sedang memantau kebunnya. Syukur Alhamdulillah berkat Bu Amira, sekarang bapak memiliki banyak pekerja yang mengurus kebunnya. Omset nya pun berbeda dari yang dulu." Ucap Bu Lia


"Alhamdulillah, Aku senang mendengar kalian bahagia." Ucap Dini


"Ibu juga senang melihatmu. Aura setelah pernikahan di wajahmu berbeda, kau pasti bahagia bersama suamimu." Kira Bu Lia


Dini termenung dan menahan dada yang begitu sakit dan sesak saat ibunya berbicara tidak seperti pada kenyataannya.


"Kali ini kami ingin mengajakmu bersama kami ke suatu tempat." Ucap Bu Amira


"Kemana?" Tanya tegun Dini

__ADS_1


"Nanti kau akan tahu. Sekarang ikut saja bersama kami." Antusias Bu Amira menarik Dini keluar dengan lembut


Di Rumah Sakit~



"Ibu kenapa kalian membawa ku ke rumah sakit? Siapa yang sakit?" Tanya Dini heran


"Tidak ada yang sakit, Nak. Kami hanya ingin memeriksakan mu. Kami ingin tahu keadaan perkembangannya.kau dan Arya juga sudah salah menyembunyikan kebahagiaan ini kepada kami."


"Sepanjang pembicaraan dari tadi, aku tidak mengerti apa yang mereka katakan.kenapa sikap mereka aneh kali ini." Gumam Dini benar-benar pusing dibuat oleh kedua orang tua


Melihat papan nama ruangan Dokter Kandungan Dini kembali dibuat heran dan pusing, kenapa Bu Amira dan ibunya membawa masuk dirinya ke dalam Ruang Dokter Kandungan.


"Dokter, ini menantu saya. Kali ini kami ingin memeriksa keadaan perkembangan si bayi dan ibunya!" Kalimat akhir Bu Amira sontak membuat Dini tercengang


"Baik ibu, Saya akan melakukan USG kepada menantu ibu untuk mengetahui perkembangan janin. Bu Dini silahkan berbaring!" Ujar Dokter ramah


"Ta-tapi aku sedang tidak hamil." Ucap Dini membela Dini namun, tetap saja dipaksa untuk berbaring


Kali ini Dini sudah berbaring~


Suster bersiap untuk mengoleskan jel pada perut Dini yang terlihat sedikit buncit dengan bajunya yang sudah tersingkap.


"Dokter, jangan lakukan ini.saya berkata jujur bahwa saya sama sekali tidak hamil."


"Kita akan lihat bersama-sama sebentar lagi ya, Bu." Ucap Dokter itu tidak percaya juga


Percuma saja Dini ingin menjelaskan dari Indonesia ke ujung dunia pun, tidak ada yang percaya mendengar pernyataannya.


...***...


"Bagaimana, Dok. Dengan perkembangannya? Ibu dan janinnya baik-baik saja kan. Tadi pagi menantu saya mual dan muntah-muntah, Apakah itu berakibat buruk bagi janinnya?" Ujar Bu Amira antusias mendengar perkataan dokter


"Emm...ini masalah yang rumit. Saya kurang percaya diri untuk mengatakan hal ini."


"Tidak apa-apa dokter, katakan saja!" Ucap Bu Amira memaksa


"Tidak ada tanda-tanda kehamilan pada ibu Dini. Dari hasil pemeriksaan saya, Ibu Dini hanya mengalami masuk angin saja. Mual dan Muntah bukan hanya disebabkan pada ibu yang sedang hamil saja." Ujar Dokter itu yang membuat Bu Amira dan Bu Lia hilang harapan terlihat dari raut wajahnya yang sedih dan kecewa


Karena ternyata mereka Salah Mengira~

__ADS_1


__ADS_2