Terbelenggu Oleh CEO Angkuh

Terbelenggu Oleh CEO Angkuh
68. Benci


__ADS_3

"Tidak perlu buatkan aku sarapan! Aku benci rasa masakan mu." Arya membandingkan piring berisi makanan yang baru saja Dini masak. Dini diam di samping meja makan sambil menghapus air mata yang mulai menetes.


"Air matamu tidak akan merubah apapun, jadi berhentilah menangis karena tidak ada gunanya! Kau membuatku semakin muak saja." Arya menyambar tas kantornya dan keluar berjalan dengan kemarahan sambil membanting pintu dengan kencang


Dini merosot jatuh ke lantai sambil masih sesenggukan menahan sesak di dada.


"Kenapa dia sebenci itu denganku?" Dini membersihkan pecahan piring dan makanan yang berhamburan berantakan di lantai sambil sesekali menyeka air mata yang anehnya tidak ingin berhenti


Hari ini seperti biasanya, Dini menghabiskan waktu di dalam rumah. Karena setiap hari Arya akan mengunci pintunya dari luar. Dia tidak mengizinkan Dini keluar dari rumah itu. Tidak memperbolehkannya bergaul dengan teman-temannya yang bahkan sudah lama tidak berjumpa setelah drop out itu.apalagi tidak pernah bertemu dengan orang tuanya setelah pernikahan selesai. Karena tidak ada hal yang bisa dilakukan dalam rumah, Di Rooftop tempat jemuran dia bisa melepas penat menikmati indahnya kota Jakarta yang terlihat dari rumahnya.


Saat merenung tanpa memikirkan apapun. Ponselnya bergetar, ada nama ibunya yang memanggil dari layar panggilan. Dini segera mengangkatnya panik, dia sedikit paranoid setiap menerima telepon dari seseorang. Takut jika ibunya selalu menanyakan kabar yang selalu ia usahakan dengan menjawab baik-baik saja, meski pada kenyataannya ia tersiksa.


"Assalamualaikum, Dini. Bagaimana kabarmu, Nak?" Ucap ibu Lia dalam telepon


"Waalaikumsalam,,, Alhamdulillah Baik, Bu." Jawab Dini


"Syukurlah, jika kau baik-baik saja. Ini pertama kalinya ibu mendengar suaramu setelah pernikahan mu itu. Sudah 1 bulan kita tidak bertemu." Ucap Bu Lia


"Iya, Bu. Dini senang bisa mendengar suara ibu lagi walaupun dalam telepon. Ada apa ya, Bu?"


"Tidak ada, Nak. Hanya ingin tahu keadaan mu saja. Bagaimana Nak, menjadi pengantin baru?" Ucap terkekeh ibunya dalam telepon membuat Dini menekan dadanya menahan sesak


"Ya begitu saja, Bu." Jawabnya lelah sambil berusaha menahan getaran di suaranya

__ADS_1


"Ibu dengar dari Bu Amira jika kau dan suamimu pindah ke rumah baru. Kalian tidak tinggal bersama Bu Amira lagi."


"Iya, Bu. Itu benar!" Jawab selalu singkat Dini


"Lalu, bagaimana dengan rumah baru ibu bersama bapak yang diberikan Bu Amira?" Tanya Dini


"Rumahnya sangat nyaman, bagus dan besar, Nak. Bapak dan ibu jadi tidak enak menempati rumah ini. Ibu juga bersyukur mendapatkan tanah yang bisa kami garap, sehingga kami tidak perlu membayar sewaan lagi."


"Kali ini tolong bahagia ya, Bu! Berhenti memikirkan kesedihan lain sampai ibu lupa untuk bersedih." Dini mencoba tertawa walau mungkin terdengar aneh


"Iya Nak, Pasti. kau sehat-sehat ya di sana bersama suamimu.kapan-kapan kalian datang ke rumah kami." Ujar Bu Lia


"Iya, Bu. Do'akan saja ya. Dini tutup dulu teleponnya ya, Bu. Assalamualaikum." Tutup telepon Dini


...***...


Menikah dengan perempuan yang paling Arya benci di muka bumi ini adalah seperti masuk ke dalam lubang kesengsaraan.setiap hari harus melihat wajah Dini saat di rumahnya.rasanya Dia ingin pindah planet saja daripada setiap hari harus berinteraksi dengan orang yang ia benci.


Dari awal sejak bertemu dengan Dini, ia sudah menimbulkan rasa benci padanya tanpa alasan.mungkin karena sikap angkuhnya yang kurang bisa berbaur dengan orang lain, dan keterobesiaan-nya pada Valerie sehingga tidak bisa membuka hati pada wanita lain.


Dia menganggap Dini adalah gadis yang aneh menurutnya. Dengan gaya pakaian yang norak dan sering membuatnya jengkel atas sikapnya yang polos tanpa arti.


"Sepertinya aku sudah melakukan pengkhianatan kenapa negera ini. Sehingga aku harus dihukum dengan menikahi wanita paling tidak aku inginkan di dunia ini." Ujar Arya duduk di singgasana kantor miliknya

__ADS_1


"Terlebih lagi alasannya menikah denganku yang membuatku ingin sekali menenggelamkannya di danau. Apalagi jika bukan uang, gadis miskin itu tentu saja tergiur dengan tawaran uang dari ibuku yang entah kenapa ingin saja ditipu oleh tampangnya yang sok polos dan baik itu. Tapi lihat saja, Aku tidak akan membiarkannya hidup bahagia.akan ku buat dia menderita selama hidupnya. Dia tentu saja akan mendapatkan ganjaran karena sudah bermain-main denganku." Ujarnya


Tak lama kemudian saat Arya sedang bergulat dengan dirinya sendiri, Damar datang dengan membawa berkas.


"Kenapa melamun seperti itu?" Tanya Damar melihat keanehan dalam sorot mata Arya


"Tidak penting untuk di bahas." Ujar dingin Arya


"Sebelumnya saya ucapkan selamat atas pernikahan anda dengan Nona Dini, Tuan. Saya tidak pernah menyangka jika kehadiran Dini di perusahaan ini akan membawa hubungan kalian sampai ke pernikahan." Ujar Damar sedikit menahan rasa sesak.Bagaimana tidak, dari dulu dia sudah menyimpan perasaan pada Dini namun, ketika berusaha mengungkapkan perasaannya Dini dengan lembut menolaknya


"Aku tidak ingin membahas pernikahan ini. Aku menganggap pernikahan ini tidaklah pernah terjadi, tidak ada orang yang tahu jika aku sudah menikah. Dan untukmu jika perlu bawa wanita itu keluar dari planet ini, itu lebih baik agar ibuku tidak selalu mendesak diriku dengannya." Cetus Arya


"Emm,,, saya ingin memberikan berkas jika proyek baru sudah selesai di bangun. dan saya juga ingin memberikan proposal untuk peresmian proyek baru itu."


Setelah membaca berkas dan proposal pengajuan peresmian pembukaan proyek baru. Arya menyetujui apa yang sudah tertera pada isinya dengan tanda tangan.


"Di mana aku harus menandatanganinya?" Tanya Arya


"Di sini, Presdir." Ucap Damar sambil menunjuk


Tanda tangan Arya yang berharga dan penting itu terukir di proposal yang berataskan materai 10000.


"Kita akan meresmikan proyek baru kita besok hari, agar lebih cepat beroperasi dan bersaing dengan perusahaan lainnya yang baru saja meluncurkan proyek baru." Ujar Arya

__ADS_1


"Baik, Presdir." Ucap Damar


__ADS_2