
Di sisi lain,
Mata Richo tak sengaja menangkap mata Bu Lia bertemu sampai menatapnya lekat. perasaan takut muncul kala tatapan mereka bertemu, perasaan hancur berantakan, terpancar dari balik mata mereka dengan Bu Lia yang menelisiknya.
Richo yang merasa tak tenang, menarik matanya ke arah lain. Dia melihat sosok orang yang ia kenali.
Saat Keluarga Pratama pergi membawa Dini dan Bu Lia melewati dirinya. Dan lagi-lagi detak jantungnya tidak bekerja dengan normal saat menatap dalam kedua bola mata milik Bu Lia.
Mereka berdua memilih diam dengan perasaan aneh yang terus muncul.
...***...
Di rumah sakit~
Akibat pingsan, Dini dibawa satu keluarga menuju rumah sakit dan sedang mendapatkan pemeriksaan di dalam.
"Kenapa semua ini terjadi? Dia sudah mendapatkan banyak penderitaan dan kita selalu diam saja." Tangis Bu Amira di dada Pak Barma. Sambil menunggu dokter keluar dari ruang pemeriksaan
"Ibu tenangkan dirimu. Aku tahu kita sangat bersalah, andai aku tidak nekat dan mengecek video itu lebih dulu, mungkin semua ini tidak akan terjadi." Ucap Luna
"Kau tidak bersalah Nak, kami semua tahu jika video dan foto itu hanya sebuah editan, kami lebih percaya jika video tersebut adalah Valerie dan Richo." Kata Bu Amira
"Kita tidak perlu mempermasalahkan masalah ini besar-besar, karena kita sudah mendapatkan Dini, kita tidak perlu memikirkan nasib orang lain karena suatu hari ia sendiri yang akan menyesal." Kata Darwin dengan konteks menyindir Arya
"Siapa sebenarnya anak itu. Aku seperti pernah melihat wajahnya. ia berada tepat saat putraku hilang.saat kecil dia datang bersama pria berbaju hitam itu." Gumam Bu Lia yang sedari tadi memikirkan Richo sampai melamun
Ya, Bu Lia dan Pak Malik pernah memiliki seorang anak laki-laki selain Dini yang bersama mereka. Dini merupakan anak kedua, dan anak pertama berjenis kelamin laki-laki yang hilang saat usia 8 tahun.
"Bu, Ada apa?" Tanya Pak Malik yang menyadarkan lamunannya
"Agh,,, Tidak Pak." Jawabnya samar
__ADS_1
"Tenang saja. Dini dan bayinya akan baik-baik saja." Duga Pak Malik mengira istrinya sedang mengkhawatirkan Dini
Dokter yang sama menjadi dokter kandungan Dini keluar.
Dengan wajah kecewa terpasang darinya.
"Ini bisa berakibat fatal. Saya sudah banyak menjelaskan agar ibu hamil tidak terlalu kecapean dan juga stress, sepertinya selama kehamilan Nona Dini banyak sekali guncangan hidup yang harus ia hadapi sampai mempengaruhi pikirannya.
Pengaruh stres pada Ibu hamil tidak hanya terjadi pada janin namun dapat berlanjut dan memberikan dampak negatif pada janin. Jika kalian tidak bisa menjadi seorang ibu hamil di rumah kalian, jangan pernah memaksa dan menekannya untuk memberikan kalian anggota baru pada kalian." Marah dokter itu
Lanjut berkata,
"Kondisinya sangat drop, maka dari itu Nona Dini akan dirawat inap sampai kondisinya mulai membaik." Kata Dokter dan langsung pergi begitu saja
Semua orang bersedih hari dan menyesal setelah mendengar perkataan dokter yang memarahi akibat kecewa pada mereka sebagai keluarga yang memiliki wanita hamil di rumah mereka.
Pak Barma dan Pak Malik memutuskan untuk pulang. Sedangkan Darwin, Luna, Bu Amira dan Bu Lia, menjaga Dini yang masih belum sadarkan diri.
Semua setuju dan pergi ke kantin yang terdapat di rumah sakit. meninggalkan Dini yang masih terbaring di ruangannya.
Setelah kepergian mereka sudah jauh dan tidak terlihat oleh pandangan mata. Seseorang yang menunggu mereka pergi dari tadi menyelusup masuk ke ruangan rawat Dini.
Kreatt...
Pintu terbuka dan ditutup dengan pelan-pelan.
Seseorang itu berjalan menghampiri Dini yang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit dengan pipi diberi perban plester akibat tamparan keras Arya tadi. Ia duduk dan menatap wajahnya dengan nanar.
"Aku datang untuk mendapatkan jawaban dari banyak pertanyaan yang terus bermunculan dalam benakku." Kata Arya yang kini berada di sana sambil menggenggam satu tangan Dini
__ADS_1
"Aku tetap tidak bisa menarik diriku sendiri agar tidak datang menemui mu di sini. Tetap saja aku ingin melihat wajahmu terus menerus walau hanya beberapa detik. Mengapa Din, kenapa kau melakukan ini di saat aku sudah mulai mencintaimu!" Pengakuan Arya
"Andai kau bisa mendengar pengakuan ini dari mulutku. Apakah kau tidak akan pernah mengkhianati ku?" Ujar Arya
"Aku mencintaimu, Din. Jangan memberiku luka yang menyakitkan seperti ini. Aku tahu tak mudah bagi seorang pria untuk mendapatkan cinta dari wanita baik seperti mu." Ia tak sadar mengeluarkan air mata
"Hari-hari bersama sudah banyak kita lalui dengan tawa dan bahagia berada di dekatmu. Aku pikir kita akan selamanya seperti ini. Aku sangat senang, tapi hari ini aku menarik mu jauh dariku lagi." Ucap Arya mengeluarkan keluh kesahnya yang membingungkan. Marah namun, perasaan aneh muncul dalam dirinya
"Untuk apa kau datang ke sini? Kau ingin membunuhnya di rumah sakit?" Darwin yang datang dan langsung marah
Arya berdiri dan matanya terlihat sembap.
"Hahaha... Kau menangis? Sejak kapan Arya Pratama memiliki air mata? Bukankah Tuan Arya yang hebat ini tak pernah tersakiti, selain menyakiti orang lain!" Hardiknya
Arya hanya diam karena perkataan Darwin benar.
"Aku sudah bosan selalu berdebat denganmu. Aku harap kau tidak pernah menganggu nya lagi mulai detik ini. Kau hanya duri dalam bunga mawar yang dapat melukainya jika selalu dekat denganmu. Sebelum aku bertindak kekerasan, Aku perintahkan kau pergi dari sini!" Bentak Darwin
Dengan pasrah Arya melangkahkan kakinya pergi meninggalkan ruangan itu.
"Dan satu lagi. Cepat urus penceraian mu dengan Dini ke pengadilan. Agar dengan mudah bagiku untuk menikahi Dini dan mengganti posisimu sebagai Ayah bagi anaknya. Aku bersedia dan bersenang hati, hatiku terbuka lebar memberi tempat untuknya." Sela Darwin
Membuat Arya berhenti sejenak.
"Sampai kapan pun kau tidak akan bisa menikahinya. Aku tidak akan pernah menceraikan dia." Kata Arya
Sampai tubuh Darwin meremang ingin sekali memukul kakaknya itu saat itu juga. Namun, Arya mempercepat langkahnya segera pergi dari ruangan itu.
"Apa alasannya tidak ingin menceraikan Dini? berapa banyak luka yang ingin ia berikan sampai tak cukup memposisikan Dini terus seperti ini. Apa tujuan dia sebenarnya?" Tanya Darwin pada diri sendiri karena kebingungan
Arya benar-benar membingungkan semua orang dengan sikapnya yang tidak konsisten. ia marah, kecewa, dan lebih mempercayai perkataan orang lain dibandingkan keluarganya sendiri. Namun, ia masih ingin menemui Dini dan bertanya banyak hal padanya.
__ADS_1