Terbelenggu Oleh CEO Angkuh

Terbelenggu Oleh CEO Angkuh
S2 74 - Jeritan Dini


__ADS_3

"Aku sangat ingin memiliki Dini seutuhnya tapi engkau tidak akan mengizinkanku untuk bertemu dengannya lagi yang sudah menjadi istri adikku dan ia pasti tidak ingin memaafkan ku. Maka hukuman yang pantas untukku adalah aku harus pergi jauh dari tempat ini agar aku tidak bisa kembali lagi."


Dan yang menjadi harapan terbesarnya adalah Arya hanya ingin melihat keberadaan Dini untuk terakhir kalinya. Tak ada lagi sesuatu di dunia ini yang bisa menarik perhatiannya. Tak ada sesuatu keinginan apapun dalam hatinya kecuali menghukum diri atas kesalahannya yang sudah menyiakan sang istri, Mungkin doa yang ia panjatkan tidak sempurna, Ia hanya meminta Dini kembali padanya bukan menjadi milik seutuhnya. Sehingga saat ia kembali, miliknya menjadi pria lain yang lebih sempurna dalam berdoa.


Justru Arya memarahi dirinya karena itu.


Keesokan harinya di saat waktu itu Arya menelpon Damar untuk meminta pesan dan izin, Arya berkata.


"Damar, Aku sudah mencoba berusaha melupakan Dini dalam ingatanku. Tidak ada tempat bagiku dengannya lagi karena dia tidak akan pernah memaafkan atas keputusan ku ini. Aku menelepon mu untuk berpamitan dan meminta siapkan tiket dan segera buatkan dokumen untuk menyerahkan hartaku pada Arsen dan juga Ansel. Mereka adalah pewaris Keluarga Pratama yang berhak mendapatkan semua itu."


Damar terkejut dan mengatakan


"Mengapa kau melakukan hal ini Tuan? Tolong jangan lakukan ini Karena Nyonya Dini sangat mencintaimu dan begitu juga dengan dirimu , kalian pasti akan bersatu kembali."


Arya menjawab.


"Tidak Damar, Aku sudah tidak bisa melihat wajahnya lagi dan inilah hukuman untukku karena sudah menyiakan wanita sebaik Dini. Mungkin dia kembali padaku hanya sesaat untuk memberikan sebuah pelajaran hidup saja."


Damar merasa sedih dan mengatakan.


"Mengapa selalu orang-orang baik seperti kalian yang terus menderita, Aku meminta maaf atas segala yang sudah terjadi pada mu yang tidak bisa mengemban tugas yang baik saat Tuan memintaku mencari Nyonya dan malah membuat 7 tahun penuh dengan rasa sakit."


"Itu sudah berlalu. Aku tidak mengingatnya lagi."


Damar akhirnya tak bisa mengatakan banyak hal lagi selain memberi doa. Jika ini sudah menjadi keputusan atasannya, Ia akan senantiasa menjadi bawahan yang siap kapan saja.


"Tuan, Semoga kau selalu bahagia di manapun kau berada."


Itulah akhir dari panggilan telepon mereka.


...***...


Dalam pernikahan kemarin ternyata Arya menemui Ayah dan Ibunya kembali dengan bersembunyi. Hanya kemarin ada Arsen, Arya belum sempat mengatakan seluruh keluh kesah pada orang tuanya. Kehadiran Arsen akan membuatnya semakin tidak berdaya.


Pak Barma menanyakan kepada Bu Amira.


"Apakah Arya sudah datang?”


Bu Amira menjawab.


"Belum, Arya mengatakan akan sampai sebentar lagi dengan menelusup masuk. Dan meminta kita untuk menunggu."


Dan pada akhirnya Arya datang tidak ada satupun yang melihat.


Bu Amira kembali sedih melihat putranya.


"Aku tidak sempat berpamitan apapun pada kalian hanya karena ada Arsen. Ibu ini waktunya aku akan pergi tolong berkati aku dengan semua doa mu di manapun aku berada." Ujar Arya


Bu Amira tidak tega dan mengatakan.


"Jangan pergi Arya karena Ibu sudah tidak memiliki putra siapapun."

__ADS_1


Pak Barma pun ikut sedih dan mengatakan.


"Mengapa kau harus menghukum dirimu seperti ini Arya? Tolong jangan pergi!"


Namun, Arya sudah mantap dengan keputusannya dan menyatukan kedua tangannya sambil berkata.


"Tolong jangan halangi aku kali ini dan aku membutuhkan doa yang menyertai dari kalian."


Bu Amira meminta Pak Barma memberikan doa pada anaknya yang tidak akan putus sampai kapanpun walau Arya sendiri tidak meminta.


Akhirnya Arya berpamitan dan kedua orang tuanya terlihat sedih.


Pak Barma mengatakan.


"Mansion kami selalu menunggumu, Nak."


Sementara Bu Amira mengatakan.


"Seharusnya kau tidak menandatangani surat perceraian dan keserakahan Darwin jika kau tidak ingin melepaskan Dini, Arya."


Arya hanya berpelukan dan mengucapkan selamat tinggal. Sebelum pergi Arya berpesan kepada orang tuanya untuk menjaga silaturahmi anggota keluarga saat dia tidak ada.


...***...


Saat Dini berlari meninggalkan Pernikahan itu. Di depan rumah Darwin tengah berdiri seseorang yang ragu untuk masuk dengan mobil yang terparkir.


"Tuan Damar, Di mana Tuan Arya." Ucap Dini bertanya


Walaupun sebenarnya Dini sangat merindukan Arya, Namun entahlah... Dini punya alasan tersendiri untuk memendam semua itu, yang pasti Dini sangat mencintai Arya dan masih merindukannya dan ingin kembali padanya.


Damar langsung menceritakan kedatangannya.


"Beberapa waktu yang lalu dengan sangat sedih dan Tuan ingin meminta maaf dan menanyakan bagaimana menanyakan saran untuk kembali dengan mu. Dia datang ke tempat tinggal mu yang dulu tempat banyak petani bunga mawar yang menjadi identitas melekat Keluarga mu berada di sana untuk menenangkan pikirannya dan juga berharap menemukan celah untuk bisa kembali denganmu dan kini dia sudah putus asa maka dia memutuskan akan pergi ke suatu negara saat ini juga." Jelas Damar


Dini terkejut dan menangis, Kini ia merasa bersalah, Kerinduan Dini semakin mendalam, Dini tak tahan lagi, lalu mengatakan ini tidak boleh terjadi. Dia harus menemui Arya dan mencegah nya pergi.


Dini meminta Damar mengantarnya ke Bandara.


Di Bandara~


Arya sedang menunggu jadwal keberangkatan di bandara, Sementara salah satu anak buah yang ia bawa untuk menggantikan Damar selama di sana terus memohon agar Arya tidak pergi.


Namun, Arya mengatakan.


"Jika aku tetap di sini maka diriku hanya akan melakukan hal yang buruk, dan jika aku tidak pergi maka aku tidak bisa melupakan Dini. Lalu, Keluargaku akan melihat kesedihanku ini, aku tidak ingin membuat mereka juga merasa sedih karena kondisiku, aku yakin setelah kepergianku semua akan kembali normal."


Sementara Dini dan Damar, di dalam mobil menuju Bandara. Damar mencoba menelepon Arya namun tidak dapat tersambung.


Dini sendiri terlihat begitu cemas. Pikiranya campur aduk tak menentu, mungkinkah Dini terlambat.


Ternyata bukan hanya Dini yang cemas, semua begitu cemas. Damar mencoba menghubungi Arya lagi namun kini handphone nya tidak aktif, Damar khawatir Arya akan segera take off dan berangkat sebelum mereka bertemu dengan Arya.

__ADS_1


Sementara itu di Bandara. Anak buah kembali mengatakan.


"Mungkin saja Nyonya Dini tidak ingin menyetujui pernikahan ini juga. Dan siapa tahu dia sangat membutuhkan anda saat ini jadi janganlah pergi, Tuan."


Namun Arya sudah mantap dengan keputusannya dan mengatakan


"Aku tidak akan merubah keputusanku hanya untuk sebuah harapan palsu karena aku tahu Dini tidak akan pernah kembali. Sudah lah aku tidak ingin berdebat tentang masalah ini lagi."


Arya sesekali menoleh ke belakang dengan wajahnya yang masih menaruh harapan jika keajaiban akan datang, lalu anak buahnya mengatakan.


"Keajaiban masih ada." Ucap Damar


Arya mulai emosi dan berkata.


"Jika keajaiban masih ada pasti Dini tidak akan datang menikah."


Arya menghentikan perkataannya dan berkata “Maaf” kepada Anak buahnya.


Ia mencoba mengerti dan menjawab.


"Istriku sudah tidak ada di dunia ini lagi tapi Nyonya Dini mu? Dia masih berada di sini di manapun dia berada saat ini walaupun sulit tapi itu bukan hal yang tidak mungkin, Tuan."


Arya berkata.


"Kemana pun pergi Dini akan selalu ada di dalam hati dan pikiranku. Kesedihan yang harus aku lalui ini karena salahku sendiri yang sudah tidak mempercayai nya dan bukan berarti kepergian ku akan membuatku melupakan Dini."


Arya dan Anak buahnya menuju security untuk pemeriksaan tiket, Namun tapi sesekali dia melihat lagi ke sekeliling.


Dini tiba di dalam bandara dengan perasaan cemas mencari keberadaan Arya, Dini berteriak.


"Aryaaaa..."


Tiba-tiba Arya yang sedang menunggu pemeriksaan tiket mendadak seperti mendengar suara Dini.


Arya menoleh namun tidak dapat melihat Dini, Arya merasa ia hanya berkhayal saja.


Akhirnya Dini melihat Arya yang sedang berdiri di dekat security masuk dan Dini kembali berteriak.


"Aaarrryaaaa..."


Untunglah Arya dan Anak buah mendengarnya, lalu menoleh ke arah Dini.


"Aryaaaaa." Teriak Dini. Arya dan Anak buah menoleh.


Dini berdiri di kejauhan sambil memakai gaun pernikahan berwarna putih ke bandara. Dini berjalan perlahan sambil sesekali mengusap wajahnya yang penuh dengan air mata.


Namun, Air matanya terus saja mengalir.


Arya juga berjalan mendekati Dini, Namun ia masih belum percaya. Arya merasa itu semua hanya mimpi. Matanya nampak berkaca-kaca, penuh dengan air mata yang di tahan.


Akhirnya Dini dan Arya berdiri berhadapan sambil memandangi satu sama lain. Arya melihat Dini menangis dan menghapus air matanya, Arya sendiri tak dapat menahan air mata miliknya sendiri. Akhirnya mereka berpelukaaaaaann...

__ADS_1


"Jangan pergi! Kau tega meninggalkan aku sendiri di sini. Aku mencintaimu Arya, Aku ingin hidup bersamamu..." Ungkap Dini dalam pelukan di dadanya


__ADS_2