
Saat ini keluarga Pratama sedang sarapan.
Dini berkata, ia akan memanggil Luna.
"Kalian sarapan saja, aku akan berusaha memanggil Luna ikut sarapan." Kata Dini
Pak Barma berkata bahwa Dini tidak perlu membawa Luna ke sini karena mereka sudah muak dengannya.
"Tidak perlu membawa Luna ke sini, kami sudah muak dengannya." Kata Pak Barma
Tapi tetap tidak didengar oleh Bu Amira.
Bu Amira datang ke kamar Luna dengan membawa sebuah roti, susu dan juga nasi goreng omelette telur.
"Luna, Dari sejak kemarin kau belum makan, Nak. Ibu sudah membawakan omelette telur kesukaan mu. Kau makan, Ya?"
Saat Bu Amira sibuk berbicara pada Luna, terlihat Luna tidak sedang dalam jiwanya. dia entah sedang berpikir ke mana memiliki tatapan mata yang kosong.
"Luna?" Sentuh Bu Amira pada bahu Luna
Deg!
"Hah, Jangan mendekat!" Terhenyak Luna dalam sekejap ketakutan
"Luna, Ini ibu sayang!" Ucap Bu Amira kasihan
.
Kembali pada raganya dan sadar. Luna menangis histeris di pelukan ibunya.
"Ibu, aku sudah tidak suci lagi. Aku kotor, Bu!" Histerisnya
Bu Amira yang tak kuasa menahan tangisnya, ikut menangis bersamaan dengan Luna. Seburuk apapun kelakukan seorang anak, seorang ibu tidaklah pernah membenci anaknya sendiri!
"Apa yang harus ibu lakukan untukmu saat ini Luna? Ibu tidak bisa membantu apapun, semuanya sudah terjadi." Sedih
Cukup waktu lebih lama untuk memulihkan Luna kembali seperti dulu. Saat ini dia selalu murung, mengunci dirinya sendiri dalam kamar, dan menangis sejadi-jadinya.
...***...
Siang Hari~
Menghampiri Bu Amira yang terlihat sangat sedih dan terpukul. Dini memberikan ketenangan dengan mengusap punggung ibu mertuanya.
"Ibu, Bagaimana dengan Luna, Apa dia sudah ingin makan?" Tanya Dini
"Tidak, sejak pagi saat ibu selalu ingin memberinya makan, Dia selalu menolaknya."
"Ini sudah siang dan perut Luna belum mendapatkan asupan makanan apapun. Aku akan mencoba datang ke kamarnya dengan makannya sekarang."
"Iya, ibu meminta tolong padamu. mungkin dengan kakak iparnya, dia ingin mendengarkan perkataan mu."
"Iya, Ibu." Ucap Dini pergi ke dapur membawa makanan untuk Luna
Dini lalu pergi ke kamar Luna dengan membawa makan.
"Luna, ibu mengatakan jika kau belum makan sedari pagi. Kedatangan ku ke sini untuk membawakan mu makan. Kau harus makan, Ya? Atau kau akan sakit nanti." Ucap Dini duduk di ranjang samping Luna
"Untuk apa kau datang ke sini? Kau pasti senang dan ingin menghinaku yang seperti ini, kan?" Hardik Luna
"Tidak pernah terlintas pikiran seperti itu dalam benakku. Aku hanya ingin kau makan saja karena ibu sangat sedih melihat mu seperti ini."
Prangg...
__ADS_1
Luna menghempas piring yang di bawa Dini sampai jatuh terhempas menimbulkan bunyi pecahan kaca yang besar sehingga pecahan dan makanannya berhamburan ke di lantai.
Refleks Dini syok saat piring itu berada tepat dalam pegangan tangannya dan dalam sekejap piring itu lepas dan melayang siap untuk jatuh dan pecah.
"Din, Ada apa ini?" Ucap Bu Amira datang setelah mendengar suara pecahan di kamar Luna
Luna pun menatap ibunya tajam.
"Maaf ibu, Aku tidak sengaja menjatuhkan piring ini saat akan memberikannya pada Luna. Aku sedikit tersandung tadi." Alasan Dini untuk tidak membuat Luna dimarahi
"Kau tidak perlu mencari alasan untuk menyembunyikan kesalahannya." Ucap Bu Amira tidak mungkin dan menganggap Luna adalah dalangnya
"Omong kosong apa ini, Luna? sudah cukup kami menghadapimu." Kata Bu Amira marah
Lalu, menambahkan
"Ibu tidak mengerti lagi apa yang kau inginkan Luna. Kakak ipar mu sudah sangat baik hati dan sabar menghadapi sikapmu. Dia datang membawakan makan karena khawatir dari pagi kau belum makan, tapi kau malah membuangnya seperti ini."
"Ibu tidak peduli jika kau ingin makan atau tidak. Semua terserah padamu sampai kau mati kelaparan." Marah Bu Amira
"Ibu, sudah jangan memarahi Luna. Saat ini keadaan Luna masih trauma. Seharusnya kita memberi dukungan padanya bukan dengan marah seperti ini." Ucap Dini
"Bicaralah dengan kasih sayang kepada Luna jangan marahi Luna terus-menerus." Kata Dini menambahkan
Bu Amira seketika diam, Menjadi seorang ibu dia tidak berpikir se-bijaksana Dini.
"Tidak apa. Aku akan membersihkan pecahan ini agar tidak melukai Luna." Lanjut Dini
"Tidak perlu. Biarkan pelayan yang melakukannya." Jawab Bu Amira dingin akibat kesal pada Luna
Hal yang sangat langka. Kini Dini mendapati handphone yang berbunyi mendapatkan panggilan telepon dari Arya.
Sontak ia terkejut karena Arya tak biasanya menelepon dia.
"Ha-hallo!" Ucap Dini bergetar
"I-iya, Tuan?" Sangat gugup
"Apa kau sedang berada di mansion bersama ibu saat ini?" Tanya Arya dalam telepon
"Iya, Kebetulan belum lama datang." Jawab Dini
"Bagaimana kabar Luna?" Tanyanya
"Luna masih trauma atas kejadian kemarin. Dari sejak pagi dia sama sekali belum makan ataupun keluar kamar."
"Ini masalah yang sangat besar. Luna tidak akan mungkin terus-menerus seperti ini. Apa kau atau ibu sudah berusaha untuk membujuknya?"
"Sudah, Tuan. Baru saja tadi aku mencoba membujuk Luna untuk makan karena ibu masih sedih melihat keadaan Luna. Tapi dia menolak untuk makan." Jawab Dini
"Jika boleh aku meminta bantuan darimu untuk menjaga Luna. Tolong yakinkan dia untuk makan sesuap saja."
"Baik, Tuan. itu memang sudah sepantasnya demi kebaikan Luna. Akan saya coba sampai ia tidak menolak lagi."
"Dan akan ku usahakan untuk pulang sore hari kali ini untuk menjenguk Luna walaupun sebentar saja. Kau juga jangan lebih dulu pulang, kita akan pulang bersama-sama setelah rencana kita selesai." Pinta Arya
"Ba-baik, Tuan." Jawab Dini merasa canggung saat Arya menyatakan agar dirinya menunggu karena akan pulang bersama setelah menjenguk Luna
"Emm...A-apa kau juga sudah makan?" Tanya Arya terdengar gugup dan canggung
Mendengar Arya juga menanyakan itu membuat jantung Dini berdebar kencang.
"Bukankah pagi hari saya juga sudah ikut sarapan bersama Tuan dan yang lainnya."
__ADS_1
Di perusahaan Arya mengingatnya dan seketika sangat malu. Dia belum pernah menyatakan perhatian lebih pada Dini apalagi sampai bertanya, itu sangat mustahil. Tapi kali ini ia kurang pandai untuk bertanya.
"Ma-maksudku pagi hari itu kau makan untuk sarapan. Dan ini sudah pukul 11.00 Jadi, apa kau sudah makan juga?" Tanya Arya untuk tetap mempertahankan kewibawaannya. dia mana mungkin bisa menerima harga dirinya direndahkan
"Tidak. Makan siang masih memiliki sisa waktu 2 jam lagi." Jawab Dini tidak mengerti jalan pikir Arya sebenarnya
"Maksudku bukan makan siang. Hufft... Baiklah aku akan berterus terang padamu. Sepertinya akan sudah bagimu untuk mengerti perkataan ku."
Untuk kali ini Arya berbicara terlalu banyak maksud! Membuang Dini pusing mendengarnya.
Dini mengernyitkan dahi karena bingung. Dengan bersedia dia membuka kedua telinganya dan seksama mendengarkan apa yang ingin dikatakan Arya.
"Saat ini kau sedang hamil, Bukan? Perutmu sudah terlihat sedikit buncit. Itu tandanya bayi kita berkembang dengan sehat. maka dari itu di usia kehamilan mu yang terus bertambah, Demi kesehatan mu dan bayi kita, kau harus menjaga asupan makan mu. Jika perlu kau tanpa henti mengemil atau menambah jam makan mu. Itu akan lebih baik saat kau mengandung anakku!" Kata Arya yang ternyata ingin memberikan Dini perhatian dengan mengingatkannya
Dini yang mendengarnya pun sangat tersentuh. Ia baru saja merasakan bagaimana diperlakukan baik bahkan perhatian oleh suaminya.
"Tapi, Itu akan membuat berat badanku bertambah." Keluh Dini menjawab
"Tidak apa-apa jika kau terlihat gemuk. Kau masih terlihat can... (terhenti). Tidak, Maksudku,,, Akan membuatmu dan bayimu sehat. Ibu hamil tidak boleh kekurangan gizi." Kata Arya hampir saja keceplosan
Mendengar perkataan Arya yang terdengar terlalu over protektif itu membuatnya sangat heran. Ia ingin tahu bagaimana ekspresi wajah Arya di sana.
"Bagaimana, Apa kau mendengarkan perkataan ku tadi?" Tanya Arya lagi karena tidak mendengar suara yang timbul dari Dini
"I-iya, Tuan. Saya mendengarnya." Jawab Dini
"Bagus. Aku harap kau mendengarkan apa yang ku katakan sampai menuruti perkataan ku tadi."
"Baik, Tuan." Jawab Dini simple
"Sekarang kau ambil saja camilan yang ada di penyimpanan makanan ibu di dapur. Kau habiskan saja tanpa perlu memikirkan orang lain atau berat badanmu. Dan saat jam makan siang, kau perlu makan lagi." Protektif Arya yang terdengar geli di telinga Dini
Bagaimana tidak, sebelumnya Arya tidaklah pernah se-perhatian ini. Dia cuek, dingin, dan tidak memperdulikan Dini. Tapi kali ini, dia seperti ulat bulu yang terlepas dari bulu yang menutupi kulitnya.
"Aku akan menutup teleponnya. Awas saja jika kau tidak menurut. Setelah ini aku akan meminta ibu untuk mengawasi mu." Kata Arya sebelum diakhiri
Dini yang sedari tadi heran, Hanya menggeleng-gelengkan kepala.
Panggilan pun di akhiri.
Di Perusahaan Arya~
Hufftt....
"Akhirnya aku bisa menutup telepon yang sangat canggung ini. Dia tidak tahu bagaimana aku mengumpulkan energi untuk bisa meneleponnya. Aku yakin dia sangat geli bahkan menertawakan ku." Mendumal Arya
"Beginilah rasanya menjadi calon ayah yang baik senantiasa harus perhatian pada calon anak dan ibunya. Perkataan ku tadi terlalu menjijikan untuk di dengar." Overthingking Arya
"Ingin bagaimana lagi, Aku sudah terlanjur berbicara dengan wanita itu. Jika aku bisa menghilangkan ingatan seseorang, saat ini aku ingin menghilangkan perkataan ku tadi pada ingatan Dini."
"Aku tidak tahu bagaimana caranya menghadapi dia nanti. Kau terlalu bodoh harus seperti orang pada umumnya, kenapa kau tidak diam menjadi orang dingin dan cuek saja Arya."
"Kacau!!" Sesal Arya yang terlalu berlebihan keluar dari jati dirinya sebagai pria yang mendapatkan perhargaan pria terdingin di dunia
"Ada apa, Presdir? Anda terlihat menyesal seperti itu." Tanya Damar yang tiba-tiba datang saat Arya menggerakkan anggota tubuh dengan meliukkan tubuhnya seperti orang pecicilan
Deg!
Ekhem...
Arya berdeham. Mengembalikan jiwa aslinya yang sempat keluar menjadi pria terdingin kembali yang berwibawa.
Dengan berusaha bersikap biasa saja, ia berpura-pura merapikan jasnya.
__ADS_1
"Tidak ada! Memangnya apa yang kau lihat?" Ucapnya dingin
"Tidak jadi, Presdir. hehe..." Ucap Damar yang tidak berani lagi bertanya