Terbelenggu Oleh CEO Angkuh

Terbelenggu Oleh CEO Angkuh
89. Hilang Dan Mencari


__ADS_3

Setelah Rapat sudah selesai dilakukan, Arya pun bergegas lebih dulu meninggalkan semua orang dengan menyerobot dan menyenggol siapa saja orang yang sedang berjalan atau berada dihadapannya menuju parkiran basement.


Setelah mengambil dan mengendarai mobil sport nya, ia langsung melajukan keluar dari basement dengan kecepatan 130 Km/Jam menuju pulang ke rumahnya.


Tak lama dengan kecepatan tinggi selama perjalanan menuju rumah, Arya sudah sampai di rumahnya.


Saat ingin masuk, pintunya sudah jelas terkunci dan pikirannya pun mulai berkecamuk.


Dengan keras ia membuka pintu utama lalu, masuk mencari Dini di sekitar rumahnya.


"Dinii...??!" Panggil Arya mencari


Namun, tidak ada sahutan apapun yang diberikan. Dengan gundah Arya mencarinya ke kamar Dini dan sudah jelas dia tidak ada di sana. Ia sudah mencari ke mana-mana sampai halaman belakang rumahnya kamar mandi, toilet, dapur, kamar Arya, gudang, serta semuanya ruangan dan setiap sudut yang ada di rumahnya yang berlantai 3 tingkat itu. Dan sudah jelas ke mana pun Arya mencari, dia tidak akan menemukannya.


Perasaan Arya semakin berkecamuk, keringat dingin sudah mulai bercucuran membasahi pakaian jas kantornya.ia berlari ke sana ke mari melebihi lari maraton di sore hari.


"Ke mana wanita itu pergi. Di rumah sudah jelas tidak ada, pintu utama sudah terkunci itu tandanya dia sudah pergi ke luar. Namun, ke mana dia pergi? dia sama sekali tidak datang ke perusahaan." Ujar Arya semakin tidak karuan dan khawatir


"Mungkinkah dia ada di mansion ibu? Aku akan ke sana sekarang." Ujar Arya pergi kembali mengendarai mobil sportnya menuju mansion ayah ibunya


Tak lama mobil pun terparkir sempurna di depan mansion ayahnya kala penjaga membuka gerbang tersebut. dengan bergegas sedang berkecamuk, Arya langsung masuk ke dalam mansion tanpa permisi atau menekan bel.


Dengan napas menderu-deru, Arya menatap Bu Ashna yang kebetulan ada di sana dengan kelelahan.


"Bu Ashna, Apakah istriku ada di sini?" Tanya Arya


"Nyonya Muda, Ya?" Tanya Bu Ashna


"Iya, Apa dia ada di sini?" Tanya Arya semakin berderu-deru kepanikan


"Tidak ada, Tuan Muda. dari sejak pagi sampai sekarang saya tidak melihat nyonya muda di sini." Ucap Bu Ashna yang meyakinkan membuat Arya semakin kelimpungan dan kelabakan


"Lalu, Di mana Ayah dan ibuku?"


"Tuan dan Nyonya, tadi pagi mengatakan akan pergi ke Singapore untuk menjenguk bayi nona Jihan dan Tuan Haidar yang baru lahir." Pungkas jawab Bu Ashna


"Apa mereka membawa Dini bersama mereka ke sana?" Tanya Arya


"Sepertinya tidak, Tuan Muda. Pak Sopir yang mengantar nyonya dan tuan besar langsung membawanya ke bandara, dan melihat secara langsung menaiki Jet pribadi mereka." Jawab Bu Ashna


"Lalu, Ke mana dia sekarang?" Arya yang sudah meletakkan tangan kanan di pinggang dan tangan kirinya mengusap rambut dengan kasar frustasi dan sudah sangat panik


"Apa yang terjadi, Tuan Muda?" Tanya Bu Asha


"Dia menghilang tidak tahu ke mana. Aku sudah mencarinya ke segala penjuru di rumah, tetap saja dia tidak ada." Kata Arya sudah bingung


"Nyonya muda hilang?!" Pungkas Bu Ashna terkejut dengan membuka mulutnya lebar


"Entahlah, aku belum mengetahui yang pasti. Yang jelas dia tidak ada di rumah saat ini." Ujar Arya


"Mungkin saja Nyonya muda ada di rumah orang tuanya, Tuan Muda." Ungkap saran Bu Ashna


"Iya, itu bisa jadi. Baiklah, aku akan memastikannya ke sana sekarang." Gegas Arya berlari Keluar kembali mengendarai mobilnya


"Iya, Tuan Muda. Hati-hati!" Ujar Bu Ashna mengiringi kepergian tuan mudanya


Rumah Pak Malik~



Tak butuh waktu lama seperti biasa, Arya sudah sampai.


berbeda dengan sebelumnya, Arya mencoba untuk terlihat tenang dengan menekan bel terlebih dahulu.

__ADS_1


Ding...dong...


"Sepertinya ada tamu yang datang. Biar bapak yang membuka pintunya, Bu." Ujar Pak Malik di dalam sedang meminum kopi dan koran sorenya


Sampai di depan pintu, dan membukanya.


"Tuan Arya?! Silahkan masuk dulu!" Ujar Pak Malik


Diikuti oleh Bu Lia yang datang untuk ingin melihat siapa tamu yang datang.


"Menantu?! Ayo masuk dulu, Nak." Ujar Bu Lia


"Tidak perlu Ayah, ibu mertua. Kedatangan ku ke sini hanya ingin memastikan apakah Dini ada bersama kalian?" Kata Arya


"Dini?!" Pak Malik dan Bu Lia saling bertukar pandangan


"Dini tidak ada di sini, menantu!" Jawab Bu Lia


"Apa kalian benar-benar tidak sedang menyembunyikannya?" Tanya Arya


"Tidak, Menantu. Untuk apa kami berbohong, kami berkata jujur, Dini memang tidak ada di sini." Ungkap Pak Malik


"Baiklah, aku pamit sekarang.itu saja, maaf jika mengganggu kalian." Ujar Arya hendak pamit


"Tunggu, menantu! Apa ada sesuatu yang terjadi pada putri kami?" Tanya Pak Malik


"Tidak ada, Ayah mertua. putri kalian baik-baik saja. kedatanganku sebenarnya ke sini untuk bersilaturahmi dengan kalian, tapi aku terlalu gugup.sehingga lupa untuk memulainya dari mana, mungkin nanti saja aku akan kembali membawa Dini." Pungkas Arya beralasan untuk tidak mengemukakan kebenaran pada ayah dan ibu kandung Dini. Jika dia sedang mencari putri kandung mereka yang menghilang seketika


Sengaja Arya tidak memberitahu kebenaran untuk tidak membuat mertuanya khawatir memikirkan Dini.


"Oh, seperti itu. Baiklah, tidak apa-apa, menantu.padahal kau tidak perlu sungkan." Kata Pak Malik


"Jika begitu saya pamit." Ujar Arya bergegas pergi


"Ke mana kau pergi, Din?" Ujar Arya sedikit bergetar seperti menahan tangis


"Dia tidak mungkin pergi jauh. Dia sama sekali tidak mengetahui besar tentang wilayah dan kota ini. Ke mana sebenarnya kau pergi. kenapa ada rasa takut jika kau pergi melarikan diri dariku untuk selamanya sampai aku seperti ini karena mu.perasaan apa yang sudah kau berikan padaku?" Ungkap Arya mendumal di dalam mobil


"Atau jangan-jangan dia di culik?" Tegun Arya semakin serius


Segera ia membuka handphone dan melakukan panggilan telepon kepada Damar. Dalam telepon, Arya mengatakan untuk mengerahkan semua bawahannya untuk mencari istrinya saat ini juga. dengan gerak cepat, Damar menyampaikan pesan tersebut kepada kepala bawahan. dan dengan cepat semua pasukan di kerahkan untuk mencari Dini ke segala penjuru kota di waktu yang sudah mulai gelap, bahkan penjuru dunia jika Arya ingin melakukan hal itu.


Hingga pada akhirnya karena sudah putus asa dan ke depresian yang sudah berat. Arya memutuskan untuk pulang.


Sambil menunggu informasi dari bawahannya yang ia kerahkan untuk mencari Dini. Arya yang sudah putus asa memutuskan untuk pulang dan menunggu di rumah.


Pukul 18.00 WIB~


Arya sampai di rumahnya dengan mobil sport terparkir sempurna di depan tempat parkir rumahnya. Dan di aneh kan, saat Arya datang sudah terdapat mobil mirip seperti milik ayahnya yang terparkir tepat di samping mobilnya.


"Mobil siapa ini? seperti mobil milik ayah." Ujar Arya


Arya memutuskan untuk menuju pintu utama, Dan benar saja terdapat 3 orang yang sedang berdiri di depan pintu rumahnya. Dengan berlari, Arya menghampiri mereka.


"Kalian di sini?!" Tegun Arya


Spontan mereka bertiga menoleh ke belakang dan mendapati wajah-wajah yang ia kenal, yakni ayah, ibu, dan Dini. ada perasaan tenang, saat dengan jelas matanya melihat Dini dihadapannya saat ini.


"Arya kau baru pulang, Nak." Tanya Bu Amira


"Ibu? Apa yang sebenarnya terjadi?" Bingung Arya


"Terjadi bagaimana? ini jelas kami. kami baru saja sampai setelah dari Singapore." Jawab Bu Amira dengan tenang

__ADS_1


"Baiklah, Dini. karena suamimu ada di sini, dia sudah pulang.kami akan melanjutkan perjalanan kami ke mansion.kapan-kapan ayah akan mengajakmu ke Singapore lagi." Ujar Pak Barma. lalu, pergi diikuti Bu Amira


Arya benar-benar membeku saat perjuangan yang sampai berkeringat dingin mencari Dini ke mana-mana hingga berpikir negatif dan harus mengerahkan semua bawahan untuk mencari istri yang dikira hilang. Ternyata dia aman-aman saja bersama ayah dan ibunya bahkan pergi ikut ke Singapore.


Hingga pada akhirnya, perjuangan berdarah-darahnya tersebut bisa dikatakan sia-sia.


Diibaratkan Arya sedang mencari harta karun, dia sudah berusaha melewati lembah, ngarai, lautan, dan menerjang badai.namun, sepertinya alam sedang mengelabui dirinya dengan harta Karun yang sangat jelas ada di halaman belakang rumahnya. itulah yang tengah dirasakan Arya, ia sedang membeku tidak paham terhadap situasi kondisi yang terjadi.


Arya menarik pergelangan tangan Dini dan mencengkeramnya sangat erat. langkah Dini terseok karena harus menyeimbangi langkah cepat suaminya, bahkan Dini terlihat sedikit berlari.


"Tuan! Tolong lepaskan! tanganku sakit." Ucap Dini


Arya tak menjawab.bahkan langkahnya semakin cepat menaiki anak tangga. Dini yang melihat amarah di wajah Arya, tidak berani lagi menegurnya. Jujur saja Dini takut jika suaminya membentak, karena sejak kecil Dini hidup dengan kasih sayang, tidak pernah ada seorang pun yang membentaknya bahkan orang tuanya.Terkecuali orang yang mencaci dirinya.


Arya membuka kamar Dini, menyeretnya masuk, dan ditariknya kasar hingga Dini terjerembab di atas ranjang. Dini terus menunduk, tidak berani menatap mata suaminya yang telah menatap tajam padanya. Bahkan sebelumnya Dini sudah menduga dan mempersiapkan diri dari amarah Arya. Namun, tetap saja amarah Arya tidak bisa ia duga, Arya bisa melebihi amarah atau hukuman dari apa yang sebelumnya ia duga.


"Siapa yang menyuruhmu keluar rumah tanpa seizin dariku? Dan membiarkan orang lain memasuki rumahku tanpa Izin dariku?! apa kau ingin semua orang tahu jika rumah tangga kita tidak baik-baik saja?! kau keluar rumah dengan seenaknya tanpa meminta izin dariku, pergi bersama mereka bersenang-senang meninggalkan kewajiban mu di perusahaan ku." Pungkas Arya mengutarakan amarahnya


Dini hanya terdiam. Dia terlalu takut untuk menjawab. Jari-jari lentiknya tidak berhenti memainkan ujung dressnya, kepala Dini pun masih terus menunduk.


"JAWAB AKU DINII! APA KAU MENDADAK TULI DAN BISU?! HAH!!" Gertak dan Bentak Arya sambil menggebrak meja nakas di samping ranjang Dini


Dini mengangkat kepalanya karena sangat terkejut dengan bentakan Arya yang tiba-tiba. menatap suaminya dengan wajah memerah penuh amarah. Arya menundukkan kembali kepalanya di rasa pelupuk matanya terasa basah.


"Ti-tidak, Tuan. Bukan begitu. hari ini aku memang berencana ingin pergi ke perusahaan, aku hanya tinggal berangkat saat itu. tapi saat bersiap, terdengar suara bel berbunyi dan saat aku lihat ibu dan ayah yang datang.mereka mengajakku pergi ke Singapore untuk menjenguk kak Jihan yang baru saja melahirkan anaknya." Jawab Dini dengan gemetar dan terus memainkan ujung dress nya


"Dan kau tidak berusaha untuk menolak mereka? kau juga tidak berusaha menghubungi ku lebih dulu." Hardiknya


"Aku tidak tahu harus menjawab mereka bagaimana. Aku juga tidak ingin ikut, tapi mereka terus mendorongku untuk bersiap. Dan terpaksa tanpa memberitahu tuan, Aku ikut dengan mereka." Penjelasan Dini


"Ingin menghubungi Tuan pun, Aku tidak memiliki Nomor handphone Tuan untuk di hubungi." Lanjutnya lagi Dini menjelaskan


"Setidaknya kau berusaha untuk memberitahu diriku. Kau pergi dengan orang tuaku tanpa suami mu? tanpa memberitahu suami mu? kau ingin mereka berpikir jika suami mu tidak becus menjagamu, dan menelantarkan mu, begitu? dan kau sengaja agar mereka tahu jika aku tidak bersikap baik padamu? begitu maksudmu. HAH!!" Marahnya


Dini menggeleng sebagai jawaban.


"Kau tidak tahu bagaimana pusingnya diriku mencari dirimu, Di perusahaan aku menunggu dirimu datang. Namun, kau tidak kunjung datang. Diuntungkan di sana ada Bu Shani, dia yang mengambil alih tugasmu.sehingga para karyawan ku masih tetap bisa di beri makan siang. Karena ulah mu, kau sudah membuat kekacauan besar." Marahnya lagi


"Aku pusing dan aku khawatir takut terjadi sesuatu padamu.ternyata aku salah, ternyata kau sedang bersenang-senang dan tertawa-tawa bersama mereka di sana." Lanjutnya marah terus menerus


Sedikit tersentuh saat Arya mengatakan bahwa dia khawatir takut terjadi sesuatu padanya. Dini tidak menyangka Arya akan mengatakan hal itu. Sadar atau tidak, Kata itu terlalu manis untuk di dengar.


"Di mana handphone mu?" Arya mengulurkan tangannya


"I-ini, Tuan." Jawab Dini sambil mengeluarkan handphone dari tas lalu, memberikannya pada Arya


Arya mengambil handphone Dini dengan sarkas dari tangannya. Sungguh baik, handphone Dini sama sekali tidak menggunakan kunci layar menggunakan pin, atau pola. Dengan mudah Arya mengutak-atik handphone miliknya, entah apa yang dia lakukan.


"Aku sudah menyimpan nomor telepon ku di kontak handphone mu, dan aku juga sudah menyimpan nomormu. Jadi, tidak ada lagi alasan bagimu untuk tidak menghubungi ku.walaupun itu hanya sekedar meminta izin atau memberitahu diriku." Ujar Arya sedikit menggunakan nada lembut


"I-iya, Tuan. T-terima Kasih." Jawab Dini gugup mengambil handphonenya dari tangan Arya


"Hahh (Menghela nafas dalam-dalam) Gara-gara dirimu, Aku sampai tidak makan siang.mencarimu ke sana ke mari yang tidak datang ke perusahaan dan tidak ada di rumah. Aku seperti orang gila yang panik mencari angin yang sudah jelas tidak terlihat dan tidak perlu di cari." Kesal Arya


"Maafkan saya, Tuan. Apa tuan ingin saya buatkan makan malam?"


"Ya, Tentu Saja. aku sampai tidak makan hanya karena dirimu.seharusnya kau sadar diri dan buatkan aku makan." Kecam Arya


"Saya akan buatkan sekarang, Tuan." Jawab Dini


"Sebelum itu siapkan aku air hangat! Aku ingin berendam lebih dulu sebelum mandi, kau masuk saja ke kamarku.aku akan memasukkan mobil ku dulu." Ujar Arya sambil melenggang keluar


"Baik, Tuan." Jawab Dini mengangguk mengiring kepergian Arya yang akan pergi ke parkiran basement

__ADS_1


__ADS_2