
Hari ini setelah menentukan waktu yang pas dengan sore hari yang akan kedatangan kliennya ke rumah. Membuat rumah itu sangat sibuk dengan para pelayan yang sedang menyiapkan jamuan.
Dini yang gemar membantu dan tidak bisa diam sedikit saja, saat ini sedang membantu jalannya jamuan untuk tamu mereka. Berbeda dengan ibu hamil lain yang satu ini sangat manja dan kesal jika ia harus berdiri saja. Sepanjang hari tidak ada aktivitas yang ia lakukan selain hanya duduk, tidur, mengemil, dan menonton.
"Din, Semuanya sudah siap?" Tanya Bu Shani yang memasak bersama Dini
"Masih ada beberapa masakan lagi yang harus di masak. Aku sudah memasak udang asam manis, menurut Bu Shani bagaimana rasanya? Apa ada yang kurang?" Tanya Dini meminta pendapat
"Coba ibu cicipi dulu." Ambil Bu Shani mencicipinya
"Hem... Rasanya sudah pasti sangat enak dan bumbunya pas."
"Syukurlah jika seperti itu." Ucap Dini senang
"Ada yang harus ibu bantu?" Tanya Bu Shani yang tidak bisa diam saja tanpa membantu
"Mungkin ibu memasak ayam cemani saja.Ibu bisa mengolahnya, kan?"
"Tentu saja, Akan ibu perlihatkan kehebatan memasak ibu yang tidak kalah enaknya darimu. Dan ibu pastikan masakan ibu yang pertama kali habis." Ujar Bu Shani hanya bercanda
Mereka sangat akrab sampai tertawa ria sambil memasak. Dini senang sekali mendapatkan teman memasak di dapur yang dapat diajak bekerja sama. mungkin kali ini memasak akan menjadi kerjaan yang ia senangi.
Brremm...
Mobil terparkir di depan rumah Arya.
Sesuai yang ia janjikan kemarin, Richo datang ke rumah Arya.
"Apakah klien mu itu sudah datang?" Tanya Valerie yang sudah bersiap untuk berkesan baik di mata klien agar tidak memalukan Arya
"Dia sedang berada dalam perjalanan. mungkin sebentar lagi ia akan datang." Jawabnya
"Oh, Baiklah." Valerie pun duduk
Ding...dong...
"Sepertinya itu dia sudah sampai." Arya pun berjalan ke arah pintu untuk membukanya
"Tuan Richo, Silakan masuk!" Sambut Arya dan mempersilahkannya masuk ke dalam
__ADS_1
Dengan santai dan tersenyum pada Tuan rumah yang menyambutnya, Richo masuk bagai angin yang menghembus kencang memberikan perasaan terbawa angin pada apa saja yang di lewati.
Cettarr... Duarr!
Richo pun kini menatap kehadiran Valerie yang tengah mematung sambil menarik tipis senyumannya.
"Terima Kasih, Tuan Arya..." Suara Richo terdengar begitu kharismatik
Deg!
Mendengar kembali suara yang sangat familiar di telinganya membuat pandangan Valerie beralih pada pria itu. Seluruh tubuhnya panas, kaku, berkeringat, padahal AC di sana cukup dingin.
"Richo..." Ucap Valerie dalam hati saat melihat dengan jelas wajah Richo kini tepat berada di depan matanya
Mereka pun saling berhadapan satu sama lain tepat dihadapan mata mereka. Terpampang nyata wajah Valerie terlihat khawatir dan matanya memerah berkaca-kaca.
"Ini adalah istri yang saya ceritakan pada anda kemarin. Valerie, Ini Tuan Richo klien baruku!" Ucap Arya memperkenalkan Valerie dan Richo padanya
Jiwa Valerie semakin terguncang kala Richo mengulurkan tangannya untuk berjabatan. Dia hanya diam menahan sakit di dadanya akibat serasa sesak.
"Nona Valerie! Anda baik-baik saja." Tanya Richo bergema
Deg!
"Tuan Richo ingin mengenalkan diri padamu. Apa yang kau perhatikan?" Tanya Arya melihat Valerie diam saja
Dengan gemetar Valerie mengangkat tangan kanannya untuk berjabatan. Raganya tersakiti saat tangannya menyentuh langsung tangan Richo, di sana Richo memegang tangan Valerie sangat kuat.
Valerie sedikit memberontak tanpa ekspresi untuk melepaskannya. Di sana Richo menarik satu alis dan menyunggingkan bibirnya menatap Valerie seolah menantang.
Sedikit tarikan yang kuat membuat tangannya lepas dari jabatan tangan Richo. Sikap Valerie pun bergelagat aneh seolah tak nyaman.
Arya pun mempersilahkan untuk duduk. Namun, Richo masih tak luput perhatiannya melihat Valerie.
"Apa yang kalian perhatikan? Ayo cepat duduk!" Titah Arya menunjuk pada sofa yang berada tidak terlalu jauh dari Valerie dan Richo
Mereka menurut. Namun, pandangan Richo tak beralih pada wanita yang terlihat cantik dengan polesan make up tebal yang sudah berdandan itu.
"Istri anda sangat cantik, Tuan Arya!" Ucap Richo yang mulai mengalihkan pandangannya pada Arya yang nampak tersenyum mendengar pujian bahwa istrinya cantik
__ADS_1
"Kesan seseorang selalu baik saat mereka bertemu dengannya." Jawab Arya
Tak lama kemudian, Dini dibantu para pelayan lain membawa nampan berisi minuman dan camilan dari arah dapur.
Pandangan Arya pun ikut tertuju pada gadis kecil itu. Entah mengapa perasaan hangat tiba-tiba menusuk ke dalam relung hatinya saat melihat gadis kecil itu. Detak jantungnya berdebar seolah ingin mengatakan jika Dini adalah istrinya juga.
Dini pun menyajikan camilan dan minuman itu pada mereka.
"Kenapa repot-repot? Aku merasa bersalah karena sudah merepotkan kalian. Karena kedatanganku kalian harus sesibuk ini."
"Tidak apa, Tuan, ini sudah menjadi tanggung jawab kami setiap kali ada tamu yang datang. Tuan rumah yang baik harus menjamu tamu karena mereka adalah raja." Jawab Dini ramah
"Hatimu baik dan secantik wajahmu. Baru pertama kali juga aku melihat pelayan muda secantikmu. Tidak seperti wanita yang ku kenal yang memiliki wajah cantik namun, hatinya busuk." Kata Richo yang memuji Dini dan melihat ke arah Valerie dengan menyindirnya
Sekilas Dini menatap Arya yang melihatnya tajam juga saat Richo memujinya. Dan Arya melakukan isyarat melalui kepalanya yang menoleh ke samping agar Dini bisa segera pergi di sana. Cemburu? Entahlah!
"Agh,,, Saya permisi!" Ujar Dini langsung pergi dari sana tak ingin berlama-lama
"Dari logat mu sepertinya kau menceritakan kekasihmu dahulu yang kau kemarin kau ceritakan. Hatimu pasti sangat terluka saat ini."
"Bagiku itu sudah biasa, Tuan. Seorang wanita tidak akan tertarik dengan pria lain jika dia lebih kaya dari pria yang sudah menghamilinya. Tak melihat apakah dia tengah berbadan dua atau tidak. Yang terpenting rencananya berjalan sesuai rencana." Sindir Richo lagi
Richo menambahkan,
"Agh... Sudahlah. Aku tidak ingin membahas masa laluku. Rumah anda sangat besar, luas, dan mewah juga, Anda memang benar-benar kaya." Ucap Richo mengalihkan topik
Mereka pun berbincang panjang lebar, selain topik kehidupan mereka juga membicarakan topik bisnis mereka. Di sana Valeri yang tidak pergi ke mana-mana hanya diam tak berkutik sedikit pun sejak kedatangan Richo. Entah apa hubungan mereka yang tidak diketahui oleh orang lain sampai ia ketakutan seperti itu!
Arya sendiri hanya sibuk berbincang dengan Richo sampai membiarkan Valerie yang aneh dari biasanya. Ia pun tidak menaruh curiga akan ekspresi yang tersembunyi dari interaksi mereka berdua tadi.
Setelah panjang lebar membahas bisnis. Arya meminta Richo untuk makan jamuan terlebih dahulu sebelum pulang. Richo pun menurut dan mereka makan bersama.
Setelah selesai memakan jamuan yang sudah dipersiapkan. Richo pun memutuskan untuk pulang dengan beralasan masih memiliki kepentingan lain di luar.
"Saya harus pergi sekarang karena masih ada kepentingan lain di luar. Terima Kasih untuk jamuan nya padahal tidak perlu repot-repot seperti ini. Masakannya sangat lezat semua, sampai saya meminta sebagian untuk dibawa pulang." Jelas Richo
"Rasa bersalah ada pada kami jika tamu yang datang pulang dalam keadaan perut kosong." Kata Arya
"Terima kasih untuk hari ini Tuan Arya. Kapan-kapan saya akan datang lagi."
__ADS_1
"Dengan senang hati." Jawab Arya
Setelah itu, Richo pamit pergi meninggalkan rumah Arya.