
"Tuan, ingin saya buatkan sarapan? Tuan belum sarapan sama sekali." Tanya Dini berlanjut pada Arya dengan berani
"Tidak. Jika bisa apakah kau ingin menyiapkan aku bekal?" Jawab Arya
"Bekal?!" Tegun Dini
"Iya, Bekal. Ini sudah terlalu siang, dan aku harus segera pergi ke perusahaan. Aku tidak akan sempat untuk sarapan di rumah." Ujar Arya
"Baik, Tuan. Akan saya antarkan ke ruangan tuan setelah saya sampai ke perusahaan nanti. Jika tuan takut terlambat, Tuan bisa berangkat saja sekarang." Usul Dini pada Arya
"Tidak perlu, aku akan menunggu saja sampai kau selesai menyiapkan uang."
"Kenapa begitu? Saya juga akan datang ke perusahaan.sebelum ke kantin, saya akan mengantarkannya pada anda untuk sarapan." Kata Dini
"Untuk apa kau pergi ke kantin? Apa ada yang menyuruhmu?" Kata Arya yang membuat Dini bingung
"Maksud, Tuan? tapi saya bekerja di sana, pastinya saya harus datang dan bertanggung jawab terhadap pekerjaan saya."
"Apakah aku pernah menggaji mu di sana setiap bulannya?" Tanya Arya
"Untuk masalah gaji, saya tidak pernah memikirkan itu. Memiliki pekerjaan untuk kegiatan saya sehari-hari, Itu sudah lebih dari cukup." Jawab Dini
"Lalu, untuk apa kau bekerja? Seorang pekerja memiliki gaji dari tempatnya bekerja. Apa peranmu di sana jika tidak di gaji." Ucap Arya tanpa ekspresi yang semakin membuat Dini kebingungan
"Sayangku!!" Kata romantis yang baru keluar dari Arya, menghampiri Dini dan meletakkan kedua tangannya di bahu Dini
"Hahh??" Dini mendengar apa yang dikatakan oleh Arya. Namun, ia refleks terkejut saat Arya memegang bahu dan memanggilnya dengan sebutan sayang
"Untuk saat ini aku tidak memintamu untuk bekerja lagi.untuk selamanya jadilah istriku yang baik diam di rumah, dan jangan pergi ke mana-mana tanpa seizin suamimu."
__ADS_1
"Tuan, Memecat ku?"
"Siapa yang memecat mu? Aku bukan memecat mu, tapi aku hanya meminta kau untuk tidak bekerja di luar rumah. Kau hanya diam di rumah, membuat sarapan pagi untuk suamimu, lalu menyambut suamimu pulang dari kantor. Kewajiban mu hanyalah merawat suamimu dengan baik, menjadi istri yang bertanggung jawab dan selalu ada bersama suaminya setiap saat. Aku pikir kau lebih tahu tentang hal ini."
"I-iya, Tuan. Saya berjanji akan menjadi istri yang baik, menurut apa yang dikatakan tuan pada saya. Tapi jika saya tidak bekerja lagi di sana, siapa yang akan memasak untuk makan siang para karyawan dan Tuan sendiri?"
"Kau tidak perlu khawatir karena ada Bu Shani di sana. rasa masakannya tidak kalah enak darimu. Aku akan menerapkan lowongan pekerjaan untuk mencari seorang pegawai baru dengan kualifikasi andal sekaligus mahir dalam memasak, sebagai bentuk membantu Bu Shani dan mengantikan dirimu." Ujar Arya
"I-iya, Tuan. Terima Kasih untuk hari ini."
"Bagus! Aku suka hari di mana kita layaknya pasangan suami istri. Aku akan menunggu bekal ku selesai." kata Arya sambil mengelus lembut rambut pucuk kepala Dini
Hari yang bahagia dirasakan oleh Dini mendapatkan perlakuan romantis, lembut dan perhatian dari suaminya yang selama ini tidak pernah sama sekali menunjukkan kebaikan.
Dini segera menyiapkan sarapan pagi untuk di bekal oleh Arya. Sedangkan Arya menunggu di sofa ruang tamu sambil membaca koran pagi.
Tak butuh waktu lama, Bekal yang dipersiapkan sudah selesai. Dini memberikannya pada Arya.
"Baiklah. Aku akan berangkat sekarang." Jawab Arya sambil mengambil kotak bekal nya
"Dan Ya, Aku hampir lupa memberikan mu sesuatu.Ini black card untuk memenuhi kebutuhan dapur setiap bulannya, kau bisa bertransaksi menggunakan ini. Dan uang bulanan untuk keperluan mu juga sudah ada di sini. Sepuasnya kau bisa membeli barang apapun yang kau inginkan." Kata Arya
Black Card
"Ini black card yang tanpa limit itu?!" Kejut Dini tertegun. Tidak menyangka jika suaminya memiliki semua apa yang kebanyakan tidak dimiliki orang lain. Tak khayal ia mengira Arya dan keluarganya sangat kaya bahkan kolongmerat.
"Tuan memberikan ini pada saya?" Tanya Dini enggan mengambil black card itu
__ADS_1
"Iya. Untuk kepentingan bulanan mu, dan dapur setiap bulannya. Seharusnya aku memberikan uang bulanan untukmu dari sejak dulu." Kata Arya
"Tidak tuan, Saya tidak bisa menerima ini. Alangkah lebih baiknya benda berharga ini akan aman pada, Tuan." Ujar Dini
"Maka dari itu kau harus menjaganya baik-baik. Jika kau tidak menerima pemberian ini, Bagaimana kau memasok kebutuhan dapur jika habis. Apa kau memiliki uang untuk membeli semua bahan untuk memberiku makan?"
"Tapi, Tuan?! Benda ini bukan benda sembarangan orang bisa memiliki. Tuan bisa memberikan uang cash setiap bulannya, dengan begitu saya bisa membeli kebutuhan dapur."
"Kau juga bukan orang sembarangan! Karena kau adalah istri dari CEO perusahaan AMB Pratama Group. siapa yang tidak kenal dengan diriku, keluarga, dan semua yang menyangkut tentang ku. Kau tidak tahu kehebatan suamimu ini!" Ucap angkuh Arya
"Kau terima saja ini dan jangan membantah. Lagipula aku tidak memiliki uang cash untuk diberikan padamu, Aku percayakan ini pada istriku!" Menarik tangan Dini dan meletakkan black card itu di telapak tangannya untuk di berikan
Dini masih tidak bisa menerima benda tersebut. ia terus memperhatikan black card itu dengan seksama dan menatapnya nanar. Seperti amanah dan tanggung jawab yang besar baru saja diberikan padanya. Dia sangat tahu betul jika black card bukan sembarangan kartu.
"Sudah, Jangan terlalu dipikirkan sampai mengamatinya seperti itu." Ujar Arya membuyarkan ketidak enak hatian Dini
"Aku akan berangkat Ke perusahaan. Jaga dirimu baik-baik di rumah, aku akan segera pulang setelah pekerjaan ku selesai." Ujar Arya yang manis terdengar
"I-iya, Tuan." Jawab Dini yang sekarang tidak segan lagi
setelah itu, Arya bergegas untuk pergi ke perusahaan.
Sebelum berangkat, Arya berpamitan pada Dini, dengan Dini mencium punggung tangan Arya yang terasa canggung.
Ritual pagi hari yang baru akan selalu ia lakukan dengan penuh kebahagiaan dan cinta.
Dini berharap Arya benar-benar tulus untuk berubah, dan tidak lagi mengecewakan dirinya.
__ADS_1
Saat Arya melenggang pergi ke luar, Dini masih saja menatap black card yang ada di atas tangannya saat ini. Arya dengan percaya sudah memberikan benda miliknya yang berharga itu pada istrinya. Sudah sepatutnya Dini berpikir untuk menjaganya dengan baik-baik jangan sampai hilang ataupun boros menggunakannya.
"Black card Tuan ada di tanganku sekarang. Tuan mengatakan, jika aku ingin membeli kebutuhan dapur yang habis, Aku bisa menggunakan ini. Tapi tidak dengan kebutuhanku, Aku tidak ingin memakai uang tuan. Akan ku pergunakan hanya untuk sekedar berbelanja bahan dapur, karena dalam benda ini semuanya adalah uang tuan. Tuan sudah sangat baik padaku sekarang, Aku tidak ingin memanfaatkan kebaikannya. Lagipula apa yang ingin aku beli?" Ujar Dini lalu, pergi ke kamarnya untuk menyimpan black card itu dengan baik-baik dalam brangkas di lemarinya, dan sewaktu-waktu akan mengambilnya jika akan pergi ke supermarket