
Surat terbuka untuk Arya
Untuk suamiku, Arya
Aku istrimu, Dini
Melalui surat ini aku berbicara pada dunia bahwa aku pernah terlahir ke dunia ini sebagai istrimu
menatap usang kotak biru ini, Aku harap kau membukanya suatu saat ini
Suamiku, tak perlu marah pada pencipta dan duniamu, ia sudah sangat baik menyatukan kita
Aku, istrimu, sebagai satu-satunya wanita paling beruntung dapat mengenalmu
Satu-satunya kaum hawa yang dapat memelukmu selama seumur hidupku
Terima kasih untuk segala perjalanan yang telah kita lalui bersama dengan indah
Surat ini akan menjadi saksi bahwa kau tidak akan pernah melupakan ku, aku pernah singgah di hatimu
Obat ini telah habis dikonsumsi, kau yang sakit sudah sembuh
Menikahlah dengan wanita yang kau cintai suatu saat nanti
Lupakan aku, Lupakan bahwa aku pernah mengisi hatimu, namun ingat aku selalu sebagai bunga mawar yang kuat seperti akar untuk menumbuhkan mu
Aku menulis surat ini satu hari sebelum aku merasa akan meninggalkan mu dan berharap kau akan membukanya bersama kenangan dalam kotak ini
Kotak biru, seperti cincin pernikahan kita, warna biru yang kusukai
Seperti laut biru yang menandakan cinta kita sangat dalam
Biru adalah ketenangan dan kedamaian, aku menyukai biru. Kini aku menjadi si biru yang sudah damai
Seperti air yang menyatu, kita hanya berpisah antar jarak dan waktu, Aku mencintaimu
Bersabarlah, Aku menunggumu di keabadian...
Istrimu Dini
__ADS_1
( ◜‿◝ )♡
Satu tahun kepergiannya, Arya menemukan kotak biru dalam sebuah ruangan kenangan bersama Dini yang ia buat. Dalam ruangan itu semua barang-barang miliknya masih terjaga sangat baik.
Arya, mengadarkan matanya tertarik pada kotak biru yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Saat dibuka, kotak itu berisi cincin blue safir yang menjadi cincin pernikahannya bersama Dini dan ternyata keduanya ada di sini. Ia juga melihat secarik kertas dan membacanya berisi surat terbuka untuknya itu.
Selesai membaca, Arya terisak menangis.
Arya menyimpan kotak biru itu berharga, sangat terjaga ia simpan dalam sebuah kotak vintage berbahan kaca yang indah, mewah, dan mahal. Arya seperti menjadikannya museum untuk pribadi.
Ruangan itu terkunci hanya ia yang menyimpan kuncinya. Akan ia buka dan kunjungi untuk mengenang semua kenangan jika ia merindukannya. Bahkan, mungkin akan ia sering kunjungi setiap hari sebagai tempat mengadu saat dirinya lelah.
1 Tahun akhirnya terbebas, ia sangat terpukul atas kepergian istrinya. Kala itu, Arya belum berani menatap dunia yang kejam padanya. Ia bahkan menangis saat membaca secarik surat itu. Selama 3 tahun terhitung ke depan, Syukurlah ia sudah berani keluar mansion tidak mengurung diri lagi, mampu menghidupkan sosok Arya seperti dulu yang identik dalam dirinya.
"Dini, aku ingat. Saat kali pertama bertemu denganmu di sebuah jalan raya saat kau ingin menyebrang dan aku mengebut mengendarai mobilku, kita tak sengaja bertemu dan aku hampir menabrak mu, Aku bahkan memarahi mu dengan keangkuhan ku, Aku tidak percaya bahwa pertemuan itu akan membuat waktu saling mengenalkan kita. Aku juga teringat bagaimana kau datang sebagai office girl yang bekerja di perusahaan ku, saat dihari pertama kerjamu kau lupa membuatkan teh untukku, Namun kau membuatkan kopi yang dibawanya, kopi itu tidak sengaja tumpah mengotori kemeja ku, dan aku marah, saat aku melihatmu menjulurkan tanganmu untuk mencegah tumpahan itu mengenai tubuhku kau berusaha mengelapnya. Sejujurnya aku menyukaimu sejak saat itu, muncul perasaan ku yang berbeda saat melihatmu, jika aku hanya seorang pemuda biasa maka aku akan mengajakmu kencan hari itu, lalu kita akan berpacaran.
Pergi ke taman hiburan dan ke bioskop bersamamu, aku juga ingin menghabiskan waktu lama bersamamu. Dengan ibuku yang menjadikan mu menantu di keluarga ku dan menjadikan mu istri bagiku, dia tidak salah. Dengan keangkuhan dan menganggap ku berkuasa, Aku telah menyakiti wanita malaikat tak bersayap seperti mu. Bagaimana aku menjadi orang yang tak seharusnya berada di sisimu tapi aku tak pernah menyesal bertemu denganmu. Dini, kau adalah bunga mekar dalam jiwaku yang sangat dingin. Terima kasih. Kau sudah pergi, tapi aku akan mengingatmu selamanya. Dini, aku mencintaimu."
Hari-hari dandelions...
"Aku juga sangat mencintaimu."
"Bukankah aku tidak pernah pergi. Kau sendiri yang membuatku jauh darimu. Kau menarik pistol itu hingga mengenai wajahku. Tapi semua kau lakukan agar aku aman..."
"Apa itu sakit?"
"Tidak. Kau sendiri menembak ke area yang tidak akan sakit saat di tembak, bahkan bagusnya akan langsung pindah alam."
"Sepertinya kau sedang memuji ku. Terdengar indah. Semua ku lakukan agar kau tidak menderita lagi, aku tidak bisa membayangkan bagaimana kau hidup lama bersamaku, berapa penderitaan yang masih kau terima."
"Hufft... Itu memang terdengar sangat sulit."
"Kenapa tidak pernah datang dalam mimpi?"
"Untuk apa? Agar kau bisa mimpi basah...hhh..."
"Bercanda mu itu tidak lucu."
__ADS_1
"Aku banyak belajar untuk membuat seseorang tertawa..."
"Untuk apa memberikan tawamu pada orang lain, sedangkan tawamu sendiri tidak pernah digunakan menghiasi harimu. Kau bahagia di sana?"
"Sangat bahagia. Di sana aku bisa melihat mu dari atas. Bagaimana kau sedih, tertawa, bahkan saat ingatanmu teringat padaku, aku mengetahuinya sangat jelas."
"Aku bahagia mendengar hal itu."
"Aku juga bahagia kau mampu melewati hari-hari ini tanpa diriku. Kau berani keluar setelah mengurung diri hingga 3 tahun. Apa kau tidak bosan? Coba lihatlah saat ini kita sedang berada di taman dandelion, bunga tanaman yang terlepas dari putiknya mereka terbang membawa impian seseorang. Terlihat indah, bukan. Tapi sedih..."
"Benar. Aku tahu itu. Dandelion yang identik tentang mimpi seseorang bersama pasangannya."
"Apakah kita memiliki mimpi?"
"Banyak. Sangat banyak dan semuanya terkabul dengan cara yang berbeda."
"Benar. Aku sampai mengejarnya sangat lelah..."
"Kau kemana?"
"Berlari... Tapi, lari bukanlah cara menyelesaikan masalah. Aku tidak akan menyerah dalam keadaan apapun."
"Tapi kau sendiri berlari. Lari sangat jauh hingga tak kembali."
"Aku tidak berlari... Aku hanya menggapai mimpi kita lebih dulu."
Mereka tersenyum satu sama lain. Bersandar di bahu pasangan yang menyamankan. Menikmati senja di taman dandelion yang bunganya tengah berterbangan terombang-ambing angin menaungi mereka di atasnya.
"Dandelion itu sudah terbang sangat jauh. Coba lihat..." Tunjuknya mengulurkan jari telunjuk
"Ya. Dia sudah terbang lebih jauh untuk bertemu dengan Tuhannya, menyampaikan pada beliau jika dia membawa mimpi seseorang..."
"Cinta itu bagaikan sekuntum bunga dandelion. Saat bunganya luruh satu demi satu terhempas angin. Saat itu pula kamu tidak bisa berharap dia akan kembali." Iwok Abqary, Dandelion.
"Aku sangat mencintaimu, Dini."
Tuhan, Terima kasih sudah memberiku kesempatan. Melihat senyumnya, memeluk tubuhnya, dan membuatnya menjadi perempuan pemilik hati pria ini.
Tuhan, Aku tahu Kau sudah menggariskan takdir yang indah ini. Kami sudah sampai di stasiun yang kami tuju. Sampai semesta merestui kami yang saling bersinggungan.
__ADS_1
Dia... Dini Syahera Amalia sampai kapanpun akan berada di sini, di hatiku, dan tidak akan pernah lenyap terkubur oleh tanah bersama kenangannya.
Karena dia adalah kami, sepohon bunga mawar bersama akarnya yang tidak pernah terpisahkan untuk bertahan hidup...