
Setelah penyiraman air panas itu. Tidak ada rasa sedikit pun rasa iba yang muncul atau berhenti mengganggu Dini.
Perintah Arya semakin menjadi-jadi tidak membiarkan Dini beristirahat dengan tangan yang sakit lebamnya.
"Pelayannn..." Teriak kencang Arya
"I-iya Tuan." Ujar Dini dengan berlari menghampiri Arya
"Dari mana saja kau?! aku panggil-panggil dirimu dari tadi kau baru saja menyahut." Hardik Arya
"Maaf, Tuan. Saya tadi berada di belakang mengobati luka saya." Ujar Dini
"Luka kecil begitu saja sudah seperti luka akibat kecelakaan yang membuat mu kehilangan tanganmu sendiri." Hardik Arya Kejam
"Ini lah keburukan mu yang pemalas. Cepat buatkan aku kopi!" Perintah Arya
"Baik, Tuan." Dini segera berlari menuju dapur untuk membuat kopi
Tak membutuhkan waktu yang lama, Kopi itu berhasil dibuat dan langsung dibawa kepada Arya untuk di minum.
"Ini Tuan, kopi anda." Sambil memberikan kopi yang diisi dalam cangkir
Arya langsung meminum kopinya.Namun, Arya menyemburkan kopi tersebut mengenai wajah Dini.
"🤮Kopi macam apa ini. Apa ini caramu membuat kopi. Kau ingin membunuhku." Marahnya
"Maaf, Tuan.apa yang salah dengan kopi yang saya buat?"
"Rasakan saja kopi buatan mu ini." Menyiramkan kopi yang panas itu pada Dini
"Akkhhh... Tuan panas." untuk kedua kalinya Dini terkena semburan Air panas dari minuman kopi
"Apa peduli ku? Rasakan itu!" Hardik Arya sebelum pergi
Telepon Dini berdering disela tangisnya.
"Assalamualaikum..." Jawab angkat panggilan Dini
"Waalaikumsalam, Din. Apa kabarmu?" ucap Bu Amira
"Alhamdulillah baik, Bu. Ibu bagaimana kabarnya?"
"Alhamdulillah ibu baik. Lalu Arya, Bagaimana dengannya?"
"Tuan, ma-maksud Dini Arya baik juga Bu."
"Oh Alhamdulillah, syukurlah kalian semua baik."
"I-iya Bu." Terdengar suara bergetar karena sedih menahan dada yang sesak
"Din, ibu dengar suaramu seperti sedang sedih. Tidak ada yang kau sembunyikan dari ibu kan?"
"Iya Bu, tidak ada. Dini hanya sedang memotong bawang."
__ADS_1
"Oh, seperti itu. Bawang memang seperti itu, sering membuat orang menangis tanpa alasan. Ibu bisa memintamu datang ke rumah ibu tidak hari ini?"
"Ada apa ya Bu?"
"Tidak, ibu hanya ingin bertemu dengan menantu ibu saja. Setelah kejadian kemarin, Ibu belum berbicara lagi bersamamu."
"Iya bisa, Bu. Dini siap-siap terlebih dahulu ya, Bu."
"Iya-iya, ibu tunggu ya." Menutup telepon
Di kamar~
"Aku harus memakai baju yang mana? Aku sama sekali tidak memiliki pakaian yang pantas untuk dipakai. Pakaian dari Bu Amira aku tidak membawa semuanya." Ujar Dini melihat-lihat setiap baju yang dia miliki di lemarinya
Style pakaian Dini bertemu ibu mertua dengan masih menggunakan sarung tangan sepadan dengan warna bajunya untuk menutupi luka perbannya.
"Sekiranya ini masih pantas dipakai."
Dini turun dengan pakaian yang sudah rapih. Saat turun terdapat Arya yang sedang duduk di ruang tamu dengan laptop yang ada di pahanya.
Tentu saja Arya heran kenapa Dini berpakaian rapi dan terlihat tidak kucel atau lusuh seperti tadi.
"Akan pergi kemana kau?" Sambar Arya
"Tuan, tadi Bu Amira menelpon, dan ibu meminta saya untuk menemuinya. Saya harap tuan mengijinkan saya. Jika tuan tidak mengizinkan, saya akan membatalkannya dan mengatakan pada ibu bahwa saya tidak bisa datang."
"Kau ingin orang lain mengetahui kehidupan kita. Kau ingin aku berada dalam masalah sehingga mengatakan pada ibuku bahwa kau tidak bisa datang agar dia curiga." Cetus Arya
"Siapa yang mengatakan jika aku tidak mengizinkan dirimu. Tunggu apalagi, cepat pergi dari hadapan ku sekarang. Aku muak melihatmu dengan pakaian seperti itu." Entah muak atau gemar yang disembunyikan Arya saat Dini terlihat cantik dengan pakaian yang memang pantas berada di tubuhnya
"Tidak ada yang mengatakannya, Tuan." Jawab Dini sambil menunduk
"Baguslah, rupanya ada perubahan dari cara selera pakaianmu. Sehingga aku tidak perlu lelah menjelaskan padamu bagaimana berpakaian seperti kalangan kolongmerat."
"Untuk membuat ibu tidak curiga, Tuan.bukankah Anda sendiri yang mengatakan pada saya untuk menjaga harga diri tuan di depan ibu. Agar ibu mengetahui jika kita memang benar-benar bahagia."
"Baiklah bagus. Dan ingat, dihadapan ibu kau tidak boleh mengatakan apapun padanya. Aku tidak akan bosan mengingatkan mu tentang hal ini.karena aku curiga bisa saja kau menusuk dari belakang."
"Baik, Tuan."
"Ayo, aku antar."
"Hah... ma-maaf tuan saya tidak mendengar." Bicara Dini tercengang mendengar tawaran Arya
"Apa kau tuli?! sudah aku katakan aku yang akan mengantarkan mu."
"Tidak perlu, Tuan. saya sudah memesan ojek online."
"Batalkan itu, dan cepat masuk mobil."
"Baik, Tuan." Ingin tidak ingin Dini harus menerimanya
__ADS_1
Hampir 25 Menit menempuh perjalanan, Mobil mewah Arya kembali menginjak mansion orang tuanya. Setelah mengantar Dini, Dia melajukan kembali mobilnya pergi.
"Assalamualaikum..." Ucap Dini sambil menekan bel
"Waalaikumsalam...Din." Jawab Bu Amira yang langsung menyambar memeluk Dini
"Kau sudah sampai, kau naik apa kemari?"
"Suamiku yang mengantarkannya kesini, Bu." Jawab Dini
"Oh seperti itu. lalu, di mana Arya?"
"Dia sudah kembali, Bu. Dia hanya mengantarkan ku saja, dan mengatakan ingin mengunjungi perusahaan barunya.karena kebetulan searah melewati mansion ibu."
"Oh baiklah, sekarang ikut ibu saja ya. Hari ini kau sangat cantik sekali."
"Ke mana Bu?" Tanyanya
"Sudah ikut saja." Paksa Bu Amira menarik Dini masuk mobil
Sampai di Restaurant yang pastinya sangat mewah sesuai dengan kelompok orang elit yang tidak akan terlihat biasa-biasa saja.
Terdapat kumpulan ibu-ibu dan menantu mereka yang merupakan kelompok sosialita baru Bu Amira yang berbeda dari anggota yang dahulu Dini temui saat bekerja di Restaurant Shinta.
"Heh, lihat! Bu Amira datang bersama siapa?" Tunjuk ibu itu merupakan salah satu sosialita
"Heh, jeng. Menantu saya lah. Dini kenalkan ini teman-teman ibu."
Dini hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya memberi salam dengan sopan dan ramah.
"Wah cantik sekali, Akhirnya kau memiliki menantu yang bisa menemanimu ke mana pun. Kapan Arya menikah? Terdengar kabarnya menikah juga tidak, ketika datang sudah menggandeng menantu saja.padahal kan kaus kaki yang Arya pakai saja tidak akan luput dari perhatian jagat maya. Toh Arya sendiri orang terkemuka di dunia ini, Siapa sih yang tidak kenal dengan Arya si CEO yang hebat itu." Puji Ibu itu belerbihan
"Berasal dari keluarga mana dia? Yang pastinya wanita yang dinikahi Arya bukan wanita dari latar belakang keluarga sembarangan." Tanya salah satu ibu sosialita selanjutnya
"Saya bukan dari keluarga berada. Ayah saya hanya pem..." Bicara Dini terpotong belum sampai menyelesaikan kalimat akhirnya
"Ya, Tentu saja. Dini ini anak pengusaha sukses di Dubai. Bisnis Ayahnya mencakup pusat perbelanjaan hingga hotel yang tersebar di berbagai negara." Ujar Bu Amira bukan angan-angan biasa sampai Dini mengerutkan dahinya dan menatap sendu Bu Amira
"Apa yang ibu katakan? Apa dia lupa bahwa diriku ini adalah hanya anak dari seorang petani. Dan sepertinya ibu malu mengakui akan hal itu, sehingga dia berbohong tentang diriku pada teman-temannya." Bicara Dini dalam hati, sungguh pernyataan Bu Amira membuat Dini benar-benar sakit hati merasa dikhianati
"Wah hebat sekali. Wajar saja kolongmerat seperti kalian saling dipertemukan.kalian benar-benar beruntung, Harta kalian sampai bertambah tidak akan habis 100 turunan." Jawab Ibu sosialita itu
Setelah berbincang lama, Dengan senda gurau yang gemuruh mereka memutuskan untuk memesan makanan. Tak kunjung lama pramusaji datang membawa makanan mereka dan mereka langsung menikmatinya.
Selama proses menikmati, ibu-ibu sosialita malah tersalah fokuskan pada Dini yang sedang memakan makanan tersebut.
"Bukankah dia berasal dari keluarga yang berada. Seharusnya dia sudah terbiasa makan menggunakan pisau dan garpu. Tapi lihat sepertinya menantu Bu Amira sangat kesusahan." Bisik mereka
Bukan tidak bisa makan menggunakan pisau dan garpu, hanya saja Dini kesakitan memegang kedua benda stainless tersebut. Sehingga dengan begitu pegangannya cukup goyah akibat luka itu.
Namun, spesikulasi orang yang tidak tahu selalu membuat seseorang tersudutkan akibat pernyataan yang tidak benar dan negatif.
Dan Bu Amira sendiri tidak bertanya akan sarung tangan yang menyelimuti tangan Dini.
__ADS_1
Dia berpikir itu hanya bagian dari penambah fashionnya saja yang Dini gunakan.