
Akibat pertengkaran Arya dengan Valerie yang belum usai, Dari sejak kepulangannya itu ia belum pergi ke kamarnya sendiri untuk sekiranya membersihkan diri.sehingga dia memutuskan untuk mandi di kamar mandi ruang kerjanya dan berdiam diri di sana. Hal itu dilakukan untuk menghindari Valerie yang kini dirinya masih sangat marah.
Secara diam-diam Dini menelusup masuk ke ruang kerja Arya sambil membawa Teh Chamomile kesukaannya.
"Maaf, Aku masuk tanpa seizin mu. Ini teh untukmu." Ucap Dini sambil meletakkan di atas meja kerja Arya
Respon Arya pun biasa saja malah sibuk dengan laptopnya. Bahkan dia sama sekali tidak terusik ataupun melihat kehadiran Dini sekilas.
Karena alasan ia datang menemui Arya setelah memberanikan diri bukan untuk mengantarkan teh. Dini kembali membuka pembicaraan untuk mengatakan apa yang ingin dia sampaikan sebenarnya.
"Tuan, apa anda memiliki waktu? Saya ingin mengatakan sesuatu pada anda." Ucap Dini menghampiri Arya dan berdiri tepat di hadapannya
"Aku sibuk, kau bisa pergi." Cela Arya masih sibuk dengan laptopnya
"Ini bukan mengenaiku. tapi rumahmu, di sini aku tahu tentang posisiku, aku adalah pembantu di rumah ini. aku ingin mengatakan jika keperluan dapur sudah habis, apa saya boleh meminta uang pada Tuan untuk membeli keperluan bulanan." Ucap Dini terus terang
Arya terhenti mengetik di laptopnya, mendengar pernyataan Dini membuat hatinya getir. Dari awal tanpa mendengarkan Dini berbicara dahulu, dia sudah berburuk sangka bahkan menolaknya.
"Bukankah kemarin aku sudah memberikan pada Valerie sejumlah uang untuk dia dan keperluan rumah ini yang seharusnya diberikan padamu sebagian. Apa dia sama sekali tidak memberikan uang itu padamu?" Ucap Arya
"Jika seperti itu mungkin Nona Valerie lupa. Akan saya tanyakan padanya." Ucap Dini hendak pergi
"Tidak perlu, Berapa yang kau butuhkan?" Henti Arya
Dini pun berbalik.
"Terserah pada Tuan saja, Saya akan menerimanya dan akan menyesuaikan bahan penting apa saja yang harus dibeli sesuai jumlah uang yang ada." Kata Dini
"Aku membutuhkan uang sebesar 300 juta untuk membeli tas dan baju keluaran terbaru. Apa aku boleh meminta uangnya darimu?" Kalimat saat kemarin Valerie meminta uang pada Arya untuk pergi ke mall kemarin
Dengan hal ini membuat Arya melamun merasakan perbedaan dari dua sosok wanita yang entah kenapa lebih berpihak pada Dini.
"Kenapa dia wanita yang berbeda? Dia bukan wanita penuntut untuk mendapatkan kesempatan hanya demi keperluan yang tidak penting." Gumam Arya menatap Dini dengan nanar
"Bagaimana Tuan, Apa Tuan keberatan?" Tanya Dini membuyarkan lamunan Arya
"Agh...Tidak. Aku akan mengambil uangnya sekarang." Beranjak Arya dari kursi kerjanya
__ADS_1
Dini mengangguk sebagai jawaban.
Setelahnya Arya kembali dari sebuah ruangan kecil di sana untuk mengambil uang cash yang di simpan di brankas.
"Ini sejumlah uang yang ku berikan padamu. Semoga saja itu cukup." Ucap Arya memberikan uang tersebut dengan masih di amplop coklat
"Ini lebih dari cukup Tuan. Terima Kasih, besok saya akan pergi ke supermarket." Ucap Dini belum melihat jumlah uangnya
Dini pun dengan ragu-ragu mengambilnya.
Saat melihat amplop yang tertera total jumlah uang yang ada di dalam. Sontak membuatnya terkejut.
"Tapi Tuan, uang ini jumlahnya banyak sekali.di sini tertulis 350 juta. Untuk berbelanja kebutuhan dapur selama sebulan tidak akan sampai menginjak 50 juta."
"Pakailah uang itu bukan hanya untuk keperluan dapur. Sisanya aku memberikan uang itu untukmu." Ujar Arya membuat Dini bergetar
Ia tidak menyangka Arya berkata seperti itu. Tapi atas dasar apa?
"Tidak, Tuan. Saya menolaknya.bisa makan saja di sini sudah bersyukur. Saya akan mengambil sebagian dan mengembalikannya lagi pada anda."
"Kau selalu meyakinkan aku bahwa kau adalah istriku, Bukan? anggap saja itu adalah nafkah dariku untuk kedua istriku. Apa aku sudah bersikap adil pada kalian?" Lanjutnya
Pernyataan Arya yang mustahil terucap dan terdengar membuat Dini termenung membelalakkan mata sedikit.
Hatinya tersentuh kala Arya berkata seperti itu.
"Jika Tuan berpikir demikian. Baiklah, Saya akan menerima uang ini. Tapi bukan semata untuk berfoya-foya, saya anggap Tuan memberi uang untuk keperluan dapur selama 7 bulan ke depan." Ucap Dini
"Terserah padamu saja. uang itu sudah berada di tanganmu dan kau berhak ingin menggunakan uang itu bagaimana." Jawab Arya
"Jika begitu saya permisi, Tuan." Pamit Dini hendak membalikkan badan
Namun...
"Tunggu...!" Entah kenapa Arya meminta Dini untuk tidak pergi dari sana. Rasanya berbeda! seolah sebuah magnet menariknya untuk menghentikan Dini agar tidak pergi, dan terus berada di dekatnya.
"Iya, Tuan. Tuan membutuhkan sesuatu?" Ucap Dini menghentikan langkahnya lagi
__ADS_1
"Ke-kemarin kau mual dan juga muntah. Apa kau sudah memeriksakan diri, Apa kata dokter?" Tanya Arya gugup. Namun, Dini termenung kembali
"Andai Kehidupan kita berbeda tidak seperti dirasakan sekarang.mungkin akan terdengar indah jika aku mengatakan ini padamu, Tuan. Aku hamil, dan kau akan menjadi seorang Ayah. Anak kita sudah hadir dan dia ingin merasakan kehadiran mu." Gumam Dini sangat sedih dirasakannya
"Dokter tidak mengatakan hal yang tidak-tidak, kan?" Tanya Arya sekali lagi karena menunggu lama jawaban Dini
"Agh... Tidak ada, Tuan. Kemarin saya hanya masuk angin saja. Dan sekarang sudah mulai membaik." Jawab Dini demikian
Perbincangan mereka terasa canggung. Setelah Dini menjawab, Tidak ada lagi suara dilontarkan yang terdengar dari mereka.
"Tuan,,,!!"
"Dini,,,!!"
Dengan bersamaan mereka membuka suara.
Karena menurut Dini lucu, Ia sampai tertawa kecil. Bisa-bisa mereka berbicara terdengar di waktu secara bersamaan.
"Tuan saja dahulu yang berbicara." Kata Dini
"Tidak, Aku tidak jadi untuk mengatakannya." Jawab Arya yang masih terpaku saat tawa Dini menyelimuti hatinya
"Kau sendiri ingin mengatakan apa?" Lanjut Arya bertanya
Walaupun sangat penasaran apa yang ingin dikatakan Arya. Tapi dia tidak mengambil pusing karena ingin segera pergi dari sana.
"Tidak ada, Hanya ingin pamit untuk ke luar saja." Ucap Dini
"Baiklah, kau bisa pergi." Pungkas Arya
Setelah Arya benar-benar memerintahkan Dini untuk pergi. Dan setelah memastikan tidak ada lagi suara dari Arya, Dini segera pergi dari ruang kerja Arya itu menuju kamarnya.
Siapa sangka sejak dari tadi seekor kambing congek menguping dari balik dinding dan melihat interaksi mereka. Siapa lagi jika tidak lain dan bukan Bu Clara!
Ia sangat iri dan marah melihat interaksi Dini dan Arya yang sedikit dekat itu. Membuat dia panas hati dan tidak bisa menerima jika kelak putrinya Valerie akan kalah saing dengan Dini. Pikirannya pun sudah sangat buruk menatap masa depan, ia takut jika pada akhirnya Dini bisa menarik hati Arya. Dan Arya lebih peduli pada Dini sampai melupakan Valerie.
Sehingga dari sejak itu, sesuai tujuannya awal ia masuk ke dalam rumah itu. Bu Clara mulai menyusun rencana!
__ADS_1