Terbelenggu Oleh CEO Angkuh

Terbelenggu Oleh CEO Angkuh
S2 42 - Tinggal Bersama


__ADS_3

Dini meninggalkan kedua anaknya Arsen dan Ansel di ruang makan dan pergi mencari Arya yang tidak kunjung turun. Dia ingin berterima kasih terhadap laki-laki itu karena sudah membawa Ansel padanya.


Dini mencari ke beberapa ruangan, namun Arya tidak ada. Akhirnya Dini mencari ke kamar. Tanpa mengetuk dia segera membuka pintu kamar itu. Di dalam kamar, Arya sedang melepaskan pakaiannya. Laki-laki itu sedang bertelanjang dada dan bersiap-siap membuka celananya.


"Ahhh, Ma-maaf." Dini membalikkan tubuhnya. Dia merasa malu melihat tubuh setengah telanjang Arya


Dini mendengar laki-laki itu berjalan mendekat padanya. Tanpa disadari nya, tubuh laki-laki itu sudah berada di belakangnya. Menghimpit tubuhnya dengan lekat, menggesek-gesekkan bagian tubuhnya yang menonjol di bok*ng Dini.


"Kenapa begitu malu? Bukankah kita sudah melihat tubuh satu sama lain berkali-kali? Hemm..." Arya memeluk tubuh Dini dari belakang. Bibirnya mulai menciumi telinga Dini.


"Ahh... Kenapa kau melakukan hal ini lagi padaku? Ad-ada anak-anak di bawah..." Dini berusaha untuk melepaskan diri


"Aku melepaskan mu kali ini. Tapi tidak lain kali." Arya melepaskan pelukannya dan mulai mengganti celananya. Tampak tonjolan yang sudah mengeras tercetak di area selangkangannya. Sepertinya laki-laki itu berusaha untuk menahan birahinya. Dini masih berdiri terpaku.


"Aku sudah melepaskan mu. Ada yang ingin kau sampaikan?"


"Ak-Aku ingin berterima kasih. Terima kasih sudah membawa Ansel. Terima kasih sudah mengizinkanku untuk melihat Ansel dan juga Arsen. Terima kasih!!" Dengan pipi merah padam, Dini mengucapkan terima kasih pada Arya


Ini adalah pertama kalinya dia berbicara kepada Arya seperti orang normal. Dan pembicaraan pertama itu, berupa ungkapan terima kasih. Dia begitu malu.


Arya tidak membiarkan Dini pergi begitu saja. Dia segera menangkap tangan Dini dan menarik tubuh wanita itu ke pelukannya. Kemudian dengan buas laki-laki itu mulai mencium bibir Dini. Ciumannya di penuhi dengan birahi dan hawa nafsu. Lama keduanya saling mengulum, mengecap, mengeksplore bibir satu sama lain. Hingga akhirnya Arya melepaskan ciumannya karena merasa birahinya sudah sangat memuncak. Napas keduanya tampak terengah-engah.


"Tunjukkan rasa terima kasihmu nanti malam. Siapkan tubuhmu segera." Geram Arya di telinga Dini sebelum melepaskan wanita itu dan berjalan ke arah kamar mandi.


Dini berlari meninggalkan kamar. Wajahnya tampak merah padam. Bisa-bisanya sore hari mereka di penuhi dengan gairah seperti itu? Apalagi ada anak-anak di rumah mereka dan kapan saja bisa datang. Orang tua sungguh mereka tidak bermoral.

__ADS_1


Dini kembali menemani Ansel dan Arsen yang tampak berdiam diri satu sama lain tanpa ada sebuah interaksi.


"Kalian tidak saling berbincang? Bukankah di sekolah kalian adalah teman. Lalu, kenapa saat di rumah kalian seperti tidak saling mengenal?" Ucap Dini membuka pembicaraan


Arsen tidak menjawab pertanyaan dari ibunya. la masih tenang dengan wajah datarnya. Sedangkan Ansel, Dia tahu jika Arsen tidak menyukai dirinya dan hanya melirik ke arahnya sekilas tanpa ingin menyapa.


"Ibu, kapan kita akan pulang? Ayah dan nenek pasti sudah menunggu kita. Apa yang akan kita lakukan di sini?" Bicara Ansel bertanya


"Emm... Nanti kita akan pulang, Ya." Jawab Dini


"Oh, lya. Kenapa ibu bisa ada di rumah paman tampan? Dan Kenapa ibu tidak pulang ke rumah? Tadi pagi semua orang di rumah sangat mengkhawatirkan ibu." Ucap Ansel


Dini bingung menjawab pertanyaan yang dilontarkan Ansel padanya. Namun, untung saja Arya datang dan menggantikan Dini menghadapi pertanyaan Ansel.


"Ansel, Bagaimana jika ibumu mengajakmu tinggal di sini? Apa kau akan menyetujuinya?" Tanya Arya yang sedang menuruni anak tangga


"Paman hanya bertanya jika saja kalian tinggal di sini karena kita adalah keluarga!" Terus terang Arya


Bagi Ansel diseusianya tidak cukup mengerti untuk menangkap apa yang di maksud orang dewasa. Ia belum tahu apa arti dari keluarga? Keluarga baginya hanya terdapat di rumah Darwin.


"Paman tampan juga keluarga ayahku?" Lontar Ansel


"Iya. Kau bisa bertanya langsung pada ibumu. Dia akan menjawab setiap pertanyaan mu." Lirik Arya pada Dini


"Jika aku tinggal di sini, mungkin semuanya akan menyenangkan. Rumah paman tampan sangat besar lebih dari milik ayahku. Apalagi bisa tinggal serumah bersama paman tampan." Ujar Ansel

__ADS_1


"Maka dari itu tinggal saja di sini. Ibumu akan menyetujuinya. Dia juga akan tinggal di sini." Kata Arya


"Ibu akan tinggal di sini?" Tanya antusias Ansel


Dini melirik ke arah Arya. Arya pun memberikan sebuah jawaban menggunakan isyarat dengan penuh makna ancaman.


"I-iya... Kita akan tinggal di sini." Jawab Dini gemetar


"Bersama paman tampan dan juga Arsen?" Tanya Ansel memastikan


Dini pun hanya mengangguk.


"Yeay,,, Ini sangat menyenangkan. Aku dan ibu menjadi orang pertama yang bisa tinggal dengan paman tampan." Senang Ansel lugu


"Aku tidak ingin tinggal di sini!" Gertak Arsen berdiri dari duduknya


"Antarkan aku pulang ke mansion nenek sekarang juga. Jika kalian berencana tinggal bersama, tinggal saja bertiga dan jangan mengajak diriku!" Lanjut Arsen berbicara


"Tidak bisa! Kau lebih berpikiran dewasa dari Ansel. Terbilang usia kalian sama, Tapi kau kau sudah mengetahui sesuatu dari dia. Karena kami belum memberitahu suatu kebenaran padanya. Di sini ayah adalah kepala keluarga, itu artinya kau harus mendengarkan pemimpin mu." Kecam Arya


"Ayah Egois!!" Arsen tidak begitu menyetujui keputusan ayahnya. Walaupun dengan begitu ia tetap menerima bahwa dia akan tinggal di rumah itu entah sampai kapan. Dengan sangat marah Arsen pergi meninggalkan yang lain menuju kamarnya.


Sekuat apapun Arsen mengelak untuk tinggal bersama, Arya tidak akan membiarkan siapapun yang sudah masuk ke dalam rumah itu bisa keluar begitu saja tanpa persetujuan darinya.


Sangat sulit bagi Arsen untuk menerima Dini sebagai ibunya dan mengajak Ansel yang belum ia ketahui sebagai adiknya itu akan sering ia temui setiap hari di rumah ayahnya. Apalagi rasa benci pada Dini dan berimbas pada Ansel itu tidak tertolong! Hanya waktu yang bisa mengubah Arsen untuk menyukai ibunya!

__ADS_1


Tidak ada niat buruk pada Arya mengumpulkan keluarga kecilnya dalam satu rumah. Niatnya pun sangat baik hanya untuk menyatukan hubungan baik antar ibu dan anaknya yang sedang terjadi kesalahpahaman. Arya hanya ingin jika Arsen bisa membangun chemistry dengan ibunya, ia berusaha mendekatkan mereka agar Arsen tahu jika ibunya tidak sejahat yang dia kira. Dengan Dini berada di rumah itu bersama anak-anaknya akan lebih fokus menjalankan kewajibannya sebagai seorang ibu yang bertanggung jawab daripada harus berpisah dari satu anak dengan anak lainnya.


Sembari perlahan akan terciptanya kedekatan sebuah keluarga harmonis seperti layaknya keluarga pada umumnya, tidak terlepas dari tujuan utama Arya untuk mendapatkan Dini kembali!


__ADS_2