Terbelenggu Oleh CEO Angkuh

Terbelenggu Oleh CEO Angkuh
S2 96 - Nama Anak Untuknya


__ADS_3

"Zayn, Luna, Ayo segera turun! Sarapan sudah siap." Teriak Bu Amira, Keluarga Pratama yang akan sarapan


Di pagi hari, saat sarapan, Dini mengejek Arya bahwa Luna dan Zayn belum keluar dari kamar sampai sekarang.


"Luna dan kakak belum keluar juga pasti karena semalam mereka sangat kelelahan, Kan." Lontar Dini pada suaminya yang ada di sampingnya


Arya tahu apa yang sedang ada di isi otak istrinya. Arya hanya diam tidak menjawab dan menggelengkan kepala tidak habis pikir pada istrinya.


Luna dan Zayn akhirnya turun setelah mandi seperti pengantin baru. Mereka terlihat berjalan bersamaan dengan Rambut Luna yang masih basah. Rambut basah pun menjadi incaran ejekan Dini selanjutnya.


"Rambut basah dan pakaian baru. Dia datang terlalu sempurna menjadi seorang pengantin yang baru saja melewati malam pertamanya. Hihi..." Ejek Dini pelan, Namun didengar oleh Arya yang disampingnya


"Berhenti mengejek. Akhir-akhir ini pikiranmu sangat kotor, apa itu bawaan hamil? Sekarang mulai makan saja." Ucap Arya pelan, ia menyajikan beberapa makanan yang sudah dimasakkan pelayan di piring istrinya itu


"Kau tidak ingin membahas malam pertama bersama? Oh iya aku lupa, Pernikahan kita tidak ada malam pertamanya, hari itu terganti oleh malam kau menyiksaku dengan kejam." Ucap Dini menyindir


"Aku tidak tahu malam pertama." Jawab Arya ketus, ia kesal pada istrinya yang berubah hormon dan menyangka bawaan hamilnya, Arya sampai dengan kasar memasukkan makanan dalam mulutnya


"Kau tidak tahu?? Ya ampun, Ternyata Tuan Arya tidak tahu apa yang dilakukan pengantin di malam pertama." Pekik Dini mengejek


Arya hanya menggeleng karena malu seharusnya Dini tidak mengungkit itu dihadapan keluarganya.


"Suamiku yang polos! Dia tidak tahu bagaimana si kembar bisa ada di dunia ini dan perutku bisa membesar seperti ini. Ck..ck..ck.. Miris sekali." Ucap Dini tak berhenti bicara dan mengejek suami yang saat ini terlihat kesal


"Apa yang sedang kalian bicarakan pengantin lama. Arya sendiri terlihat kesal." Tanya Bu Amira


"Tidak ada ibu, Suamiku hanya iri melihat Kak Zayn dan Luna yang baru saja menikmati malam pertamanya. Suamiku marah karena kita tidak bisa melakukannya saat ini." Lontar Dini menyudutkan Arya


Arya refleks tercekat. Suara dentingan sendok dan garpu terjatuh di atas piring. Arya melepas begitu saja untuk menutup mulut istrinya yang aneh saat ini. Bisa-bisanya Dini berbicara mengenai keintiman, bukankah ia tidak suka membahas hal tersebut pada orang lain.


"Dini!" Pekik Arya menutup mulut istrinya


Arya terlihat berkeringat dingin. Ia kewalahan menghadapi istrinya yang sangat aneh dari kemarin. Jika bawaan dan hormon saat hamil, ini tidak logis baginya.


"Emm... Istriku sayang, sudah ya berbicaranya. Saat ini kau harus makan agar bayi darimu sehat. Jangan berbicara saat makan, kau tahu kan adab saat di meja makan." Ucap Arya greget


"Dia seperti marah karena tidak bisa mendapatkan jatah hingga beberapa bulan. Maka dari itu, pakailah pengaman agar bibitmu itu tidak tumbuh." Ejek Zayn sebaliknya


...***...

__ADS_1


"Dini... Dini..." Teriak Arya memanggil ibunya


Arya mencari istrinya yang menghilang begitu saja di mansion. Ia mencari Dini di kamarnya, namun tidak ada padahal dia membutuhkan istrinya saat ini.


"Ibu, Apa kau tahu Dini ada di mana?" Tanya Arya pada Bu Amira yang baru saja keluar dari dapur


"Dini? Bukankah dia dilarang keluar dari kamar olehmu, Ya." Jawab Bu Amira


"Tidak ada Bu, jika ada di kamar maka aku sendiri tidak akan mencarinya."


"Mungkin di halaman belakang. Akhir-akhir ini saat kau bekerja, Ibu Lihat dia sering diam-diam pergi kesana." Kata Bu Amira


"Baiklah, Aku akan mengeceknya." Ucap Arya pergi ke halaman belakang


Saat sampai dihalaman belakang, Arya kembali memanggil nama istrinya. Di sana terdapat tanaman pohon baru yang sudah lama ditanam dan kini sudah berbuah, Yakni pohon Asam Jawa.


Arya tidak mendapati Dini di sana. Matanya menelisik kesana kemari hanya untuk membidik wajah istrinya.


Sedangkan, di sisi lain Dini memang berada di sana. Ia mendengar Arya memanggil namanya terus menerus, ia tidak peduli sedang bersembunyi dibalik pohon, asyik memakan Asam Jawa ditangannya.


"Dini... Dini...! Kemana dia? Aku tidak melihatnya di sini." Lirih Arya berkata


Hingga pada saatnya, Tatapan Arya tertuju pada sebuah pohon, ia merasakan kehadiran Dini dibalik pohon itu.


Jaraknya sudah dekat dan benar saja Dini sedang bersembunyi, Dini yang membelakanginya pun merasakan ada seseorang yang datang. Ia menghentikan makan Asam Jawanya, menengok ke belakang, sontak terkejut Arya ada dihadapannya.


Dini pun menyembunyikan asam jawa yang sedang ia makan dibelakangnya. Arya memegang telinga Dini tapi bukan menjewer nya, ia pun langsung menginterogasi istrinya.


"Apa yang sedang kau makan?" Tanya Arya


"Tidak. Memangnya apa yang aku makan." Balas Dini berbohong sambil membolak-balikkan tangan kanannya untuk menunjukkan bahwa dia tidak memakan apapun


Arya menatap ke belakang Dini, ia tahu Dini menyembunyikan sesuatu darinya.


"Coba keluarkan tangan kiri mu! Kenapa kau menyembunyikannya." Kata Arya tidak bisa dibohongi


Dini tidak bisa membela diri lagi. Inilah yang membuatnya selalu kalah dari Arya. Perlahan ia mengeluarkan tangan kiri dari persembunyiannya, mendapati tengah memegang asam jawa yang di makan.


"Asam Jawa. Aku menginginkannya, jadi aku memakan ini. Ini demi bayi kita, Aku mohon, Please!" Rengek Dini

__ADS_1


Arya tertawa kecil melihat raut wajah istrinya yang merengek. Ia melepaskan pegangan telinganya tadi, dan ikut duduk bersandar tanah dan rumput, bersandar di pohon itu menikmati pemandangan halaman yang penuh tanaman.


"Karena kau yang menginginkannya, maka aku memberi izin untukmu, kau boleh memakannya, tapi tidak boleh terlalu banyak." Jawab Arya


"He...hemm..." Dini mengangguk kegirangan, ia melanjutkan makan asam jawa yang sempat tertunda, sangat lahap tanpa merasa asam.


"Apa kau tidak merasa asam? Aku bertanya apakah bayi kita benar-benar menginginkannya." Kata Arya


"Uuhh... Kau tidak percaya. Ini sangat enak, rasanya asam apalagi di makan siang hari terik seperti ini. Kau ingin mencobanya?" Ujar Dini menyodorkan tangan untuk menawarkan Arya makan


Arya menggeleng sebagai jawaban.


"Baiklah..." Dini pun melanjutkan makannya lagi, ia begitu menikmati asam jawa itu berkali-kali. Tangannya sampai menyatu 👌 mengatakan perfect.


Arya tersenyum-senyum melihat Dini yang membuatnya bahagia. Ia bisa merasakan santai menikmati udara segar bersama istrinya yang tiada tara. Ditambah melihat kebahagiaan sang istri dengan mengidamnya, seakan beban dunia hilang dipundaknya.


"Aleena..." Ucap Arya terdengar nama seorang wanita yang keluar begitu saja dari mulut Arya


Dini sendiri sampai menghentikan aktivitasnya.


"Aleena?? Siapa? Apa dia istri barumu." Sewot Dini bertanya


"Jangan mengada-ngada. Aku sendiri tidak mengenalnya..." Ucap Arya terkekeh


"Lalu, mengapa kau tiba-tiba menyebut nama itu?" Tanya Dini


"Nama itu yang akan ku berikan pada anak kita." Ungkap Arya


Dini malu telah berburuk sangka pada suaminya.


"Sangat indah. Tapi memangnya kau yakin anak kita lahir perempuan, bagaimana jika laki-laki lagi?" Ketus Dini


"Aku sangat yakin." Jawab Arya percaya diri


Kepercayadirian Arya membuat Dini terkejut.


"Bagaimana bisa yakin? Apa kau sudah tahu lebih dulu dari tuhan yang memberitahunya langsung padamu." Ejek Dini


"Aku sangat berharap memiliki anak perempuan. Maka dari itu aku sangat yakin Tuhan memberkati Keluarga kita, setelah mendapatkan dua anak laki-laki, aku akan mendapatkan anak perempuan untuk melanjutkan kehidupan mu berikutnya. Aku ingin melihat dua wanita yang hebat tumbuh di rumahku. Aku juga menamakannya Aleena, karena memiliki banyak arti dari berbagai bahasa sebagai perempuan yang lemah lembut, baik hati, mulia, cantik, terang, cerdas, dan sangat berharga dan berarti dalam hidup ini menggambarkan seperti dirimu." Jelas Arya

__ADS_1


Dini tersentuh dan ia tertegun untuk terharu. Harapan Arya begitu manis menginginkan anak perempuan untuknya. Satu harapan Dini, semoga saja Tuhan mendengarkan doa suaminya. Ia hanya ingin Keluarganya terus bahagia hingga bisa melihat anak mereka menikah nanti. Terutama ia sangat ingin melihat Arya sembuh dari penyakit anehnya agar Arya tidak tersiksa dengan anggapan orang lain yang selalu mengatakan dirinya gay dan memiliki rahasia dibalik Pernikahannya dengan Dini yang hanya sebagai formalitas saja.


Jujur, Dini takut lebih dulu pergi dari Arya, Tidak ada yang mengetahui takdir seseorang, bukan? Ia tidak bisa membayangkan bagaimana jika dia meninggalkan Arya bersama anak-anaknya dan Arya tidak bisa memiliki wanita lain untuk dinikahi hanya karena masalah penyakitnya.


__ADS_2