
"Bagaimana hari-hari mu di rumah bersama anggota keluarga itu, Din?" Tanya Bu Amira
"Semuanya berjalan baik-baik saja, Bu."
"Ibu tidak yakin akan hal itu. Apalagi ditambah ibunya Valerie yang tinggal di sana. Pasti kedua makhluk itu sudah membuat menantuku susah, Iya kan?"
Dini mencoba untuk tersenyum pada ibu mertuanya agar tidak membuat khawatir.
"Ibu juga tidak tahu harus bagaimana lagi pada Arya. Segala cara ibu sudah lakukan agar tidak menindas mu, tapi upaya itu selalu gagal karena dia lebih memihak keluarga itu."
"Tidak apa-apa, Bu. Untuk saat ini aku mampu menjalaninya." Jawab Dini tegar
"Ibu merasa bersalah karena sudah menjodohkan mu dengan Arya tanpa tahu kehidupan setelahnya yang ternyata hanya memberikan luka. Gara-gara perjodohan ini kau terseret dalam sebuah penderitaan. Maka dari itu sekarang ibu memutuskan untuk melepaskan mu, Din."
"Maksud Ibu?" Dini tidak mengerti apa yang ibu mertuanya katakan
"Ibu pikir sebaiknya kau dan Arya bercerai, Nak. Kau bisa mencari dan menikah dengan laki-laki yang bisa memberikanmu kebahagiaan dan keluarga mertua yang lebih baik dibandingkan kami."
"Apa yang ibu katakan. Aku tidak percaya jika ibu akan berpikir sejauh ini."
"Karena kau menderita, Nak. Kau sendiri pasti menginginkan kebahagiaan dalam hidupmu, Bukan? Lalu, untuk apa kau mempertahankan pernikahan yang tidak berarti ini."
"Saat itu ibu datang ke rumahku dengan memohon agar aku menerima perjodohan mu, Bukan? Jika aku menerimanya, maka dengan begitu tandanya aku sudah siap untuk segala konsekuensinya."
"Semua terserah padamu. Ibu hanya menyesal menjadikan wanita baik seperti dirimu sebagai taruhan. Jika suatu saat nanti kau bukan menantu ibu lagi, Ibu ikhlas menerima kenyataannya."
Perkataan Bu Amira membuat Dini termenung sedih tidak mampu berkata-kata lagi. Dia dilema kebingungan harus berkata apa melihat Bu Amira yang terlihat menyesal dari wajahnya.
"Kau pagi sekali datang kemari. Kau juga pasti belum sarapan apapun, pelayan mungkin sudah menyiapkan sarapannya. Kita sarapan saja dulu, Ya." Pinta Bu Amira
"Lalu, bagaimana dengan semua orang? Ayah mertua, Luna dan Tuan Darwin juga belum turun." Tanya Dini yang sedari tadi tidak melihat anggota keluarga Pratama yang lainnya
"Sebentar lagi juga mereka akan turun. mungkin sedang bersiap."
Memahami perkataan Bu Amira, Dini pun pergi bersamanya ke ruang makan.
__ADS_1
"Wah, senang sekali melihat nyonya muda datang berkunjung." Ujar Bu Ashna dengan senyum lebarnya
"Aku meminta menantuku yang cantik ini datang, dan tidak disangka ia datang larut pagi sekali." Jawab Bu Amira
"Keputusan nyonya besar sangat baik. Sangat senang rasanya melihat istri tuan muda ada di sini." Kata pelayan lain
"Ibuuu?! Apa sarapannya sudah siap? Aku harus berangkat ke perusahaan pagi sekali." Teriak seseorang sambil menuruni tangga
"Semuanya sudah siap, Nak." Bicara Bu Amira menyahut
"Ehh,,, Kakak Ipar?! Kakak ada di sini, Kapan datang?" Tanya Darwin saat sampai di ruang makan
"Iya, Kebetulan ibu memintaku datang ke mari. Jadi, aku ada di sini." Jawab Dini
"Seharusnya aku bangun subuh sekali untuk menyambut kakak. Aku senang akhirnya kakak berkunjung ke rumah ini."
"Tidak Denganku!!" Nada tinggi seseorang sampai semua orang melihat kearahnya
Luna terlihat berjalan ke arah mereka dengan tas selempang kuliahnya.
"Luna, Jaga bicaramu! Kau harus hormat karena dia adalah kakak ipar mu." Ujar Bu Amira memberi nasihat
Namun, bukan Luna namanya anak yang pembangkang dan tidak mendengarkan nasihat orang lain.
"Aku tidak memiliki kakak ipar seperti dia. Kakak ipar ku hanya kak Valerie, dia adalah istrinya kak Arya. Jadi, jangan anggap orang lain bagian dari keluarga kita."
"Luna, ini saatnya untuk sarapan. Jika kau hanya ingin berdebat, pergi saja ke pengadilan. jika kau tidak berniat sarapan kali ini, kau boleh langsung pergi ke universitas mu." Bicara Pak Barma juga yang baru turun
Luna pun langsung terkesiap dan seketika terdiam, ia pun duduk dengan kesal di kursi meja makannya.
"Jangan di ambil hati! Luna memang seperti itu." Bisik Darwin yang duduk untuk sarapan di sebelah Dini
Dini hanya tersenyum paksa. Ia sudah tahu bagaimana Luna yang dulu merupakan teman sekelas kuliahnya.
Para pelayan pun segera menyajikan makanan pada masing-masing piring Keluarga itu. Di bantu dengan Dini yang menolak untuk disajikan, dan memutuskan untuk menyajikan pada anggota keluarga membantu para pelayan lebih dulu.
__ADS_1
Menu sarapan mereka pun sangat banyak, banyak pilihan masakan yang bisa menjadi teman makan mereka. Menu spesial Bu Ashna untuk sarapan Keluarga Pratama kali ini adalah berbahan ikan.
Setelah menu lain di sajikan, Dini mengambil piring isian ikan yang sudah diolah menjadi masakan itu, dan akan menyajikannya pada Darwin yang menginginkannya.
Namun, Saat ingin menyajikan pada piring Darwin. Tiba-tiba saja perut Dini bergejolak merasakan mual dan ingin muntah lalu terasa pusing dan meriang yang dirasakan di sela Bu Amira, Luna, dan pak Barma yang tengah melahap sarapan mereka. Entah apa yang menyebabkannya seperti itu saat penciumannya menangkap aroma amis ikan yang menyengat dan menusuk sampai membuat dia mual.
Hoekk...Hoekkk...
Dini menutup mulutnya merasa mual dan ingin muntah yang mengganjal di tenggorokan. Dia meletakkan kembali piring tersebut dengan gemetar.
Spontan semua orang saat makan termasuk Darwin yang didekatnya melirik ke Dini.
"Din, Ada apa? Kau baik-baik saja?" Tanya Darwin berdiri dengan khawatir meletakkan tangannya di bahu Dini
"Apa yang terjadi dengan mu?" Hampiri Bu Amira juga yang menghentikan makannya
Tanpa menjawab karena muntah yang sudah tidak tertahankan lagi, Dini berlari terbirit-birit menuju toilet.
"Wanita pengganggu! Aku jadi tidak berselera untuk makan lagi." Ujar Luna sambil menggebrak meja makan dan dengan marah memutuskan untuk pergi ke universitasnya
Sedangkan semua orang di mansion sedang disibukkan dengan Dini yang membuat kekhawatiran melanda.
Di wastafel dia berusaha mengeluarkan muntah yang terus menyiksanya. Saat akhirnya lebih terasa reda dan lega, ia membuang muntah itu dan membasuh wajahnya.
Terlihat sekali wajahnya sangat lesu dan pucat. Dia juga merasakan kelemahan dan pusing saat itu. Membuat Bu Amira dan Darwin yang sedari tadi menunggu di luar, dibuat khawatir saat Dini keluar.
"Din, Muntah mu sudah mulai reda? Apa yang kau rasakan saat ini, Nak. Wajahmu juga pucat sekali." Hampiri Bu Amira dan setengah memeluk dari samping
"I...ib...ib-u, Aku pus..." Belum saja menyelesaikan kalimat yang ingin dikatakan, Kesadaran Dini menurun dan tumbang tidak sadarkan diri
"Dini!! Darwin, Apa yang terjadi dengannya?" Panik Bu Amira yang menahan Dini pingsan
Dini pun di pegang alih oleh Darwin.
"Sebaiknya kita bawa Dini ke rumah sakit, Bu. Sepertinya dia kurang sehat." Kata Darwin yang menggendong Dini ala bridal style untuk membawanya ke rumah sakit
__ADS_1
Dengan panik dan khawatir yang bercampur aduk, perasaan Bu Amira sepanjang jalan melihat wajah pasi Dini menjadi semakin tidak tenang. Ia terus saja menyuruh Darwin untuk melajukan mobilnya cepat.