
Beranjak Arya menghadap ke arah Dini dan seolah sedang berbicara empat mata tanpa merasa ada orang lain di sekitar.
Arya menarik napas dan menghembuskan nya kasar dan berat. Ia memasang senyum kaku dan bergetar.
Ingin sekali rasanya ia memeluk wanita yang sedang ada dihadapannya saat ini sembari bertanya 'Hai, Apa kabarmu?' Namun, siapa dia kali ini baginya yang hanya bisa menimbulkan fitnah.
"Selamat atas pernikahan mu yang akan sah sebentar lagi, Nona Dini!" Ucap Arya formal
Tidak! Jangan seformal ini! Kita bukanlah orang asing yang tidak pernah saling mengenal. Kita hanya terpisah ruang, jarak dan waktu. Jangan menyiksa dengan menyebut Nona Dini! Itu menyakitkan untuk disebut dan didengar!
"Sebagai orang yang akan menjadi kakak ipar mu ini. Saya tidak memiliki hadiah istimewa untuk Pernikahan kalian. Hanya cincin ini yang bisa ku berikan pada kalian. Ku harap kalian ingin menerima cincin ini dan menjadikannya sebagai cincin pernikahan!" Ujar Arya
Ia menunjukkan sebuah cincin blue safir yang pernah ia sematkan di jari Dini saat pernikahannya dan menjadikan cincin pernikahan itu. Cincin itu juga pernah melingkar menghiasi jari manis kanan mereka berdua, namun kali ini blue safir terlepas dari pemilik dan di simpan aman dalam kotaknya.
Kilasan memori mengenai cincin pernikahan blue safir itu terulang kembali dalam ingatan Dini.
Dan untuk kali ini, Arya memberikan blue safir itu pada pasangan pengantin baru. Pada pemilik pria yang baru dan pemilik wanita yang sama!
"Cincin blue safir ini telah Saya resmikan dan jadikan sebagai cincin turun temurun pada Keluarga Pratama yang nantinya akan dipakai oleh menantu pewaris utama. Status ini sudah legal bersertifikat tidak dapat disalahgunakan ataupun mampu di tiru. Maka dari itu, sebagai pewaris utama Keluarga Pratama, Saya yang tidak memiliki istri akan memberikan cincin ini pada menantu Keluarga kami salah satu putra kedua yang akan meminang istrinya hari ini." Ujar Arya terdengar sesak
Tanpa terasa Dini menjatuhkan air bening yang menelusuri pipinya.
Sebegitu detailnya ia mengatakan pernyataan yang membuat semua orang sakit hati. Bagaimana tidak, Ia terlalu bersikap orang asing dan memposisikan nya sebagai tahta waris yang memimpin segalanya dan menganggap wanita yang ia kenal sebagai adik iparnya!
"Sebagai kakak ipar mewakili yang seharusnya disematkan oleh ibuku, Aku ingin memasangkan cincin turun menurun ini pada menantu kami walaupun ijab kabul belum dikumandangkan. Ibu, Apa aku boleh menggantikan sementara posisi ibu yang seharusnya menyematkan cincin ini pada menantu kita?" Tanya Arya
"Iya Nak, kau boleh melakukan apapun yang kau inginkan. Tidak akan ada yang melarangnya." Balas Bu Amira dengan isakan tangisnya
Arya pun meraih tangan Dini dan menyematkan cincin blue safir itu sama seperti saat ia menyematkannya pada Pernikahannya dulu. Hanya saja mereka memiliki tujuan dan arti yang berbeda.
Tangannya bergetar, mengingat semua kenangan masa lalu saat ia jatuh cinta pada cincin blue safir hingga membeli tinggi dalam acara pelelangan. Dan saat di mana cincin ini terpasang di jari mereka berdua melangsungkan pernikahan perjodohan itu.
Arya pun berbisik dan ini lebih menyakitkan.
"Aku tahu ini sangat menyakitkan bagi dirimu. Bukan maksudku ingin membuat menderita dengan datang ke pernikahan mu memberikan luka. Kau pasti ingat mengenai cincin ini, di mana aku mengikuti pelelangan itu karena kau terus menghinaku. Tuhan memang sangat adil, itulah mengapa ia bisa menakdirkan cincin ku saat seolah takdir menarik kita berdua untuk ku membelinya."
__ADS_1
"Cincin ini tahu jika wanita yang dibuat kagum dan menghina siapa yang menjadi pemiliknya kali ini dengan mengatakan tidak mampu, Ia adalah pemilik wanita sesungguhnya. Saat itu kau mengatakan padaku jika cincin ini tidak bisa lepas dari jarimu sekuat apapun kau menarik untuk bisa lepas."
"Cincin ini ternyata lebih tahu kau adalah wanita yang tepat untuk memilikinya seperti Cinderella dengan sepatu kacanya. Dan hari ini, seperti pangeran aku mengembalikan cincin ini padamu lagi. Namun, dengan cincin pria yang bukan milikku lagi..."
"Aku akan pergi dari negara ini dan tidak akan kembali untuk selamanya. Jaga cincin ini baik-baik dan aku titipkan Keluarga ku padamu... Kelak kau akan memiliki anak bersama adikku, Jika Arsen menikah berikan cincin ini pada menantu mu..."
"Selamat menempuh hidup baru! Dan berbahagia selalu! Jaga anak-anak kita! Mereka lebih membutuhkan kasih sayangmu, dan Darwin akan memberikan hal itu." Ujar Arya yang bangkit setelah menunduk untuk berbicara tepat di telinga Dini berbisik
"Ayah, Jadi ayah hanya ingin mengatakan itu saja. Ternyata ayah bukan ingin menjemput kami." Ujar sedih Ansel
"Ayah, kami anakmu ini hanya meminta agar kau tidak pergi. Aku mohon ayah... Hentikan tindakan Ayah!" Ujar Arsen
Arya hanya menatap kedua putranya sedih bersalah. Arya tidak ingin berlama-lama di sana yang akan membuatnya tambah tidak ingin pergi. Ia melanjutkan langkahnya dan temponya lebih cepat lagi.
Walaupun dibelakang banyak yang menangis terutama Ansel yang merengek. Arya menulikan telinganya tidak mampu menatap ke arah belakang.
Dini terperanjat. Melihat Arya yang semakin hilang dari pandangannya. Ia mendengar semua pernyataan Arya yang membuatnya bersedih.
"Aku akan pergi dari negara ini dan tidak akan kembali untuk selamanya!" Kalimat itulah yang terngiang di kepala Dini
"Mungkinkah ini yang dimaksud Arsen. Arsen sudah memberitahu semuanya dari awal, namun ia enggan mengatakan lebih jelas padaku." Gumamnya lagi
"Dramanya sudah selesai Pak Penghulu. Kita bisa lanjutkan ijab kabul ini." Titah Darwin
Pak Penghulu melanjutkan ijab kabul yang sempat tertunda. Satu kata perkata menjadi serangkaian kalimat di dengar.
Pak Penghulu sedang mengumandangkan ijab dan tak lama kemudian ia telah selesai.
Kini hanya tinggal satu tahapan lagi Darwin akan mengucapkan kabul yang menjadi sempurnanya ijab kabul Pernikahan ini menjadi sah secara hukum dan agama.
"Ada satu rahasia yang ku sembunyikan darimu. Ini mengenai penyakit aneh dan tidak masuk diakal itu."
"Aku memiliki penyakit aneh dan juga langka! Sejak kecil aku hidup dalam tekanan siapapun wanita tidak ada yang bisa ataupun boleh mendekati ku selain anggota inti wanita Keluarga sendiri, Hanya mereka yang bisa menyentuhku. Saat wanita lain yang tidak memiliki hubungan darah keluarga kami, Aku pasti akan kesakitan, Akan muncul banyak ruam kemerahan, kepala ku sakit dan berputar saat menerima titik sentuhan saja. Maka dai itu, sebagai takdir dan jodohku, Tuhan membuatku dan dirimu bersatu... Kau adalah wanita gadis takdir itu!"
"Sangat menderita. Apalagi saat 7 tahun berlalu kau pergi meninggalkan aku... Tidak ada wanita yang mampu bisa dekat denganku."
__ADS_1
"Hanya kau yang bisa membantu penyakit ku, Aku sudah mengetahui dari awal dan kenapa aku bisa mendekati Valerie saat itu. Kau adalah sumber kekuatan dan kesembuhan ku, Tetaplah di sini bersama ku dan jangan pergi kemanapun."
"Aku tidak akan pergi kemanapun. Aku akan setia di sini bersamamu dan anak-anak kita. Tidak ada yang mampu memisahkan kita, kita akan menua bersama sampai maut yang memisahkan suatu saat nanti. Aku akan membantumu sembuh dari penyakit mu itu..."
"Aku tidak bisa hidup tanpamu, Din..."
Dalam beberapa detik lagi disaksikan oleh semua orang mereka akan menjadi sepasang suami istri yang sejak dulu sangat didambakan. Entah bagaimana cara Dini bisa membiduk rumah tangga bersama Darwin di saat ia sendiri tidak mencintainya. Apakah hanya akan menjadi beban dan bahan penderitaannya lagi?
"**Ibu. Kau adalah ibuku, bukan? Ibu yang sudah mengandung sembilan bulan dan melahirkan ku bersusah payah. Aku boleh memanggilmu ibu, Bukan?"
"Aku mohon padamu, Tolong kembalikan ayahku! Hanya dia yang ku miliki saat ini walaupun tidak pernah menunjukkan perhatiannya. Hanya kau yang bisa mengembalikan ayah, Aku mohon IBU**..."
Kilasan memori terus terngiang di seisi kepala dan telinganya. Dini bergemetar hebat dalam duduknya termenung mendengar kilasan itu.
"Saya terima nikah dan kawinnya Dini Syahera Amalia binti Malik dengan mas kawin tersebut dibayar..."
"TIDAAKKK..."
TUNAI? Kemana perginya kata itu yang akan menjadikan sahnya pernikahan ini. Kata Tunai seolah menghilang dan tenggelam dengan teriakan Dini yang sangat keras.
Kabul yang sedang diucapkan Darwin terhenti di kata terakhir dengan Dini yang berdiri dan berteriak. Darwin refleks melirik ke arah Dini. Kenapa? Ada apa? Mengapa? Dalam satu kata yang terlewat, Seharusnya ia resmi menjadikan Dini sebagai istrinya.
"Dini, Ada apa? Kenapa kau berdiri nak? Ayo duduk!" Ujar Bu Lia
"TIDAK! Aku tidak ingin melanjutkan Pernikahan ini. Aku tidak mencintaimu Tuan Darwin, Aku tidak ingin menikah dan menjadi istrimu. Aku hanya mencintai Tuan Arya, Dan hanya dengan dia aku akan hidup dan mati bersamanya." Ungkap Dini membuat semua orang senang terkecuali Darwin
"Ini adalah Pernikahan yang sudah di depan mata. Ayo duduk dan lanjutkan Ijab qabul yang terganggu." Ujar Darwin
"Aku adalah gadis takdir itu. Aku hanya memiliki Tuan Arya sebagai jodohku. Dia sangat membutuhkan diriku. Bagaimana dia bisa berpikir untuk pergi saat gadis takdirnya ada di sini. Ini tidak bisa dibiarkan terjadi, Ini tidak akan mungkin meninggalkan ku sendiri di sini." Ujar Dini terus menggelengkan kepalanya tidak terima
Bu Amira tampak menangis terharu dengan terus mengangguk setuju apa yang dikatakan Dini. Ia berharap menantu kesayangannya itu merubah pikirannya dan kembali mengejar cinta Arya yang akan pergi. Apalagi jika ia sudah mengetahui penyakit Arya, Bagaimana ia bisa hidup tanpa seseorang pendamping di sana?
"TUANNN ARYAAA!!!" Dini berteriak. Ia berlari meninggalkan altar itu. Mengejar cinta matinya yang akan pergi dan ia berusaha untuk menghentikannya.
Berbicara mengenai cinta. Kita tidak akan menemukan cinta sebelum kita dipertemukan dengan orang yang tidak bisa hidup tanpa diri kita! Itulah cinta!
__ADS_1