Terbelenggu Oleh CEO Angkuh

Terbelenggu Oleh CEO Angkuh
193. Kasihan Tuan


__ADS_3

Malam Hari~


Selama seharian Valerie tidaklah pernah diam di rumah. pagi, siang, sore, malam, ia selalu menghabiskan waktunya di luar dan tak pernah betah berada di rumah.


Dia merasa lebih bebas saat tak harus lelah mengandung lagi. ia bisa berlari, berjingkrak, memakai pakaian seksi dan sandal high heels nya.


"Valerie, kau akan pergi kemana malam-malam begini?" Tanya Arya yang sedang mengerjakan pekerjaannya di ruang utama dan tak sengaja matanya melihat Valerie dengan pakaian yang rapi dan seksi


"Aku hanya pergi sebentar."


"Tapi kemana? Malam-malam begini seharusnya kau istirahat malah pergi keluyuran." Ujar Arya


"Aduh Arya, Aku bukan anak kecil lagi yang diperintahkan orang tuanya untuk tidur di waktu malam setelah menyikat gigi. Aku orang dewasa, dan membutuhkan banyak waktu untuk menikmati dunia ini. bukan anak kecil saja yang tidak mengenal waktu bermain pagi siang dan malam." Ujar Valerie


"Sekiranya kau bisa mengatakan akan pergi kemana?" Bentak Arya


"Club malam! Kau puas?"


"Club malam? Valerie bisakah kau buka pikiranmu jika tempat itu tidak baik."


"Arya, sudah cukup! Aku bukan anak kecil yang dapat diatur. Itu hak ku, dan kau tidak berhak melarangnya!" Ketus Valerie


Tanpa menuruti larangan Arya, Valerie tetap melanggar dengan tetap pergi ke Club malam.


Arya terus memanggil nama Valerie agar berbalik. Namun, ia menghiraukan.


"Valerie! Valerie! Diam di sana atau aku tidak akan membukakan pintu saat kau pulang nanti." Sepertinya ancaman Arya tak cukup membuat Valerie takut


Tidak masalah baginya jika Arya tidak akan membukakan pintu, karena ia memiliki black card dan bisa menginap di hotel


Hingga pada akhirnya Arya menyerah. Ia lelah sampai mendudukkan dirinya di sofa dengan kasar, lalu memijat pelipisnya.

__ADS_1


Sejenak dia merebahkan tubuhnya di sofa dengan memejamkan mata tidak sampai tidur.



"Kasihan Tuan, dia terlihat sangat lelah karena Nona Valerie terus menuntut sesuatu darinya. belum karena pekerjaan perusahaan yang memberatkan dan bukan suatu hal yang mudah menjalankannya, di rumah dia harus dihadapkan dengan nona Valerie yang keras kepala." Gumam Dini


"Dia terlihat sangat kelelahan sampai berbaring seperti itu di sofa!" Kata Dini dalam benaknya


"Tuan, sepertinya kepala Tuan sangat pusing dan membutuhkan pijatan. Apa Tuan ingin dipijat?" Tawar Dini memberi bantuan


Arya tersadar dari memejamkan matanya sebentar.


"Jika tidak memberatkan mu, Apa kau bisa melakukannya untuk ku?" Lirih Arya


"Tentu saja. Saya sama sekali tidak diberatkan." Ujar Dini tulus


"Hanya dia satu-satunya wanita yang mengerti apa yang aku rasakan dan inginkan saat ini." Kata Arya menatap Dini dengan nanar


"Bukankah jika aku sakit ada kau yang merawatnya? Bahkan saat ini kau mengerti diriku sampai memijatnya." Kata Arya


"Aku tidak akan ada selamanya di sini. Aku akan pergi dan tidak bisa merawat tuan bila sakit." Ujar Dini terdengar sedih


Sama halnya dengan Arya yang mengingat perjanjian yang sudah ditanda tangani itu.


"Aku tahu hari itu akan datang. kau akan meninggalkan anak mu di sini, dan kau akan pergi entah hanya meninggalkan anakmu atau Aku?!" Ujar Arya


Dini termenung, sangat berat rasanya jika dia harus menghadapi hari perpisahan itu nanti.


Bukan hanya berat meninggalkan anaknya, tapi hatinya akan berat untuk meninggal Arya selamanya. harinya yang begitu berharga bersama Arya, akan sirna ditelan nama perpisahan. walau bagaimanapun saat ini Dini mencintainya! Tapi rasanya itu tidak mungkin...


"Agh... Bagaimana pijatannya? Apa tuan kesakitan karena terlalu ditekan?" Tanya Dini mengalihkan pembicaraan

__ADS_1


"Tidak ada, pijatan mu sangat enak. Aku merasa lebih rileks." Jawab Arya


"Syukurlah jika Tuan bisa menerima pijatan ku. Aku sangat senang." Kata Dini


"Sudah! Pijatannya sudah cukup! Aku takut jika kau kelelahan. Usia kandungan mu sudah delapan bulan dan satu bulan lagi kau akan melahirkan kau tidak boleh sampai kelelahan."


"Tentu saja. Setelah itu aku bisa bebas menghirup udara segar." Kekeh Dini walaupun hatinya sakit dibalik tawanya


Entah kenapa tawa terkekeh nya terdengar begitu getir ditelinga yang menusuk relung hati Arya.


...***...


Di kamar Dini~


Setelah selesai memijat Arya, Dini kembali ke kamarnya untuk tidur.


Sedangkan Arya masih belum bisa tidur akibat memikirkan dan menunggu Valerie yang belum pulang.


Saat ingin menuju kamarnya dan kebetulan dia melewati kamar Dini. Terdengar suara Dini sampai keluar yang membuat Arya menguping nya.


"Untuk waktu satu bulan yang tidak akan terasa lama, Kau akan lahir ke dunia ini dan hanya akan bertemu dengan ayahmu, Nak. Maafkan ibu yang harus pergi meninggalkan mu, ibu harap saat kau dewasa nanti, kau tidak akan melupakan ibu karena ibu sendiri tidak akan pernah melupakan mu. Kau harus mendoakan ayahmu agar dia cepat di sadarkan dan mengakui mu sebagai anaknya, maafkan dia yang tidak menganggap mu kali ini. Kau tidak boleh sampai marah padanya, ya?" Ucap Dini berbincang dengan bayinya


"Maafkan ibu, ibu tidak bisa menjadi ibu yang baik untukmu, ibu tidak bisa merawat mu sampai melihat mu dewasa." Kata Dini dengan tangisnya yang terisak


"Banyak hal yang harus ibu lalui untuk bisa menyelamatkan mu hingga mendapatkan hak mu untuk hidup. kau sudah berada di rahim ibu selama sembilan bulan, dan tandanya kau harus lahir dan hidup di dunia ini, ibu tidak mungkin membiarkan mu meninggal dalam kandungan begitu saja." Ujar Dini terisak


"Suatu saat nanti kau akan mengerti alasan ibu melakukan ini. Ibu harap kau tidak membenci ibu kandung mu sendiri..." Kata Dini


Perkataan demi perkataan yang keluar dari mulut Dini yang terdengar oleh Arya membuat batinnya terguncang. Kesalahan besar yang sudah ia perbuat pada istrinya yang memiliki hati bagai malaikat sudah ia sia-siakan.


"*Apa benar dia sedang mengandung anakku? Aku sendiri tak percaya jika dia melakukan kebodohan seperti itu. Kemana Damar? Kenapa dia masih tidak memberikan ku seluruh bukti-bukti informasi yang didapatkan mengenai Valerie."

__ADS_1


"Jika dia benar anakku, maka aku adalah seorang ayah yang jahat tak mengakui darah daging ku sendiri. Di sisi lain aku mencintai Valerie, dan aku juga mencintai Dini, tapi hatiku sendiri lebih mempercayai perkataan Valerie. Apa karena aku sempat membencinya sampai menganggap dia selalu buruk*." Gumam Arya menunggu Damar memberikan dia informasi mengenai Valerie secara keseluruhan untuk membuktikan kebenarannya


__ADS_2