Terbelenggu Oleh CEO Angkuh

Terbelenggu Oleh CEO Angkuh
132. Membawa Belanjaan


__ADS_3

Brug...!


Tidak sengaja kakinya tersandung, membuat barang belanjaan yang dibawanya terlempar ke tanah. mengalihkan atensi pasangan lelaki dan perempuan di depan yang spontan menoleh padanya.


"Maaf, aku tidak sengaja. kaki ku tersandung." Segera mengambil kembali tote bag yang terjatuh


"Sayang... barang ku bisa rusak." Bisiknya setengah merengek disamping Arya. matanya tak lepas dari tote bag yang dibawa Dini


"Bawa dengan benar!! Jika ku lihat ada yang rusak, kau harus menggantinya empat kali lipat." Kata Arya menghardik


"Tapi ini berat." Kata Dini


"Bukan urusanku!" Kata Arya tidak peduli


Lanjut merangkul bahu Valerie, dan mengajaknya pergi. meninggalkan Dini yang masih terdiam di tempatnya.


"Kenapa harus aku yang membawa belanjaan Selingkuhan mu? kenapa bukan kau yang suaminya?! aku istrimu yang lebih berhak, bukan dia yang kedua? harusnya dia sadar diri dan malu. itupun jika dia memiliki harga diri sebagai wanita." Pekik Dini


Arya menghentikan langkahnya. menjadi pusat perhatian karena perkataan Dini, Arya melangkah mendekati istrinya. menarik kasar semua tote bag dari tangan Dini, dan perlahan mendekatkan wajahnya pada wajah Dini.


"Kau sadar dengan ucapan mu? maka tunggulah hukuman dariku!! Semakin hari kau semakin berani saja." Cetus Arya


Dini terdiam menatap kepergian Arya yang kembali menghampiri Valerie. meninggalkannya ditengah kerumunan dengan perasaan sesak. ternyata suaminya lebih mementingkan istri kedua dari pada istri pertamanya.


Ini sudah larut malam.tapi Dini tidak juga menemukan jalan kembali pulang ke hotel. gadis itu kesasar. setelah kejadian Arya meninggalkannya sendirian di mall tadi, Dini pergi begitu saja tanpa sepengetahuan dan izin dari suaminya. hatinya terlanjur kesal dan sesak. sekeluarnya dari mall, Dini sudah menaiki 1 kali bus dan 2 kali taxi.


Taxi pertama mengantarkan Dini di sebuah taman di pusat kota, niatnya untuk menenangkan dirinya sejenak. setelah tenang, Dini menaiki bus, ingin merasakan transportasi umum di sore hari, dan kebetulan fasilitas dari bus membuat Dini nyaman. sehingga Dini harus tertidur sampai tujuan bus itu berakhir dibangunkan oleh sopir dan memberitahu Dini karena bus akan pulang ke pangkalan, dan tidak bisa mengantarkannya kembali ketempat dituju.


Dengan terpaksa Dini turun, dan mencari taxi untuk kembali ke hotel. dan sialnya, taxi yang di dapat tidak bisa mengantarkannya, karena tempat Dini berada sekarang dengan hotel tempatnya menginap sangatlah jauh, butuh sampai 4 jam perjalanan.bodohnya dia kenapa sampai bisa ketiduran di bus dan dengan berat hati, sopir taxi mengantar Dini sampai seperempat perjalanan, dan menyuruh Dini untuk menaiki bus atau kereta untuk sampai ketempat tujuan.


Sudah terhitung 1 jam Dini menunggu di halte, tapi tidak ada bus yang akan menuju ke tempat tujuannya. kebanyakan bus yang datang akan mengantar penumpang ke dalam kota saja, sedangkan tujuan Dini sudah berada di luar kota.


"Aku harus apa? bahkan aku tidak tahu daerah sini. penginapan juga sepertinya jauh dari sini. apa aku harus menghubungi Tuan? apa dia ingin menjemput ku kemari? tidak, tidak. bahkan terakhir kali dia meninggalkanku." Kata Dini. Kesalnya sendiri, menoleh ke kanan kiri untuk mencari tumpangan


Kelewat pegal, berakhir Dini jalan kaki. menyusuri pinggiran jalan hingga melewati jembatan. terhenti sejenak, menikmati dinginnya udara air laut.


"Dini!!" Panggil seseorang

__ADS_1


Menoleh ketika namanya terpanggil, dan sentuhan lembut di bahunya.


"Jadi, benar kau Dini!" Sebutnya


"T-tu-tuan Darwin??"


Ya. Seseorang yang memanggil Dini adalah Darwin. Entah bagaimana dia bisa ada di Kanada, bahkan bertemu dengan Dini.


"Sedang apa kau di sini? Bukankah kau dengan kakak ada di bora-bora." Tanya Darwin


"Tuan sendiri sedang apa di sini? Kenapa tuan bisa ada di sini?"


"Aku memang di sini."


"Huh?!!" Pekik Dini tidak mengerti


Darwin tersenyum tipis dan menggaruk alisnya.


"Aku datang ke sini untuk mengurus pekerjaan ku." Jawab Darwin tidak meyakinkan


Dini mengangguk mendengarkan penjelasan Darwin. kemudian memasang wajah sedikit cemberut dan sedih.


"Kau tidak tahu jika di sini memang sedikit susah mendapatkan angkutan umum di jam seperti ini, terakhir operasional di sini jam 11 malam. jadi, wajar sangat jarang angkutan umum untuk ke dalam kota." Jelas Darwin


"Ikutlah denganku ke hotel tempatku menginap. Tempatnya tidak jauh dari sini, Aku akan mengantarkan mu besok."


"Huh!!" Tanya Dini celingukan


Di sisi lain~


"Ke mana gadis itu?! kenapa belum kembali juga jam segini?! Nomornya juga tidak aktif. apakah aku harus mencarinya di luar sana? Memberi kabar pun tidak." Ujar Arya yang menjadi risau


"Aish, bodoh. bagaimana jika dia ternyata di culik. Ke mana aku harus mencari dia di tempat orang seperti ini."


Berbagai pendapat masuk ke dalam pikiran pria itu yang mengkhawatirkan istrinya belum kunjung pulang.


Tok! tok! tok!

__ADS_1


Mendengar ketukan pintu, Arya melangkah cepat untuk membukanya.


"Sayang. ada apa kau kemari?"


"Apa istri mudamu itu sudah kembali?" Tanya Valerie


Arya menggeleng.menarik tubuh Valerie dan memeluknya.


"Jika begitu, bisakah kau temani aku tidur di kamarku?"


"Baiklah. Aku akan menemanimu sampai kau tertidur."


Valerie mengangguk senang kemudian Arya memeluk bahu Valerie dan membawanya ke kamar gadis itu.


Kembali ke Darwin dan Dini.


"Jadi, Tuan Darwin menginap di sini?" Basa-basi Dini


"Iya. Aku menginap di sini." Jawab Darwin sambil tersenyum


"Aku sudah memesan kamar untukmu disebelah kiri, disebelah kanan itu kamarku. istirahatlah, besok aku akan mengantarkan mu kembali ke hotel tempat kakak menginap."


"Terima Kasih banyak, Tuan Darwin. Kau sudah membantuku, aku akan membalas kebaikanmu nanti."


"Jangan bicara seperti itu, kita bukan orang lain dan kita tidak hanya kenal sebulan. jadi, jangan canggung. untung saja aku memiliki urusan di sini, jika kau di sini dan tidak ada orang yang di kenal, Kau bisa saja akan di bawa pergi oleh orang jahat di sini."


Dini tersenyum manis membalasnya.


"Jika begitu, aku ke kamar duluan, Tuan."


"Hem...istirahatlah dengan nyaman. semoga tidurmu nyenyak. jika perlu apa-apa, kamarku ada disamping kamarmu."


"Hmm... Good Night." Pamit Dini


"Night too, Dini..." Senyum bahagia Darwin


"Perasaanku masih sama. Sejak pertama kita bertemu, bersama, berpisah karena tidak dapat bersatu. dan sampai sekarang, masih di sini untukmu, Dini. Aku datang jauh-jauh hanya untuk menjagamu agar tetap aman." Batin Darwin menatap kepergian Dini.

__ADS_1


Sudut bibirnya terangkat untuk tersenyum, entah apa yang membuatnya tersenyum malu, hanya karena memperhatikan gadis di depannya.


__ADS_2