
Arya sedang berdiri di depan gerbang sekolah. Matanya kembali memandang sekitar. Berusaha untuk mencari sosok anak kecil di antara kerumunan anak-anak yang keluar untuk pulang itu. Dan ternyata cukup mudah untuk menemukannya. Selain karena wajah anak itu paling menonjol di antara teman-temannya yang lain, anak itu juga sedang duduk menyendiri sembari menangis sedih. Di tengah keriangan teman-temannya yang di penuhi dengan canda tawa, sosok anak kecil yang ia cari itu malah tampak sangat sedih.
Arya melangkahkan kakinya. Perlahan-lahan mulai mendekati anak kecil menyedihkan itu. Kemudian setelah dekat, dia duduk di sebelahnya. Di lihat secara langsung, dia semakin familiar dengan wajah anak itu. Di mana ia adalah anak kandung yang dijauhkan darinya.
"Hai..." Arya berusaha menyapa
Namun, anak itu tidak menanggapinya. Dia hanya melihat Arya sekilas dan kembali mengacuhkannya. Sepertinya dia lupa akan paman tampannya. Dan malah kembali terisak.
"Kenapa kau duduk di sini? Kenapa tidak ikut bergabung dengan teman-temanmu?" Tanya Arya
Arya berusaha memulai pembicaraan, tapi tetap saja tidak di tanggapi. Arya menjadi semakin tidak sabar.
"Ansel, Apa kau sudah lupa dengan paman?" Mendengar namanya di panggil membuat Ansel mendongakkan kepalanya. Dia mengusap matanya yang di penuhi dengan air mata. Menatap Arya dengan pandangan sendu.
"Paman tampan? Sedang apa paman di sini, Pasti ingin menjemput Arsen, Ya?" Tanya dengan polos
"Benar. Tapi paman melihat mu sendirian duduk di sini dengan termenung. Kau tidak bergabung dengan Arsen?" Tanya Arya
"Arsen sudah tidak ingin berteman denganku lagi. Dia selalu menjauhiku saat mendekatinya. Dia juga sudah menghina ibuku..." Terisak Ansel berbagi cerita
"Mungkinkah Arsen membenci ibunya dan berdampak membenci adiknya sendiri. Arsen memang sudah keterlaluan..." Batin Arya
"Kau rindu dengan ibumu?" Tanya Arya
"Huuuuuuaaaaaaaa..." Ansel langsung menangis lagi. Tiba-tiba saja dia sudah memeluk tubuh Arya dengan erat.
DEG
Perasaan Arya bergetar. Dadanya menjadi semakin berdebar-debar. Hatinya terasa sangat hangat dan bahagia. Ingin sekali rasanya ia mengatakan pada Ansel saat ini jika Dia adalah ayah kandungnya. Namun, sepertinya hal itu tidaklah mudah di saat Ansel menganggap Darwin benar-benar ayahnya.
"Hey, kenapa menangis? Anak laki-laki tidak boleh menangis." Dengan lembut Arya menepuk-nepuk punggung mungil di pelukannya
"Aku rindu ibu. Ibu pergi meninggalkan aku malam hari. Dia berjanji hanya akan pergi sebentar dan pagi hari sudah ada di samping ku. Tapi saat di rumah handphonenya tidak bisa dihubungi dan tidak tahu kemana, huaaaa..." Ansel mengadu dengan menyedihkannya
Timbul perasaan bersalah di dada Arya. Dia yang menyebabkan ibu dari anak ini tidak pulang dan berada di rumahnya saat ini.
"Sssttt... Jangan menangis lagi. Paman akan membawa Ansel pergi menemui ibu. Ansel ingin ikut dengan paman?"
__ADS_1
"Memangnya paman tahu di mana ibuku?" Mata besar Ansel tampak berbinar-binar
"Iya. Ansel bisa percaya pada paman. Kita pergi sekarang." Ajak Arya
"Tapi paman tampan datang ke sekolah untuk menjemput Arsen. Jika Arsen tahu paman mengajakku masuk ke dalam mobil, Arsen pasti tidak akan suka melihatku bersama paman." Ujar Ansel
"Tidak masalah. Paman akan memberitahunya nanti untuk tidak jahat padamu. Sekarang kau masuk saja ke mobil, Ya." Ujar Arya mengantar Ansel masuk ke mobilnya
Dan setelah Ansel masuk, Arya menunggu satu putranya yang baru saja keluar dan berjalan ke arahnya.
"Kenapa lama sekali keluar? Ayah sudah menunggu lama di sini." Tanya dingin Arya
"Tidak perlu bertanya. Yang terpenting aku sudah keluar." Ketus Arsen menjawab
Arsen pun segera naik ke mobil di kursi depan. Dan saat ingin masuk, ia melihat Ansel yang sudah duduk di kursi belakang. Arsen pun mengurungkan niatnya untuk masuk.
"Kenapa dia ada di dalam mobil kita?" Tanya Arsen menggertak
"Ayah yang mengajaknya. Ini adalah mobil ayah, dan ayah berhak menumpangi siapa saja untuk masuk ke mobil ayah." Jawab Arya dingin
"Bukan. Ayah ingin mengantarkan dia pada ibumu. Kau tak sepatutnya membenci dia hanya karena ibunya adalah ibumu yang artinya kalian satu ibu."
"Andai kau tahu Arsen, Jika kalian adalah saudara kembar!" Batin Arya
"Ibunya adalah ibunya! Ibuku sudah meninggal!" Balas Arsen
"Terserah padamu ingin naik atau tidak. Ayah bisa saja meninggalkanmu dan kau bisa pulang sendiri." Ucap Arya
Terpaksa Arsen pun masuk dan duduk tidak suka mengetahui Ansel ada bersamanya dalam satu mobil. Apalagi Arya ayahnya saat ini malah membela Ansel.
Arya pun segera melajukan mobilnya menuju rumah yang akan ditinggali bersama dengan anak-anaknya.
Semasa dalam perjalanan, Arsen sangat bingung dengan jalan yang dilalui bukanlah jalan menuju mansion mereka. Kenapa tidak lebih dulu mengantarkan dia pulang menuju mansion? Kemana ayahnya akan pergi membawa dia?
Saat sampai di sebuah rumah yang sangat megah tidak kalah jauh dengan mansion kakek neneknya itu. Mereka turun dan Arya membawa mereka masuk.
"Rumah siapa ini? Apa rumah ini milik keluarga anak itu?!" Tanya Arsen melihat rumah itu terkagum sekaligus bingung dan menyangka jika rumah yang lantainya ia injak adalah rumah Ansel
__ADS_1
Semakin lama Dini merasa semakin merana. Yang dilakukannya hanyalah menangis tidak ada kegiatan apapun yang bisa dilakukan dalam kamar yang terkunci. Dia ingin Arya segera datang dan membuat permohonan terhadap laki-laki itu. Dia ingin dilepaskan dan bertemu dengan Ansel. Akankah laki-laki itu mengijinkannya?
Sayup-sayup Dini mendengar suara mobil sport terparkir. Apakah Arya sudah datang? Ataukah ada pengunjung lainnya? Dini berusaha untuk melihat dari jendela kamarnya dan benar saja Arya datang.
Saat sedang melihat dari jendela, Seketika jendela berubah menjadi hitam dari luar dan Dini tidak bisa melihat apa-apa lagi. Rumah Arya terlalu canggih untuk membuat seekor semut gagal masuk ke dalam rumahnya.
"Rumahnya pantas di sebut penjara. Istana saja memiliki celah untuk orang yang tinggal di dalamnya bisa bernapas. Di sini aku benar-benar diawasi untuk tidak melakukan apapun." Dengus kesal Dini
Dini menghapus air matanya. Dia mengganti pakaian yang lebih bagus dan mencoba untuk bersolek sedikit. Mungkin bila dia meminta baik-baik dan sedikit merayu, hati Arya akan sedikit luluh dengan mengizinkannya untuk dilepaskan.
Selesai berdandan, Dini segera berdiri di depan pintu karena Arya pasti akan datang ke kamarnya dan membuka pintu. Dia ingin menyambut kedatangan Arya. Meskipun perasaannya sedih dan juga benci, namun dia harus tetap ceria di depan Arya. Dia tidak boleh memperlihatkan dirinya yang lemah di depan laki-laki itu.
Dini berusaha memasang senyum manisnya seceria mungkin. Dia menghela napas dalam-dalam. Tiba-tiba pintu kamar terbuka oleh bodyguard dan...
"Ibuu...?" Terdengar suara yang sangat familiar di telinganya. Dini segera berlari ke ruang depan. Tiba-tiba saja dia merasa berhalusinasi. Dia melihat cahaya dalam hidupnya tak jauh darinya.
"Ansel?" Suara Dini tampak tercekat
Mendengar namanya di panggil, Ansel segera menoleh. Raut wajah mungilnya tiba-tiba menjadi ceria. Senyum lebar merekah di bibir mungilnya.
"Ibuuu...!" Ansel berteriak sembari berlari dan memeluk ibunya. Dini merentangkan tangannya lebar-lebar, membuat anak kecil itu masuk ke dalam pelukannya
Dini memeluk Ansel dengan erat. Air mata tampak mengalir di wajah cantiknya.
"Ansel..." Tak henti-hentinya Dini memanggil-manggil nama itu. Tubuhnya gemetar karena tangis.
Melihat kedekatan Dini yang sangat perhatian pada Ansel, membuat Arsen cemburu padanya. Ia tahu Dini adalah ibunya saat ini, Namun sama sekali tidak pernah ada niat untuk memeluknya seperti itu.
"Apa kau tidak ingin memeluk ibumu juga?" Tanya Arya menawarkan
"Aku tidak mengenali dia!" Ketus Arsen
"Ayo pulang! Dia sudah diantarkan pulang, Bukan." Kata Arsen mengajak pergi dari rumah itu
"Pulang kemana? Kita sudah pulang! Ini adalah rumah kita yang akan ditinggali bersama di sini." Ucap Arya
Arsen masih menatap ayahnya tidak percaya. Dia tidak mungkin akan tinggal bersama dengan wanita yang tidak lain ibunya di rumah itu ditambah bersama Ansel. Apakah wanita itu sudah rujuk dengan ayahnya sampai ia menyetujui tinggal di rumah itu?
__ADS_1