Terbelenggu Oleh CEO Angkuh

Terbelenggu Oleh CEO Angkuh
S2 76 - Meninggalnya Darwin


__ADS_3

Berita kehamilan Dini untuk yang kedua kalinya sudah tersebar luas diketahui oleh awak media yang pastinya akibat mereka berlatar belakang Keluarga Pratama dan memperanak Arya Razvan Pratama selaku CEO yang dikagumi itu tidak akan pernah lepas dari sorotan media.


Bagaimana tidak? Setelah perceraiannya diketahui, Perceraian di tangan mereka seolah hanya permainan. Mereka kembali bersama melangsungkan acara pernikahan secara sederhana dan kembali sah menjadi pasangan suami istri.


Saat hari itu juga, sepulang dari bandara, Arya meminang wanitanya untuk kedua kalinya membawa dia ke KUA untuk segera dinikahkan. Tak ada yang menghentikan, semuanya berjalan dengan khidmat.


Mimpi Darwin berada di depan mata, Kini menghilang terbakar bersama abu kenangan! Dini telah kembali pada pria yang menjadi cinta sejatinya. Apa boleh buat, takdir tidak bisa diubah seberapa tahan ia merebut mimpi yang ia inginkan.


Darwin yang marah mengetahui informasi tersebut lantas keluar dari rumahnya.


Bu Amira dan Pak Barma tentu pergi menyusul mengikuti kemana perginya Darwin.


Di sebuah lapangan tembak, Darwin menghentikan mobilnya dan merenung melihat pepohonan.


Bu Amira dan Pak Barma terkejut bukan main saat Darwin meraih pistol. Di saat terjadi cekcok antara Darwin dan Pak Barma, Bu Amira sibuk membuang pistol-pistol yang terdapat di sana ke sungai yang tengah mengalir air yang deras agar Darwin tidak melakukan tindakan di luar kesadarannya.


Hanya ada satu pistol yang tersisa masih di pegang oleh Darwin sendiri. Darwin sempat menodongkan pistol ke arah wajah Pak Barma. Namun, kepribadian Darwin yang labil, Darwin tidak mudah terpengaruh pada ucapan Pak Barma.


"Darwin, Jangan macam-macam dengan pistol itu. Wajar saja Dini tidak jadi menikah denganmu karena kau akan membahayakannya." Ujar Pak Barma


Ia membalikkan fakta bahwa justru Arya lah yang lebih membahayakan bagi Dini, karena dia adalah suaminya yang sudah hidup bertahun-tahun.


Darwin termakan oleh kata-kata busuk pengaruh dari mulut Jin jahat. Akibatnya fatal, Darwin menembak kepalanya sendiri di hadapan kedua orang tuanya.


DORR!!


Kepalanya berputar kesakitan sangat hebat.


Suara pistol yang ditembakkan begitu menyakitkan didengar oleh orang tersayang.

__ADS_1


Bu Amira berteriak histeris. Burung-burung di pohon keluar berterbangan di udara.


Kali ini Darwin tidak main-main. Ia benar membunuh dirinya sendiri tanpa berpikir panjang lagi.


Bu Amira menangis terduduk kemudian menghampiri dan memegang Darwin yang sudah sekarat.


Tidak ada gunanya menangis saat ini. Nyawa seseorang sedang terancam dan harus segera mendapatkan pertolongan.


Pak Barma mengangkat tubuh Putranya yang sekarat untuk segera dibawa ke rumah sakit.


Saat sampai, Darwin langsung dimasukkan ke ruangan ICU, ia diberikan penanganan oleh tim medis.


Namun, saat dokter keluar dan memberikan pernyataannya, Dokter mengatakan nyawa Darwin tidak tertolong. Darwin MENINGGAL DUNIA akibat peluru yang masuk ke dalam kepalanya sangat dalam.


Suara sirine ambulance memenuhi setiap jalan raya yang dilewati, menggetarkan hati siapa saja makhluk yang mendengarnya mengingatkan mereka akan kematian.


Mobil ambulance terparkir di depan mansion yang megah itu. Untuk pertama kalinya sebuah mobil ambulance terparkir memberikan duka bagi penghuninya, Tak seperti dulu hanya mobil sport dan mobil mewah lainnya yang terparkir di depan menyambut orang tersayang.


Di Mansion, mereka membawa Darwin pulang yang tengah berbaring terkujur kaku dalam peti di atas lantai tidak seperti biasanya. Bu Amira terus menangis kehilangan salah satu putranya, Ia terduduk dan membanjiri jenazah Darwin dengan tangisan air mata dalam pelukannya.


Keluarga, teman, kerabat, datang silih bergantian memberikan ucapan berduka dan dukungan moril. Karangan bunga yang berjajar sepanjang jalan, ikut bersedih menghantarkan keikutdukaan pada keluarga yang ditinggal.


...***...


Arya dan Dini telah bersiap untuk pulang dari selesainya Pernikahan mereka di KUA. Tanpa berpikir apapun mereka berinisiatif untuk pergi ke mansion orang tua mereka karena menganggap Keluarganya pasti ada di sana. Sekaligus niat mereka ingin memberitahukan kehamilan Dini lagi.


"Ada apa? Ada banyak sekali karangan bunga yang mengucapkan rasa berduka. Siapa yang meninggal?" Lirih Dini bersama Arya dalam mobil dan melihat karangan bunga sepanjang jalan dekat Mansion Pratama


Sesampainya di halaman Mansion Pratama, Arya dan Dini menyadari ada tanda berduka di halaman mansion tersebut. Mereka semakin heran.

__ADS_1


Ketika hendak masuk Dini melihat begitu banyak pasang sandal di teras mansion, ia tersenyum karena menyangka keluarganya tengah mengadakan pertemuan kerabat dan keluarga jauh setelah sekian tidak bertemu lama dan mereka berkunjung. Tapi kenapa sandalnya di lepas?


Ketika masuk Arya dan Dini melihat begitu banyak orang mengenakan pakaian warna putih, Arya bertanya pada Nek Arini apa yang terjadi namun nenek bungkam tidak berani mengatakannya.


Arya dan Dini menjadi cemas, Mereka maju ke depan melewati para pelayat tersebut hingga ia melihat peti mati, bingkai foto Darwin berkarangan bunga tepat di depan di atas meja.


Mereka sangat shok. Tidakk bisa berkata apapun hanya mematungkan diri dengan wajah yang kebingungan.


Melihat Arya dan Dini datang, Bu Amira pun menghampirinya dan memegang pundaknya. Tatapannya sembap penuh dengan air mata.


“Mengapa ibu kau menangis? Apa yang kalian lakukan dalam keadaan seperti ini? Banyak orang memakai baju putih, Dan peti itu?" Lirih Arya bergetar


Bu Amira menerjang Arya dengan pelukan dan tangisan histerisnya.


Huaaa...


"Darwin,,, Darwin adikmu! Darwin meninggal!" Histeris Bu Amira


Deg!


Meninggal? Sebuah kata menyakitkan untuk kehilangan seseorang yang pernah hidup mengisi hari perjalanan hidup yang kini menghampiri waktu yang dipastikan.


"Haha... Meninggal? Ibu pasti sedang membuat sandiwara. Bagaimana Darwin bisa meninggal? Ibu ini ada-ada saja." Ujar Arya malah tertawa


"Dia membunuh dirinya sendiri. Pistol itu, pistol itu yang merenggut nyawanya. Hiks...hiks..." Masih menangis Bu Amira


"Ini semua tidak mungkin! Tuan Darwin tidak mungkin meninggal!" Lirih Dini berucap pelan


Tak terasa buliran bening menetes membasahi pipi halus itu.

__ADS_1


Dini berjalan dengan lunglai. Ia terduduk lemas di depan peti Darwin. Kepalanya terasa pusing ia tidak bisa berucap satu katapun dan ia memegang kepalanya kemudian tersungkur pingsan di pangkuan Bu Lia.


__ADS_2