
Pembicaraan dalam telepon antara Dini dan Zayn.
"Dokter Dini, Apakah kau ada di rumah hari ini? Saya ingin datang ke rumah anda untuk bersilaturahmi dengan anggota keluarga yang lain."
"Agh,,, Ini mengenai saya yang mengundang anda untuk berkunjung ke rumah, Ya. Tapi sepertinya untuk saat ini saya sedang tidak ada di rumah, Mungkin sore hari baru ada."
"Seperti itu ya. Tapi bukankah kau bekerja di shift pagi sampai pukul 12.00."
"Seharusnya begitu, tapi hari ini rumah sakit sangat sibuk dan saya berinisiatif untuk membantu dokter lain."
"Agh,,, Wajar sekali dokter hebat seperti mu harus sibuk. Senantiasa kau membantu dokter lain ditengah jadwal mu yang seharusnya sudah selesai."
"Saya melakukan ini karena kemanusiaan. Daripada saya menganggur melihat pasien lain harus lama menunggu, lebih baik mereka segera ditangani." Ujar Dini
Lalu, menambahkan
"Mungkin saya akan pulang hanya sebentar setelah menjemput putra saya dari sekolahnya. Dan setelah itu saya harus kembali ke rumah sakit." Lanjutnya
"Jadi, putramu belum di jemput?"
"Belum. Dan mungkin sebentar lagi akan keluar."
"Jika kau tidak keberatan, saya ingin menawarkan diri untuk menjemput putramu itu disekolah nya."
"Agh,,, Tidak Tuan Zayn. Itu akan merepotkan mu." Tolak Dini
"Tidak perlu sungkan, Saya tidak memiliki banyak pekerjaan hari ini. Dan kebetulan ini adalah jam istirahat. Lagipula tidak akan membutuhkan waktu 1 jam untuk menjemput sampai waktu istirahat ku terbuang."
"Dokter Dini, Kau sudah selesai istirahat? Ayo cepat segera kita lakukan tugas kita, banyak pasien yang sudah mengantri." Terdengar dari telepon dokter lain mengajaknya untuk bergegas
"Agh, Iya Sebentar." Sahut Dini
"Jika anda memang berkenan, apakah anda bisa melakukan itu?" Tanya Dini tak enak hati
"Kenapa suara anda terdengar sumbang seperti itu. Saya sendiri sudah menawarkan diri dari awal." Kekeh Zayn
"Baiklah, Terima Kasih atas bantuan anda Tuan."
"Sebelumnya bisakah kau menyebutkan di mana putramu itu bersekolah dan namanya?"
"Ya, Tentu saja. Namanya adalah Ansel dan bersekolah di Vintoria Primary High School. Saya harap jika tidak tahu keberadaan sekolah itu tidak perlu menjemputnya karena akan sangat merepotkan. anda sendiri berasal dari Swiss dan belum begitu mengenal negara ini."
"Jangan berpikir untuk membuatku terlihat remeh dihadapan mu. kau sudah berhadapan langsung dengan orang yang bisa diandalkan. Ini adalah zaman modern sehingga mudah untuk mengakses segalanya, aku bisa mencari alamatnya di maps nanti."
"Agh,,, Iya baiklah. Maafkan saya..." Ujar Dini
"Baiklah, saya akan menjemputnya sekarang." Kata Zayn menutup telepon
...***...
"Ansel, ibumu belum menjemput Ya?" Tanya Gino
__ADS_1
"Sepertinya belum, padahal ibu tidak pernah terlambat seperti ini." Bimbang Ansel menunggu
"Mungkin sebentar lagi akan datang. Jika begitu aku pulang lebih dulu, di sana supir sudah menungguku. Dadahh... Sampai jumpa besok." Pamit Gino meninggalkan Ansel
Ansel pun kebingungan menunggu ibunya yang belum kunjung datang untuk menjemput. Di sana ia menunggu di halte penjemputan dan akan hampir menangis melihat teman-temannya yang lain sudah dijemput oleh ibu mereka, sedangkan ia hanya sendiri duduk menanti ibunya.
kurang lebih menunggu selama 15 menit, Dini tak kunjung datang juga. suasana sekolah pun semakin sepi akibat para siswa semua sudah pulang, di luar hanya tersisa Ansel dan beberapa mobil yang berlelangan berharap Ansel terus menatap ibunya yang datang.
"Huaaa... Ibu kemana, Kenapa dia belum menjemput ku..." Ansel yang ketakutan dan sedari tadi ingin menangis. Akhirnya keinginan untuk menangis tersalurkan juga
Ansel berlari kesana-kemari untuk mencari ibunya dengan pipi yang sudah dibanjiri air mata.
"Ibuuu... Aku ingin pulang!" Tangisnya
"Ansel, Kau menangis? Apa yang terjadi? Kau juga belum pulang?" Terdengar suara Arsen dari dalam sekolah yang datang menghampiri Ansel sedang berdiri di luar gerbang menangis menatap jalan raya
"Arsen ibuku belum datang untuk menjemput. Hiks... Hiks..." Bicara Ansel sesenggukan
"Tak perlu menangis. Mungkin hari ini ibumu sedikit terlambat untuk menjemput." Ujar Arsen memberi pengertian
"Dari tadi aku menunggu di sini sendirian. semua orang sudah pulang dan hanya ada aku sendiri di sini."
"Buktinya masih ada aku dan petugas keamanan di sini. Kenapa kau tidak masuk saja menunggu dengan petugas keamanan di dalam. Kau tidak perlu takut karena ada aku sekarang."
"Kenapa kau belum pulang?" Tanya Ansel sambil terisak
"Ibu guru memanggilku ke ruangannya untuk melaporkan kabar bulanan setiap murid selama disekolah. Kau tahu jika aku adalah ketua kelas mu, untung saja aku tidak memberitahu sikapmu yang sangat cengeng." Ujar Arsen menghibur
Kkkkkk...
"Ayah ku mengatakan menjadi seorang pria tidak boleh mudah menangis. seorang pria harus memiliki pendirian yang kuat. Hapus air matamu dan jangan mengeluarkannya lagi untuk hal yang kecil." Kata Arsen menasihati Ansel dengan mengulurkan tangannya untuk menghapus air mata
"Kau seperti seorang kakak yang sangat baik pada adiknya. Andaikan saja kau adalah kakakku, mungkin aku akan senang memiliki kakak seperti dirimu, karena kau sangat hebat." Bicara Ansel menyentuh
"Bahwa perlu diingat kita adalah seorang teman. Aku bukanlah kakak seperti yang kau inginkan dan kau bukan adikku. kita terlahir dari keluarga yang berbeda..." Ketus Arsen berkata demikian
"Aku hanya bercanda. Tidak benar-benar mengatakannya sepenuh hati. Kau tidak perlu marah Arsen drakula. Kkkk..." Ansel tertawa mengejek kepribadian Arsen yang dingin itu yang menakutkan seperti film yang ditontonnya
Arsen tidak tersinggung dengan perkataan Ansel, ia masih tetap tenang, berwibawa dan wajah datarnya.
Melihat Arsen berwajah datar menatap dia, Ansel merasa terintimidasi oleh tatapannya, dan dengan perlahan menghentikan tawanya.
"Permisi, Apakah diantara kalian berdua ada salah satunya yang bernama Ansel?" Tanya seorang pria yang tinggi muncul dihadapan mereka
Arsen dan Ansel pun saling menatap satu sama lain.
"A-aku yang bernama Ansel, Paman." Jawab Ansel gemetar
"Tidak perlu takut. Jika dia adalah orang yang jahat, kita bisa berlari darinya. Jawab saja apa yang dia tanyakan dan tidak perlu gemetar seperti itu." Bisik Arsen memberitahu
"Tapi aku takut paman ini akan menculikku. buktinya dia menanyakan namaku..." Bisik Ansel gemetar
__ADS_1
"Kau ini menjadi anak sangat penakut sekali. Baiklah, biarkan aku yang menangani paman itu." Bisiknya kembali
"Ada apa paman? Paman sedang meminta uang sumbangan? Atau akan memberikan cokelat untuk anak kecil dan setelahnya paman culik." Ketus Arsen dengan berani
"Agh,,, Bukan, bukan,,, Paman adalah orang yang baik-baik. Paman datang untuk menjemput anak yang bernama Ansel."
"Ansel adalah temanku. dia berada tepat di sampingku."
"Baiklah, paman memiliki keperluan dengannya. Ibunya hari ini tidak bisa menjemput karena dia masih sibuk di rumah sakit, kalian tidak perlu khawatir karena paman adalah temannya ibumu, maka dari itu paman meminta izin untuk menjemput putranya yakni Ansel." Jelas Zayn yang mendapat penghakiman dari seorang anak kecil
"Ansel, sepertinya dia adalah orang yang baik dan juga jujur. Apa yang dikatakannya pasti benar dia adalah teman ibumu yang akan menjemput hari ini. Ikutlah dengan paman ini untuk pulang..." Bisik Arsen memberitahu
"Bagaimana jika paman ini adalah orang yang jahat? Aku akan di sini saja bersamamu." Tanya Ansel menahan tangisnya
"Percaya saja padaku. Jika aku sudah berkata demikian, aku tidak pernah salah menilai seseorang. Dari matanya paman ini sangat tulus. Terkadang kita bisa saja salah menilai seseorang dari penampilannya, sedangkan kita tidak tahu kepribadian aslinya." Ujar Arsen
"Baiklah. Karena kau yang mengatakan itu padaku, aku sangat percaya pada temanku."
"Sekarang pulanglah dengan paman itu." Pinta Arsen
"Baiklah paman, Kebetulan ibuku memang belum menjemput ku. Jika ibuku sendiri meminta paman yang datang, aku akan ikut bersamamu."
"Iya. Kau tidak perlu khawatir karena paman orang yang baik dan tidak akan menjahati mu. Kita sama-sama berasal dari Swiss. kalian pernah tinggal di sana, bukan?" Kata Zayn akhirnya mendapatkan kepercayaan dari Ansel
"Benar, dia bisa saja memang teman ibuku. Paman ini juga tahu jika kami berasal dari Swiss." Kata Ansel yang bertambah percaya
"Tapi ingatkan ini baik-baik paman, Jika ternyata kau terbukti orang yang jahat dan berani melakukan sesuatu pada temanku, kau tidak akan lolos dari kejaran polisi." Ancam Arsen memperingatkan
"Hehe... Iya, Kalian tenang saja. Paman tidak akan mungkin menghabiskan hidup untuk dipenjara menjadi seorang penculik anak."
"Baguslah... Jangan lupakan janjimu." Ucap Arsen menantang
"Tapi tunggu, yang bernama Ansel benar-benar salah satu dari antara kalian, ya?" Tanya Zayn menelisik
"Benar. Namaku adalah Ansel dan temanku yang pemberani ini adalah Arsen." Jelas Ansel
"Tapi jika diperhatikan dengan baik-baik wajah kalian terlihat sama. paman pikir kalian berdua adalah kembar..." Kata Zayn demikian
"Kembar??" Tegun Arsen
Arsen melihat wajah Ansel dengan sangat dalam. Jika disadari dan diperhatikan baik-baik perkataan paman itu ada benarnya. Mereka saling menatap seolah sedang bercermin.
"Benar. Wajahku terlihat mirip dengan Ansel. Kenapa aku baru menyadarinya sekarang.tapi mungkin ini hanya kebetulan, pada kenyataannya kami bukanlah siapa-siapa." Gumam Arsen yang sudah memiliki pemikiran dewasa
"Apa itu kembar??" Malah bertanya demikian Ansel yang membuat Zayn dan Arsen frustasi
"Dia benar-benar seorang anak kecil yang lugu. Kerjanya hanya membuat orang lain stress berteman dengannya." Bicara pelan Arsen
"Sepertinya kalian belum mengerti kata yang asing, Ya. Tidak masalah, mungkin paman saja yang salah mengira. setelah kalian dewasa dan banyak belajar akan mengerti juga, itulah tujuan kalian bersekolah."
"Paman ini salah mengira. Aku bukanlah anak kecil yang seperti itu. Hanya Ansel saja yang masih kecil dan belum mengerti." Mendumal Arsen yang tidak ingin diremehkan
__ADS_1
"Pak Ari sudah datang menjemput. Aku akan pulang lebih dulu. ikut saja dengan paman ini yang akan mengantarkan ke rumah mu sampai selamat. Kita akan bertemu kembali besok." Pungkas Arsen berpamitan
Melihat Arsen yang sudah memasuki mobil pun, Ansel tidak ada pilihan lain selain masuk ke dalam mobil paman yang menjemputnya dengan keraguan yang melanda. Dia tidak pernah melihat paman itu selama menjadi teman ibunya. dia berpikir mungkin dia adalah teman baru ibunya di sini!