Terbelenggu Oleh CEO Angkuh

Terbelenggu Oleh CEO Angkuh
41. Bunuh Diri


__ADS_3

"Ehh,,,tunggu, tunggu, tunggu. bukankah itu wanita penggoda itu, dia menggoda tuan Arya dengan memakai pemikat.secara jika dia tidak melakukan hal itu, Tuan Arya mana ingin mencintai seorang wanita murahan sepertinya." Ucap masyarakat luar


"Orang berkelas harus disandingkan dengan orang berkelas. Ya bagaimana mungkin tidak menggunakan pemikat, lihat saja penampilannya kumuh sekali." Jawab teman bicaranya mengejek juga


"Huuuhhh..." Melempari Dini dengan batu sedang yang diambil tidak jauh berada di jalan dan mengenai kepalanya


Setelah satu batu mengenai kepalanya, Dini berusaha melindungi kepala dari batu sedang yang terus dilontarkan, dengan menggunakan tas selempang yang ia pakai.


Hari sudah mulai gelap, di mana waktu sudah menunjukkan pukul 17.30. Seharian Dini tidak pulang ke rumah membuat ayah dan ibunya khawatir.


Pada awalnya Dini berpamitan untuk pergi ke universitas menghadiri pengumuman dan pemberian hasil ujian.namun, sampai saat kini Dini belum menunjukkan diri atau tanda-tanda dia sudah pulang.


Tentu saja hal itu sontak, membuat firasat seorang ibu berpikir negatif dan takut terjadi sesuatu padanya.


"Pak, Kenapa Dini belum pulang juga ya? Atau acaranya memang sampai malam? Mana handphone Dini tidak aktif lagi.dari tadi ibu terus menghubungi, tetap saja Dini tidak mengangkatnya." Ucap Bu Lia cemas


"Ibu sudah menelpon temannya Dini.coba ibu tanya pada mereka, siapa tahu Dini ada bersama dengan mereka dan bisa jadi baterai handphone Dini habis." Ucap Pak Malik


"Iya, Ibu coba hubungi Raina. Raina teman dekatnya Dini." Ucap Bu Lia mencari kontak Raina dan setelah menemukan ia segera melakukan panggilan


Tanpa menunggu lama, Raina menjawab panggilan dari Bu Lia.


"Assalamualaikum, Halo!" Ucap permulaan Raina


"Waalaikumsalam, Raina.ini ibunya Dini, Ibu ingin bertanya Apakah acaranya sudah selesai, kenapa Dini belum pulang ya?" Ucap Bu Lia


"Maaf Tante, dari sejak siang acaranya sudah selesai!" Jawab Raina


"Dari siang sudah selesai?! Lalu, Raina tahu di mana Dini sekarang? di karenakan sampai saat ini Dini belum pulang juga."

__ADS_1


"Jadi, Dini belum pulang, Tante!" Raina terkejut


"Iya, ibu jadi khawatir memikirkan Dini kemana.ini juga sudah telepon Dini beberapa kali, tapi handphone nya tidak aktif." ucap Bu Lia semakin khawatir


"Tapi maaf Tante. Saat ini Dini sama sekali tidak sedang bersama saya ataupun Prisha.kami tidak tahu kemana Dini pergi."


"Ya Allah, kemana kiranya anak itu pergi ya. Yasudah Terima Kasih ya Raina.jika ada kabar dari Dini, tolong beri tahu ibu." Ucap Bu Lia


"Iya Baik, Tante.saya juga akan membantu mencari." Ucap Raina


"Iya, Terima Kasih, Ya." Ucap Bu Lia langsung menutup telepon


Dengan segera Raina menelpon Prisha, ia sama khawatir nya seperti demikian Ibu Lia. Bagaimanapun juga Dini adalah sahabatnya dari sejak SMA mana mungkin ia bisa melupakan sahabatnya.


"Raina, Ada apa?" Jawab langsung Prisha melalui telepon


"Apa, Hilang?? Hilang bagaimana?" Pungkas Prisha yang terkejut


"Tadi ibunya menelpon diriku, dia menanyakan Dini apakah ada bersama kita.aku jelaskan saja jika acaranya sejak siang sudah selesai dan semua mahasiswa sudah pulang.tapi ibunya Dini malah mengatakan jika Dini sampai saat ini belum pulang juga. ini sudah hampir malam Prisha, kemana dia pergi." jelas panjang lebar Raina


"Aku rasa dengan kejadian tadi pagi membuat Dini terpuruk.salah kita juga yang sudah menjauhi dirinya, bagaimana jika kita mencari Dini di luaran sana." Usul Prisha


"Iya, Aku setuju denganmu." Jawab Raina


"Baiklah, aku akan menjemput mu ke rumah.kita akan cari bersama-sama." Ucap Prisha


"Iya, Baiklah." Ucap Raina langsung menutup telepon dan bersiap mengganti pakaiannya yang sudah memakai piyama dengan baju casual


...***...

__ADS_1


"Hiks...Hiks." Menangis sambil berjalan di sisi jalan menyusuri jembatan jalan raya



"Semua orang di dunia ini sudah membenci diriku. Bagaimana aku bisa menjalani hidupku kedepannya." Ucap Dini dan mulai merasakan Dingin angin malam


"Bagaimana juga aku bisa menghadapi kedua orang tuaku.mereka pasti malu memiliki seorang anak yang dikeluarkan dari tempatnya berkuliah." Ucap Dini menangis


"Mereka pun akan mendapatkan ejekan dari tetangga yang bisa menyakiti hati mereka." Terus bicara Dini


"Aku tidak ingin hidup lagi di dunia ini.aku hanya menjadi beban semua orang, lagipula tidak ada lagi yang harus ku perjuangkan.aku juga tidak bisa memperjuangkan harga diriku, aku tidak sebanding dengan kekuasaan dirinya.ingin berusaha sekuat apapun membela diri, dia tetaplah pemenangnya." Ucap Dini


Dini menaiki pembatas jembatan jalan raya yang cukup tinggi, ia berdiam diri di atasnya mengenang dan membayangkan semua hal yang terjadi sebelum menjatuhkan diri.


Dalam kenangan penuh kasih, ia meminta maaf pada ayah dan ibunya karena ia sudah memberikan beban malu yang besar.


Ia juga meminta maaf karena sudah berbuat dosa dengan membunuh dirinya sendiri, sebelum ajalnya.


Pengendara yang berlalu lalang di sana terhenti dan saling teriak meneriaki Dini yang sedang berdiri di atas pembatas jembatan.


"Hey,,, Turun. Jangan berpikir pendek sehingga ingin membunuh dirimu sendiri." Teriak pengendara


"Coba lihat, wanita itu ingin mencoba membunuh dirinya!" Ucap pengendara lain


"Hey, jangan jatuhkan dirimu.kasihani keluarga mu yang masih menginginkan mu hidup.semua manusia pasti memiliki masalah, berat atau kecil kita pasti bisa melaluinya.tapi jangan lari dari masalah itu dengan mencoba membunuh dirimu, masalah mu tidak akan selesai setelah kau meninggal." Ucap Pengendara lainnya


Semua orang yang melajukan mobilnya terhenti bersimpati untuk menolong dengan memberikan pengertian.namun, tetap saja Dini berdiri di atasnya tanpa mendengarkan orang di bawah yang terus meneriakinya.


Dengan menghirup udara lalu memejamkan matanya, ia Bersiap untuk menerjunkan Diri ke bawah jembatan jalan raya yang tinggi, di bawahnya adalah air yang sangat dalam.

__ADS_1


__ADS_2