Terbelenggu Oleh CEO Angkuh

Terbelenggu Oleh CEO Angkuh
S2 61 - Ayah Kandung Ansel


__ADS_3

"Arya, Ibu mendengar jika Arsen hilang. Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Bu Amira yang datang bersama Pak Barma ke rumah Arya


Terdengar juga suara isakan tangis yang tidak hentinya mengkhawatirkan Arsen dan menginginkan ia kembali.


"Ini semua karena wanita itu...." Arya pun mulai menceritakan semuanya dari awal


Mendengar jika dalang dibalik semua kejadian ini adalah Valerie. Bu Amira dan Pak Barma sangat syok. Mereka berusaha semampu mungkin bekerja sama untuk menemukan keberadaan Arsen.


"Ibu, Putraku hilang! Aku belum sempat memeluknya dan takdir memisahkan ku lagi darinya." Tangis Dini pecah dalam pelukan Bu Amira


"Tenanglah! Kami tengah berusaha untuk menemukan Arsen." Peluk Bu Amira erat dan merasakan bagaimana perasaan menantunya kali ini


"Ibuu..." Ansel berdiri dihadapan ibunya


Sontak Bu Amira melirik ke arah Ansel. Dalam wajahnya terlihat dia bertanya-tanya.


"Dini? Dia..."


"Dia adalah Ansel, Bu. Ansel adalah putraku..." Jawab Dini


"Bagaimana ceritanya?..."


"Ansel adalah kembaran Arsen... Saat itu kalian tidak tahu jika aku melahirkan anak kembar..." Ungkap Dini


Bu Amira pun berbinar, Ia menatap satu cucunya itu dengan berkaca-kaca.


Napasnya terdengar bergemuruh. Ia sangat senang mendengar jika ia memiliki cucu yang kembar dan terpisah darinya.


"Cucuku... Ini nenek, Nak!" Ujar Bu Amira memegang kedua pipi Ansel


Ansel bingung. Ia hanya diam menatap Bu Amira tanpa ekspresi.


"Nenek? Tapi aku sudah memiliki nenek dan juga nenek buyut, mereka ada di rumah Ayahku." Ujar Ansel dan Bu Amira tampak tidak mengerti


"Itu adalah ibuku. Dan nenek buyut adalah Nek Arini, ceritanya sangat panjang, Bu. Ansel menganggap Tuan Darwin adalah ayahnya. Sejak kecil kami merawat Ansel, sehingga ketika besar dia hanya mengetahui Tuan Darwin sebagai ayahnya." Jelas Dini


"Siapa? Ayah Darwin adalah ayahku..." Ujar Ansel kekeh mendengar nama Darwin disebut


"Ini nenek Nak, Nenek adalah ibunya Ayah Darwin." Ungkap Bu Amira


"Kau adalah ibunya ayah? Maka dari itu kau juga nenekku, sama seperti ibunya ibuku adalah nenekku!" Tekan Ansel


"Iya. Aku nenekmu juga..." Sedih Bu Amira


"Tapi kau adalah ibunya paman tampan. Kenapa bisa ayah menjadi anakmu?" Bingung Ansel

__ADS_1


"Karena ayah Darwin, dia adalah adik paman tampan mu! Mereka adik kakak..." Balas Bu Amira


"Benar itu paman tampan?" Ansel berbalik bertanya pada Arya


"Iya. Ayahmu Darwin adalah adik paman!" Jawab Arya terdengar sakit ketika harus menyebutnya dengan memutar balikkan fakta jika seharusnya ia yang dipanggil ayah


Beberapa kali menatap manik Bu Amira. Ansel mencoba mencerna dan akhirnya ia mengerti.


"Nenek,,, Aku senang bisa bertemu dengan nenek ayahku!" Ujar Ansel yang bisa menerima kenyataan


"Nenek juga sangat senang bisa bertemu dengan salah satu dari cucu nenek yang lain..." Peluk Bu Amira erat


Dini melihat Arya jika ia terlihat sangat sedih dengan matanya yang berkaca-kaca. Entah apa yang sedang dipikirkannya. Mungkinkah ia ingin mendengar jika Ansel memanggilnya Ayah, dan ia meminta hak itu dari Ansel?


"Apa Ansel akan bahagia setelah mengetahui jika Arya adalah Ayah kandungnya dan Tuan Darwin adalah Pamannya bukan Ayahnya?" Gumam Dini meragu.


"Apakah selama ini aku terlalu egois ingin menjauhkan Ansel dengan ayah kandungnya?" Kedua bola mata Dini mulai tergenang. Di setiap kesempatan kebersamaan Ansel dan Arya, Dini dapat melihat betapa Ansel sangat menyayangi Arya dan selalu ingin dekat dengan Paman tampannya itu. Keyakinan Dini pun diperkuat saat Ibu mertuanya mengatakan betapa banyak sekali perubahan yang dialami Arya dan Dini pun merasakan hal itu.


"Ansel, Kau senang bertemu dengan nenek mu?" Tanya Dini


"Iya. Sangat senang sekali." Jawab Ansel


"Ansel...." Dini mengelus lembut rambut putranya dengan tatapan mulai berkaca-kaca.


Ansel mengalihkan pandangan pada Dini. "Ya, Ibu?" Balasnya dengan mata berkedip-kedip.


"Hal penting?" Kening Ansel mengkerut. Tidak mengerti kata penting yang Dini maksud.


"Apa kau akan senang mendengar ini? Mungkin ini akan terdengar berat untuk kau bisa menerimanya. Tapi ibu harus mengatakan ini padamu."


"Apa itu, Bu? Aku ingin mendengarnya." Jawab Ansel bersedia


Dini menempelkan sebelah tangannya di atas tangan mungil putranya. "Bolehkan Ibu meminta satu permintaan pada Ansel?" Tanya Dini dengan bibir yang sudah bergetar.


"Boleh. Apa itu, Ibu?" Jari mungil Ansel semakin naik ke atas pipi Dini mengusap pipi Dini yang sudah basah.


"Apa boleh mulai saat ini Ansel memanggil Paman tampan dengan sebutan Ayah?" Air mata Dini semakin mengalir deras. Dini benar-benar tak bisa membendung air matanya yang sejak tadi ia tahan. Arya pun memusatkan matanya melihat Dini.


"Paman tampan? Ayah? Tidak Ibu!" Tanya Ansel dengan kening mengkerut.


"Tidak..." Kepala Dini menggeleng. "Kenapa kau tidak ingin menyebut paman tampan dengan ayah?" Tanya Dini menahan sesak di dadanya.


"Ayahku adalah Ayah Darwin. Bagaimana bisa Paman tampan menjadi Ayahku..." Balas Ansel dengan polos.


Kepala Dini kembali menggeleng dengan air mata yang mengalir semakin deras. "Ansel salah, bukan Ayah Darwin yang merupakan ayah kandung Ansel, Tapi Paman Tampan... Dia adalah Ayah kandung Ansel..." Lirih Dini. Menggigit bibir bawahnya menahan isakan tangisannya tidak keluar.

__ADS_1


"Ayah Arya?" Ansel memasang wajah semakin bingung. Keningnya semakin mengkerut. Jari mungilnya masih setia mengusap air mata di pipi Dini.


Dini mengangguk.


Ansel mengangkat kepalanya. Menatap wajah Arya dengan wajah polosnya yang nampak bingung. "Ayah ku..." Ucapnya sambil menghapus air mata di wajah Dini dengan tangan mungilnya.


Dini tersenyum.


"Sebenarnya, Ayah Darwin bukanlah Ayahmu. Ayah kandungmu yang asli adalah Tuan Arya! Hanya dia yang bisa kau panggil ayahmu." Ungkap Dini. Membuat semua orang tercengang dan khususnya Arya yang tidak menyangka akan secepat ini Dini mengungkapkan kebenaran.


"Kenapa bisa? Kenapa Ayah Darwin bukanlah ayahku?" Ujar Ansel terdengar tak terima


"Dulu ibu dan Tuan Arya menikah dan memiliki anak yakni dirimu. Kau adalah anak kami, sedangkan ibu tidak menikah dengan Tuan Darwin, sehingga kebenarannya kau bukanlah anak Ayah Darwin, Tuan Darwin adalah paman mu!"


"Itulah mengapa ibu tidak pernah tidur sekamar dengannya." Ternyata Ansel memperhatikan hal kecil kebersamaannya dulu


"Iya. Itulah artinya seorang wanita dan pria yang tidak menikah, mereka tidak bisa tidur sekamar." Jelas Dini


"Ansel lihat ini? Ini adalah foto pernikahan Ibu dengan Ayahmu Tuan Arya..." Dini mengambil ponsel dan tangannya menggeser layar ponselnya hingga kini menunjukkan foto pernikahannya dengan Arya. Ia semakin tak dapat menahan laju air matanya. Mengingat bagaimana dulu dirinya dengan susah payah menjalani hidup bersama Arya dan melahirkan kedua anaknya yang sempat tak diakui membuat dadanya sesak.


"Dini..." Lirih Arya dengan mata berkaca-kaca. Tak berbeda dengan Dini, dada Arya pun kian sesak saat membayangkan betapa kejamnya ia dulu.


Arya turut meneteskan air matanya. Rasa bersalah semakin menghimpit dadanya. Tangan Arya dengan ragu terulur mengelus punggung Dini untuk menenangkannya.


Dini melepaskan pelukannya. Menatap wajah putranya dengan tatapan penuh penyesalan. "Maafkan Ibu selama ini tidak jujur kepada mu... Ansel adalah anak Tuan Arya, Dia buka. paman tampan mu..." Ucap Dini dengan sedikit tergagap.


"Aku bukan anak Ayah Darwin! Anak Paman tampan!" Tegun Ansel


Dini mengangguk.


"Mulai sekarang Ansel memanggil Paman tampan dengan Ayah. Bukan lagi sebutan Paman Tampan." Ucap Dini dengan lembut.


"Ayah Darwin bukanlah Ayahku! Aku sangat sedih ternyata dia adalah pamanku!" Ujar Ansel melirik ke arah Arya


Ansel pun beranjak dari pangkuan ibunya. Dia berjalan menghampiri Arya, meraih tangannya, dan menatap lekat pada Arya.


Ansel mengarahkan wajahnya ke arah Arya hingga Arya pun turut mengikuti arah pandangan Ansel.


"Paman tampan adalah Ayahku..." Ucap Ansel dengan bibir bergetar.


"Ayahh..." Ucap Ansel pada Arya yang diangguki oleh Arya. "Ayah Arya... hua...." Ansel menghambur ke dalam pelukan Arya hingga membuat Arya tak dapat lagi menahan tangisannya agar tidak keluar.


Ansel memeluk erat tubuh Arya. Walaupun belum begitu paham atas apa yang terjadi, namun Ansel cukup paham jika ia lahir dari dalam rahim Ibunya yang menikah dengan Arya dan dia adalah Ayahnya.


Ansel dan Arya pun semakin larut dalam tangisan mereka.

__ADS_1


"Terima Kasih Tuhan... akhirnya anakku memanggil Tuan Arya dengan sebutan


Ayah..." Ucap Naina dalam hati


__ADS_2