Terbelenggu Oleh CEO Angkuh

Terbelenggu Oleh CEO Angkuh
149. Sengaja


__ADS_3

"Valerie, Apa yang kau lakukan dengan berdebat dengan Arya?" Ucap Bu Clara yang datang ke kamar Valerie yang sedang kesal ada suaminya


"Apa salahnya, Bu. Ibu tidak tahu bagaimana sikap dia kali ini. dihadapan ku, dia menangkap wanita itu dengan memegang pinggangnya. Dia juga malah membela wanita itu." Kesal Valerie mengamuk di kamar Arya


"Ibu tidak ingin tahu kau harus meminta maaf pada Arya. Jika saja Arya marah, kau usahakan jangan terbawa emosi apalagi sampai melawannya seperti tadi."


"Kenapa harus aku? Kenapa tidak dia yang meminta maaf padaku." Keras kepalanya


"Valerie, dengarkan ibu. Kau tahu sendiri jika Arya bersikap beda pada wanita itu. seharusnya kau menjadi istri yang baik lebih dari wanita itu. Buktikan pada Arya jika kau istri yang lebih baik darinya."


"Tapi bagaimana caranya? Aku saja tidak bisa memasak."


"Kau tidak perlu memasak ataupun mendadak menjadi ibu rumah tangga. Kau hanya perlu terus menjatuhkan Dini dihadapan Arya."


"Lalu, apa yang harus aku lakukan sekarang?"


"Itu yang kau tidak tahu. untuk saat ini kau harus meminta maaf pada Arya. Jangan sampai Arya kesal dan berpindah lain hati karena sifat mu yang keras kepala."


"Baiklah, Aku akan meminta maaf padanya." Ucap Valerie pergi ke ruangan kerja Arya


Tok...tok...tok...


"Masuk!" Perintah suara di dalam


Perlahan dengan sungkan Valerie membuka pintu ruang kerja Arya.


Arya yang sibuk dengan mengetik di laptopnya, terpaksa harus melihat siapa yang datang.


Ada perasaan malas dan marah saat Valerie yang didapatinya masuk.

__ADS_1


"Ada apa kau datang ke mari? Kau ingin berdebat lagi denganku?" Cetus Arya belum apa-apa


"Arya, Bukan begitu. Aku sangat menyesal sudah berdebat denganmu. bukan tanpa sebab karena aku kesal dengan sikapmu pada wanita itu tadi."


"Lalu, untuk apa kau datang ke sini?" Tanya dingin Arya tidak ingin tahu penjelasan Valerie


"Atas kesalahan ku tadi, Aku hanya ingin meminta maaf padamu. Aku mengakui jika aku yang salah. Tolong maafkan aku..." Rengek Valerie memasang wajah memelas


Arya menghiraukan kata maaf Valerie.


"Arya, Aku mohon tolong maafkan aku. Aku tidak bisa melihatmu mengabaikan ku seperti ini. Apa kau tidak kasihan dengan bayimu? Dia merindukan kehangatan dari ayahnya." Ucap Valerie sedih


Mendengar Valerie terus memohon agar bisa memaafkannya, ia tertegun dan seketika menghentikan mengetiknya.


Matanya dengan sedikit tajam melirik ke arah Valerie dengan intens.


Dan ia berdiri lalu menghampiri Valerie.


"Aku juga tidak bisa mengabaikan mu seperti ini. Sudah jangan bersedih! Aku sudah memaafkan mu. Dan untuk lain kali jangan lakukan itu lagi." Ucap Arya sambil menasihati


"Iya, Aku berjanji padamu." Jawab Valerie memeluk Arya


Arya pun membalas pelukan Valerie.


...***...


"Hah,,, Akhirnya pekerjaan ku selesai juga." Ucap Dini menghela napas panjang mendudukkan bokongnya kasar di sofa ruang keluarga


"Anak ibu, Sedang apa kau di dalam, Nak? Kau juga pasti sangat lelah, Ya. Karena harus mengikuti ibu ke manapun dan apa pun yang ibu lakukan." Mengelus perutnya

__ADS_1


"Maafkan ibu yang tidak bisa beristirahat terlalu lama. Maafkan ibu juga atas kejadian kemarin yang pasti kau mendapatkan guncangan hebat di dalam sana." Ucap Dini berbicara dengan janinnya sambil mengelus lembut


"Kau harus tahu jika semua orang di dunia ini sangat baik. Hanya saja mereka berubah menjadi jahat karena alasan ambisi mereka sendiri. ketika kau lahir nanti, jangan pernah membenci siapapun. Jika ada orang yang berbuat jahat padamu, jangan pernah melawan mereka. Ibu harap kau mendengarkannya di dalam." Ucap Dini tertawa kecil dia akhir kalimat


"Sedang apa kau berleha-leha di sini. Sofa ini bisa kotor jika kau yang mendudukinya." Hardik Bu Clara yang tiba-tiba memarahi


Baru saja beristirahat dan sedikit bisa bernapas dengan lega. Dini harus terganggu dengan kedatangan nenek lampir yang tidak membiarkan hidupnya tenang semenit saja.


Spontan ia berdiri dari duduknya dan menunduk menghadap Bu Clara.


"Kamarku berantakan. Aku perintahkan padamu untuk merapikannya sekarang juga."


"Kamar nyonya baru saja dibersihkan. Saya lihat tidak ada yang berantakan." Ucap Dini


"Tapi sekarang berantakan. Dan aku memintamu untuk merapikannya, bukan menjawab perintahku." Bentak Bu Clara


"Baik, Nyonya. Akan saya rapikan sekarang." Ucap Dini pasrah mengambil alat kebersihan dan membawanya ke kamar Bu Clara


Dan ternyata benar. Saat Dini sampai di kamar Bu Clara, kamarnya begitu berantakan. Seolah dengan sengaja Bu Clara mengacak-acak tempat tidurnya dan barang-barang yang ada di sana.


"Menambah Pekerjaan yang tidak penting saja." Mendengus Dini


"Aku tahu jika Bu Clara berpura-pura hanya karena ingin membuatku susah."


"Tapi ingin bagaimana lagi. Sangat susah untuk melawan permainan orang yang tidak berperasaan dan mementingkan diri sendiri."


"Kamar yang sudah rapi dan bersih, ia seperti orang gila yang tidak tahu aturan mengacak-acak objek yang ada. Entah apa yang dipikirkan oleh orang lain. Apa hidup mereka terlalu mudah, sehingga menyusahkan diri sendiri?" Bicara Dini tanpa henti


Dini mendumal kesal sambil mengambil setiap barang yang tergeletak di lantai dan kembali menyimpan ditempat seharusnya.

__ADS_1


Dilanjutkan merapikan sprei pada kasur dan pakaian yang tak karuan tergeletak di lantai keluar dari lemarinya. Dengan telaten dan penuh kesabaran Dini melipat pakaian Bu Clara dan menyusunnya kembali di lemari dengan sangat rapi.


__ADS_2