Terbelenggu Oleh CEO Angkuh

Terbelenggu Oleh CEO Angkuh
S2 90 - Ada Sesuatu


__ADS_3

"Ayo tiup lilinnya Luna." Titah Bu Amira setelah menyalakan lilin itu


Luna menutup mata untuk berdoa di tanggal kelahirannya. Doa yang Luna panjatkan hari ini adalah segera dipertemukan dengan jodoh agar dia bisa menikah dan memiliki keluarga yang didambakan seperti layaknya orang lain yang bahagia bersama anak dan suami mereka. Apalagi di usianya yang 28 tahun dan desakan orang lain yang selalu mempertanyakan kapan menikah? Sudah memiliki calon atau belum?


Selesai berdoa ia membuka matanya. Meniup lilin di depannya sampai lilin itu padam.


Tepukan tangan semua orang mengiringi bolu yang di potong Luna. Sebuah bolu yang baru saja disimpan di piring nakas akan segera mempertemukan dia pada orang dengan penerima suapan pertama.


Setiap tahu suapan pertama bolu ulang tahu selalu diberikan pada ibunya, hal itu dilakukan sebagai ucapan terima kasih Luna pada Bu Amira yang senantiasa sudah melahirkan dia hingga bisa menatap dunia ini dan selalu menjadi seorang ibu yang baik, selalu mendukung dan memberikan kasih sayang penuh sebagai seorang ibu.


Hal yang tidak di sangka, sebuah suapan bolu mengarah semakin dekat pada seseorang dengan gemetar. Gigitan bolu itu membuat bolu yang baru dipotong kehilangan separuh. Semua orang tercengang menatap tidak menyangka. Suasana semakin hening dan tidak ada sumber suara seekor semut apapun.


Luna memberikan suapan pertama itu pada Zayn!


Sebuah ciuman manis dipunggung tangan kanan Luna mendarat, dari Zayn yang membuat keluarga dan tamu syok. Zayn benar-benar nekat dan tidak mementingkan keadaan sekitar sepasang mata terkejut menatap mereka.


"Dia mencium tangan adikku!!" Pekik Arya geram

__ADS_1


Arya meremang menyaksikan kenekatan itu. Ingin sekali ia menghajar Zayn dan menjauhkan dari adiknya itu. Tapi Dini menahan suaminya dengan memegang tangan Arya sangat erat. Dini mengatakan ini adalah acara ulang tahun Luna dan tidak sepantasnya Arya memperkeruh keadaan ini yang bisa membuat Luna marah hanya ketemperamental Arya dipergunakan untuk menghancurkan tanggal spesialnya hari ini.


"Paman mencium tangan bibi. Kenapa??" Tanya polos Ansel sampai memiringkan kepalanya ke kanan


"Ini biasa dilakukan oleh orang dewasa yang ada sesuatu!!" Lugas Arsen mempresentasikannya dan tersenyum kecut


"Ada sesuatu apa?? Apakah Paman Zayn dan Bibi Luna sedang memulai permainannya? Di setiap acara ulang tahun selalu ada permainan untuk anak-anak, bukan. Kapan kita bisa bermain?" Kata Ansel yang tidak pernah mengerti dan hal itu membuat Arsen stress dan enggan menjelaskan lagi


"Benar-benar tidak ada gunanya menjelaskan pada anak kecil seperti dia. Dia sendiri yang bertanya dan selalu bingung saat dijelaskan. Benar-benar dangkal pikirannya!!" Bicara Arsen dengan ketus dalam hati menghina adiknya sendiri


Teman Luna bahkan kedua orang tuanya bertanya-tanya apa hubungan Zayn dan Luna sebenarnya? Apakah ada hubungan?


"Dasar pria bajingan!! Awas saja kau! Setelah acara ini selesai aku akan memberimu pelajaran." Ancam Arya menggerutu dalam hati menatap Zayn dengan tatapan elang nya


"Suamiku, Kenapa kau terlihat marah seperti ini? Aku tahu kau marah karena kakakku secara satu pihak telah mencium tangan Luna dihadapan semua orang tadi. Tapi tidak seharusnya kau marah, kita tahu jika mereka ada sesuatu dan mungkin tadi Kak Zayn kehilangan kendali sehingga dia sendiri tidak bisa mengontrol emosinya. Jika mereka benar memiliki hubungan spesial, tugas kita hanya mendukung mereka dan membiarkan mereka mengambil langkah selanjutnya." Ucap pengertian Dini


"Jika benar memiliki hubungan, Kau menyetujui hubungan mereka??" Tanya Arya tegas

__ADS_1


"Ingin bertindak apa lagi? Kak Zayn sendiri berusia 34 tahun dan belum saja menikah, Luna sendiri belum menikah dan mungkin saja karena tak kunjung menikah mereka berjodoh." Jawab Dini


Arya pun berdecak kesal dan memutarkan bola matanya malas. Entah apa yang membuat Arya tidak merestui hubungan Luna dan Zayn. Rasa tidak menyukainya itu timbul saat ia datang sebagai kakaknya Dini dan selalu menghabiskan waktu bersama istrinya. Pantas Arya cemburu, dulunya pria itu datang sebagai klien Arya yang ternyata mencintai istrinya, ia bersembunyi memanfaatkan dibalik status kakak kandung untuk mendekati Dini. Hingga saat ini Arya selalu melarang keras Dini berdekatan dengan kakaknya.


Acara pun kembali berlanjut setelah mendapat serangan jantung mendadak. Acara ulang tahun tak sampai di situ saja, Zayn dan Luna berdansa di tengah undangan yang datang dan menyaksikan mereka berdansa. Seperti keluarga kerajaan yang baru menikahkan putri dan pangerannya mereka berdansa dihari itu untuk mengungkapkan kebahagiaan. Gerakan kaki dan dansanya sangat lihai dilantunkan arasemen lembut dan romantis.


"Mereka sangat cocok sekali." Puji Dini terkagum sampai matanya berbinar-binar


"Dini, Kau tahu apa hubungan Luna dan juga Zayn? Apakah kakakmu sering bercerita mengenai Luna? Ibu akui Luna itu sangat cocok dengan kakak mu." Ucap Bu Amira mendekati Dini untuk menanyakan sesuatu


Dari awal mulainya acara hingga pemotongan bolu tadi yang paling membuat orang syok, Bu Amira tidak fokus, pikirannya berkecamuk bertanya akan sebuah jawaban pasti.


"Aku sendiri tidak tahu jawaban yang sebenarnya, Ibu. Kakak tidak pernah menceritakan permasalahan hatinya itu dan Kakak kerap kali menghindar saat aku bertanya mengenai Luna. Sepertinya untuk saat ini mereka belum bisa jujur." Kata Dini


Bu Amira pun mengangguk-angguk paham.


"Tapi fenomena yang terjadi hari ini sudah menjelaskan segalanya. Katakan saja pada kakakmu jika kami tidak mempersalahkan dia untuk menyukai Luna, datang saja pada kami jika dia benar-benar ingin memiliki putri kami. Pernikahan kedua dengan besan yang sama akan memperkuat tali keluarga kita, kita tidak perlu mencari besan atau menambah besan baru dengan orang lain. Hhh..." Pungkas Bu Amira terkekeh di akhir kalimat

__ADS_1


"Tentu saja Ibu, Aku akan menyampaikan pesan ibu pada kakak nanti. Aku akan bicara padanya jika kita mendukung mereka." Kata Dini sambil tersenyum bibirnya


__ADS_2