Terbelenggu Oleh CEO Angkuh

Terbelenggu Oleh CEO Angkuh
137. Hamil


__ADS_3

Setelah sampai di rumah sakit, Dini langsung masuk ke ruang observasi untuk di periksa keadaannya.


Dari luar ruangan, perasaan Bu Amira tidak tenang. Ia terus saja berbolak-balik di depan ruangan menunggu Dokter keluar.


Tak lebih dari 10 menit, Dokter keluar dari ruangannya.


"Dokter,,, Dokter,,, Bagaimana dengan keadaan menantu saya? Tidak terjadi sesuatu yang membahayakan, Kan?" Gerak cepat Bu Amira menghampiri dokter


"Saya harus berbicara dengan suaminya? Apa beliau ada di sini?" Ujar Dokter muda dan cantik itu


Membuat Darwin dan Bu Amira termenung bingung.


"Saya ibu mertuanya Dokter, Dokter bisa menyampaikannya pada saya."


"Ini menyangkut hal yang sangat penting dan harus disampaikan pada suaminya."


Tidak ada jalan lain, dihadapan dokter dan ibunya, Darwin dengan ragu-ragu mengaku jika dia adalah suaminya.


"S-s-saya Suaminya, Dok." Pungkas Darwin yang setelahnya melirik ke arah ibunya yang menaruh harap juga


Sepertinya Bu Amira mendukung tindakan yang diambil Darwin, karena Bu Amira pun mengerti dengan situasi kondisi saat ini. Tidak ada jalan lain selain Darwin yang mengaku posisi itu dihadapan dokter.


Dokter pun langsung tersenyum lebar menatap Darwin. Dan menyodorkan tangannya seolah untuk berjabat tangan.


"Saya ucapkan selamat pada anda, Tuan. Anda akan segera menjadi seorang ayah. Ini kabar bahagia untuk anda dan keluarga. Saat ini istri anda tengah mengandung dengan usia kehamilan sudah menginjak 7 minggu." Pungkas dokter dari wajah terlihat menegangkan berubah terlihat berseri-seri


Selama mendengar perkataan Dokter yang menyatakan bahwa Dini sedang hamil. Raga dan Jiwa Darwin seolah terpisah, dia diam mematung dengan tatapan kosong.


"Hahh... Apakah yang dikatakan dokter benar adanya? Menantu saya sedang hamil!" Pungkas Bu Amira yang senang namun, masih tidak menyangka akan kabar bahagia itu


"Iya, Bu. Nona Dini saat ini sedang hamil." Ucap dokter muda itu


Bu Amira tidak bisa berkutik lagi, orang lain tidak akan merasakan betapa bahagianya dia kali ini.


"Apa saya bisa menemui menantu saya, Dok?" Pinta Bu Amira


"Silakan, Bu. Jika tidak ada hal yang ingin ditanyakan lagi, Kalau begitu saya pamit." Pamit dokter itu


"Baik, Dokter. Terima Kasih." Sepergian dokter, Bu Amira berhamburan pergi masuk ke ruangan untuk menemui Dini


Terlihat Dini sedang terbaring lemah di atas brankar dengan kondisi sudah sadar dan terlihat menatap kosong ke arah lain.


"Diniii!!" Peluk Bu Amira langsung


Dini yang dipeluk hanya berdiam diri saja tanpa ekspresi menyadari Darwin juga masuk tanpa semangat.


"Ibu sangat senang hari ini. Ibu tidak menyangka bisa mendengar kabar bahagia ini, Nak. Selamat ya, Kau akan menjadi seorang ibu." Ujar Bu Amira tidak bisa membendung senangnya dari tadi


"Selamat atas kehamilan mu, Kakak Ipar!!!" Bicara Darwin yang terdengar bergetar dan kata kakak ipar yang sedikit ditekankan

__ADS_1


Dini tidak menyahut ucapan selamat yang diberikan. Entah apa yang dirasakannya saat ini.


"Kenapa, Din? Kau terlihat tidak senang!" Ucap Bu Amira


"A-apa yang dikatakan dokter dan kalian benar? Bahwa aku sedang hamil?!" Ucap Dini yang akhirnya berbicara terdengar getir


"Iya, Din. Saat ini sudah tumbuh janin dalam rahim mu 7 minggu terakhir. Kenapa kau tidak memberitahu kami jika sedang hamil? Jika begitu, kau tidak tahu akan bagaimana bahagianya kami."


"Aku juga tidak tahu jika aku sedang hamil. Aku baru mengetahuinya sekarang dan tidak pernah menyadarinya selama ini." Jawab Dini


"Tidak apa. Yang terpenting sekarang kau harus menjaga kesehatan demi dirimu dan bayimu, masalahnya kau bukan hanya merawat diri sendiri, tapi ada manusia yang tumbuh dalam rahim mu juga." Ujar Bu Amira meletakkan tangannya di perut Dini yang masih terlihat rata sedikit buncit


Sebuah pukulan besar harus menerima kenyataan jika Dini tengah mengandung seorang anak dari hasil pergelutannya bersama Arya. Ia tidak tahu harus bagaimana cara memberitahukan kehamilannya pada Arya, ia sudah menduga jika Arya akan mengelak.


Bahagia mendengar kabar yang dari dulu selalu ditunggu, dan kini benar-benar nyata. Bu Amira dan Darwin membawa pulang Dini ke mansionya yang masih terlihat lemah.


Selama perjalanan, Darwin tidak banyak bicara mengantarkan ibu dan Dini ke mansion sebelum ke perusahaannya. Terlihat wajahnya sangat datar sedari mendengarkan dokter yang berbicara dengannya tadi, membuat dia sangat sakit hati jika ternyata Kakaknya sudah menyentuh Dini sampai bisa hamil.


Mobil terparkir sempurna didepan mansion Pratama. Setelah mengantar Dini dan ibunya pulang, Darwin segera meluncur ke perusahaan.


Dengan memapah Dini yang masing lemah dan pusing, Bu Amira membawanya masuk.


Saat masuk, mereka sudah dihampiri oleh Pak Barma.


"Bagaimana Bu, Apa yang terjadi?" Tanya Pak Barma tergesa-gesa


"Hati-hati, Nak. Pelan-pelan saja duduknya." Kata Bu Amira yang super protektif


Terpaku akan ke protektifan Bu Amira, Sampai ingin duduk pun Dini harus memelankan temponya.


"Kau ingin minum? Ibu akan ambilkan jika kau ingin." Tawar Bu Amira


"Tidak, Bu. Itu merepotkan. Saat ini aku tidak haus." Jawab Dini


"Katakan dulu apa yang terjadi sebenarnya? Dari tadi bapak menunggu ibu mengatakan sesuatu." Ujar Pak Barma terlanjur kesal


"Kau pasti akan senang mendengar kabar ini, Pak." Ujar Bu Amira yang akhirnya berbicara pada Pak Barma


"Cepat katakan! jangan sampai harus membuat bapak penasaran seperti ini."


"Saat ini, Dini sedang hamil!!!" Ujar Bu Amira berseri-seri


Sedikit tercekat, Terkejut mendengar kehamilan Dini saat ini yang benar-benar nyata. Pak Barma sampai tidak menyangka, dari wajah terkejut dia berubah berseri-seri.


"Benarkah yang kau katakan itu? Jangan mencoba untuk membohongiku." Cetus Pak Barma


"Bapak bertanya, Ibu menjawab, Tapi bapak sendiri yang tidak percaya." Kesal Bu Amira


"Aku akan bertanya langsung pada menantuku saja. (Pak Barma beralih menghampiri Dini) Benar apa yang dikatakan ibumu itu, nak?" Tanya Pak Barma

__ADS_1


"Iya, Ayah mertua. seperti yang ingin ayah inginkan, ayah akan mendapatkan seorang cucu." Jawab Dini


Betapa bahagianya Pak Barma kala itu, dia sampai membuat heran semua orang dengan senangnya sampai berjingkrak-jingkrak. Pak Barma yang berwibawa bisa mengekspresikan perasaan sampai seperti itu.


"Kau dengar itu, Bu? Menantu kita akan memberikan kita cucu. Kau akan dipanggil nenek dan aku kakek." Pungkas Pak Barma senang


"Ibu sudah tahu lebih dulu dibandingkan bapak. Tapi di sini bapak adalah orang yang paling terlihat senangnya."


"Ya, Bagaimana lagi? Namanya sedang senang, masa bapak harus sedih mendengar kabar bahagia."


Semua orang pun terkekeh. Berbeda dengan Dini yang tidak menukik senyum sama sekali.


"Sudah menginjak usia berapa bulan kehamilannya?" Tanya Pak Barma


"Dokter mengatakan menginjak 7 Minggu. Jika dihitung baru 2 bulan pun kurang." Jawab Bu Amira


"Dua bulan?? Tapi perut Dini sama sekali tidak terlihat besar, malah masih terlihat rata. Berbeda dengan Valerie yang datang mengaku hamil 2 bulan dengan perut yang sudah terlihat membesar." Sadar Pak Barma


"Benar, saat ibu hamil pun merasa perut ibu saat 2 bulan tak sebesar itu." Ucap Bu Amira yang menyadari juga setelah Pak Barma berbicara


"Setahuku itu bisa terjadi pada beberapa wanita, perutnya bisa saja terlihat lebih besar dari usia kehamilan karena berbagai faktor, seperti disebabkan karena otot, dan lemak perut." Timpal Dini


"Kenapa bisa seperti itu? padahal dia seorang model yang pasti selalu menjaga porsi tubuhnya." Kata Bu Amira


"Berbaik sangka saja, Bu. Bisa saja terjadi karena faktor lain." Ujar Dini


Mendengar penjelasan Dini, Pak Barma dan Bu Amira berhenti memikirkan kehamilan Valerie dan membuang pikiran yang terlintas serius itu.


"Selamat nyonya muda atas kehamilan anda. sebentar lagi keluarga ini akan mendapatkan pewarisnya." Ucap Bu Ashna memberi selamat


"Terima Kasih, Bu Ashna." Jawab Dini


"Iya benar, pewaris kita akan datang sebentar lagi ke mansion ini. Aku jadi tidak sabar ingin bertemu dengannya." Pungkas Bu Amira


Tak pernah terbayangkan sebelumnya jika jalan kehidupannya akan seperti ini. Di mana usia yang masih muda berusia 20 tahun harus mengandung seorang bayi, walaupun terbilang usia yang cukup, pada akhirnya selalu berpikir seumurannya saat ini masih mengejar cita-cita dan pendidikan mereka, sedangkan dia sudah harus menjadi seorang ibu.


Kenyataan pahit ia harus menelan habis pil pahit itu. Kehidupan yang sudah membawanya pada kehamilan tak bisa mengelak untuk menghindarinya. Kehamilan bagi Dini saat ini dirasakan berbeda pada wanita hamil lainnya yang di mana mendapatkan dukungan dan kebahagiaan dari suaminya.


Janin yang tumbuh dalam rahimnya saat ini sudah patut harus ia jaga. Karena ia adalah ibunya, dan tidak mungkin membahayakan anaknya sendiri. Masalahnya adalah, anggota keluarga lain di rumah yang ia tinggali tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Bisa saja nyawanya terancam akibat kenekatan orang jahat.


Maka keputusan yang Dini ambil adalah menyembunyikan kehamilannya saat ini dari Arya! Begitupun dengan Valerie dan Bu Clara yang kini tinggal di sana.


Keputusan Dini pun sudah disetujui oleh Pak Barma dan juga Bu Amira yang berada di pihaknya.


Entah sampai kapan ia menyembunyikannya, padahal bulan demi bulan akan membuat perubahan pada bentuk perutnya yang akan mencolok dan membuat orang lain curiga bahkan bertanya-tanya?!


Apalagi di situasi lingkungan masyarakat yang belum mengetahui pernikahannya!


Apa yang akan dikatakan orang lain nanti? Pasti banyak yang menyangka bahwa dia tengah hamil di luar nikah!

__ADS_1


__ADS_2