Terbelenggu Oleh CEO Angkuh

Terbelenggu Oleh CEO Angkuh
S2 49 - Keluar


__ADS_3

Siang itu Arya telah selesai melakukan meeting. Meskipun tubuhnya berada di ruangannya, tapi pikiran dan hatinya berada di rumah. Baru beberapa jam dia berpisah dengan mereka, tapi hati dan tubuhnya sudah merindukannya.


Arya membuka ponsel, mengaktifkan fitur live CCTV dan menghubungkan pada CCTV di rumahnya. Dari puluhan CCTV yang berada di rumah, Arya mencari keberadaan ibu dan anak itu pada satu per satu kamera. Bibirnya tersenyum ketika melihat mereka berada di ruang keluarga. Arya memperbesar tampilan layar, agar dia bisa lebih leluasa menatap wajah orang-orang tersayangnya.


Terlihat Arsen dan Ansel sedang mengerjakan tugas dari sekolah bersama untuk dikumpulkan besok hari, sedangkan ibunya sedang melamun sembari tersenyum-senyum. Apa yang di pikirkan wanita itu hingga tersenyum seperti itu?


"Kalian bisa mengerjakan tugas sekolahnya? Jika ada yang kalian tidak mengerti, Ibu bisa membantu kalian." Ujar Dini dengan senyum ramahnya


"Ibu, Tolong gambarkan ini. Aku dan Arsen kesusahan menggambar." Pinta Arsen


"Mari, Ibu yang akan menggambarkannya untuk kalian. Dan nanti kalian hanya tinggal mewarnai." Dini pun mengambil buku kedua anaknya dan mulai menggambar apa yang diperintahkan soal tugas mereka


"Kau tahu Arsen? Ibuku ini pintar sekali menggambar, dia bisa menggambar apapun di buku. Untung saja ibu ada di sini, jadi kita bisa meminta bantuan darinya." Cerita Ansel


"Bukan hanya dia. Di dunia ini banyak yang bisa menggambar." Ketus Arsen menjawab


Mendengar pernyataan Arsen. Dini hanya diam tidak begitu menanggapi perkataan Arsen sampai ke hati.


Dini tahu Arsen belum bisa menerima dirinya sebagai ibu kandungnya. Namun, Dini percaya suatu saat nanti Arsen akan mengganggap dia sebagai ibunya.


"Ini, Ibu sudah menggambarkannya untuk kalian." Kata Dini mengembalikan buku tersebut pada kedua anaknya


"Lihat apa yang ku katakan. Bagus, bukan?" Puji Ansel melihat hasil gambar itu


Arsen menanggapinya dengan biasa saja. Ia tidak peduli dan mulai memberi warna.

__ADS_1


"Terima Kasih Ibu. Kau sangat membantu." Ucap Ansel


Dini hanya mengangguk dan tersenyum sebagai jawaban.


"Arsen, Kau tidak ingin mengucapkan terima kasih. Ibuku mengatakan kita harus berterima kasih pada orang yang sudah membantu kita." Ujar Ansel


"Kau tahu jika aku tidak memiliki ibu. Seorang Ibu pasti selalu memberikan pembelajaran yang sama. Tapi Aku tidak pernah mendapatkan pembelajaran dari ibuku sendiri." Ujar Arsen melihat Dini dengan tatapan benci dan seolah menyindir


Dini termenung. Dia memahami apa yang dirasakan Arsen. Dia memang sudah bersalah.


Beberapa saat kemudian, Dini beranjak dari duduknya. Pergi ke pintu depan. Sepertinya ada orang mengunjungi mereka.


Arya yang mengawasi mereka dari jarak jauh mengarahkan kamera CCTV ke pintu depan, wajahnya tampak terkejut begitu melihat tamu yang datang berkunjung.


"Damar, siapkan mobil. Kita pergi!" Titah Arya


"Meeting bubar. Lanjutkan besok." Arya keluar dari ruangan dengan terburu-buru


Damar mengikuti di belakangnya dengan tergopoh-gopoh. Tangannya tampak sibuk menelepon sana-sini.


Arya berjalan menuruni lift ke lantai paling bawah. Di sana terdapat baseman mobil pribadinya. Dikendarai oleh Damar menuju rumah Arya.


Di dalam mobil, Arya masih memantau gerak-gerik seseorang bersama dengan Dini. Tubuhnya bergetar karena amarah. Apa yang di lakukan oleh kedua wanita itu? Mengapa dia menemui Dini?! Sejak kapan dia keluar? Apa yang ingin dia lakukan?


Arya bolak-balik menelepon nomor Bu Shani, tapi nomor selalu di luar jangkauan. Dia juga menelepon ke ponsel putranya, tapi sama saja.

__ADS_1


Tubuh Arya semakin bergetar hebat ketika melihat Dini dan Ansel menangis. Sebenarnya apa yang dia katakan? Mengapa Dini sampai menangis seperti itu?!


"Percepat!!" Arya meninju jok mobil di sampingnya


"Baik Tuan." Jawab Damar


Kurang lebih lima belas menit kemudian, Arya sudah menginjakkan kakinya di depan rumah. Dengan langkah panjang dia segera masuk ke dalam Rumahnya. Tujuannya adalah ruang keluarga. Sama seperti yang di lihatnya di CCTV, Dini masih tampak menangis dengan Ansel di pangkuannya. Dilihat juga Arsen berada di pihak mereka dan ikut menyuarakan kemarahannya.


Luapan kemarahan memenuhi dada Arya. Tanpa bisa di kontrol, dia langsung membentak ketiganya.


"APA YANG KALIAN LAKUKAN?!!"


Semua yang ada di ruangan itu tampak terkejut. Semua mata memandang kepadanya. Arya berjalan ke arah Dini dan Ansel, menarik tangan wanita itu untuk berdiri.


"Tuan..." Dini segera memeluk Arya dengan erat. Tubuhnya bergetar karena tangis. Arya salah mengartikan tangisannya. Dia menyangka Dini menangis karena kata-kata wanita iblis itu.


"Apa yang kalian lakukan di sini, Hah?!! Dengan sembarangan kalian masuk ke dalam rumah orang lain."


"Arya, Aku ibu mertuamu..." Wanita tua yang menganggap dirinya sebagai mertua Arya itu tampak ketakutan. Dia takut dengan kemarahan yang di tunjukkan Arya. Tubuh kedua wanita itu gemetar.


Mereka sangat sadar dengan kesalahannya mengunjungi rumah Arya. Mereka sangat tahu dengan sifat Arya. Bila sudah marah besar, biasanya Arya akan menjadi tak terkontrol. Siapa pun yang membuatnya marah seperti itu, maka akan di hancurkannya.


"Arya, Tolong maafkan aku. Aku datang kesini karena sudah dibebaskan, Aku hanya ingin meminta hak ku darimu."


Wanita muda berlari ke arah Arya dan bersimpuh di bawah kakinya. Dia menangis tersedu-tersedu. Arya tampak jijik melihat wanita itu bersikap seperti itu.

__ADS_1


Baru saja ditemui beberapa bulan kemarin dengan berlagak mengeluarkan sifat aslinya. Hari ini tidak seperti biasanya wanita ini akan bersikap anggun, arogan, kerasa kepala, licik, memandang orang lain lebih rendah darinya. Lalu, kini wanita licik itu sekarang tengah bersujud di depannya? Yang notabene mantan suaminya? Dia mulai bersandiwara kembali!


Ya. Dia adalah Valerie dan juga Bu Clara yang datang ke rumah Arya tanpa tahu sebab mereka datang. Hal yang membuat Arya bingung adalah kenapa bisa Valerie keluar dari penjara, sedangkan dia mendapatkan hukuman 12 tahun di penjara. Belum genap 12 tahun dan baru berjalan 8 tahun, dia keluar dan sudah membuat kekacauan!


__ADS_2