
Mall Berada~
"Sepertinya ini cocok untuk adik, Tuan." Menunjukkan kemeja putih
"Aku bingung apa yang harus ku berikan padanya. Dari kecil sampai sekarang dia sudah memiliki semua barang atau fasilitas lainnya." Ujar Arya yang sedang menyombongkan Keluarganya. Namun, Dini bersikap biasa saja dan tidak tahu jika Arya sedang meninggi
"Iya, Tuan benar. Seseorang akan bingung jika akan memberi hadiah kepada mereka yang terlahir sebagai orang yang sudah memiliki barang dan fasilitas yang terpenuhi. tapi saran saya daripada membawa tangan kosong, kita bisa membeli setelan jas sebagai hadiah untuk adik Tuan. itu akan bermanfaat jika dikenakan saat bekerja nanti." Ujar Dini
"Pendapatmu benar. Baiklah, coba pilihkan setelan jas untuknya." Ucap Arya menerima saran Dini
Mereka berkeliling mencari toko yang menjual khusus pakaian kantor seperti kemeja, jas, celana, dasi, dll.
Dan tepat di toko yang sesuai, hingga tidak perlu membutuhkan waktu yang lama, Dini memutuskan memilih beberapa pakaian atas persetujuan Arya lebih dulu yang langsung disetujui olehnya, dan segera membayarnya.
"Hadiah untuknya sudah selesai. Kita langsung pergi ke mansion ibu saja." Pungkas Arya
"Baik, Tuan." Jawab Dini
Mereka berjalan berdampingan dengan mendapatkan perhatian dari pengunjung mall yang saling menatap ke arah mereka. Mungkin mereka kagum, mengenali sosok dibalik kacamata, atau terpesona akan kebersamaan antar pasangan. Diuntungkan Arya memakai kacamata dan juga topi yang sudah ia siapkan, sehingga tidak ada orang yang mengenali dirinya. sepertinya ia juga sudah menduga hal apa yang bisa terjadi jika ia muncul di publik bersamaan dengan Dini. Banyak orang yang pasti sudah mengenali dan akan menjadi gosip hangat pada malam harinya, tanpa harus menunggu pagi hari.
Dini pun menerima hal itu, Toh mereka menikah tanpa ada yang mengetahui terkecuali Keluarga inti, kerabat, dan orang dipercaya. Sehingga sudah tidak perlu dipermasalahkan jika memang Arya ingin menyembunyikan identitasnya saat berjalan dengannya.
"Tunggu...tunggu!" Henti Arya saat berjalan di depan sebuah pajangan baju
"Ada apa, Tuan? Kenapa berhenti?" Tanya Dini yang mendadak menghentikan langkahnya juga
"Kita melupakan untuk membeli pakaian sesuatu." Ujar Arya
"Tuan ingin membeli pakaian?" Tanya Dini
"Apa kau yakin tidak ingin membeli pakaian ini." Ujar Arya mengambil salah satu pakaian dan menunjukkannya tinggi-tinggi pada Dini
Mendapati pakaian yang tipis, menerawang, terbuka, seksi, dan terdapat ****** ***** serta bra yang terlihat. apalagi jika bukan lingerie.
"I-it-itu...Pakaian apa itu, Tuan?" Syok Dini
"Kau benar-benar tidak tahu? Atau pura-pura tidak tahu?" Ledek Arya
"S-s-saya tidak tahu." Jawab Dini dengan gugup
"Baiklah, aku akan membelinya agar kau bisa pakai nanti. Lalu, tunjukkan padaku agar kau bisa tahu." Ujar Arya hendak pergi ke kasir
"Tidak...tidak! Jangan!" Gerak cepat Dini menahan Arya dengan refleks memegang tangannya
"Kenapa jangan? Aku berinisiatif untuk membelinya agar kau tahu." Ujar Arya
"Saya tahu, Tuan. itu lingerie! Jadi, jangan membeli pakaian itu." Ujar Dini malu dengan menundukkan kepalanya
__ADS_1
Arya tertawa kecil.
"Ternyata kau tahu benda ini. Lalu, kenapa kau tidak pernah mencoba untuk membelinya untuk kau kenakan dan setiap malam diperlihatkan padaku? Aku senang jika istriku memakai pakaian ini di malam hari." Ujar Arya semakin vulgar
"Tuan, sebaiknya kita langsung pergi ke mansion ibu." Ujar Dini mengalihkan pembicaraan
"Baiklah, aku akan membelinya." Sengaja Arya terus menggoda Dini dengan hendak ingin terus menuju kasir
"Jangan, Tuan. Saya mohon, jika pun tuan membeli benda itu, saya tidak akan pernah memakainya. Jadi, jangan membuang uang milik tuan untuk pakaian tidak berguna." Mohon Dini
"Baju ini sangat berguna untuk kau melayani ku! Kita bisa menikmati sejuknya malam hari dengan bergairah." Pungkas Arya semakin mengada-ngada ke arah Vulgar yang membuat Dini semakin malu dan tertekan
Karena tertekan dan sudah malu, Dini mengambil lingerie itu dari tangan Arya dan meletakkannya kembali di pajangan gantungan baju. Dengan berani, Dini menarik Arya membawanya pergi dari toko itu.
...***...
Di sisi lain~
"Ibu, beri tahu aku jika kakak dan kakak ipar sudah datang. Aku akan pergi ke halaman belakang sebentar." Ujar Darwin
"Iya. Pergilah." Jawab Bu Amira menunggu kedatangan Dini dan Arya di ruang tamu
Ckitt...
Mobil Sport Lamborghini Aventador berwarna Abu terparkir di depan kediaman mansion Pratama.
Dengan romantis Arya melarang Dini untuk jangan keluar lebih dulu dari mobil. Karena Arya akan membukakan pintu untuknya.
"Terima Kasih, Tuan. Padahal anda tidak perlu repot-repot." Ujar Dini
"Untuk yang mulia ratu, itu tidak masalah bagi rajanya." Ujar Arya sedikit menyunggingkan samar bibirnya
Dengan bersamaan dan berpegangan tangan yang terasa canggung, Mereka berjalan ke arah pintu utama.
Sebelum menekan bel, Bu Ashna sudah terdapat di depan pintu dengan membukanya.
"Tuan muda, Dan nyonya muda sudah datang. Silahkan masuk, Tuan! Nyonya besar sudah menunggu di dalam."
Arya hanya memasang wajah masam tanpa ekspresi, sedangkan Dini hanya tersenyum ke arah Bu Ashna.
"Nyonya, Tuan muda dengan istrinya sudah datang." Bicara Bu Ashna
Bu Amira yang sedang fokus dengan handphone segera menyimpannya di meja. Dan beralih untuk menyambut tamu spesialnya.
"Suami istri ini begitu kompak serasi memakai pakaian warna hitam. Kalian seperti ingin menghadiri pesta saja." Ujar Bu Amira senang
"Bagaimana kabarmu, Din?" Tanya Bu Amira yang berdiri dihadapan menantunya dengan wajah ramah
"Alhamdulillah baik, Bu." Jawab Dini langsung menyalami ibu mertuanya
__ADS_1
"Dan kau Arya? Kau masih saja tidak berubah, dan sudah lama tidak bertemu kau semakin tinggi dan dingin saja." ledek dan kekeh Bu Amira
Seperti biasa, Arya tetap tidak menanggapi ibunya.
"Ohohoo... Menantu dan putraku ternyata datang. Kalian membuat ayah menjadi senang saja." Ujar Pak Barma yang baru menuruni anak tangga
Dini tersenyum ramah melihat Ayah mertuanya.
"Apa kabar ayah mertua?" Tanya Dini
"Sangat baik ketika melihat wajah cantik menantuku ini." Goda Pak Barma
"Ayo, Ayo. kita duduk!" Ajak Pak Barma
Semua orang pun duduk.
"Akhir-akhir ini badanku sering pegal dan kakiku terasa encok, sampai tidak kuat berlama-lama untuk berdiri. mungkin karena aku sudah tua...hahaha." Bicara Pak Barma
"Ayah mertua masih terlihat terlalu muda jika harus disebut tua." Ujar Dini yang mulai berani membuka diri
"Rupanya dia sudah mulai berani untuk berbincang dengan kedua orang tuaku. Karena aku memperlakukan dia dengan baik, maka dia berani seperti ini." Gumam Arya yang tidak suka melihat Dini menjadi pribadi yang hangat
"Memang seperti itu, aku masih muda untuk disebut tua. sepertinya ayah harus berlari-larian dengan cucu ayah agar tidak pegal seperti ini." Kekeh Pak Barma yang terus membahas seorang cucu
Dini hanya tersenyum kaku mendengar pernyataan mertuanya.
"Kau membawa sesuatu menantu?" Tanya Bu Amira
"Iya, ibu. ini hadiah yang akan diberikan untuk adik ipar." Jawab Dini
Sepanjang pertanyaan dan pembicaraan, terlihat hanya Dini yang menanggapi pertanyaan dengan menjawabnya setiap saat. Sedangkan Arya, tetap santai dengan kepribadiannya.
Bisa disimpulkan mereka adalah pasangan yang serasi sebenarnya, karena Bagaimana jika tidak ada Dini bersama Arya. saat orang bertanya, siapa yang akan menjawab? orang yang diharapkan untuk menjawab saja, tidak akan merespon dengan baik.
"Kenapa repot-repot untuk memberinya hadiah." Ujar Bu Amira
"Tidak enak rasanya jika kami tidak membawa apa-apa untuk kedatangannya pertama kali."
"Darwin sangat beruntung memiliki kakak ipar yang perhatian seperti dirimu. Dan kakak sepertimu Arya."
"Ya!" Jawab singkat, padat, jelas, dingin, dan tegas Arya
"Adik iparmu ada di halaman belakang. Jika kau ingin, kau bisa menemui dia di sana." Pungkas Bu Amira menyarankan
"Baiklah, ibu. Aku akan menemuinya di sana." Jawab Dini yang beranjak berdiri untuk pergi ke halaman belakang dengan membawa hadiah yang baru Arya beli di mall tadi
Bersamaan dengan Dini yang berjalan menuju halaman belakang, Bu Ashna dan pelayan lainnya datang dengan minuman dan camilan yang disajikan di meja.
Saat ini di ruang tamu hanya terdapat pak Barma, Bu Amira, dan Arya. Sekaligus ingin membicarakan mengenai karier Darwin yang ingin mereka sampaikan dan tanyakan pendapatnya pada Arya.
__ADS_1