
Rumah Pak Malik dan Bu Lia
Rumah itu sendiri adalah Rumah yang dijadikan sebagai mahar untuk Dini. Namun, Dini memberikan rumah itu untuk ditinggali oleh orang tuanya.
Mereka sangat senang mendapatkan rumah yang dapat tinggali melebihi rumah mereka dahulu yang kecil dan sempit.
rencananya dahulu setelah mereka pindah, Pak Malik menjual rumahnya daripada terbengkalai tidak terpakai karena tidak berpenghuni.
Selain rumah, semua mahar yang diberikan pada Dini. Dini memberikan hak miliknya kepada kedua orang tuanya. Ada alasan yang membuat Dini berpikir alangkah lebih baiknya mahar itu ia berikan pada orang tuanya.
Suatu kebahagiaan juga untuk Pak Malik yang sejak dulu ingin memiliki tanah yang bisa ia garap tanpa harus membayar sewa.
Mendengar cerita dahulu jika Dini sangat menginginkan untuk bisa membelikan tanah untuk ayahnya, Bu Amira dan Pak Barma inisiatif membeli tanah tersebut untuk Pak Malik. Sehingga Pak Malik sudah sah menjadi pemilik tanah yang dahulu masih merupakan tanah sewanya.
Kebunnya pun sangat maju dan sukses, banyak para pembeli yang berdatangan setiap harinya untuk membeli bunganya. Karena kewalahan tidak bisa memasok dan melayani pembeli, ada sekitar 20 pekerja yang Pak Malik rekrut untuk bekerja di kebunnya yang luas. Pak Malik juga sudah tidak lagi datang ke kebun, dia bersama istrinya hanya tinggal duduk manis dengan uang yang setiap jam mengalir. Namun, dia terkadang menyempatkan diri datang ke kebun hanya untuk sekedar melihat bagaimana kondisi kebun dan para pekerjanya.
Bisa dikatakan penghasilan Pak Malik kali ini sangat naik pesat dibandingkan sebelumnya, dalam sehari ia bisa mengantongi 200 juta kurang atau lebih, terpotong dengan membayar gaji pekerjanya sebesar 15 juta per bulan.
Hal itu menempatkan Pak Malik menjadi orang yang berjasa karena sudah menyediakan tempat dan memberikan peluang untuk orang-orang yang awalnya tidak bekerja namun, sekarang mereka sudah memiliki pekerjaan dengan gaji cukup tinggi.
Sepertinya Bisnis Pak Malik akan bersaing dengan Perusahaan yang baru saja di bangun dan akan segera dioperasikan mengusung tema yang sama.
Namun, Hal itu percuma bagi mereka. Karena mereka bisa berada di posisi ini sekarang, itu berkat usaha orang lain yang diberikan pada mereka dengan percuma. Namun, mereka percaya jika hal ini bisa terjadi karena ada campur tangannya dengan Tuhan.
Di Ruang Tamu~
Bu Amira datang untuk mengunjungi besannya.
"Wah, Setelah rumah ini ditinggali suasananya semakin nyaman dan terawat, Ya." Ucap Bu Amira sambil menyeruput teh
"Bu Lia pasti pandai dalam merawat rumah!" Lanjutnya lagi setelah selesai minum dan menyimpannya kembali di meja
"Ini bukan apa, Nyonya. Lagipula ini bukan rumah saya, tapi rumah nyonya!" Rendah hati Bu Lia
__ADS_1
"Panggil saja aku Bu Amira! Jangan panggil dengan sebutan Nyonya. Kita adalah besan, tidak baik jika sesama besan berbicara seperti ini."
"Iya, Terima Kasih, Nyonya. Eh, maksud saya, Bu Amira." Kelu Bu Lia
"Ini adalah rumah mu! Rumahku berada jauh dari sini." Pungkas Bu Amira
"Bu Amira selalu merendah. Sudah jelas rumah ini di beli menggunakan uang Bu Amira dan Pak Barma." Ucap tidak enak hati Bu Lia
"Arya juga sempat membeli rumah untuk ditinggali berdua bersama Dini. mereka sudah tidak lagi tinggal mansion, sehingga sangat sepi rasanya tidak ada mereka."
"Saya sangat senang Keluarga Bu Amira menerima putri kami dengan baik." Ujar Bu Lia
"Dia adalah menantu idaman sekaligus kesayangan ku. Bagaimana mungkin aku akan memperlakukan Dini dengan jahat." Jawabnya
"Mengenai masalah perjodohan ini. Apakah selama Dini tinggal di sana hubungan suaminya cukup baik Bu Amira. Dengan kenyataan jika mereka menikah tanpa dasar cinta dan itu sulit bagi mereka untuk saling menerima satu sama lain." Pungkas Bu Lia khawatir dan penasaran
"Hubungan mereka sangat baik sekali. Bahkan sepertinya Arya sudah mulai menerima kehadiran Dini dalam kehidupannya. mereka juga sering memperlihatkan kehangatannya pada Dini di hadapan kami. Lambat laun mereka pasti akan saling menerima satu sama lain.ditambah dengan saat ini mereka sedang berusaha untuk memberikan kita cucu di rumah baru mereka." Kekeh Bu Amira di akhir kalimat, membuat Bu Lia juga terkekeh bersamaan
"Sebagai ibu kandungnya, saya sangat senang jika pernikahan putri saya baik-baik saja. saya harap nyonya tidak marah atau merasa tertipu oleh kami dengan kenyataan bahwa Dini adalah wanita dibalik skandal yang menimpa Tuan Arya bersamanya."
"Tidak, aku sama sekali tidak merasa tertipu. Setelah mengetahui hal itu bahkan seharusnya aku yang merasa bersalah. Karena Arya, Dini dikeluarkan dari universitas pendidikan dokternya sehingga mimpinya harus terhenti.
"Iya, Bu. Sejujurnya selama menjalani proses pada saat itu, Dini benar-benar terpuruk. Dia seperti kehilangan arah tujuan hidupnya, Dini berusaha mencoba mencari pekerjaan namun, rata-rata menolak karena termakan oleh berita itu."
"Hal yang masih aku bingung kan adalah, Apakah berita itu benar-benar fakta atau ada seseorang yang memfitnahnya? Di sisi lain aku percaya namun, artikel berita itu terlalu di lebih-lebihkan.kesannya hanya ingin menjatuhkan, karena saya tahu jika Dini adalah anak yang baik tidak mungkin menggoda."
"Bagaimana Bu Amira bisa yakin? Padahal semua orang yang tahu percaya jika itu benar-benar terjadi."
"Karena putraku memiliki masalah penyakit yang disembunyikan dari semua orang. Putraku tidak mungkin bisa bersentuhan dengan sembarang wanita. Bu Lia tidak tahu jika Dini bisa bersentuhan dengan Arya tanpa menimbulkan rasa sakit.sehingga aku bisa berpikir lain mengenai skandal ini. bisa jadi berita itu benar mereka sudah memiliki hubungan dekat dari dulu.namun, di sisi lain aku percaya jika Dini tidak mungkin melakukan hal itu dan hanya ada orang yang ingin menjebaknya.tapi bisa saja itu benar, mungkin saja di sini bukanlah Dini yang bersalah, melainkan putraku.sejak awal Arya tahu jika Dini adalah wanita yang bisa menyentuh dirinya, saat itu juga dia tidak bisa menahan hasrat yang ia pendam pada seorang wanita sejak dulu, sehingga mungkin bagi Arya sudah melecehkan Dini pada saat itu." Gumam Bu Amira bergelut dengan pikirannya
"Emm,,,Bu Lia. Ada suatu hal yang ingin aku tanyakan padamu. Apakah selama Dini bekerja di perusahaan Arya, ada suatu keanehan yang timbul dalam dirinya?"
"Keanehan seperti apa maksud Bu Amira?" Pungkas Bu Amira bingung
"Contohnya perubahan pola makan, kesehatan atau lainnya yang kau rasa itu cukup aneh dari Dini sebelumnya."
"Emm,,,Pada sewaktu ketika, selama Dini bekerja saya sering merasa aneh karena Dini pulang terlalu larut malam dari biasanya, Dini sendiri mengatakan jika pekerjaannya belum selesai.bahkan sempat ada saat malam di mana Dini tidak pulang sama sekali, dan saat pulang pada pagi hari wajahnya terlihat lesu dan pucat seperti orang sakit.bahkan saya terkejut karena saat masuk rumah, Dini langsung memuntahkan isi perutnya. Saya sudah coba mengeroknya dan ternyata Dini masuk angin.mungkin karena seharian tidak pulang, yang mengharuskannya bekerja di malam hari, angin dingin masuk ke dalam tubuhnya."
__ADS_1
Bu Amira semakin berspekulasi yang tidak-tidak.
"Muntah bukan hanya bisa disebabkan oleh masuk angin. Bisa saja tanda itu muncul pada seorang wanita yang sedang hamil. Entah mengapa aku merasa menantuku sedang menyembunyikan sesuatu dari semua orang." Gumam Bu Amira tidak masuk di akal
"Apakah ada perubahan dalam pola menstruasinya? Apakah ada hal yang disembunyikan Dini darimu?" Tanya Bu Amira sangat serius sedang menginterogasi
"Saya rasa tidak ada, Bu. untuk masalah menstruasi saya kurang tahu mengenai tamu bulanannya karena saya tidak pernah memantau kapan tamunya datang, dan Dini sendiri tidak pernah memberitahukannya."
"Ini sangat buruk, seharusnya kita sebagai orang tua harus memantau ketat perkembangan seorang anak perempuan." Sangat disayangkan oleh Bu Amira sehingga harus mencari bukti banyak
"Lalu, apakah perutnya terlihat buncit? Bisa jadi dari dulu Dini menyembunyikan sesuatu darimu!"
"Tidak, Bu Amira. memangnya kenapa anda bertanya seperti itu, seolah-olah Anda bertanya pada orang hamil saja."
"Itu bisa terjadi! Dini sedang mengandung!"
"Tidak, Bu Amira. Saya berani bersumpah jika Putri saya tidak memiliki hubungan apapun dengan pria manapun.kami tidak menyembunyikan apapun dari keluarga anda. Saat muntah Dini hanya masuk angin saja." Polos Bu Lia berlutut pada Bu Amira
"Apa yang kau lakukan. aku tidak menuduh yang tidak-tidak seperti apa yang kau pikirkan.
Aku beranggapan jika Dini sedang mengandung anak Arya."
"Sebenarnya...." Bu Amira menceritakan masalah penyakit yang diderita Arya, panjang lebar sudah ia jelaskan tentang semua pengetahuannya saat ini pada Bu Lia.
Dan Bu Lia sudah paham maksud dari perkataan Bu Amira, sehingga sudah tidak ada lagi jarak di antara Keluarga mereka berdua.
Bu Lia sudah mengetahui masalah penyakit menantunya...!
"Kasihan sekali Tuan Arya. pasti hidupnya sangat menderita jika berada di dekat wanita." Pungkas Bu Lia tersentuh
"Tapi tidak setelah dia bertemu dengan Dini. Arya sekarang sudah memiliki mainan miliknya dengan seutuhnya yang tidak bisa di miliki sembarangan oleh pria lain." kekeh Bu Amira
"Jadi, bagaimana? kau sudah percaya jika Dini sedang hamil?" Tanya lagi Bu Amira
"Saya percaya, Bu Amira." Jawab antusias Bu Lia yang sama-sama konyol.bisa dikatakan mereka adalah kedua besan yang sompek/somplak
"Syukurlah tuhan memberikan jalan untuk mereka bersama. Jika saja tidak terjadi perjodohan ini, mungkin aku akan kehilangan menantu dan cucuku yang sedang dikandung. Aku akan menemui menantu kesayangan ku besok. Aku harap besok kau dan aku akan membawanya ke dokter kandungan." Usul Bu Amira yang langsung direspon anggukan oleh Bu Lia
__ADS_1
"Aku sangat sedih jika menantuku ternyata menderita seperti ini. Kita sebagai orang yang lebih tua dan berpengalaman, tidak bisa memahami anak-anak kita dan tidak menyadarinya sejak awal." Cukup sedih Bu Amira tidak konsisten