Terbelenggu Oleh CEO Angkuh

Terbelenggu Oleh CEO Angkuh
206. Akhir Dari Penderitaan


__ADS_3

Hari ini adalah hari persidangan penceraian Arya dengan Valerie.


"Arya, Kenapa kau jadi berubah? bukankah kau sangat mencintai ku? Mana Arya yang dulu, Arya yang selalu menjaga dan selalu menyayangi ku?" Menyentuh tangan Arya


"Iya kau benar Valerie. Arya sangat mencintai mu!" Tersenyum menyungging "Tapi itu dulu, Arya yang buta akan cinta mu yang palsu! Tidak dengan sekarang karena aku membencimu!" Menghempaskan kasar tangan Valerie


"Arya, kenapa kau berkata seperti itu?! Aku sangat Mencintai mu? kenapa kau meragukan ketulusan ku sekarang?!"


"Itu semua karena kelicikan dan kebusukan mu sudah terbongkar, tentang kehamilan mu


yang mengandung anak orang lain, merekayasa perselingkuhan mu, dan menggugurkan kandungan mu sendiri, juga kau yang menyebarkan foto-foto palsu diriku dan Dini dulu di perusahaan, hingga semua yang kau lakukan memberi kebencian ku pada Dini semakin memuncak. Semua karena ulah mu!" Teriak Arya


"Itu semua aku lakukan karena aku sangat mencintai mu dan takut kehilanganmu, Arya! Saat dia bekerja di perusahaan mu, kau sangat dekat dengannya, bahkan kalian berduaan dalam kamar di ruangan kerjamu itu. Kau juga sama seperti ku seorang penipu yang menyembunyikan penyakitmu padaku. Kau pria yang tidak normal!" Hardik Valerie


"Heuh,,, Itulah kau seorang wanita ular yang diam-diam mengetahui rahasia mangsa mu. Aku bersyukur penyakit ku itu sudah diketahui olehmu dengan sendirinya, sehingga aku tidak lelah untuk menjelaskan perihal ini padamu." Ujar Arya


Lalu berkata kembali,


"Seharusnya waktu itu kau bersyukur jika aku lebih memilih dan mencintai mu, daripada berpihak pada Dini. tapi kau lebih serakah dan mementingkan ego mu sendiri! bodohnya aku telah diperalat dan dibutakan oleh cinta mu! Segera cepat lakukan proses perceraian ini, aku tidak ingin berlama-lama." Ujar Arya


Seorang pengacara mengeluarkan selembar kertas bermaterai dan menyerahkan nya pada Valerie, dengan tangan bergetar Valerie menerima surat itu, dengan sekilas ia membacanya.


"Apa?!! Kau menceraikan ku talak tiga!?" Valerie berteriak histeris tidak menerima kenyataan


"Tidak Arya,,, Aku tidak ingin kau ceraikan!!" Lanjutnya


"Tidak ada waktu untuk menolak. Keputusanku sudah bulat dan kita sudah berada di pengadilan." Kata Arya


Perceraiannya pun kini sudah selesai, dengan Valerie yang bukan menjadi istrinya lagi. mereka sudah sah bercerai, dan menjadi orang lain yang tidak terikat hubungan apapun.


Selesai persidangan, Polisi berderet masuk untuk menangkap Valerie yang akan dipenjarakan.


"Kami membawa surat penangkapan pada Nona Valerie atas tuduhan penipuan yang sudah dilakukan." Kata polisi


"Dia orangnya! Tangkap saja dia. Dia sudah banyak menipu orang lain dalam hidupnya." Ujar Bu Amira yang menghadiri persidangan cerai Arya, dan menunjuk Valerie


"Cukup! Dasar wanita tua tidak tahu diri. Arya ku mohon, itu tidak lah benar, kalian jangan percaya dengan wanita tua itu!" Valerie berteriak histeris


Polisi memegang kedua tangan Valerie agar tidak bertindak lebih jauh, karena sudah banyak memberontak dan memberantak kan meja hakim pengadilan hingga jatuh berantakan.


Polisi membawa Valerie karena semua bukti-bukti sudah jelas dari kejahatannya. tangisan Valerie semakin dalam, ia begitu frustasi.


"Jika Nona berbuat seperti ini lagi, dan tidak bisa menahan diri, kami akan anggap nona telah melanggar hukum yang ditetapkan!" Ucap salah seorang polisi


"Arya, lihat aku! kau suamiku, kau sangat mencintai ku, bukan?! Aku mohon jangan percaya pada semua bukti yang kau dapatkan itu. mereka hanya ingin Dini kembali pada mereka dan dengan begitu mereka memanfaatkan mu."


Hiks,, hiks,, hiks,,


"Semua sudah jelas! Aku tidak percaya pada perkataan mu. Lanjutkan untuk membawa dia pergi dari hadapan ku pak polisi!" Ujar Arya


"Baik Tuan Arya. Tapi sebelum itu, maaf Tuan, sesuai prosedur Nona Valerie akan melalui persidangan atas hukuman apa yang pantas untuk kejahatannya. dan untuk saat ini, dia akan kami tahan." Kata penyidik memberi keterangan


"Silakan pak, lakukan sesuai prosedur yang berlaku, kami hanya mengikuti. Aku tidak peduli hukuman apa yang akan dijatuhkan padanya, hanya satu hal, aku harap dia dihukum seberat mungkin." Kata Arya tegas


"Baiklah, Jika begitu kami pamit undur diri."


"Baik pak, kami akan datang sebagai saksi menuju pengadilan nanti." Kata seorang pengacara Arya sambil berjabat tangan


Selain Valerie yang dipenjara dan mendapatkan hukuman yang setimpal, Sama hal nya dengan Richo yang menjadi teman seperjuangannya, ia pun di penjarakan.


"Ibu?" Panggil Arya dengan lirih


"Apa aku masih anak ibu?" Tanya Arya pada Bu Amira yang menatapnya nanar


"Segera pergi dari sini dan jangan pedulikan dia!" Ucap Pak Barma menarik Bu Amira pergi


"Tidak, dia adalah putraku yang sangat ku banggakan."


Perasaan kasih sayang seorang ibu pada anaknya tidaklah pernah berubah seburuk apapun kelakuannya. Bu Amira menghampiri Arya dan memeluk putranya.


"Kau adalah putraku! Siapa yang sudah mengatakan jika kau bukan putraku, hah? Katakan pada ibu, ibu sakit hati mendengarnya." Ucap Bu Amira menangis dalam pelukan Arya


"Maafkan aku ibu, aku sudah banyak memberi kalian luka yang membekas." Ujar Arya menangis dalam pelukan ibunya


"Tidak Nak, hari ini kau sudah banyak membuktikan pada ibu jika kau benar-benar sudah membuktikan semuanya bahwa kau sudah berubah. Ibu bangga padamu!" Ujar Bu Amira

__ADS_1


"Dini pergi dan meninggalkan anaknya, Bu." Ujar Arya


"Tidak masalah, kita akan mencarinya bersama-sama." Kata Bu Amira memberikan pengertian


Arya sudah meminta maaf pada Bu Amira, dan sudah memaafkannya.


Kini hanya tinggal Pak Barma yang masih enggan melihat Arya.


Dengan berani dan gontai, Arya menghampiri ayahnya.


Mereka saling berhadapan dengan Arya yang merasa kecil, dan pak Barma yang menatapnya tajam.


"Ayah, Aku tahu jika ayah sangat marah dan malu memiliki putra sepertiku. Tapi Tuhan adalah seorang yang pemaaf, ia selalu memaafkan hambanya yang berbuat salah. Aku merasa tidak berdaya di hadapanmu, Aku mohon tolong maafkan aku..." Ujar Arya


Tak ada respon dari Pak Barma yang diberikan.


Pak Barma melangkahkan kakinya mendekat pada Arya. Arya menyiapkan diri jika Ayahnya akan memukul dia, namun ternyata bukan...


Pak Barma memeluk Arya...


Perasaan tenang dan hangat menyelimuti mereka yang saling memaafkan.


"Arya selalu menjadi putra jagoan ayah. dia sangat hebat dalam hal apapun, dia selalu membuat diriku bangga memilikinya. Hanya saja kesalahannya pada seorang wanita, itu sudah keterlaluan, tapi ayah mengapresiasi dirimu yang ingin berubah." Ucap Pak Barma menepuk-nepuk punggung Arya saat memeluknya


Bu Amira tersenyum melihat suaminya ingin memaafkan kesalahan Arya.


"Hanya saja putraku ini bukan anak kecil lagi. Usianya 29 tahun dan sudah ingin menginjak kepala tiga, ia juga sudah memiliki seorang anak, apa pantas ia menangis dalam pelukan ku seperti ini??" Ucap Pak Barma mencairkan suasana


Membuat Bu Amira dan dirinya tertawa, dengan Arya yang menghapus air matanya merasa tersudutkan.


Kini, Arya hidup bersama dengan anaknya di rumah dengan keluarga yang selalu mendukungnya tanpa ada sosok seorang Dini yang ia cari dengan beban yang ditanggung harus menjadi seorang ayah sekaligus ibu untuk anaknya kelak. dengan kepribadiannya yang semakin hari semakin terpuruk dan mengkhawatirkan ia tidak memungkinkan menjalankan perannya sebagai Ayah yang baik. Arsen selalu di rawat oleh Bu Amira dengan perhatian dari Arya sedikit padanya yang sibuk mencari Dini.


Arya berkaca-kaca menyadari apa yang tengah terjadi. Waktu serasa berhenti berputar dan Dini tiba-tiba menghilang meninggalkan dia sendiri.


Arya sontak menangis di sana.


"Kau tiba-tiba pergi seperti ini, lalu bagaimana denganku? Apa yang harus ku lakukan? Apa yang harus ku lakukan, Dini? Apa yang harus ku lakukan sepanjang sisa hidupku tanpa dirimu? Kau sudah janji untuk menjaga anakmu, tapi kau pergi begitu saja! Apa yang harus ku lakukan? Bisakah kau kembali padaku? Kumohon."


Hari ini adalah hari persidangan penceraian Arya dengan Valerie.


"Arya, Kenapa kau jadi berubah? bukankah kau sangat mencintai ku? Mana Arya yang dulu, Arya yang selalu menjaga dan selalu menyayangi ku?" Menyentuh tangan Arya


"Iya kau benar Valerie. Arya sangat mencintai mu!" Tersenyum menyungging "Tapi itu dulu, Arya yang buta akan cinta mu yang palsu! Tidak dengan sekarang karena aku membencimu!" Menghempaskan kasar tangan Valerie


"Arya, kenapa kau berkata seperti itu?! Aku sangat Mencintai mu? kenapa kau meragukan ketulusan ku sekarang?!"


"Itu semua karena kelicikan dan kebusukan mu sudah terbongkar, tentang kehamilan mu


yang mengandung anak orang lain, merekayasa perselingkuhan mu, dan menggugurkan kandungan mu sendiri, juga kau yang menyebarkan foto-foto palsu diriku dan Dini dulu di perusahaan, hingga semua yang kau lakukan memberi kebencian ku pada Dini semakin memuncak. Semua karena ulah mu!" Teriak Arya


"Itu semua aku lakukan karena aku sangat mencintai mu dan takut kehilanganmu, Arya! Saat dia bekerja di perusahaan mu, kau sangat dekat dengannya, bahkan kalian berduaan dalam kamar di ruangan kerjamu itu. Kau juga sama seperti ku seorang penipu yang menyembunyikan penyakitmu padaku. Kau pria yang tidak normal!" Hardik Valerie


"Heuh,,, Itulah kau seorang wanita ular yang diam-diam mengetahui rahasia mangsa mu. Aku bersyukur penyakit ku itu sudah diketahui olehmu dengan sendirinya, sehingga aku tidak lelah untuk menjelaskan perihal ini padamu." Ujar Arya


Lalu berkata kembali,


"Seharusnya waktu itu kau bersyukur jika aku lebih memilih dan mencintai mu, daripada berpihak pada Dini. tapi kau lebih serakah dan mementingkan ego mu sendiri! bodohnya aku telah diperalat dan dibutakan oleh cinta mu! Segera cepat lakukan proses perceraian ini, aku tidak ingin berlama-lama." Ujar Arya


Seorang pengacara mengeluarkan selembar kertas bermaterai dan menyerahkan nya pada Valerie, dengan tangan bergetar Valerie menerima surat itu, dengan sekilas ia membacanya.


"Apa?!! Kau menceraikan ku talak tiga!?" Valerie berteriak histeris tidak menerima kenyataan


"Tidak Arya,,, Aku tidak ingin kau ceraikan!!" Lanjutnya


"Tidak ada waktu untuk menolak. Keputusanku sudah bulat dan kita sudah berada di pengadilan." Kata Arya


Perceraiannya pun kini sudah selesai, dengan Valerie yang bukan menjadi istrinya lagi. mereka sudah sah bercerai, dan menjadi orang lain yang tidak terikat hubungan apapun.


Selesai persidangan, Polisi berderet masuk untuk menangkap Valerie yang akan dipenjarakan.


"Kami membawa surat penangkapan pada Nona Valerie atas tuduhan penipuan yang sudah dilakukan." Kata polisi


"Dia orangnya! Tangkap saja dia. Dia sudah banyak menipu orang lain dalam hidupnya." Ujar Bu Amira yang menghadiri persidangan cerai Arya, dan menunjuk Valerie


"Cukup! Dasar wanita tua tidak tahu diri. Arya ku mohon, itu tidak lah benar, kalian jangan percaya dengan wanita tua itu!" Valerie berteriak histeris

__ADS_1


Polisi memegang kedua tangan Valerie agar tidak bertindak lebih jauh, karena sudah banyak memberontak dan memberantak kan meja hakim pengadilan hingga jatuh berantakan.


Polisi membawa Valerie karena semua bukti-bukti sudah jelas dari kejahatannya. tangisan Valerie semakin dalam, ia begitu frustasi.


"Jika Nona berbuat seperti ini lagi, dan tidak bisa menahan diri, kami akan anggap nona telah melanggar hukum yang ditetapkan!" Ucap salah seorang polisi


"Arya, lihat aku! kau suamiku, kau sangat mencintai ku, bukan?! Aku mohon jangan percaya pada semua bukti yang kau dapatkan itu. mereka hanya ingin Dini kembali pada mereka dan dengan begitu mereka memanfaatkan mu."


Hiks,, hiks,, hiks,,


"Semua sudah jelas! Aku tidak percaya pada perkataan mu. Lanjutkan untuk membawa dia pergi dari hadapan ku pak polisi!" Ujar Arya


"Baik Tuan Arya. Tapi sebelum itu, maaf Tuan, sesuai prosedur Nona Valerie akan melalui persidangan atas hukuman apa yang pantas untuk kejahatannya. dan untuk saat ini, dia akan kami tahan." Kata penyidik memberi keterangan


"Silakan pak, lakukan sesuai prosedur yang berlaku, kami hanya mengikuti. Aku tidak peduli hukuman apa yang akan dijatuhkan padanya, hanya satu hal, aku harap dia dihukum seberat mungkin." Kata Arya tegas


"Baiklah, Jika begitu kami pamit undur diri."


"Baik pak, kami akan datang sebagai saksi menuju pengadilan nanti." Kata seorang pengacara Arya sambil berjabat tangan


Selain Valerie yang dipenjara dan mendapatkan hukuman yang setimpal, Sama hal nya dengan Richo yang menjadi teman seperjuangannya, ia pun di penjarakan.


"Ibu?" Panggil Arya dengan lirih


"Apa aku masih anak ibu?" Tanya Arya pada Bu Amira yang menatapnya nanar


"Segera pergi dari sini dan jangan pedulikan dia!" Ucap Pak Barma menarik Bu Amira pergi


"Tidak, dia adalah putraku yang sangat ku banggakan."


Perasaan kasih sayang seorang ibu pada anaknya tidaklah pernah berubah seburuk apapun kelakuannya. Bu Amira menghampiri Arya dan memeluk putranya.


"Kau adalah putraku! Siapa yang sudah mengatakan jika kau bukan putraku, hah? Katakan pada ibu, ibu sakit hati mendengarnya." Ucap Bu Amira menangis dalam pelukan Arya


"Maafkan aku ibu, aku sudah banyak memberi kalian luka yang membekas." Ujar Arya menangis dalam pelukan ibunya


"Tidak Nak, hari ini kau sudah banyak membuktikan pada ibu jika kau benar-benar sudah membuktikan semuanya bahwa kau sudah berubah. Ibu bangga padamu!" Ujar Bu Amira


"Dini pergi dan meninggalkan anaknya, Bu." Ujar Arya


"Tidak masalah, kita akan mencarinya bersama-sama." Kata Bu Amira memberikan pengertian


Arya sudah meminta maaf pada Bu Amira, dan sudah memaafkannya.


Kini hanya tinggal Pak Barma yang masih enggan melihat Arya.


Dengan berani dan gontai, Arya menghampiri ayahnya.


Mereka saling berhadapan dengan Arya yang merasa kecil, dan pak Barma yang menatapnya tajam.


"Ayah, Aku tahu jika ayah sangat marah dan malu memiliki putra sepertiku. Tapi Tuhan adalah seorang yang pemaaf, ia selalu memaafkan hambanya yang berbuat salah. Aku merasa tidak berdaya di hadapanmu, Aku mohon tolong maafkan aku..." Ujar Arya


Tak ada respon dari Pak Barma yang diberikan.


Pak Barma melangkahkan kakinya mendekat pada Arya. Arya menyiapkan diri jika Ayahnya akan memukul dia, namun ternyata bukan...


Pak Barma memeluk Arya...


Perasaan tenang dan hangat menyelimuti mereka yang saling memaafkan.


"Arya selalu menjadi putra jagoan ayah. dia sangat hebat dalam hal apapun, dia selalu membuat diriku bangga memilikinya. Hanya saja kesalahannya pada seorang wanita, itu sudah keterlaluan, tapi ayah mengapresiasi dirimu yang ingin berubah." Ucap Pak Barma menepuk-nepuk punggung Arya saat memeluknya


Bu Amira tersenyum melihat suaminya ingin memaafkan kesalahan Arya.


"Hanya saja putraku ini bukan anak kecil lagi. Usianya 29 tahun dan sudah ingin menginjak kepala tiga, ia juga sudah memiliki seorang anak, apa pantas ia menangis dalam pelukan ku seperti ini??" Ucap Pak Barma mencairkan suasana


Membuat Bu Amira dan dirinya tertawa, dengan Arya yang menghapus air matanya merasa tersudutkan.


Kini, Arya hidup bersama dengan anaknya di rumah dengan keluarga yang selalu mendukungnya tanpa ada sosok seorang Dini yang ia cari dengan beban yang ditanggung harus menjadi seorang ayah sekaligus ibu untuk anaknya kelak. dengan kepribadiannya yang semakin hari semakin terpuruk dan mengkhawatirkan ia tidak memungkinkan menjalankan perannya sebagai Ayah yang baik. Arsen selalu di rawat oleh Bu Amira dengan perhatian dari Arya sedikit padanya yang sibuk mencari Dini.


Arya berkaca-kaca menyadari apa yang tengah terjadi. Waktu serasa berhenti berputar dan Dini tiba-tiba menghilang meninggalkan dia sendiri.


Arya sontak menangis di sana.


"Kau tiba-tiba pergi seperti ini, lalu bagaimana denganku? Apa yang harus ku lakukan? Apa yang harus ku lakukan, Dini? Apa yang harus ku lakukan sepanjang sisa hidupku tanpa dirimu? Kau sudah janji untuk menjaga anakmu, tapi kau pergi begitu saja! Apa yang harus ku lakukan? Bisakah kau kembali padaku? Kumohon."

__ADS_1


__ADS_2