
"Sudah cukup, Kau pria dan bukan wanita! Kau tidak akan merasakan bagaimana kehamilan dan rasanya persalinan. Dini baru merasakan hamil, wajar jika ia menangis karena sakit ingin melahirkan! Ini adalah pengalaman baru dalam hidupnya, dia belum pernah merasakan moment ini, sehingga tubuhnya akan merespon dengan berbeda." Hardik Arya emosi
Lalu berkata, "Jika bukan karena istriku sedang kesakitan, sudah ku hajar kau!"
Melihat kelakuan kakaknya yang selalu Arogan, Darwin hanya geleng-geleng kepala tak habis pikir.
"Baru tahu rupanya kau kakak, bagaimana rasanya jatuh cinta? dan takut kehilangan orang yang kita cintai? Cemburu mu berlebihan kak, hingga kini kau sia siakan Dini tanpa perasaan, kini saat dia sudah berkorban untuk melahirkan anak mu, baru kau menyadarinya. Tuhan maha baik masih memberimu kesempatan untuk melihat proses persalinan kelahiran anakmu, walau sebenarnya hati ku terluka. Tapi hari ini, kau sendiri bahkan lupa jika kau akan kehilangan dia untuk selamanya." Batin Darwin, menghembuskan napas kasar. Tahu akan isi dari kontrak itu sampai ia selalu mengingat dalam benaknya
Dini mengikuti langkah saran Darwin menarik napas dalam dan di menghembuskan berulang ulang. dengan telaten dan penuh kasih sayang, Arya mengelus lembut kepala Dini yang bersandar pada dada bidangnya.
Tiga puluh menit telah berlalu, Darwin sudah parkir kan mobilnya di depan lobby Rumah sakit, para team medis sudah menunggu di depan lobby, Arya mengangkat tubuh Dini ke brankard, tangan Arya masih terus menggenggam tangan Dini menuju ruangan persalinan.
"Maaf Tuan,,, Tuan bisa masuk setelah menyelesaikan administrasinya." Kata seorang suster
"Tapi istriku saja belum melahirkan bayinya. Kenapa kalian mengkhawatirkan aku tidak akan membayar biaya rumah sakit ini? Kau pikir aku tidak mampu dan akan kabur begitu saja, hah?" Geram Arya marah
"Sepertinya Dini pun tidak akan segera melahirkan langsung. Dokter harus memeriksa pembukaannya lebih dulu sebelum benar-benar waktu persalinannya. Kakak bisa mengurus administrasi itu dulu." Kata Darwin menenangkan Arya
"Baiklah, Aku akan segera mengurus administrasi itu. Tapi sebelum itu, tolong berjaga di sini dan jangan ke mana-mana." Jawab Arya
"Iya kakak, kakak tenang saja." Ucap Darwin
Arya segera pergi menuju bagian administrasi.
"Pasien akan melahirkan, namun masih berada di pembukaan enam. Kita akan menunggu waktu yang tepat pada pembukaan sepuluh agar siap untuk mengejan." Ucap Dokter
Walaupun dengan begitu, kontraksi Dini masih terasa. Rasa sakitnya benar-benar menyiksa dirinya. ingin bagaimana lagi, dokter mengatakan belum saatnya Dini melakukan persalinan, ia harus sabar menunggu di pembukaan sepuluh dengan sempurna.
Siapa yang mengira jika Dini akan segera melahirkan dari batas waktu yang di perkirakan. Sebelum berada pada tahap pembukaan enam ini, di hari-hari lain ia merasakan kontraksi pada perutnya tapi sifatnya muncul dan hilang, ia pun mengira jika itu hal yang normal dan bukan tanda-tanda mendekati persalinan karena ia sendiri percaya pada perkiraan dokter dan hanya menunggu hari itu. Hingga pada akhirnya ia mengalami kontraksi yang berat saat ini.
Masuk ke tahap pembukaan ke-6, Dini mungkin diberikan bius epidural untuk meredakan rasa sakit kontraksi.
__ADS_1
Di fase pembukaan ke-7, jika kontraksi masih terasa sakit, Dini diperintahkan mengubah posisi badan, bergerak, dan lebih banyak minum air putih untuk meredakannya sekaligus menjaga daya tahan tubuhnya.
"Dok,, pasien sudah pembukaan delapan dan ketuban nya sudah pecah." Seorang suster melongok kepalanya keluar, dan memberitahu Dokter yang selama ini menangani kehamilan Dini
"Persiapkan perlengkapan untuk persalinan sesegera mungkin." Ujar Dokter
Semakin berkembangnya fase pembukaan, mungkin akan merasa adanya dorongan kuat untuk mengejan.
Oleh karena itu, wajar jika Dini merasa sangat nyeri setiap kali kontraksi muncul.
Durasi bukaan 8, 9, dan menuju 10 selama proses melahirkan umumnya berlangsung singkat.
Hingga pada akhirnya setelah menunggu selama 5 jam, ia telah sampai pada pembukaan 9 dan setelahnya pembukaan 10 dalam waktu beberapa jam ke depan.
Dorongan mengejan Dini terasa seperti ingin buang air besar. Ini artinya, ia sudah siap untuk melahirkan.
Selama 6 jam Arya belum juga kembali. Entah kemana perginya dia setelah dari ruangan administrasi yang tidak mungkin waktu sepenuhnya dipergunakan untuk membayar biaya rumah sakit berjam-jam.
Hingga pada akhirnya...
Arya kembali ke ruangan persalinan Dini dengan Darwin yang setia menunggu di sana.
Arya takut jika dia terlambat dan Dini sudah melahirkan.
Namun, Tidak...
"Suami Nona Dini, Apa sudah datang?" Panggil Dokter melongok dari pintu
"Saya Dokter." Maju Arya
Dokter membuka pintu di ikuti Arya di belakang nya. setelah masuk Arya melihat Dini yang masih mengaduh kesakitan, ia merasa iba dan bersedih melihat bagaimana susahnya orang melahirkan.
__ADS_1
Arya sudah berdiri di samping Dini, mengelus lembut kepalanya dan berbisik ditelinga nya.
"Sabar ya sayang, aku akan bersama mu di sini, menemani mu hingga sampai persalinan mu." Arya meraih tangan Dini dan menggenggam nya erat
"Tu-tuan, Sakit!!" Lirih Dini merintih
"Ayo kita mulai! Nona Dini, Dengarkan aba-aba saya untuk segera mengejan." Ucap Dokter, untuk membantu Dini melahirkan normal
1
2
3
"Dorong!" Ujar Dokter dibantu para tenaga kesehatan lain
Aaaaaaakkk!
Dini mengejan sekuat tenaga. Arya terpekik saat Dini mencengkram kuat pergelangan tangannya, kuku Dini yang tajam menancap melukai kulit dagingnya, Dini sudah tidak peduli dengan rasa sakit yang Arya rasakan, baginya rasa sakit Arya tidak sebanding dengan rasa sakitnya saat ini, ia telah mengandung dan bahkan akan melahirkan anaknya.
"Lakukan lah sepuas mu. Aku tidak akan marah, walau aku tidak bisa merasakan sakit yang kau derita saat akan melahirkan, tapi setidaknya aku bisa mengurangi rasa sakit mu." Ujar Arya pelan
Menggunakan tangan kosongnya, Arya mengusap lembut keringat Dini yang bercucuran keluar.
Setiap kali mengejan, Dini selalu meremas tangan Arya yang menggenggam tangan nya.
Dari tekanan kuat itu, Arya tidak bisa membayangkan bagaimana rasa sakit yang Dini alami saat ini.
Ia hanya merasakan tangannya di genggam kuat sampai jika ia sendiri tidak bertahan, dia tidak akan bisa menahannya dan jatuh begitu saja.
Perjuangan seorang wanita hamil saat melahirkan memang sangat sulit, mereka harus sampai mempertaruhkan nyawa hanya demi anak yang mereka kandung selama sembilan bulan itu bisa lahir ke dunia ini dengan selamat.
__ADS_1
Seberapa pun rasa sakit yang mereka derita, mereka tidak akan pernah merasakan hal itu setelah suara tangisan bayinya terdengar saat berhasil lahir dan menghiasi keluarga dengan penuh kebahagiaan atas kehadirannya.