
"Ibu. kenapa kemari?" Tanya Dini yang membuka pintu mendengar bel berbunyi
"Ibu hanya ingin menemui mu saja. Ibu ada sesuatu untukmu." Ujar Bu Amira masuk dan duduk di sofa
Mengeluarkan sesuatu dari tas bermerek brand terkenal.
Mengambil sesuatu yang disodorkan Bu Amira untuknya.
"Ibu. a-apa ini?" Tanyanya
"Pasport. Ibu tahu kalian belum liburan setelah menikah. Jadi, Ibu dan ayah mertuamu berencana untuk memberikan hadiah yang belum sempat diberikan." Ujar Bu Amira
"Terrima Kasih untuk hadiahnya, Bu. tapi, maaf,,, aku..."
"Apa karena Valerie?" Potong Bu Amira
"Bukan, bukan karena Nona Valerie. aku juga yakin jika tuan akan menolaknya. Besok juga aku harus pergi ke rumah orang tuaku, akan ada acara yang digelar bersama para petani di sana atas dasar merayakan hari kelahiran bapak. lagipula, tuan juga sibuk."
"Kau tak perlu khawatir. kalian bisa berangkat tanpa ada orang yang menghalangi setelah keperluamu juga selesai. dan soal pekerjaan, ibu akan bicara dengan suamimu. dia tak akan bisa menolak. Anggap saja liburan kali ini adalah honeymoon atau jika perlu untuk menyegarkan pikiran mu."
"Tidak, Bu. biar aku saja yang bicara dengan Tuan."
"Tidak. ibu yang akan bicara. Ibu tahu jika ujung-ujungnya Arya akan menolak permintaan mu."
"Baiklah. Aku terserah pada ibu saja."
*
*
*
Darwin yang baru saja tiba, mendaratkan dirinya duduk kasar pada sofa.
"Dari mana saja kau?" Tanya Fariz yang kini menjadi teman dekat Darwin
"Ada sedikit urusan." Jawabnya
"Soal?!"
"Pria bajingan yang suka bermain di belakang pasangannya."
"Sejak kapan kau jadi suka ikut campur percintaan orang lain?"
"Sejak aku kembali kemari."
"Lalu, kau apakan pria bajingan itu? apa dia sekarat di UGD? atau malah koma?"
__ADS_1
"Dia masih segar bugar. akan ku pastikan dia akan menyesal suatu hari nanti."
"Dengan cara?! kau akan merebut kekasihnya?"
"Aku tidak merebut kekasihnya."
Fariz bingung di lanjutkan kalimatnya di dalam hati.
"Lalu, Apa yang kau rebut? Ibunya?"
"Sudahlah. Aku akan melanjutkan pekerjaan ku di sini." Ujar Darwin
...***...
Rumah Arya~
"Kenapa kau tak menolaknya? kau sengaja mengiyakan agar bisa berdua denganku?" Bincang Arya dengan Dini
"Aku sudah menolaknya.tapi ibu tetap memaksakan."
"Kita tidak akan pergi liburan atau pun honeymoon!"
"Tapi ibu sudah menyiapkan semuanya untuk kita."
"Kau bisa mengatakan jika kita sibuk. Lagipula tidak mungkin bagiku meninggalkan Valerie yang sedang hamil. Kau tahu itu, kan?"
"Tapi setelah dipikirkan kembali, aku tidak bisa menolak permintaan ibu."
"Baiklah. Tapi bisakah besok kau datang ke rumah orang tuaku untuk merayakan hari lahir ayahku, Besok ia berulang tahun. Sekaligus besok ada acara syukuran yang diselenggarakan para petani." Kata Dini
"Dia sudah tua dan bukan anak kecil lagi. Untuk apa merayakan kelahirannya." Cetus Arya
Arya meninggalkan istrinya tanpa menunggu jawaban.melangkah cepat menuju kamarnya bersama Valerie.
Brakk!!!
Dini menatap nanar pintu kamar Valerie bersama Arya yang akan tidur dengan istri keduanya yang ditutup begitu keras.
...***...
Bu Amira yang ikut hadir menatap Dini yang kecemasan dan sedih tercetak jelas di wajahnya. perlahan tangannya meraih ponsel di saku celananya, mencoba menghubungi anaknya. Karena ia tahu jika Dini sedang menunggu Arya. telepon tersambung, tapi tak diangkat oleh pemiliknya.
"Kau sudah menghubunginya?" Tanya Bu Amira menghampiri
"Sudah ibu. tapi tidak diangkat. mungkin tuan sedang di jalan. Ibu pergi saja, Bukankah ibu dan ayah harus menghadiri acara yang diadakan teman kalian. 10 menit lagi acaranya akan di mulai, aku tak apa. sebentar lagi juga datang."
"Ibu jadi tidak enak jika harus menghadiri acara itu. Acara keluarga lebih lebih penting, ibu juga tidak ingin meninggalkanmu sendiri di sini."
"Istriku. suaminya mungkin mampir ke suatu tempat dahulu untuk membeli hadiah untuk ayah mertuanya, itu sebabnya dia terlambat. kita pergi saja jangan mengganggu mereka." Ujar Pak Barma yang sudah menyadari kehidupan sepasang suami istri ini yang tidak harmonis dilihatnya. Tapi mereka terlihat bahagia dan berusaha menepis badai yang terjadi. Sehingga perkataannya terdengar kaku dan menyakitkan
__ADS_1
Dini menatap ibu mertua yang mengkhawatirkannya dengan tersenyum manis padanya.
"Baiklah. Ibu dan ayah pergi dulu. jika ada apa-apa, cepat hubungi ibu.kau mengerti?!" Pamit Bu Amira
"Siap!!! Ibu tidak perlu khawatir, kalian hati-hatilah."
Setelah kepergian Ibu dan ayah mertuanya yang pergi menghadiri acara bersama teman-temannya. 1 jam Dini masih di tempatnya, menunggu suaminya datang menghadiri acara ayahnya. Dan berharap datang menjemput dan mengucapkan selamat atas ayahnya sebagai tanda menghormati orang tuanya. tapi sampai saat ini, yang di tunggunya belum juga datang bahkan membalas pesannya pun tidak. menatap disekitarnya yang semakin lama semakin sepi, dan beberapa kali tersenyum menjawab sapaan para petani yang hadir.
Terasa lelah, dan merasa bahwa suaminya tak akan datang. Dini meninggalkan tempat, menaiki tangga menuju aula tempat di diselenggarakannya Acara, dan orang tuanya berada. berniat mengambil tas nya dan bergegas untuk pulang. kecewa? pasti mengingat orang yang paling penting perannya di sini. Jika datang bukan untuk ayahnya, ia bisa datang karena terdapat unsur pekerjaan yang terikat dengan petani. Namun, dia tak menampakkan hidungnya sama sekali. apa yang bisa Dini harapkan dari suaminya itu, bahkan-
"Apa aku terlambat?!!!"
Suara yang tersengal sedang mengatur napasnya dalam, menghentikan langkah Dini di tengah anak tangga seperti setelah berlari jauh dan melangkah terburu untuk segera mencapai lokasi tujuan.
Dini menoleh dengan senyum merekah lebar. mendapati pria tampan dan tinggi bersetelan jas rapi berdiri di hadapannya dengan kening berkeringat dan napas terengah.
"Maaf aku terlambat. apa acaranya sudah selesai?" Uajrnya, menyigar rambutnya ke belakang, dengan masih mengatur napasnya
Namun, Senyum lebar yang merekah itu kembali layu.
"T-tuan Darwin?!!"
Ya. Ternyata Darwin yang datang, Bukan Arya yang dikira datang.
"Apa yang lain sudah pulang?" Tanya Darwin
"I-iya, mereka sudah pulang dari beberapa menit yang lalu." Jawab Dini
"Maafkan aku. aku terlambat di acara bahagia ayah mu dan syukuran para petani."
"Tidak apa, Tuan. terima kasih sudah datang."
"Di mana Kak Ary? dia di sini kan?"
"Emm...Tuan Arya,,, dia..."
"Darwin, Ahh...kau ini memang bodoh. Dia mana mungkin datang menghadiri acara semacam ini. Kau lupa jika acara ini hanya dihadiri manusia. Bukan hewan seperti dia." Sindir Darwin yang menggerutu menghina kakaknya
"Mungkin Tuan sedang sibuk di kantor. jadi, tidak bisa kemari. Tak apa, Tuan Darwin, ini juga aku ingin pulang karena acaranya sudah selesai."
"Kau akan pulang dengan siapa?"
"Aku sudah memesan Ojek online. sebentar lagi sampai."
"Kau pulang dengan kami saja. aku tidak akan biarkan kau pulang sendiri."
"Tapi Tuan, Aku..." Ucapan Dini terpotong dengan gerakan jari Darwin yang diletakkan pada bibirnya, menyuruh wanita itu untuk diam, tak banyak bicara
"Dini, ayo! Aku akan mengantarkan mu pulang.kita pamit dengan orang tuamu, dan ambil barang-barangmu. setelah itu, Aku antar kau pulang." Ujar Darwin
__ADS_1
"Baiklah." Jawab Dini
Dini berjalan lebih dulu untuk berpamitan pulang kepada orang tuanya, dan mengambil tas yang ia tinggalkan. Setelah itu, ia pamit dengan Darwin di belakangnya. langkah mereka tidak ada sedikit obrolan, mereka berada dalam pikiran masing-masing.