
Waktu semakin gelap menuju malam hari dan Dini yang sedang diculik masih bertahan pada rantai yang mengikat dan menyekapnya.
Seharian itu dia hanya menangis duduk dilantai permadani yang dingin.tidak bisa berbuat apa-apa selain berharap pertolongan akan datang padanya.
"Tuann?? Selamatkan aku, Jika tidak selamatkan anakmu!" Dalam hatinya berkata walaupun rasanya tidak pantas dan mustahil ia mengharapkan jika Arya akan mencarinya
Karena terlanjur bertahan terlalu lama di sana, membuat Dini kesal, Dalam kegelapan mata tertutup ia mencoba memberontak dengan mengguncangkan tubuhnya terutama tangannya yang diikat agar bisa lepas. Namun, usaha itu tetap saja gagal. Bukannya terlepas, malah membuat kulit tangannya mengelupas akibat tergesek- gesek.
Kreettt...
Suara pintu kembali terbuka.
Tap...tap...tap...
Suara sepatu seorang yang berjalan menimbulkan suara.
Merasakan kehadiran pria itu yang datang mendekat, Dini menghentikan aksinya yang sia-sia.
"Aku mohon bebaskan aku dari sini. Keluarga ku pasti sedang mencari ku sekarang. Aku mohon padamu, Tuan." Kata Dini memohon dengan linang air mata
"Aku akan melepaskan mu setelah kau menyetujui persyaratan ini." Gema suara pria itu sangat kharismatik
"Iya, Iya, Aku akan menyetujuinya. Apa syaratnya?" Antusias Dini menjawab karena ingin terbebas
"Kau yakin akan menyetujui syarat yang ku berikan?" Ucap pria itu menjebak
"Apapun itu asalkan aku bisa pergi dari sini. ingin kau menjadikanku tumbal untuk perusahaan mu agar sukses, tidak apa-apa. Toh aku sudah lelah dengan hidup ini." Jawab Dini
"Baiklah. Asal kau tahu persetujuan mu ini tidak bisa digugat lagi. aku akan membebaskan mu setelah kau yakin untuk menyetujuinya. Syarat ini adalah syarat utama yang paling mencakup segala syarat lainnya. Pertama, Kau harus menjadi milikku. kedua, kau harus bercerai dengan suamimu. Dan ketiga, kau harus menikah denganku."
Kata demi kata sehingga menjadi serangkaian kalimat yang keluar sangat tidak indah untuk didengar. Membuat Dini yang awalnya antusias
mendengar syarat yang bisa membebaskannya ternyata sangat berat. Seketika dadanya sesak mendengar semua pernyataan pria asing itu.
Pria itu tidak segan melontarkan syarat tanpa beban sama sekali.
"A-apa yang kau maksud? Dari ketiga syarat itu hanya menguntungkan dirimu.apakah tidak ada syarat yang benar agar aku bisa terbebas?" Ucap Dini dengan bergetar
"Syarat itu sudah benar. Aku sudah membuat syarat itu lebih dulu bahkan setelah kita saling bertemu. Tidak ada lagi syarat yang bisa aku ajukan."
"Syarat macam apa itu, hah? Kenapa kau ingin sekali aku menjadi milikmu sampai menculik ku seperti ini. Sebenarnya siapa kau? Apa kita saling kenal di masa lalu?" Ucap Dini berteriak
"Iya, bukan hanya masa lalu, tapi kita sering bertemu sekarang." Jawab pria itu penuh tanda tanya dibenak Dini
"Siapa? Aku tidak mengenal dirimu. Aku tidak pernah bertemu pria lain selain suamiku." Jawab Dini bingung
__ADS_1
"Sudah cukup untuk tidak lagi menyebutnya sebagai suamimu. Dia sendiri tidak pernah menganggap mu ada sebagai istrinya." Kata pria itu
"Kau orang lain bagiku. Maka dari itu tidak perlu ikut campur dalam urusan rumah tanggaku." Jawab Dini
"Tidak peduli sebesar apapun kau meyakinkan. Karena saat ini aku senang kau menyetujui persyaratan ini."
"Kapan aku menyetujuinya? Aku sama sekali belum membuat kesepakatan denganmu."
"Tidak perlu berpura-pura. Karena kau sendiri sudah terikat denganku dari beberapa menit yang lalu.maka dari itu untuk bisa membuat mu menjadi milikku selamanya, aku akan melakukan apa yang harus ku lakukan." Ucap Pria itu membuat Dini linglung
"Ingin apa kau? Jangan berani macam-macam denganku ataupun bayiku." Gertak Dini
Pria asing itu berjalan mendekat menghampiri rantai yang mengikat kaki Dini dan membukanya.
Terasa kelonggaran di kakinya saat rantai itu tidak lagi mengikatnya.
Kini pria itu membuka ikatan tambang yang mengikat Dini dan akhirnya terlepas juga. Satu rintangan lagi Dini akan terbebas dan bisa melihat wajah pria yang menculiknya.
Dengan perlahan dan seketika ruangan itu memiliki waktu yang berjalan sangat lama. Pria itu membuka kain yang menutup mata Dini.
Semua ikatan sudah terlepas dengan sempurna dari tubuhnya.
Tak sabar untuk membuka mata yang tertutup kelopak matanya sendiri agar bisa melihat kepenasaran yang melanda sejak lalu.
Jreng...
Cetaarrr...
Sekali hentakkan bak petir berbunyi sampai menindih hati.
"Tuan Darwin,,,??!" Kejut Dini dengan wajah keterkejutan yang tidak tertahan lagi
Ya, Pria asing yang sudah menculik Dini itu adalah Darwin. Entah apa yang melatarbelakangi Darwin sampai senekat ini.
Dengan santai Darwin malah menaikkan satu alisnya dan menyunggingkan bibir.
Dalam sekali hentakkan untuk berdiri dari duduknya. Dini tidak menyangka jika Darwin dalang dibalik semua ini.
"Selamat datang di rumah kita berdua!" Ucap Darwin mendekati Dini yang masih membeku
"Jangan mendekat! Atau aku akan membunuh mu." Kecam Dini
"Hhhh,,, Sosok Dini yang ku kenal tidak akan mungkin membunuh orang menggunakan tangannya." Ucap Darwin yang tidak peduli dengan ancaman
Dia terus berjalan mendekat ke arah Dini yang tengah ketakutan.
__ADS_1
"Jangan mendekat!! Tolong jangan lakukan sesuatu padaku. Kau harus ingat batasan mu!" Ucap Dini bergemetar berjalan mundur
"Batasan?? Apa ada jarak diantara kita berdua? Bukankah baru saja kita saling mengikat syarat." Ucap Darwin dengan raut wajah menakutkan dilihat Dini
Masih seperti tadi yang tetap tidak peduli. Darwin sudah berubah menjadi monster yang mengerikan.dia bukan sosok Darwin yang Dini kenal lagi.Dia langsung menyergap tubuh Dini dan memojokkannya di dinding kamar.
Tanpa aba-aba, Dia menarik kedua tangan Dini dan mengacungkannya di atas. Seolah hasrat yang ingin segera disalurkan, ia dibutakan akan cintanya dan rasa ingin memilikinya.
Emmmpphh...
Darwin membungkam mulut Dini dengan bibirnya. Bibir Dini membuatnya candu sampai bermain-main dengan lidahnya juga di dalam.
L*****n demi l*****n berdecak di ruangan itu.
Dini yang terkekang dan pegangan yang sangat kuat tak mampu melawan. Hanya deras air mata yang menjadi saksi permainan mereka yang pedihnya menyayat hati dia saat ini.
Tapi harga dirinya tak ingin kalah, Dini bukanlah wanita mainan yang bisa dipermainkan oleh laki-laki siapa saja. Ia berusaha mendorong Darwin dengan kuat dan memberontak agar bisa menghentikan aksinya.
Karena tak ada perubahan bahkan Darwin tetap menikmati bibirnya walaupun dalam gangguan.
Kini Dini menggunakan kakinya dengan menggunakannya untuk menendang masa depan Darwin.
Arrrghh...
Seketika Darwin menghentikan aksinya dan mengernyit kesakitan dengan membungkuk sambil memegang masa depannya yang sakit akibat ditendang oleh Dini.
Mengambil kesempatan dalam kesakitan Darwin yang tidak memungkinkan mengejar.
Dini sekuat tenaga berlari ke arah pintu untuk melarikan diri.
"Maafkan aku, Tuan Darwin." Ucap Dini bergetar sebelum pergi
Melihat Dini berlari, Darwin tak mampu menghentikan karena rasanya sangat sakit di sana.
Namun, Sayang. Pintu kamar itu terkunci dan Dini tidak bisa melarikan diri lebih jauh dari itu.
"Hhh... (tertawa dengan sedikit tertahan) Ingin kemana lagi kau akan pergi? Kau tidak akan lolos dariku." Ujar Darwin tertawa
Suasana ruangan menjadi sangat tegang. Dini tengah berusaha dengan perasaan tidak tenang mencoba untuk membuka pintu, sambil sekilas terus melirik ke arah Darwin yang takut menghampirinya lagi.
Sia-sia karena entah di mana kunci pintu itu.
Darwin memang sudah merencanakan ini dari awal! Sangat pintar dan terencana!
__ADS_1