
Prakk...
Makanan Arsen yang diberikan Ansel sesuai janji kemarin pada kedua temannya, makanan itu terjatuh dan berhamburan di tanah.
"Devan, Apa yang kau lakukan? Kau tidak melihat makanan milik Arsen jadi jatuh ke tanah." Gino yang marah
"Hhh... Rasakan itu! Anak penjahat memang pantas diperlakukan seperti ini."
"Kau anak yang sangat nakal, Devan! Aku akan memberitahu ibu guru." Ucap Ansel yang hendak pergi
Devan malah mendorong Ansel yang hendak pergi itu sampai ia akan tersungkur. Namun, Arsen yang berada di dekatnya, menarik Ansel yang akan hampir terjatuh menggunakan tangan kecilnya.
"Agh,,, Terima Kasih Ansel." Ucap Ansel berterima kasih akibat tertolong
"Kau berani mendorong temanku?!" Hardik Gino
"Apa? Kau berani melawan ku, heh? Ayo
lawan aku jika kau berani." Tantang Devan
Gino pun siap ingin melayangkan kepalan tangan pada pipi Devan.
"Tidak Gino, Berhenti, Jangan lakukan itu! Kita tidak perlu meladeni dia karena akan membuang-buang waktu istirahat kita. sebaiknya kita pergi dari sini." Ajak Arsen
"hhh... Katakan saja jika kau tidak berani melawan ku. Anak seorang penjahat mana mungkin berani melawan karena takut dipenjara seperti ibunya." Ucap Devan keterlaluan
"K-kau... Mulutmu tidak pernah di didik oleh ibumu, Ya? Bagaimana ibumu bisa memiliki anak nakal seperti mu." Ansel yang berteriak
"Ansel, Kita cukup diam tanpa perlu mengeluarkan suara sedikitpun pada hewan liar. manusia tidak akan pernah mengerti bahasa hewan." Perkataan Kejam Arsen
"Hewan saja lebih mulia daripada anak dari seorang penjahat seperti dirimu." Katanya terus membalas
"Kau tidak takut dengan ayahnya Arsen, Ya? Bagaimana jika dia datang dan menghukum mu sekaligus ayah dan ibumu." Kata Gino
"Untuk apa aku takut, bahkan ayahku saja lebih berkuasa dibandingkan ayahnya."
"Heh,,, Kau saja yang tidak tahu kekuasaan ayah Arsen. Kalian pasti akan habis jika berhadapan dengan ayahnya. Iya kan, Arsen?" Ujar Gino
__ADS_1
"Bertengkar saja terus sampai kalian puas. Aku sudah mengajak kalian pergi, tapi kalian terus meladeni hewan ini." Kesal Arsen
"Kau yang hewan!!" Dorong Devan pada Arsen sampai ia terjungkal
Gino dan Ansel pun membantu temannya berdiri.
Bugh...
Ansel berdiri sambil mengepalkan tangannya dan menonjok bagian wajah Devan.
"Aku sudah berusaha bersikap sabar dengan mu. Tapi kau benar-benar anak kecil yang tidak tahu diri." Hardik Arsen terus memukul
Tak ingin kalah, Devan pun menerjang wajah Arsen. mereka pun saling pukul dan tidak bisa di derai oleh siapapun. pada akhirnya pertengkaran mereka dilihat oleh Bu guru mereka.
"Arsen, Devan?! Apa yang kalian berdua lakukan? Hentikan!!" Ucap Guru berteriak
Arsen dan Devan pun berhenti dengan wajahnya yang sedikit membiru.
"Kalian berdua! Ayo ikut Ibu!" Marahnya melihat anak didik bertengkar
Gino dan Arsen sudah berada diruang bimbingan konseling, Mereka mendapatkan berbagai macam pertanyaan atas perbuatan mereka.
"Maafkan aku, ini semua memang salahku." Jawab Arsen berkata demikian
Membuat guru BK itu pun hanya bisa menghela napas panjang. Ia sudah tahu jika Arsen tidak akan menarik dirinya dalam masalah ini. Arsen bukanlah anak yang bisa menyalahkan orang lain, walaupun orang lain yang memulainya lebih dulu. Didikan keluarga Pratama benar-benar membuat anak mereka berwawasan tinggi dan kriteria cerdas.
"Dan kau Devan, kau sudah terlibat 8 kali pertengkaran selama ini. Ibu sudah sering memperingatkan mu dan kau masih saja melakukan pertengkaran. Ibu juga sudah bosan harus memanggil orang tuamu kesini, dan ibu juga yakin orang tuamu bosan harus bolak-balik ke sekolah mendengar mu yang bertengkar." Ucap Bu BK
"Aku tidak salah. Wajar saja jika aku membenci anak seorang penjahat." Jawab berani Devan
"Cukup jangan melawan pembicaraan orang yang lebih dewasa darimu. Kau juga tidak bisa menghina Arsen sebagai anak orang jahat, kau juga tidak tahu bagaimana dia lahir bahkan kehidupan keluarganya, bukan. Jika bukan karena kakek mu seorang menteri di negara ini, mungkin pihak sekolah akan mengeluarkan mu karena terus membuat kegaduhan." Ketusnya
"Arsen, jadikan ini pelajaran dan peringatan untukmu. Kau adalah siswa yang baik dan juga berprestasi, lain kali jangan terlibat pertengkaran seperti ini." Lanjutnya pada Arsen
Arsen hanya mengangguk.
"Ibu sudah menelepon ayahmu, dan akan berbicara dengannya, setelah itu kau bisa pulang bersama ayahmu untuk mengobati luka mu. Kau bisa menunggu di luar..."
__ADS_1
"Devan, kau tunggu di sini, sampai ayah atau ibumu datang. Sepertinya ibu harus berbicara banyak dengan kalian demi kebaikanmu dan juga orang lain." Ucap Bu BK yang kesal terus memanggil orang tua Devan yang selalu membuat onar. Terlihat dari pertengahan bulan ini, Devan sudah tercatat 8 kali pertengkaran dengan siswa lain termasuk Arsen selaku siswa yang terdidik
Di perusahaan~
"Guru Arsen memanggilku datang ke sekolahnya. Dia mengatakan Arsen terlibat pertengkaran. Entah apa yang diinginkan anak itu sampai dia membuatku dipanggil untuk ke sana." Cetus Arya
"Tuan muda bukanlah anak yang sering membuat onar di sekolah. Ini terjadi pasti karena pihak yang sering membuat masalah." Ujar Damar menenangkan Arya agar tidak sampai menyulut emosi
"Aku akan segera ke sana. Tolong lanjutkan pekerjaan ku yang sekiranya kau bisa kerjakan." Titah Arya
"Baik Presdir." Jawab Damar
Di sekolah Arsen~
"Begini Tuan Arya, Kami sangat berbesar hati untuk mengatakan ini pada anda."
"Ya, Saya sudah tahu. Putraku terlibat pertengkaran dengan cucu seorang menteri. Anda tidak perlu mengatakannya kembali demi menghemat waktu dan kalimat yang digunakan." Jawab Arya dengan perkataannya yang membuat lawan bicaranya menjadi bimbang dan juga gugup
Mungkin bukan hanya gugup karena perkataan Arya yang terlalu cuek. Bu BK pun gugup akan ketampanan yang terlihat dihadapannya langsung saat ini.
Jika seperti ini, dia tidak bisa bersikap profesional menjalankan tugasnya.
"Agh,,, Baiklah... Emm... sebenarnya kami tahu jika Arsen adalah siswa yang sangat cerdas dan juga sangat terdidik. Kami pihak sekolah hanya ingin memberikan tinjauan pada orang tua seperti yang lainnya, agar anda dapat membimbing Arsen lebih mempertahankan sisi kebaikannya."
"Baiklah, Saya akan memberitahunya nanti. Di mana dia sekarang?"
"Di kelasnya." Jawab Bu BK
"Jika tidak ada yang perlu di sampaikan lagi. mungkin saya akan membawa Arsen pulang lebih awal." Ujar Arya
"Ya. Tentu saja silakan, Tuan Arya. Sebelumnya mohon maaf atas sudah nya mengganggu waktu anda, saya tahu anda pasti sangat sibuk. Tapi saya memberi apresiasi pada anda yang peduli pada anak sampai memenuhi panggilan kami disela kesibukan yang melanda." Ujarnya gemetar
Arya hanya mengangguk tanpa ekspresi.
Bu BK mengulurkan tangannya untuk berjabatan tangan. Namun, Arya langsung pergi begitu saja dan hanya melihat tangannya yang kosong.
Bu BK memahami sifat CEO itu. Walaupun sedih rasanya ia tidak bisa bersikap jual mahal dihadapan Arya dan menjadi wanita yang anggun.
__ADS_1
Hal itu pun dilakukan Arya tanpa alasan, karena ia sendiri memiliki penyakit alergi yang kambuh kembali sudah lama.