Terbelenggu Oleh CEO Angkuh

Terbelenggu Oleh CEO Angkuh
117. Setuju


__ADS_3

Setelah Arya bangun dan turun ke bawah dengan sudah memakai pakaian setelan kantornya, ia langsung duduk di kursi meja makan untuk sarapan pagi.


Setelah selesai sarapan, rencananya Arya akan langsung berangkat ke kantor. Namun, tertahan oleh Dini yang ingin membicarakan sesuatu dengannya.


"Tuan?! Jika tuan tidak merasa keberatan dan tidak mempengaruhi keberangkatan ke kantor. Bolehkah aku membicarakan sesuatu dengan, Tuan." Kata Dini sedikit gugup


"Ya, Tentu saja. Apa yang ingin kau katakan?"


"Emm...I-ini mengenai kedua orang tuaku dengan bisnis yang mereka jalani."


Arya sudah tahu apa yang Dini maksud pasti akan merujuk ke sana.tapi ia ingin mendengarkan argumen apa yang dikatakan istrinya.


"Tuan pasti sudah tahu apa yang terjadi sebenarnya.masalah ini tidak ada yang tahu jika akan datang dan terjadi pada dua keluarga, Saya mohon pada tuan untuk mencabut harga itu, dan jika boleh cantumkan saja harganya menjadi Rp.25.000." Pinta Dini sesuai dengan yang diperintahkan ayahnya


"Rupanya dia meminta sesuatu dariku." Gumam Arya dan terlihat mengejek dari wajahnya


"Orang tuamu memintamu untuk berbicara denganku mengenai masalah ini dengan menurunkan harganya!" Tekan Arya


"Iya, karena tuan menaikkan harganya sangat tinggi tidak ada satupun petani yang menjual tanaman pada mereka, padahal banyak permintaan yang harus dikirim."


"Awal masalah ini terjadi disebabkan oleh kedua orang tuamu yang menaikkan harga secara tiba-tiba sampai berakibat buruk bagi perusahaan ku. Untuk menstabilkan perusahaan kembali, aku harus mengambil jalan ini." Pungkas Arya menjelaskan

__ADS_1


"Atas nama kedua orang tuaku, Aku minta maaf atas kesalahan yang dilakukan padamu, Tuan." Kata Dini sambil menangkupkan kedua tangannya


"Tidak perlu! Sebagai gantinya, Apa yang akan menjadi jaminan untuk menyetujui permintaan mu?" Tanya Arya sambil menaikkan satu alisnya


Dini malah menjadi bingung, dia sendiri tidak tahu apa yang harus ia berikan untuk dijadikan jaminan seperti kata Arya, dan dia sendiri tidak memiliki barang berharga untuk diberikan.


"Aku tidak memiliki apa-apa di dunia ini. Jika tuan ingin, sebagai jaminannya apa yang tuan inginkan akan ku usahakan untuk tidak menolaknya." Kata Dini


"Hmm...menarik! Persis saat awal mula kita bertemu dengan kau yang menumpahkan kopi ke pakaian ku, itu yang kau katakan juga padaku sebagai rasa bersalah mu." Kata Arya yang masih mengingat beberapa momen bersama Dini


Sama halnya dengan Dini yang ingat karena teringatkan, Ia malah menjadi malu mengingat momen itu.


"Baiklah, Akan ku setujui permintaan ini. Kau tunggu saja dalam 3 menit setelah ini orang tuamu akan menelpon dengan memberi kabar kebahagiaan." Ujar Arya seraya berkata ingin menunjukkan kehebatannya


"Untuk sebagai jaminan yang kau katakan tadi, Aku akan memintanya darimu nanti. Sekarang aku akan berangkat ke perusahaan."


"Iya, Tuan." Jawab Dini


Arya berlenggang ke arah pintu luar dengan Dini yang menatap kepergian suaminya.


Memang betul apa yang dikatakan Arya tadi jika ayahnya pasti akan segera menelepon dalam 3 menit, tak berselang lama setelah Arya keluar rumah pergi menuju perusahaan.

__ADS_1


Setelah memberikan penyampaian dalam telepon akan pembagian petani dan harga yang setara, Dini sangat senang dan merasa tenang jika masalah kedua orang tuanya sudah teratasi.


Di sisi lain~~


Pagi sekali Darwin sudah dibuat bingung oleh tingkah kakaknya yang selalu berubah seperti bunglon. Baru saja kemarin dia memutuskan untuk menaikkan harga lebih tinggi, dan sekarang dia malah memberikan perintah untuk menurunkan harga dan pembagian petani dengan setara.


"Syukurlah perusahaan akan menyuplai barang seperti biasa." Ujar Darwin menghela napas lega sambil bersandar di kursi tahtanya


"Apa sebenarnya yang kakak inginkan? Kemarin seperti ini, dan sekarang seperti itu. Aku heran jika dia bukanlah seorang manusia melainkan bunglon yang hidup plin-plan." Bicara Darwin yang mengejek


"Pppffttt...." Tahan Tawa Asistennya Fariz yang ada di sana dan mendengarkan Darwin mendengus


"Kau tidak perlu sungkan jika ingin tertawa. Presdir lama kalian memang seperti itu dan kau tidak perlu takut karena dia tidak ada di sini."


"Ampun, Presdir. Saya tidak berani jika pun beliau tidak ada." Jawab Fariz


"Apa agendaku hari ini?" Tanya Darwin


"Hari ini anda harus meeting bersama kami pukul 10.00 membicarakan kontribusi apa yang akan Presdir lakukan untuk jabatan kepemimpinan anda pertama kalinya. Lalu, pukul 13.00 nanti Presdir akan menemui klien di Restaurant Trans Luxury." Kata Darwin


"Baiklah, Persiapkan keperluannya dari sekarang." Pinta Darwin

__ADS_1


"Baik, Presdir." Jawab Fariz


Hari ini dan seterusnya akan menjadi hari sibuk untuk Darwin yang mengemban tanggung jawab besar sebagai CEO di perusahaan milik kakaknya. Tentu saja jabatan ini adalah jabatan yang sangat membanggakan dan tidak bisa sembarangan di duduki oleh siapapun. Dibalik itu, menjadi seorang pemimpin tidaklah mudah dan indah seperti yang dibayangkan oleh orang.kita benar-benar mendedikasikan diri kita pagi sampai malam, senin sampai Minggu pada perusahaan yang diharap dapat mengudara dalam dunia bisnis dengan perusahaan lain yang bersaing secara sehat.


__ADS_2