Terbelenggu Oleh CEO Angkuh

Terbelenggu Oleh CEO Angkuh
158. Ditendang


__ADS_3

Saat pagi hari, Posisi pasangan suami istri yang Arya merangkak untuk tidur bersama kini sudah berubah. Mereka saling berhadapan satu sama lain saling berpelukan.



(Contoh)


Walaupun sinar mentari pagi sudah menyelinap masuk melalui celah jendela. Tidak mengusik mereka untuk bangun.


Kreettt!


Suara pintu dibuka.


"Arya,,, Dini,,, Apa kalian sudah ba..." Bu Amira yang datang untuk membangunkan terkejut saat melihat fenomena istimewa itu


Saking syoknya, Bu Amira sampai membuka mulut lebar sambil menutupnya.


"Fenomena yang indah sekali. Aku harus mengabadikan momen ini." Cari-cari Bu Amira dengan terburu-buru mencari handphone nya


Momen itu diabadikan oleh Bu Amira yang memotret mereka berdua.


"Ya, Akan ku tunjukkan pada semua orang foto ini." Pergi Bu Amira perlahan setelah berhasil mengambil foto mereka berdua


Di bawah sudah sangat ricuh sekali dengan bisikan-bisikan bahagia yang membicarakan akibat Bu Amira menunjukkan foto yang ia dapat pada semua pekerja di mansionnya.


Mereka sangat kagum dengan foto itu di mana Arya dan Dini saling berpelukan saat tidur.


"Walaupun sedang tidur, Nyonya muda dan Tuan muda tetap romantis." Kata Pelayan junior pelan


Akibat Bu Amira yang terlalu berlebihan, Kini Arya dan Dini menjadi bahan pembicaraan yang tak luput dari kejulidan mereka.


Seperti biasa, Dini membuka mata untuk bangun pagi hari setelah melewati malam dengan tidur. lenguhannya terdengar nyaring.


Eunghh...


Saat membuka mata, Dia merasakan ada yang melingkar dan menjadi berat sekali di perutnya. ia pantas untuk heran dan apa yang berada di atas perutnya.


Maka dari itu ia mengerjapkan matanya yang masih terasa kantuk.


Suatu mimpi baginya saat membuka mata dengan intens melihat langsung seorang pangeran tidur di sampingnya yang sangat tampan itu berada dihadapannya. Saat otaknya mengalami keterlambatan dalam berpikir, Dini belum sadarkan diri akan posisi itu karena jiwanya belum kembali pada raganya. ia merasa sedang berimajinasi saja.


"Kyaa!" Refleks Dini berteriak dan menendang Arya sampai terjatuh dari atas ranjang


Arya yang masih tertidur mendapatkan tendangan yang kuat sampai ia terhenyak dalam kondisi setengah sadar.


Bugh!


"Awww... Pinggangku!" Arya terjatuh dengan keras sampai meringis


Dini masih menstabilkan diri duduk di kasur melihat Arya yang kesakitan dengan napas terengah-engah akibat sangat terkejut sadar melihat seorang laki-laki di sampingnya.


"Hah,,, T-tuan?" Baru menyadarinya


"Aduhh,,, Pinggangku." Arya menjadi encok


"T-tuan..." Dini merasa bersalah

__ADS_1


"Apa kau sudah gila, Hah?"


"T-tuan,,, Maaf, Akuu..." Sangat merasa bersalah


"Aku apa, Hah? Kau pasti sengaja ingin membuat tubuhku yang berharga ini sakit, Ya?" Bentak Arya memegang pinggangnya


"Bukan seperti itu, tapi Tuan sendiri kenapa bisa ada di sampingku?" Tanya Dini


Di sana Arya tertegun dan mulai menyadarinya.


"Aku berhak tidur di atas ranjang karena ini kamarku." Ucap Arya tidak ingin kalah


"Kenapa bisa? Kemarin malam Tuan tidur di sofa."


"Cuaca kemarin tidak bagus. Di luar sangat dingin dan masuk memalui celah jendela. Aku kedinginan dan terpaksa beranjak untuk tidur di ranjang bersamamu." Jawab Arya terlihat gelagat gugup mencari alasan


"Jadi, Bagaimana?" Ucap Dini sudah dibuat bingung pagi hari


"Bagaimana apanya maksudmu? Kau sengaja mencari kesempatan dengan memelukku, Bukan?" Cela Arya


Dini memang melihat dirinya dan Arya berpelukan saat terbangun tadi. Tapi dia juga tidak tahu kenapa itu bisa terjadi. Apakah semalaman mereka saling berpelukan?


"Aku tidak tahu kenapa bisa memeluk, Tuan." Jawab Dini pelan


"Itu karena kau mencari kesempatan untuk menyentuh tubuhku saat aku tidur." Cela Arya yang tidak mengaku sampai tidak tahu diri seperti itu


"Benarkah seperti itu? Tapi jika hal itu terjadi aku pikir itu hanya guling.aku juga tidur dan tidak tahu jika Tuan ada di sampingku sampai bisa seperti ini." Ujar Dini terlalu polos


"Ah, Sudahlah... Ini kesempatan terakhir kau bisa memelukku. Di kemudian hari, kau tidak akan bisa merasakan pelukan ku lagi. Maka dari itu selalu kenang momen ini dan bagaimana sensasinya, karena kapan lagi kau bisa memelukku." Ucapnya


"Kau tidak perlu menjelaskan. Pinggangku jadi sakit dan dahi ku memar akibat ulah mu." Hardik Arya sambil pergi ke kamar mandi dengan terpincang-pincang akibat pinggangnya sakit


Dini masih dilema terduduk di kasur memikirkan pagi hari tadi.


"Aku tidak mengingat apa yang dirasakan tadi. Aku yang memeluk Tuan, atau Tuan yang memelukku?" Kata Dini yang mengingat keras agar bisa dijadikan kenyataan


...***...


Tak lama Arya pun turun dengan sudah memakai setelan jasnya yang berjalan dan menuruni tangga masih tidak stabil karena pinggangnya masih terasa berdenyut.


Mereka yang sedang berkumpul ricuh itu seketika hening saat Bu Amira memerintahkan untuk diam melihat kedatangan Arya.


"Ssssttt... Semuanya diam! bintang iklan kita akan datang." Bisik Bu Amira memberitahu dan segera menyembunyikan handphonenya itu


Hening...


Seketika mata mereka semua tertuju pada Arya yang tak luput dari pusat perhatiannya.


Ekhemm..!


Mereka berdeham untuk bersikap tenang.


Arya yang sedang memasangkan kancing lengan tangannya mengerutkan dahi melihat aneh tingkah keluarganya saat ini.


Apalagi ditambah rata-rata Keluarga sampai pelayan berkumpul di sana dengan menatap ke arahnya.

__ADS_1


"Wajah apa yang kalian tunjukkan padaku?" Merinding Arya melihat tatapan mereka padanya


Seketika mereka tertawa kecil yang disembunyikan.


"Agh... Tidak ada. Kepercayadirian mu saja yang terlalu mendominasi. Kami tidak melihatmu, Ya. Benarkan semuaaa...?" Ucap Bu Amira


"Benarr... Tuan muda!" Serentak menjawab


"Iya, Kakak. Kami tidak melihat kakak. malah kami sedang melihat foto keluarga di dinding itu." Kata Luna juga


Refleks Arya melirik foto yang terpajang di dinding tepat di belakang Arya berdiri saat ini, Ia anggap tidak ada yang aneh di sana. Hal itu membuat bertambah heran dengan sikap keluarganya.


"Kalian sangat aneh!" Kecamnya


Hihi...


Mereka tak kuasa untuk menahan tawa namun, tetap di sembunyikan.


"Di mana Dini?" Tanya Bu Amira


"Dia sedang mandi!" Jawab dingin


"Kalian semua dengar itu! Dini sedang mandi." Ucap Bu Amira membuat Arya frustasi kembali


Arya kembali mengernyitkan dahi.


"Apa yang aneh? Wajar saja dia mandi pagi hari setelah bangun tidur. Kalian juga seperti itu, Bukan?" Lontar Arya duduk di kursi meja makan


"Agh... Iya. Memang tidak aneh tapi sikapmu yang aneh sekarang."


"Maksud ibu?" Bukan bingung lagi yang melanda saat ini, Jika terlalu lama ia bisa depresi


Semua orang kembali saling bertukar pandangan dan menahan tawanya mengingat foto tadi.


"Ahh,,, Kalian semua menjadi aneh. Apa yang kalian makan pagi ini atau kemarin? Tatapan kalian padaku membuatku tidak bisa menebaknya. Apa yang terjadi juga dengan otakku yang tidak bisa menganalisa kalian hari ini!?" Pusing Arya memegang kepala


Bu Amira pun membidik sebuah memar bewarna ungu di dahi Arya.


"Arya, Apa yang terjadi dengan dahi mu? Kemarin ibu tidak melihat luka memar ini." Tanyanya


"Tck,,, Ceritanya sangat panjang. Pagi hari aku sudah sial." Kesalnya


Kembali saling bertukar pandangan.


"Apaa... Dini memukulmu?" Duga Bu Amira


"Bukan memukul lagi, Dia menendang ku sangat keras sampai terjatuh!" Jelas Arya sedikit nada tinggi


Seketika membuat para pelayan tak luput dari Bu Amira, Luna, dan Bu Ashna tertawa sedikit keras.


"Memangnya apa yang kau lakukan sampai Dini menendang mu, Arya?" Tanya Bu Amira yang masih tertawa dan tidak bisa berhenti


"Kalian malah menertawakan ku. Tanya saja pada wanita itu yang berani sampai pinggangku jadi sakit dan memar seperti ini." Sangat kesalnya mengeluh


Semua orang semakin tidak bisa menghentikan tawa mereka yang dibuat lucu melihat kondisi wajah Arya yang sangat dikasihani itu.

__ADS_1


__ADS_2