
Setelah 2 hari berada di kota Kalimantan mengurus pekerjaan bersama kliennya di sana mengenai di bidang tambang emas, Atau mungkin bisa dikatakan mengurus perselingkuhannya dengan partner ranjangnya.
Pagi hari sekali tepat pukul 05.35 WIB, Arya sampai di Indonesia dan kembali ke rumahnya.
Dengan antusias Dini yang sudah bangun sebelum fajar menyingsing, membuka pintu untuk Arya.
Dia sangat senang suaminya sudah kembali dari luar kota karena kerjanya. Betapa bahagianya dia kali ini setelah menemui dan menghabiskan waktu bersama orang tuanya kemarin.
Namun, setelah itu Arya setelah membersihkan diri dengan mandi dan memakai pakaian kantor yang rapi, ia segera pergi ke acara penutupan bakti sosial yang sempat diselenggarakan.
tak hanya itu, Arya mengajak Dini agar ikut bersama untuk menemaninya bekerja.
Akan ia beritahukan pada orang yang bertanya atau merasa aneh atas kehadirannya, dengan berdalih jika wanita disampingnya adalah asisten wanitanya di perusahaan miliknya satunya lagi.
"Acara akan segera di mulai! Untuk pertama kalinya, Presdir Arya akan memberikan sambutan." Ujar MC
Arya berjalan masuk dengan gagah menuju panggung dari balik layar untuk memberikan sambutan. Melihatnya berjalan, orang yang hadir terpesona akan ketampanan dan kegagahannya.
"Saya Arya, Presdir perusahaan AMB Pratama Group, hadir untuk memberikan beberapa patah kata sambutan penutupan." Ujar Arya berdiri di depan mic
Semua orang fokus mendengarkan kata Sambutan dari Arya.
"Terima kasih kepada semua orang yang sudah mengatur acara penutupan hari ini. Seperti yang kita ketahui bahwa acara bakti sosial sudah dilangsungkan selama 2 hari yang lalu tanpa saya yang menghadiri. Dan menugaskan Kepala Asisten yang telah menggantikan posisi untuk menghadiri pembukaan dan kelangsungan acara ini."
"Meski sudah jelas hari ini adalah hari penutupan acara. Karena itu, ku harap kita akan bertemu untuk hal lain, bukan untuk acara yang tidak berguna dan seremonial. Akan ku pastikan untuk menyapa kalian dikemudian hari. Semoga acara yang dilangsungkan ini, dapat menjadi pembelajaran, pengalaman dan kesan bagi kalian semua. khususnya anak-anak yang senang dan terhibur selama 3 hari ini."
"Itu saja yang ingin ku sampaikan. Aku senang bisa bertemu dengan kalian." Tutup Arya menyudahi kata sambutannya dan segera kembali dari panggung
Sesudahnya kata sambutan yang diberikan, Arya mendapatkan tepuk tangan dari para audiens.
Acara dilanjutkan dengan pembagian berupa Dana, Snack, dan keperluan dapur untuk masyarakat yang hadir dan dipersebar luaskan kepada masyarakat sekitar oleh tim sukses mereka.
Semua anak panti asuhan mengantri untuk mendapatkan bagian mereka.
Dibantu oleh Dini yang berada di samping Arya yang ikut membagikan.
Sekitar 45 menit kegiatan dilakukan, mereka sudah mendapatkan bantuan tersebut. Dengan Arya yang membuat beasiswa khusus untuk 10 anak panti yang berprestasi dengan menyekolahkan mereka sampai pendidikan tinggi.
"Kenapa kau mencari muka di depan pak presdir tadi. Kau tidak bisa sekolah, seharusnya aku yang bisa sekolah di tempat yang bagus itu. Tidak seperti sekolah sekarang yang jelek dan kumuh." Terdengar suara anak berteriak meluapkan kekesalan di halaman belakang panti
Mendengar teriakan amarah, Dini langsung mencari sumber suara tersebut dan segera menghampiri.
"Hey, Apa yang terjadi?" Tanya Dini dengan nada lembut
Anak kecil berusia 11 tahun itu terkejut sampai wajahnya memerah karena seseorang datang memergoki dia saat sedang memarahi teman sepantinya yang kala itu hanya terdiam menunduk dan menangis menerima amarah darinya.
__ADS_1
"S-siapa kau? Di mana ibu panti?" Takut anak itu bersuara bergetar
"Aku adalah orang yang ada dalam acara bakti sosial ini. Aku mendengar kau marah karena temanmu mendapat beasiswa sekaligus bersekolah di tempat yang bagus. Kenapa kau bisa cemburu seperti itu?"
"Aku tidak suka jika dia lebih pintar dariku. Aku juga sangat pintar, tapi pak presdir tidak memberikanku hadiah untuk bersekolah di tempat bagus."
"Maafkan aku. Jika kau tidak suka, aku akan meminta pak presdir untuk membatalkannya, dan meminta beliau untuk memberikan beasiswa itu padamu saja." Ujar anak yang tersakiti untuk akhirnya membuka suara
"Kenapa begitu? Bukankah kalian berteman baik? Seorang teman tidak mungkin menyakiti temannya. Sebagai temannya, seharusnya kau ikut senang dan bangga, karena akhirnya temanmu bisa bersekolah." ujar Dini menjelaskan
"Tidak, Nyonya. Aku tidak bisa bersekolah di sekolah yang bagus itu, aku akan bersekolah di sini saja bersama ibu panti dan teman-teman yang lain." Ujar anak tersakiti
"Ada apa? Aku mendengar suara keributan dari arah sini." Ujar Pria yang bersuara berat yakni Arya yang menghampiri Dini bersama 2 orang anak panti
"Emm... Begini, Tuan. Anak ini adalah salah satu anak yang mendapat beasiswa sekaligus tempat sekolah yang bagus. Tapi temannya ini tidak suka jika dia bersekolah di tempat itu, dia malah memaki dan tidak bisa menerima kebahagiaan temannya." Jelas Dini pada Arya
Arya menghampiri kedua anak itu dengan bertekuk lutut untuk menyeimbangi tinggi badan mereka agar bisa berbicara mulut ke mulut.
"Rupanya kau cemburu pada temanmu, Ya?" Bicara Arya sedikit lembut
Kedua anak itu hanya tertunduk malu.
"Begini, tadi dan kemarin kalian sudah berusaha untuk mendapatkan beasiswa ini. Dan salah satu diantara kalian, satunya ada yang terpilih, dan satunya ada yang kalah. Tapi bukan berarti yang kalah harus menindas orang yang menang." Bicara Arya memberi pengertian
"Jika begitu, Aku akan memberimu hak yang sama seperti temanmu ini. Aku akan memberikan beasiswa sehingga kau bisa bersekolah di tempat sekolah yang bagus itu bersama temanmu ini. Kalian nanti bisa belajar, bermain, berteman, dan bersekolah bersama-sama. Bagaimana, Apa kau merasa senang sekarang?" Pungkas Arya
"Apa itu benar Pak Presdir? Aku bisa bersekolah di sana?" Tanya anak itu terlanjur senang
"Iya. Karena kalian anak yang berprestasi dan pintar, bukan?"
"Yeayy...." senang anak itu melompat-lompat kegirangan
Teman yang sempat ia desak pun ikut tersenyum dan senang bersama.
"Terima Kasih, Pak Presdir. Kau baik sekali." Ujarnya
Arya hanya tersenyum kecil.
"Maafkan aku. Aku berjanji tidak akan iri padamu lagi. Setelah ini, kita akan berangkat dan belajar di sekolah itu bersama-sama. Kau memang temanku yang paling baik." Ujarnya dengan merangkul tubuh temannya itu
Sehingga pada akhirnya mereka berbaikan dan menjadi teman kembali, sekaligus tidak ada rasa benci yang tersimpan antara 2 orang anak yang masih kecil dan lugu.
"Masalah sudah selesai. Mereka sudah berteman kembali." Ujar Arya pada Dini yang sedari tadi ada dibelakang dan hanya melihat tindakan suaminya
"Syukurlah jika mereka saling berteman kembali. Terima Kasih, Tuan. Anda memang benar-benar hebat." Puji Dini yang dianggap biasa oleh Arya
__ADS_1
"Sebaiknya kita kembali ke dalam." Ajak Arya yang sudah berjalan dan diikuti oleh Dini yang mengekor
Sebelum pulang dan memang acara belum sepenuhnya selesai, masih ada beberapa penghargaan yang diberikan oleh ketua Bakti sosial pada ibu panti asuhan tanpa dihadiri Arya.
Arya dan Dini sedang berada di ruang bermain anak-anak.
Di sana Arya hanya diam, sedangkan Dini bermain bersama anak-anak panti asuhan itu.
"Wah... Kau hebat dan pintar sekali. Masih kecil sudah mengenal semua warna. Berapa usiamu?" Tanya Dini
"Mpat tahun!" Jawab anak kecil itu belum lancar dengan suara khas anak kecil sambil memasang 4 jari pada tangan kanannya
Dini yang melihatnya pun sangat takjub pada anak usia 4 tahun itu yang masih terbilang masih kecil namun, sudah pintar.
"Empat tahun? Ibu panti pasti sering mengajarimu untuk belajar, Ya?" Kejut dan ajak bicara Dini
"Belajan... Iya, belajan ibu pantli." Ujarnya yang mengundang tawa untuk Dini
"Kau lucu sekali, Nak. Sayang sekali orang tuamu malah tidak merawat dirimu dan malah membiarkan mu di panti asuhan ini. Entah apa yang terjadi di masa lalu sampai mereka menelantarkan mu." Ucap Dini
Oek...oek...oek...
Suara bayi yang ada di ranjang tidur bayi yang menangis.
Pusat perhatian Dini pun teralihkan, begitu dengan Arya yang langsung menghampiri ranjang bayi tersebut. Namun, terdahulu oleh Dini yang pertama sampai dan menggendong bayi tersebut.
Arya hanya berdiri berhadapan dengan melihat Dini yang sudah menggendong bayi itu dengan mahir.
"Kenapa kau menangis? Kau pasti lapar, Ya." Ujar Dini menimang-nimang bayi itu agar tenang
"Apa tidak ada susu formula di sini?" Tanya Arya
"Sepertinya tidak ada, Tuan. Kita harus membuat susunya terlebih dahulu di dapur." Ujar Dini masih menimang-nimang. Namun, bayi itu tetap menangis
Refleks tangan kecil bayi itu mengangkat tangannya dan meraba-raba dada Dini seolah mencari sesuatu. Dan tepat di ***********, bayi itu meletakkan tangannya di sana. Dan seolah mengerti, mulutnya memaksa untuk mencari dan menghisap payudara Dini dari luar.
Melihat tindakan si bayi, membuat Dini merasa malu. Bagaimana tidak, dihadapannya terdapat Arya yang spontan sedang melihat tindakan si bayi. Pipinya sudah berubah menjadi tomat merah.
Arya menyadari sesuatu dan merasa ganjal dalam sikap dirinya. Ia benar-benar melihat dengan fokus bagaimana bentuk payudara istrinya yang kecil. namun, berisi, padat dan bulat, Walaupun tertutup oleh pakaian.
Arya menelan salivanya kasar-kasar, Dan seketika membidikkan tatapannya ke arah lain.
"M-ma-maaf, Tuan." Ujar Dini yang malu dan membalikkan badannya membelakangi Arya
Spontan mata Arya tertuju pada meja nakas yang tidak jauh dari sana dengan mendapati botol dot bayi yang di dalamnya sudah terisi susu dan masih hangat.memang sepertinya ibu panti sengaja sudah membuat susu itu sebelum ia pergi jika sewaktu-waktu bayi itu menangis ada yang memberikan botol dot itu padanya.
__ADS_1
"Berikan ini!" Ujar Arya memberikan botol dot pada Dini
"Baik, Tuan. Terima Kasih." Dini meraih botol dot itu dan mengambilnya dari tangan Arya. Setelah itu, memberikannya pada bayi yang tengah menangis. Namun, terhenti kala bayi itu mendapatkan apa yang ia inginkan.