Terbelenggu Oleh CEO Angkuh

Terbelenggu Oleh CEO Angkuh
S2 112 - Seorang Putri


__ADS_3

Sebuah rumah sakit mahal dan mewah tempat Dini berada.


Arya berhasil di bawa Bu Amira keluar dari penjara untuk menemui istrinya yang akan melahirkan hari ini.


Bunyi suara sirine mobil polisi menggemparkan seisi rumah sakit orang yang menjenguk keluarga mereka yang tengah sakit. Mobil polisi itu mengantarkan Arya untuk pergi keluar. Bu Amira sudah meminta pada polisi agar putranya di bawa dengan mobil pribadi miliknya saja, namun keputusan polisi untuk tetap memperlakukan Arya sebagai narapidana penuh pengawasan harus dijalankan jangan sampai lengah.


Saat mobil polisi itu terparkir di depan rumah sakit, Arya langsung membuka mobil polisi itu secara paksa dan terburu-buru. Hentakan kaki tak sabar terdengar keras saat ia berhasil keluar dari mobil itu.


Segera mungkin Arya berhamburan berlari pergi lebih dulu sangat cepat. Dia tak peduli dijadikan pengawasan oleh polisi saat ini yang membuat para polisi yang bertugas menjaga Arya terpekik ia sudah berlari jauh masuk, mereka sampai mengejar Arya seperti maling.


Arya masuk meninggalkan semuanya di belakang, Ia tidak mempedulikan siapapun yang menghalangi jalannya, seorang suster membawa barang-barang perawatan pun yang tengah berjalan di koridor, Ia tabrak juga sampai barang yang di bawanya berjatuhan ke lantai.


Melihat suatu kesalahan yang dilakukannya, Arya dingin dan tidak peduli. Kata maaf pun tidak terucap dari bibirnya.


Sepanjang jalan, sepasang mata pengunjung yang tengah berobat ataupun tenaga medis yang bekerja di sana sedang menatap kehadiran Arya yang berlari tergesa-gesa.


Mereka semua menggelengkan kepala mereka tak habis pikir dengan tindakan Arya yang membuat kericuhan di dalam rumah sakit.


Tanpa tahu di mana ruangan Dini itu bertempat, Tanpa bertanya lebih dulu pada resepsionis, Arya dengan segala kebatinannya yang sudah kuat tersambung ada Dini, hanya menggunakan penalaran dan batinnya ia berlari di sebuah koridor untuk memasuki ruangan tempat istrinya berada.


Benar saja, Arya sangat hebat bisa mengetahui di mana ruangan Dini berada. Batin dan tebakannya tidak salah, jika ada yang melihat seseorang itu akan takjub Arya memiliki ikatan kuat bisa memprediksi keberadaan istrinya.


Kini, Arya terhenti dari larinya yang cepat. Ia tengah berdiri di depan pintu ruangan istrinya terbaring lemah di ranjang persalinan.


Melihat bagaimana istrinya terbaring di ranjang itu, selang infus yang terpasang di tangannya, ia meyakini bahwa kondisi istrinya saat ini kritis, hanya mampu menatapnya dengan nanar.


Dini, belum menyadari kedatangan siapa di belakangnya. Ia tengah menangis memalingkan wajahnya ke samping kanan menatap sofa dengan tatapan kosong.


Arya memberanikan dirinya masuk lebih dalam ke ruangan itu untuk mendekati Dini.


Tap...


Suara sepatunya terdengar saat berhasil melewati lawang pintu.


Kehadiran dan semerbak aroma tubuhnya sudah tercium dari kejauhan. Dini mengenali wangi aroma parfum ini.


Dengan jantung yang berdebar kencang, Perlahan Dini berani untuk memalingkan wajahnya ke samping kiri merasakan tarikan yang kuat untuk menengok.


Arya!


Tatapan mereka saling bertemu. Terlihat seorang pria gagah dan tampan yang dicintainya itu telah datang dan tengah berjalan menghampirinya.


Benarkah ini nyata? Atau hanya sebatas mimpi yang kehadirannya kali ini menjadikannya bayangan saja. Tanya Dini dalam hatinya bertanya. Ia begitu tak percaya ada Arya di sini.


Ini pasti khayalannya saja. Sebentar lagi dipastikan ia tersadar dan bayangan itu hilang di telan cahaya remang-remang seperti di film-film. Namun, sosok pria itu terus mendekat, bahkan sangat dekat kini sudah berada di samping brankardnya.


Pria itu tengah menatapnya pilu.


Tangannya terangkat pelan untuk meraih tangan Dini.


Dini masih belum bisa mencerna. Ia hanya mengikuti arah pandang pria itu.



Dengan tangan yang dikedua jarinya itu memar, Arya memegang tangan Dini. Rasa sakit akibat tak bisa menerima sentuhan wanita itu sudah muncul, tapi Arya tidak peduli dengan reaksinya yang timbul.


Sentuhannya sangat nyata. Ia tidak sedang berkhayal!


"Jangan! Kau akan merasakan sakit." Ucap Dini terdengar lirih


Air mata Arya menetes jatuh.


"Biarkan tetap seperti ini." Jawab Arya terisak

__ADS_1


Dini mencoba menarik tangan yang sedang digenggam Arya. Ia tahu suaminya saat ini sedang kesakitan, itu dapat dirasakan karena Arya bergetar hebat menahan rasa sakit itu.


Keduanya menangis bersama.


"Kau menyiksa dirimu sendiri." Ucap Dini sambil menangis


"Tak ada yang lebih menyiksa selain tanganku ini tidak bisa menyentuh mu lagi." Balas Arya


Hiks...Hiks...


Tangisnya terdengar sesak. Dini tak mampu mengelak, dan sangat malu pada suaminya.


Tangan kanan yang tidak terpasang infus. Mencoba untuk terangkat menggenggam tangan suaminya.


Ia melihat bagaimana tangannya itu terluka. Dua buah luka memar tepat ada di jari tangannya yang masih merah menghitam.



"Ini pasti sangat sakit, bukan. Kau pasti melukai dirimu sendiri. Kenapa, Apa kau bertengkar dengan tahanan lain?" Tanya Dini sendu


"Mungkin kelihatannya sangat menyakitkan. Tapi ini tak seberapa bagiku. Aku kerap kali membenturkan diri, memukul dinding penjara, menganggap dunia sudah tidak adil pada kita." Pungkas Arya mengadu pada Dini yang tak hentinya mengeluarkan air mata


Dini menangis, namun terdengar tertawa. Ia tertawa di sela menangisnya.


"Dunia sangat baik pada kita. Aku masih bisa melihatmu walaupun sudah tidak ada harapan kau bisa datang." Kata Dini dengan tertawa menganggap sama bahwa Dunia memang tidak adil dan ini adalah lelucon


"Aku akan meniupnya. Lukamu ini dipastikan akan langsung hilang seketika. Tanganmu tidak akan ada bekas merah lagi." Ucap Dini bercanda, ia masih bisa mengajaknya untuk bercanda seakan dunia baik-baik saja


Arya menghapus air matanya. Ia cukup terhibur bahkan ikut tertawa akibat candaan Dini di sela tangisnya.


Mereka merindukan moment ini, di mana saat mereka bisa tertawa dan bercanda bersama.


Arya membungkukkan badannya untuk mencium pucuk rambut Dini. Ciumannya dengan jangka waktu yang sangat lama. Arya tak ingin menarik bibirnya dari kepala Dini, Berharap semua waktu tidak akan usai. Ia Mengenang masa-masa dulu dapat setiap hari merasakan bagaimana lembutnya ciuman itu.


Setelah mencium istrinya sangat lama, Arya beralih menatap perut wanita itu yang sudah besar. Ia juga melakukan hal yang sama, mencium bayi di dalamnya sangat lama. Kecupan dari seorang ayah yang tidak sabar menunggu kelahirannya.


Dini mengangguk cepat dengan bahagia saat Arya mencium perutnya.


"Aku pasti akan menantikan kelahirannya. Semua akan baik-baik saja karena aku sudah datang dan akan menemani persalinan mu." Ucap Arya demikian, lupa pada batas waktu yang ditetapkan sampai kapan ia bisa keluar


Dini hanya terus memasang senyum getirnya. Ia mengangguk sebagai jawaban.


"Akan lahir anak perempuan yang mirip denganmu! Sangat kuat dan baik hati." Ucap Arya terdengar indah keluar dari mulutnya. Sedari dulu ia selalu yakin bahwa Dini akan melahirkan anak perempuan di tengah keluarganya.


Di saat kebersamaan mereka, terdengar riuh suara larangan yang menahan untuk masuk. Bu Amira sepertinya sedang mengalami masalah.


"Saya mohon pak, mereka baru saja bertemu dan mungkin saling mengobati rasa rindu. Arya baru saja datang dan kalian ingin memintanya kembali, Saya mohon beri waktu sebentar lagi." Ucap Bu Amira memohon di luar sana


Mereka melihat bagaimana tubuh seorang ibu itu dihempas menjauh agar tidak menghalangi jalan mereka.


Kedua polisi tengah menghampiri ruangan Dini. Mereka masuk dan menarik Arya untuk segera pergi. Mengatakan bahwa waktu untuk keluar telah habis.


"Arya, segera kembali ke penjara. Waktumu untuk berkunjung telah habis." Ucap Polisi dan satu polisi lainnya sibuk menarik Arya untuk dibawa keluar


Deg!


Hati yang saling menolak sedang membakar jiwa penolakan mereka. Arya sudah berjanji untuk menemani persalinan istrinya hingga anak mereka bisa lahir, itulah kedatangan Arya yang sebenarnya.


Polisi datang menghancurkan mimpi yang telah di ukir, mengatakan bahwa Arya harus segera kembali dan waktu yang diberikan tak cukup untuk mengobati rasa rindu mereka.


"Tidak. Istriku akan melahirkan sebentar lagi. Bagaimana mungkin kalian bisa berpikir aku akan meninggalkan istriku berjuang sendirian. Aku suaminya datang untuk menyambut kelahiran anak kami." Protes Arya menggertak


"Peraturan tetaplah peraturan, kami sudah menetapkan jadwal berkunjung mu menatap dunia luar. Dan sekarang waktunya sudah habis, kau harus segera kembali ke penjara. Perlu diingat bahwa statusmu saat ini adalah narapidana, tempatmu bukan dunia bebas lagi." Geram polisi itu

__ADS_1


Dini semakin memegang tangan Arya sangat kuat tak ingin terlepas untuk ia pergi.


"Cepat bawa dia!" Titah polisi


Satu polisi lain telah menarik Arya semakin kuat. Terjadi tarik menarik antar Dini dan polisi itu yang satunya tidak ingin pria itu pergi.


"Tidak. Tolong biarkan suamiku di sini sampai dia bisa melihat anaknya yang lahir untuk pertama kali. Waktu yang kalian berikan tak cukup, kami baru saja berbicara, Jangan bawa dia untuk saat ini! Aku mohon pada kalian..." Teriak Dini meminta


Benar waktu yang diberikan polisi pada Arya untuk menemui Dini tak cukup. Waktu itu habis dipergunakan perjalanan hampir selama 1 jam menuju pusat kota.


Permintaan Dini tidak digubris satu pun oleh polisi. Mereka terus memaksa Arya dengan menariknya.


Genggaman erat tangan itu merenggang, semakin cepat Arya tertarik jauh darinya.



Sialnya polisi berhasil menarik Arya pergi, mereka membawa Arya jauh dari Dini.


Dini berteriak histeris hingga hampir saja ia terjatuh dari atas ranjang, berniat untuk menahan suaminya tetap ada di sana. Namun, untunglah Bu Amira datang, membiarkan Dini untuk terbaring lagi dan menenangkannya.


Tiba pada akhirnya, Dini kembali kesakitan di perutnya bahkan lebih sakit dari sebelumnya.


Arrrrrrgghhh...


Ia berteriak kesakitan dan meringis terdengar pedih.


Bu Amira sangat cemas dan menekan tombol untuk memanggil Dokter. Tak kunjung lama Dokter dan suster datang untuk menangani Dini.


Suster memasangkan masker oksigen pada Dini sesuai instruksi dari dokter jika keadaannya saat ini kritis.


Terlihat Arya yang berada di depan pintu masuk masih menahan diri memberontak untuk pergi. Ia menyaksikan bagaimana istrinya berteriak kesakitan dan suster yang memasangkan masker oksigen di dalam. Ingin sekali masuk menghampiri Dini lagi.


Bu Amira yang di dalam dan Arya di luar terlihat cemas mereka takut jika terjadi sesuatu pada Dini. Tapi Dini terlihat begitu tabah dalam kesakitannya.


Tiba-tiba sebuah tangan memakai gelang menyambut tangan Dini dan menggenggamnya, Bu Amira menggantikan Arya sebagai pendamping untuk memberikan dukungan pada Dini yang akan melahirkan.


Dokter sudah mengerahkan para susternya untuk melakukan persalinan saat ini. Dini, sudah memasuki pembukaan sepuluh, dan dia harus segera melahirkan. Dini lalu mengejan dengan dikelilingi oleh para tim medis, mereka semua memberi semangat pada Dini agar tidak putus asa dan terus berusaha.


Dini menarik napas dalam-dalam lalu melepaskannya. Semua orang menunggu dengan cemas dan terus memberi semangat.


Di sisi lain, seorang pria tengah ditarik kuat untuk pergi dari sana. Arya sempat sekilas bagaimana istrinya itu sedang berjuang. Keringat terus keluar mencucuri tubuhnya. Melihat bagaimana genggaman tangan meremas itu menunjukkan rasa sakit yang tengah di derita istrinya.


Pandangan itu perlahan hilang dan tak nampak lagi dari mata. Polisi telah berhasil menarik Arya jauh dari sana membawa ia keluar untuk masuk ke mobil. Segala sesuatu yang terjadi pada istrinya di sana, tidak ia dapatkan lagi.


Akhirnya Dini dan Arya pun berpisah.


Waktu kembali hampa dan terhenti begitu lamanya.


Di dalam tengah ada seorang wanita yang berjuang untuk melahirkan seorang anak ke dunia ini.


Mobil itu dilajukan, melanjutkan perjalanan kembali dan menghilang dari rumah sakit.


Setelah berkali-kali mengejan akhirnya terdengar tangisan bayi, semua menarik nafas lega saat ini.


Para wanita lalu menatap bayi yang baru lahir itu dengan senang, Dokter menyerahkan bayi itu pada suster untuk dibersihkan dan memberitahunya bahwa bayinya perempuan.


Bu Amira menyambut bayi itu dengan senyum bahagia, semua orang memuji bayi Dini yang cantik dan imut.


Namun, Dini terkulai lemas, terlihat menutup mata tak sadarkan diri saat berhasil melahirkan putrinya. Detak jantungnya pun melemah.


Bu Amira pun kembali cemas melihat menantunya yang tak sadarkan diri. Dokter segera memberi instruksi cepat untuk menangani Dini lebih dulu. Sedangkan satu suster, tengah membawa bayi itu keluar jauh dari ibunya untuk dibersihkan segera.


Suasana semakin kelabu. Apa yang terjadi dengan Dini? Ia tidak sadarkan diri dan dokter tengah berusaha menanganinya.

__ADS_1


Setelah hari itu, tidak ada kabar yang didapatkan lagi, setiap hari menanti berharap seseorang datang mengatakan sebuah kabar mengenai istrinya.


Pada akhirnya semua berlalu, mengharapkan penantian yang tidak kunjung datang juga...


__ADS_2