Terbelenggu Oleh CEO Angkuh

Terbelenggu Oleh CEO Angkuh
S2 20 - Menghindar


__ADS_3

Masih berada di sekolah Arsen.


"Arsen,,," Panggil Gino yang baru datang dan menghampiri


Arsen hanya melirik tanpa menyapa kembali. Tetap seperti Arya junior yang dingin dan diidolakan para wanita dewasa.


"Tuan Arya!" Sapa bibi Gino yang sudah berada dihadapan Arya secara tiba-tiba dengan raut wajah berseri


Arya sampai terlonjak dari diamnya melihat seorang wanita yang berdiri dihadapannya dalam sekejap.


"Bibi, keberuntungan untuk bibi hari ini karena dapat bertemu idola bibi." Ujar Gino menimpal


"Benarkan, Ayah menggunakan nama Ansel hanya untuk mencari alasan. buktinya bibi Gino datang mengantarkan setelah sekian lama hanya untuk memenuhi perjanjian yang mereka buat. Urusan orang dewasa memang tak pernah selesai." Celetuk Arsen dalam hatinya kesal


"Iya benar, suatu kehormatan bagi saya dapat bertemu dengan Tuan Arya yang sangat tampan di sini. Akhirnya saya bisa bertemu dengan anda juga." Ucap bibinya Gino dengan nada suara di lembut-lembutkan


"Agh... I-iya." Ucap Arya jadi gugup


"Tuan Arya kebetulan sekali mengantarkan Arsen. Saya pun kebetulan kembali mengantarkan Gino ke sekolahnya setelah sudah lama tidak. Mungkinkah ini terjadi karena kita berdua jodoh. Orang mengatakan jodoh saling bertemu dengan pertemuan yang tidak di sangka-sangka." Ucapnya sambil terus mendekati Arya, sedangkan ia malah menghindar


"M-mungkin hanya kebetulan saja. Saya sendiri tidak memiliki niat untuk bertemu dengan anda." Jawab Arya sedikit pedas


"Hhh... Tuan Arya terlalu kaku berbicara pada seorang wanita. Saya yang terlalu agresif menjadi sangat malu. Tapi kita berdua sangat cocok, jika sampai menikah nanti mungkin hidup Tuan akan lebih berwarna karena pribadi saya sangat periang."


"Aghh... Iya,,, lya..." Ujar Arya panas dingin dengan bibinya Gino yang terus mendekatkan diri pada tubuhnya


"Iya? Itu tandanya Tuan juga setuju saya akan menjadi ibunya Arsen."


"Bukan... Bukan... Maksud saya adalah,,," Terhenti


"Tuan Arya tidak perlu mengelak. Saya tahu saya adalah wanita yang sangat cantik dan juga seksi. Tapi jangan kecewa dengan usia ku yang sudah 40 tahun dan statusku janda."


"Anda seorang janda??" Terkejut Arya


"Tuh kan... Saya sudah menduga Tuan pasti akan terkejut dan kecewa pada saya. Tapi kejujuran berada di atas kebenaran, lebih baik jujur daripada menyesal di akhir. Aku adalah korban perselingkuhan, suamiku lebih memilih istri muda dibandingkan istri yang menemaninya dari nol." Malah curahan hatinya berkata


Lalu, Menambahkan


"Tapi Tuan Arya tidak perlu khawatir. walaupun kita terpaut usia yang jauh dan kau lebih muda dariku, Berpenampilan seperti ini masih terlihat seperti remaja. dan masalah urusan ranjang aku masih ahli untuk memuaskan mu dan kita bisa memiliki anak pertama karena suamiku sendiri dulu tidak pernah menyentuh ku." Ujarnya terlalu vulgar


Membuat Arya yang mendengarkan beraut wajah memerah dan tegang.


"Ma-maaf nyonya, Sepertinya perkataan anda terlalu dewasa. Anda harus memperhatikan jika disekitar ini ada anak-anak. mereka tidak sepantasnya mendengar perkataan itu." Ujar Arya menasihati


"Ahhh... Manis sekali. Kau adalah ayah yang sangat perhatian. Tapi lain kali tidak perlu memanggilku dengan nyonya, aku tidak setua itu." Goda bibinya Gino pada Arya yang tidak lepas dari rasa menyesal dan ingin menyentuh Arya sampai ia sendiri melanggar larangan dengan menyentuh pipi Arya


Arrghhh...


Hanya sedikit sentuhan kulit, Tubuh Arya langsung merespon sentuhan wanita menjadi kesakitan dan sedikit muncul ruam kemerahan.


"Ada apa,,, Ada apa? Apa aku menyakitimu?" Syok bibinya Gino mendengar Arya mengerang


"Tidak masalah, Tolong jangan mendekat..." Ucap Arya sambil menjauh


"Tapi Tuan Arya sendiri mengerang seolah sedang kesakitan tadi. Perasaan ku mendadak khawatir."


Bibirnya Gino yang tidak tahu menahu merasa bersalah pada Arya. Selain itu, ia juga sangat khawatir pada pria yang dikaguminya itu.

__ADS_1


Dari kejauhan mobil berwarna hitam telah berhenti dengan memampangkan Ansel yang turun dari mobil.


"Ibu, Arsen dan Gino juga sudah datang. Aku akan langsung menghampiri mereka, Ya."


"Tunggu Ansel!" Pekik Dini menahan putranya


"Ada apa Bu? Aku akan pergi lebih dulu, ibu juga akan ke sana untuk memberikan kotak makan itu pada Arsen, kan? Kebetulan bibinya Gino dan juga paman tampan ada di sini, ibu bisa bergabung untuk berbincang." Tanya Ansel berbalik saat hendak berlari menghampiri kedua temannya


"E-emm... Sepertinya ibu titipkan kotak makan ini padamu untuk diberikan pada Arsen saja, Ya."


"Kenapa Bu? Ibu sendiri yang mengatakan akan memberikannya langsung pada Arsen." Ujar Ansel


"Masalahnya di sana ada pria yang ku hindari. Aku tidak mungkin muncul dihadapannya dalam keadaan seperti ini di sini. Kejadian kemarin sudah cukup bagiku untuk tidak berhubungan lagi dengannya." Ujar Dini dalam hati yang menyadari jika Arya berada di sana juga


"Eh aku lupa, di sana terdapat paman tampan. ibu kan menghindari dia." Ucap Ansel menyadari


Niat hati ingin sekali bertemu dengan putranya Arsen, terhalang oleh kehadiran ayahnya di sana yang akan menghancurkan segalanya.


"Emm... Ibu harus segera pergi ke rumah sakit karena sudah banyak pasien di sana. Jadi, ibu titipkan padamu saja, Ya." Meminta pertolongan Dini pada putranya


"Baiklah, Aku akan memberikan kotak makan ini pada Arsen. lain kali jika ibu tidak sibuk, dan tidak ada paman tampan, ibu bisa bertemu dengannya." Ujar Ansel anak yang sangat baik dan mengerti keadaan orang tua


"Iya. Ibu ucapkan banyak terima kasih pada putraku yang sangat baik ini. Maafkan ibu yang merepotkan mu, Ya."


"Ini hanya hal kecil, ibu tidak perlu mengatakan terima kasih pada seorang anak. Ini adalah kewajiban anak untuk membantu orang tua." Jawab Ansel


Dini pun tersenyum dan membanjiri Ansel dengan kecupan untuk pergi belajar.


Ansel mengambil kotak makan untuk Arsen sekaligus miliknya dan segera bergegas menghampiri kedua temannya.


Dini kembali masuk ke dalam mobil dan menyaksikan sebentar Arya yang terlihat bersama dengan wanita yang diyakini bukan Valerie.


"Aku tidak tahu apakah kejahatan Valerie sudah terbongkar atau belum. Aku harap keadaan sepasang suami istri yang saling mencintai itu baik-baik saja." Lanjut Dini


"Jika pun tidak, Dia tetap menjadi pria angkuh yang membanggakan ketampanannya dengan dipergunakan untuk menarik wanita. Dia sama saja Arya yang playboy... Apa mereka tidak tahu jika mereka sedang dijadikan tontonan anak-anak. Bisa-bisanya dia berdekatan dengan wanita dihadapan putraku." Cetus Dini kesal pada Arya


la melihat kemesraan Arya dan juga bibinya Gino yang terlihat sedang meniup pipi Arya.


Tanpa keterangan jelas Dini sangat marah. Daripada semakin emosi ia pun segera pergi melajukan mobilnya ke rumah sakit sebelum Arya melihat keberadaannya.


"Biarkan aku obati lukamu ini dengan meniupnya. aku yakin kau akan langsung sembuh dengan hembusan angin cinta yang keluar dari mulutku ini." Goda terus bibinya Gino


"Ti-tidak perlu nyonya, se-sebaiknya anda pulang saja karena anak-anak akan segera masuk." Gugup Arya terus menghindar


"Tapi katakan lebih dulu apa yang terjadi dengan pipimu. sekarang sedikit memerah padahal tadi tidak, maka dari itu ini muncul secara tiba-tiba."


"Bukan masalah. sebentar saja nanti akan sembuh."


"Sepertinya kau alergi panas matahari, Ya. memang pagi ini sangat cerah dan matahari sudah bersinar terik. Tandanya alam mendukung pertemuan kita. Sayang sekali wajah tampan mu jadi seperti ini."


"Tidak perlu menyalahkan alam." Ujar Arya dingin


"Lain kali aku akan membawakan payung untukmu, Ya. agar kau tidak kepanasan dan kulitmu terbakar."


"Terima Kasih atas tawaranmu." Ujar Arya bergegas menghindar saat matanya mendapati Ansel yang datang menghampiri mereka


"Ansel, Kau baru datang?" Sapa Arya

__ADS_1


"Iya paman tampan, Aku datang tidak tepat waktu terkadang terlalu pagi dan terkadang kesiangan. Paman tampan sendiri mengantarkan Arsen, Ya." Jawab Ansel


"Iya. Kau datang sendiri?" Tanya Arya


"Aku da..." Perkataannya terhenti


Ansel berpikir sejenak berbicara dalam hati.


"Tidak, Ini adalah pertanyaan menjebak. Arsen sangatlah cerdas, Ayahnya pasti lebih cerdas. Paman tampan pasti sedang bertanya mengenai ibu. Ibu sangat takut dengan paman tampan, aku tidak mungkin memberitahu keberadaan ibu padanya." Gumam Ansel


"Maksudku... Tidak paman tampan. Aku datang diantarkan oleh nenek ku. Dan nenek sudah kembali setelah mengantarkan aku di sana." Jawab Ansel demikian sambil menunjukkan tempat dia turun dari mobil


"Jadi, ibu mertua yang mengantarkan Ansel ke sini. Apakah karena Dini menduga jika aku akan berada di sini, dia tidak jadi mengantarkan Ansel ke sekolah. Hanya karena takut bertemu denganku..."


Arya pun sedikit kecewa hari ini Dini tidaklah datang mengantarkan Ansel ke sekolah. Padahal dengan dia mengantarkan Arsen, lalu dapat bertemu dengan Dini adalah sebuah kesempatan baginya.


"Baiklah. Jam pelajaran akan segera di mulai, sebaiknya kalian bertiga segera masuk."


"Baik Paman..." Jawab Gino dan Ansel


"Dan Arsen, mungkin saat kau pulang sekolah nanti, Ayah tidak akan menjemputmu. Ayah akan hanya mengantarkan mu saja ke sekolah setiap hari. Nanti ayah akan beri tahu Pak Ari untuk menjemput mu." Ujar Arya pada anaknya


"Aku tidak perduli. lebih baik ayah sibuk bekerja di kantor daripada harus memperdulikan aku." Cela Arsen yang masih marah akibat kelakuan Arya bersama bibinya Gino tadi


Arsen langsung pergi masuk menuju kelas. meninggalkan kedua temannya.


"Baiklah paman, kami akan segera masuk. Sampai jumpa kembali. Dan jangan lupa bawa bibiku bersama mu. Ayo Ansel..." Goda Gino yang membuat kepercayadirian bibinya meningkat dan tersipu malu


"Ahh,,, Gino keponakan ku tersayang... Kau bisa saja menggoda bibi mu ini. Tolong jangan ingin membawaku bersama denganmu, Tuan bisa membawaku setelah menikah." Ujarnya


Arya sangat geli mendengar bibinya Gino bicara yang tidak ada habisnya yang terobsesi pada dirinya.


"Maaf permisi, Saya harus pergi ke perusahaan sekarang." Pamit Arya


"Baiklah... Semangat bekerja untuk menafkahi anak-anak kita nanti." Terus godanya sampai Arya keleyengan menanggapi tante-tante yang menggodanya


Dengan cepat Arya menambah kecepatan jalannya yang masih terlihat gagah walaupun dalam situasi kondisi mendesak. la masuk ke dalam mobil dan akhirnya bisa bernafas dengan lega.


Terlihat bibinya Gino masih menatap kepergian mobil Arya yang sudah menjauh sambil melambaikan tangannya.


"Arrghh... Tampannya suamiku..." Pekiknya sambil melompat-lompat kecil senang dan segera masuk mobilnya untuk pulang


"Arsen tunggu, Kau meninggalkan kami setelah marah ada ayah mu." Ujar Gino bersama Ansel yang berlari menghampiri Arsen


"Apa yang sudah membuatnya marah?" Tanya Ansel yang kedapatan terlambat datang sehingga tidak tahu apa yang terjadi


"Hahaha... Dia sepertinya marah karena bibiku menggoda ayahnya tadi." Tawa Gino yang nyaring


"Lain kali bibi mu tidak perlu mengantarkan mu lagi." Ketus Arsen masih terlihat masam


"Bukan bibiku yang salah. Ayahmu saja yang membuat penasaran kenapa tiba-tiba mengantarkan mu."


"Wajah bibi mu sangat tebal memakai make up tadi..." Cela Ansel


"Hahaha... Kalian berdua ternyata sama-sama mempermasalahkan make up bibiku yang tebal rupanya. Tidak perlu heran, dia merias wajahnya seperti itu hanya untuk menutupi wajahnya yang sudah berkerut." Ejek Gino pada bibinya itu


"Bibi mu sudah tua!" Cela Ansel

__ADS_1


Gino pun tidak bisa menghentikan tawanya. la tertawa bersama dengan Ansel yang menganggapnya lucu. Sangat berbeda dengan Arsen yang selalu berekspresi datar dan sama sekali tidak menariknya ikut tertawa.


__ADS_2