Terbelenggu Oleh CEO Angkuh

Terbelenggu Oleh CEO Angkuh
138. Bukan Calon Ibu Yang Baik


__ADS_3

Setelah mengantarkan Dini dan ibunya pulang, Darwin langsung pergi ke perusahaannya. Kali ini dia masuk ke perusahaan dengan terlambat tidak seperti biasanya. Dia terlihat tidak bersemangat kali ini, bahkan semua karyawan pun heran melihat Darwin yang sama sekali tidak menyapa atau menyahut saat mereka menyapanya. Dalam sekejap dia menjelma seperti kakaknya yang dingin kepada orang lain. Padahal Darwin sering bersenda gurau, ramah, humoris pada siapa saja. Tapi kali ini, Dia sudah membuat orang penasaran.


Dalam ruangan tempat dia bekerja yang duduk di kursi singgasananya, Pekerjaanya kali ini tidaklah berjalan dengan lancar. Dalam pikiran dan telinganya terngiang-ngiang akan dokter yang berbicara tadi di rumah sakit.


"Selamat Tuan, Anda akan menjadi seorang Ayah!"


"Usia kehamilannya saat ini menginjak 7 Minggu."


"Apa saya bisa berbicara dengan suaminya?"


"Selamat Tuan. Selamat. Usianya 7 Minggu."


Kalimat itu yang mengganggu kepalanya yang terus terngiang-ngiang mengganggu konsentrasinya.


Aggghhhh...


Darwin melempar berkas yang sedang ia kerjakan sampai berterbangan dan berhamburan di mana-mana.


"Kenapa? Kenapa dia sudah menyentuh wanita itu? KENAPAA??" Gertak Darwin sangat marah. Uratnya mengeras dan meremang, meremas kertas menahan amarah yang ingin ia luapkan.


"Kenapa kau mengkhianati ku, Din. Kenapa??" Sesal Darwin sampai mengeluarkan air mata karena terpukul mendengar kehamilan wanita yang ia cintai dan kini tengah mengandung


"Presdir, Apa yang terjadi??" Ujar Fariz terdengar bergetar, ia datang karena mendengar suara teriakan dari ruangan Darwin


Melihat orang lain datang dengan wajah dan mata emosinya, membuat Darwin sedikit mengontrol kan emosinya.


"Apa yang terjadi dengan ruangan ini? kenapa kertas ini berserakan di mana-mana?" Kata Fariz


"Bereskan ruangan ini! Aku tidak ingin tahu 15 menit aku kembali, semua sudah kembali rapi seperti semula." Kata Darwin dingin dan pergi meninggalkan ruangannya tanpa ingin berkata banyak


"Aku baru melihat Presdir Darwin yang marah. Padahal dia selalu ceria dengan tingkah lakunya yang sering membuat orang terhibur. Sepertinya ada hal yang membuat dia kecewa sampai marah seperti itu." Kata Fariz melihat atasannya pergi dengan amarah


...***...


Sore hari sekali tepat pukul 16.00 WiB, Dini memutuskan kembali ke rumah Arya karena takut menjadi bahan amukan jika ia tidak kunjung pulang.


Baru saja ingin menginjakkan kaki kanannya menapak di anak tangga bawah pertama. Dua makhluk halus datang menghampiri.


"Dari mana saja kau? Sore hari kau baru pulang. Enak sekali hidupmu." Hardik Valerie


"Aku berkunjung ke mansion Ibu. Dia memintaku untuk datang ke sana." Jawab Dini dingin


"Aku pikir kau pergi untuk menemui selingkuhan mu. Tidak apa, kau bisa bersembunyi di balik kata menemui ibu." Cela Valerie

__ADS_1


"Maaf, Saya tidak memiliki waktu untuk berdebat dengan anda." Jawab Dini yang mulai melangkahkan kakinya dan pergi ke kamarnya yang sampai kini masih bersama Arya


Dan ia tidak akan menempatinya lama. mungkin beberapa waktu lagi ia akan dipindahkan ke kamar lain dan kamar Arya akan ditinggali bersama Valerie.


"Ibu lihat sendiri kan, Bu. Bagaimana sikapnya saat ini? Jika dia berani, bagaimana cara ku untuk memberikan pelajaran pada dia!?" Kesal Valerie


"Kau tenang saja! Ibu sudah ada di sini untuk mengatasi segalanya. Percayakan pada ibu, bahwa keberaniannya tidak akan bertahan lama."


"Aku percaya pada ibu. Aku serahkan semuanya padamu." Ucap Valerie menyunggingkan senyum


Setelah membersihkan diri, Dini hanya berdiam diri di kamar, duduk di ranjang. Tubuh dan pikirannya saat ini sangat lelah.


Tak lama Arya pun pulang bekerja lebih awal. Saat itu ia langsung disambut oleh Valerie, Otomatis sebagai rasa rindunya yang tidak bertemu selama beberapa jam, Arya langsung mencium kening Valerie tidak lupa dengan mengecup perut Valerie yang sudah besar.


"Bagaimana harimu hari ini?" Kata Arya


"Semuanya baik saat ibu ada bersamaku. Dia yang membantu dan mengurus keperluan ku." Jawab Valerie


"Baguslah. Aku senang kau tidak mengeluh lagi."


"Aku akan membersihkan diri lebih dulu. Setelah itu, aku akan menemui mu."


"Baiklah, aku akan menunggumu." Jawab Valerie


Hoekkk...Hoekk...


Terdengar dari luar kamarnya saat Arya ingin masuk ke kamar, suara yang sedang mual.


Karena bingung Arya sampai mengernyitkan alisnya.


Ia pun masuk dan sumbernya berasal dari dalam kamar mandi.


"Siapa yang sedang muntah? Apa wanita itu sakit?" Ucap Arya


Tanpa memikirkan hal lain, ia masuk ke dalam kamar mandi yang luas tanpa pintu yang dikunci.


Saat masuk pun sudah menampakkan Dini yang sedang berjuang mengeluarkan muntahnya.


Ohokk...ohokk...


Dini terbatuk-batuk saat sudah selesai memuntahkan semua makanan isi perutnya.


"Apa yang kau lakukan?" Nada tinggi Arya seketika menggema

__ADS_1


Dini terkesiap mendengar suara meninggi itu.


"Apa ini kamar mandi mu? Sehingga kau bebas menggunakan nya?" Hardik Arya


Dini hanya menundukkan kepala saat di marahi.


"Kau sudah mengotori kamar mandi ku dengan muntah mu itu. Kamarku menjadi kotor dan bau hanya karena mu."


"Maafkan aku, Tuan." Ucap Dini bersedih


"Jika kau sakit, kau bisa pergi ke dokter untuk di periksa. Bukannya malah muntah dan mengotori rumahku." Hardik Arya tidak ada hentinya


"Akan saya bersihkan nanti." Jawab Dini


Tck,,,


Arya mendengus kesal pergi keluar kamar mandi itu setelah puas mencaci.


Hiks...hiks...


"Maafkan ibumu ini, Nak. Maafkan ibu tidak memberitahu pada ayahmu sendiri tentang kehadiran mu saat ini." Terisak Dini menangis


"Kau harus merasakan kehidupan pahit yang ibu alami hingga kini. Kau juga menerima imbasnya dengan dimarahi oleh ayahmu. tumbuh dalam rahimku bukan hal yang indah, kau tidak akan tumbuh seperti janin lain yang mendapatkan kasih sayang dari ayahmu selama dalam kandungan."


"Ibu tidak bisa menjadi calon ibu yang baik untukmu! Lalu, kenapa kau harus hadir dan tumbuh dalam rahimku?" Masih terisak sambil mengelus perutnya yang masih rata


Di luar~


"Wanita itu selalu membuatku darah tinggi. Dia tidak pernah bisa membuat hidupku tenang sehari saja." Cetus Arya marah-marah


"Kau belum mandi? Bajumu juga belum diganti." Tanya Valerie yang menghampiri


"Tekanan darahku naik melihat perbuatannya. Kau tidak tahu wanita itu muntah dan mengotori kamar mandi ku." Mengadu Arya pada Valerie


"Apa? Dia muntah. iwyuhh... menjijikan. Dia adalah wanita jorok yang baru aku temui." Cela Valerie juga


"Aku memutuskan untuk mu yang tinggal di kamar ku saja untuk selamanya. Akan ku pindahkan dia ke kamar lain. Jika hari ini dia mengotori kamarku, bisa saja besok dia akan membakar kamar itu." Kesal Arya


"Ini yang aku tunggu. Dari dulu aku selalu berharap jika kau memintaku untuk tidur bersamamu."


"Pindahkan barang-barangmu ke kamarku. Kau yang akan menempatinya di sana." Pinta Arya


Setelah memberikan pernyataannya, dia pergi ke kamar mandi lain untuk membersihkan tubuhnya.

__ADS_1


__ADS_2