Terbelenggu Oleh CEO Angkuh

Terbelenggu Oleh CEO Angkuh
202. Perpisahan


__ADS_3

"Sebagai tanda perjanjian dari awal, Kita akan berpisah!" Ujar Dini


Arya menatap Dini dengan tidak menyangka, matanya tidak berkedip dalam waktu yang lama, tanpa sadar ia sendiri meneteskan air mata.


"K-kau ingin kita bercerai?" Tanya Arya terbata dan terisak


"Aku pikir kau yang menginginkannya, Tuan." Jawab Dini


"Kau bersungguh-sungguh?" Tanya Arya terus bertanya agar membuatnya yakin karena masih tidak menyangka


Dini mengangguk dengan masih tidak bisa menahan air matanya.


Sreekkk...


Arya merobek surat perceraiannya itu dihadapan Dini saat itu juga.


"Aku tidak akan pernah menceraikan mu sampai kapanpun." Ujar Arya, menjatuhkan surat yang sudah dirobek itu begitu saja di lantai


Dini bertanya-tanya dalam benaknya.


"Percuma saja Tuan merobek surat itu, karena aku tidak akan kembali pada Tuan."


"Tolong maafkan aku, bisakah kita mulai dari awal, aku sudah menyadarinya sekarang, aku ingin kita hidup bersama dengan menjamin semuanya akan baik-baik saja." Ucap Arya menggenggam tangan Dini


Valerie yang mendengar percakapan mereka terpekik, ia tidak bisa menerima perkataan Arya yang menyadari kesalahannya.


"Sudah terlambat, semua sudah tidak ada artinya lagi bagiku." Jawab Dini


"Semua masih berarti. Tunggu di sini dan jangan kemana-mana!" Arya berlari sangat kencang menaiki tangga


Dan saat turun, ia membawa bayinya kehadapan Dini.


"Masih ada harapan dan kebersamaan kita lebih berarti karena ada anak kita. apa kau tega membiarkan anakmu sendiri di sini? Kau bisa tinggal di sini dan merawat bayi kita bersama-sama." Ujar Arya memperlihatkan bayinya dekat dengan Dini


Dini pun tidak bisa melepas pandangan dari anaknya yang berada dekat dengannya.


"Kau ingin menggendongnya? Aku akan memberimu izin, anak kita juga ingin berada di dekapan ibunya." Ujar Arya mengulurkan bayinya pada Dini


Tangan Dini terangkat begitu saja dan ingin menggendong bayinya. ia ingin merasakan anaknya ada dalam dekapan dan pelukannya. Tangannya siap untuk meraih...


Namun...


"PERGI DARI SINI!!" Valerie datang sampai mendorong Dini dan hampir terjatuh


Harapan untuk menggendong bayinya, kini hilang sirna ditelan bumi.


"Apa kau sudah bodoh ingin memberikan dia kesempatan untuk menggendong bayinya." Hardik Valerie pada Arya

__ADS_1


"Apa yang salah? Dia pantas karena dia ibunya!" Ujar Arya


"Kenapa, hah? Karena kau sudah mencintai dia? Dihadapan ku kau ingin hidup bersama dia dan memulainya dari awal. Di mana perasaanmu dulu terhadap ku?" Tanya Valerie


"Aku tetap akan pergi walaupun kau tidak ingin menyetujui perceraian ini."


"Ti-tidak, Tidak bisa, kau tidak akan pergi kemana-mana." Kata Arya menahan Dini pergi dengan berair mata


Valerie mengambil bayi itu dalam gendongan Arya. Cemburu melihat Arya yang menahan Dini yang akan pergi.


Dia mengancam dengan akan menyakiti bayi Dini.


"Jika kau tidak ingin segera pergi dari sini. kau bisa melihat apa yang akan aku lakukan pada bayimu sekarang juga." Ancam Valerie


"Aku mohon jangan pergi meninggalkan aku dan anakmu. Aku sudah meminta maaf, mohon untuk dengarkan aku." Tangis Arya berlutut


"ARYA!! Untuk apa kau menahan dia, lepaskan dia, dan biarkan dia pergi dari sini." Ujar Valerie


"Aku tidak bisa jauh darimu. Aku mohon jangan pergi, ISTRIKUUU...!!"


Dini tak kuasa membendung air matanya. ia menangis melihat Arya yang bertekuk lutut memohon di kakinya.


"Jika kau tidak pergi sekarang juga, bayimu yang akan menjadi korban amarah ku! Pergiii..." Teriak Valerie mengangkat bayi Dini yang baru lahir dengan satu tangan dan siap dijatuhkan


"Ti-tidak, Jangan lakukan itu. Aku akan pergi sekarang juga!" Teriak Dini melihat anaknya dalam bahaya, lalu ia mendekat


"Aku tidak akan berbuat sesuatu untuk membahayakan anakku. Aku hanya ingin memberikan satu hal yang tertinggal ini untukmu..." Dini mendekati Valerie dan memberikan sebuah cincin padanya


Ya, Cincin itu adalah Blue safir yang menjadi saksi dan penyatuan pernikahannya dengan Arya.


Dengan sarkas Valerie mengambil cincin Blue safir itu dari tangan Dini.


"Dulu kau sangat menginginkan cincin itu, bukan? Tapi aku tidak bisa melepasnya dari jariku karena susah untuk dilepas. Tapi sekarang aku bisa melepasnya dan diberikan padamu. Aku bukanlah istrinya, kau lah istri yang sesungguhnya untuk Tuan, tolong jaga cincin itu baik-baik..." Ujar Dini


Valerie seketika menghentikan aktivitasnya ketika mendengar perkataan Dini.


"Tanpa kau minta, Aku akan menjaga Cincin ini baik-baik karena aku pemilik sesungguhnya cincin ini." Ujar Valerie


"Baiklah, Sudah tidak ada lagi beban yang ada di sini untuk kepergian ku. Aku akan pergi sekarang." Ujar Dini


"Apa yang kau katakan? Coba ulangi!"


"Ak-aku akan pergi... Aku akan pergi dari hidup kalian. Ak-ku akan melakukan apapun yang kalian inginkan. Ta-tapi tolong jangan sakiti bayiku. Hanya dia harta yang Aku miliki... Tolong jangan sakiti dia...” Dini berurai air mata. Wajahnya di penuhi dengan rasa putus asa.


Valerie puas mendengar jawaban Dini. ia kembali menggendong bayi itu dengan normal.


"Kau yakin, Kau akan melakukan apa saja?" Valerie kembali bertanya

__ADS_1


"ly-iya...Ak-aku akan melakukan apa saja... Tapi tolong jangan sakiti dia..."


Tujuan Valerie tercapai. Sebenarnya ia tidak benar-benar akan melakukan hal itu pada bayi Dini. ia hanya berniat menakut-nakuti wanita itu agar ingin memenuhi permintaannya dengan sukarela. Ia ingin Dini pergi jauh-jauh dan tidak akan pernah kembali. idenya untuk menggunakan bayi Dini sebagai kelemahan terbesar wanita itu ternyata berhasil.


"Baiklah, tunggu apa lagi segera pergi jauh dari sini. Jika kau kedapatan masih berada di negara ini, kau tidak akan tahu apa yang akan aku lakukan pada anakmu. pergi dari hidup kami, terutama Arya." Ujar Valerie


"Ya-ya, Aku bisa melakukannya. Dari awal aku akan pergi jauh dari sini." Dini menjawab dengan cepat


Valerie tersenyum senang...


"Aku tidak bisa kembali denganmu, dari awal aku sangat membenci dirimu. untuk apa kau meminta maaf, karena tidak berguna bagiku." Ujar Dini melepaskan tangan Arya dengan kasar yang menggenggamnya


Dini pergi meninggalkan rumah dengan sejuta kenangan pahit itu, bersama dengan orang tuanya, ia mendorong koper dan pergi jauh dari negara kelahirannya.


Tidak ingin menyerah, dan ingin mendapatkan kesempatan, Arya mengejar Dini sampai keluar. ia terus berteriak memanggil.


"Jangan pergiii... Aku mohon padamu jangan pergi dari sini untuk meninggalkan aku. Aku tidak bisa hidup tanpamu!!" Teriak Arya histeris dengan menangis


Dini terus berjalan tanpa menengok ke jalan raya untuk menaiki taksi.


Arya tersungkur ke tanah karena kakinya tak sanggup untuk mengejar lagi. ia hanya bisa berteriak terduduk di tanah melihat kepergian wanita yang sudah ia sesali itu sudah menaiki taksi dan sudah menjauh dari pandangannya, dan tidak tahu akan pergi kemana.


"AARRRGGHHHH!!!" Arya berteriak putus asa


Ungkapan rasa sedih, amarah, kecewa dan dendam menjadi satu. Melihat istri yang saat ini dia cintai kini telah pergi, Arya merasa separuh nyawanya telah di bawa pergi.


"AAARRRGGGGHHHH!!!" Jeritan putus asanya terus saja menggema di luar rumahnya itu


Air mata tampak keluar di sudut matanya. Bu Amira yang datang untuk melihat situasi kondisi, dan hanya mengintip di luar rumah karena tak sanggup melihat kepergian Dini, dengan tatapan kasihan, Laki-laki gagah, perkasa, tampan dan sangat pintar yang dikenalnya dalam waktu singkat berubah menjadi laki-laki menyedihkan yang meratapi kehilangan istrinya.


Bu Amira merasa sangat ber-empati. Meskipun laki-laki itu sangat jahat dan kejam, tapi perasaan yang di rasakan oleh Arya saat ini adalah nyata.


Ratapan kesedihan Arya masih terus terdengar. Menarik perhatian orang-orang sekitar.


"Dini sudah pergi jauh dari sini. Kapan aku bisa bertemu dengannya lagi? Dini pergi, Darwin pun pergi entah kemana!" Ucap Bu Amira menangis


Pilot dan co-pilot melajukan pesawatnya. Dini dan kedua orang tuanya menatap kota Jakarta di bawahnya dengan perasaan campur aduk. Kepalanya tidak bisa berhenti memikirkan sosok menyedihkan yang bersimpuh di lantai tadi dengan penuh kekalahan dan kekecewaan. Dan kesedihan meninggalkan anaknya pergi jauh, benar-benar melepaskan dia dari jangkauannya.


"Selamat tinggal Tuan Arya. Semoga hidupmu bahagia. Aku akan menggantikan mu untuk menjaganya. Aku harap kau akan memperlakukannya dengan baik. Hidup lah dengan bahagia. Lupakan semua masalah ini. Lupakan semua sakit hati dan kekecewaan mu. Hapus ingatan menyakitkan ini dari pikiranmu. Mari Kita hidup dengan tenang tanpa bersinggungan satu sama lain. Aku titipkan anakku padamu,,, Jaga dia baik-baik untukku." Dini berkata dalam hati dengan mengeluarkan air mata menghadap jendela luar


Kau menjadi satu di antara orang terbaik yang pernah ku temui. Perpisahan yang paling menyedihkan ialah ketika berpisah, namun hanya aku yang merasakan berat dan kehilangan. Semoga kau merindukanku seperti aku akan merindukanmu di sekitar sini. Aku belajar banyak darimu dan hati ku akan merindukan mu sampai kau akan kembali. _Arya


Terima kasih telah menjadi pendamping terbaik dalam perjalanan ini dengan mengajariku banyak hal dalam jangka panjang. Aku ingin menyimpan semua kenangan indah ini di hati ku dan melihat ke depan! Selamat tinggal! Selamat tinggal mungkin terasa selamanya. Perpisahan itu seperti akhir, tapi di hatiku ada kenangan dan kau akan selalu ada. _Dini


Lanjutkan perjuanganmu dan raihlah impianmu yang selama ini selalu kau ceritakan padaku. Sekarang sudah tiba waktunya kau berpisah, hidup dan perjalanan baru akan kau hadapi di masa mendatang.


Jangan melihat kebelakang, jadikanlah pengalaman! Tersenyumlah dan berhentilah menangis, karena air mata yang engkau teteskan hanya akan membuat kaki ku ini sulit untuk melangkah! _Darwin

__ADS_1


__ADS_2