
"Ansel, Karena kau akan tinggal di rumah paman, Itu artinya kau harus memiliki kamar untuk tidur. Dan ini adalah kamarmu!"
Ansel pun menatap kamar mewah itu dengan terkagum. Kamarnya begitu luas 2 kali lipat dari kamar miliknya.
Walaupun Darwin tidak jauh kaya dan rumah yang ia miliki beserta setiap ruangannya penuh kemegahan, Dini selalu mengajarkan Ansel mengenai kesederhanaan. Maka tidak heran jika dia masih saja melihat kemewahan yang lebih dari sebelumnya, Ansel akan terkagum!
Di kamar tersebut sudah terdapat Arsen yang sudah memakai piyama tidurnya. la juga tidak menyangka akan kedatangan Arya yang mengajak Ansel masuk ke dalam kamarnya, Apalagi mengetahui akan tidur bersama di kamar itu.
"Tapi ini adalah kamar Arsen. Paman tampan masih memiliki banyak kamar untuk ditempati oleh ku, bukan? Biarkan aku tidur sendiri saja." Ucap Ansel
"Ibumu pernah mengatakan jika kau tidak bisa tidur sendirian. Harus ada orang yang menemani, dan lagipula ranjangnya sangat besar muat untuk 5 orang ukuran anak-anak seperti kalian." Jelas Arya
"Aku akan tidur di kamar ibu saja. Tolong bawa aku ke kamar ibuku, paman!" Pinta Ansel
"Arsen, Kau bersedia berbagi kamar dengan Ansel?" Tanya Arya agar Arsen sendiri yang mengajak Ansel agar setuju
"Tidak! Masih banyak kamar di rumah ini. Biarkan dia tidur di kamarnya tidak denganku!" Ketus Arsen
Arya pun sedikit menyipitkan matanya yang membuat Arsen terintimidasi.
"Baiklah. Terserah ayah saja! Ansel, Ayo tidur denganku!" Mengerti Arsen yang memiliki kebatinan yang kuat dengan Arya sehingga hanya bersabar diri mengikuti keinginan ayahnya
Setelah mengatakan hal itu, Arsen marah. Dia segera beranjak berbaring di ranjang dan menyelimuti tubuhnya.
"Arsen saja sudah setuju. Kau tidak perlu khawatir mengenai dia, Hem..."
Ansel sangat senang Arsen yang ia anggap temannya itu akhirnya mengajak dia kembali setelah ribuan kata yang penuh kekasaran saat di sekolah.
"Baiklah. Karena Arsen sendiri yang mengajak ku, aku akan tidur kamar ini setiap malam bersama Arsen. Terima Kasih Paman tampan, Kau sangat baik." Ujar Ansel
__ADS_1
Arya pun pergi setelah membiarkan anaknya untuk berbagi kamar. Ini adalah bagian dari rencananya untuk menyatukan kakak beradik itu!
Dengan hati-hati Ansel menaiki ranjang itu untuk berbaring di samping Arsen yang terlihat sudah menyelimuti diri dan membelakanginya.
Ansel pun sudah berbaring menyelimuti tubuhnya dengan selimut yang disediakan masing-masing.
"Arsen, Apa kau sudah tidur?" Beraninya mulai bertanya kembali
Tidak ada jawaban apapun dari Arsen.
"Jika kau belum tidur dan masih bisa mendengar, Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih. Terima Kasih sudah mengizinkan paman untuk berbagi kamar denganku. Sebenarnya aku tahu rumah mu ini sangat besar, dan pasti masih banyak kamar lain. Aku sendiri sangat heran kenapa paman tampan membiarkan kita tidur bersama. Aku berjanji akan menjadi teman sekamar yang baik." Ujar Ansel
"Jangan berjanji! Kau tidak akan menepati janji mu itu. Dengan berbicara denganku saat ini, kau tidak bisa menjadi teman sekamar yang baik!" Ketus Arsen yang rupanya belum tertidur dan membalas perkataan Ansel
"Maaf. Baiklah, Kau boleh tidur sekarang. Aku tidak akan mengganggumu." Balas Ansel
Arsen sendiri sangat senang dalam keheningan, di mana tidak ada sumber suara sedikitpun yang mengganggu ketenangan jiwa dan raga yang akan membuatnya kesal.
"Kau tahu Arsen? Tidur seperti ini membuatku semakin memikirkan keinginan ku yang tidur dengan seorang kakak. Aku sering melihat film di mana kakak dan adik berbagi kamar." Ucap Ansel
Lalu, Menambahkan
"Sepertinya akan menyenangkan jika memiliki saudara. Apapun bisa dilakukan bersama-sama."
"Kakak!!" Refleks Ansel memanggil Arsen dengan sebutan kakak
"Berhentilah berbicara! Nyatanya kita adalah orang asing. Aku bukanlah kakakmu! Dan kau bukan adikku! Percayalah itu hanya ada di film, seharusnya orang tua membiarkan anak-anak mereka tidur di kamar terpisah." Balas Arsen
"Tapi aku belum bisa tidur. Biasanya ibu sering membacakan dongeng untukku ataupun terkadang aku berbincang dengannya sampai aku tertidur." Ucap Ansel
__ADS_1
"Apa sulitnya hanya tinggal menutup mata. Setelah itu, kau sendiri tidak akan sadar sudah tertidur malam tadi saat terbangun di pagi hari." Ketus Arsen
"Hem,,, Baiklah. Mungkin aku akan mulai terbiasa mengikuti cara tidur mu tanpa mendengarkan dongeng terlebih dahulu." Ujar Ansel mencoba memejamkan matanya kembali
Tanpa disadari, Dini sedang mengintip dari celah pintu kamar yang belum tertutup rapat mendengarkan perbincangan kedua anak kecil di malam hari. Hatinya terenyuh kala Ansel memanggil Arsen dengan sebutan kakak! Terlepas dari pengelakkan Arsen, bahwa memang benar ia adalah kakaknya Ansel!
"Ternyata kau di sini. Aku sudah menunggumu di kamar." Kata Arya yang memeluk Dini dari belakang
Dini menghapus air mata yang tidak disadari menetes.
"Bersabarlah. Sebentar lagi Mereka akan saling memanggil dengan sebutan kakak adik. Aku telah berusaha untuk menyatukan mu dengan Arsen dan juga mereka sebagai saudara." Ucap Arya
"Jangan! Sebelum mengetahui Ansel adalah adiknya, Arsen sudah membenci dia lebih dulu setelah mengetahui aku sebagai ibu Ansel ternyata adalah ibu kandungnya. Mungkin masih banyak pertanyaan dalam benak Arsen kenapa bisa menjadi seperti ini. mengetahui Ansel adalah anakku, mungkin akan muncul pertanyaan kenapa Ansel lebih beruntung darinya." Ujar Dini
"Seiring berjalannya waktu semua kebenaran akan terungkap. Sebaiknya sekarang tidur, karena anak-anak pun sudah tertidur. kita bisa melanjutkan sore tadi yang tertunda." Goda Arya mengecup bahu Dini
"Kita bukan suami istri. Aku tidak bisa tidur bersama denganmu." Tolak Dini
"Kau masih istriku! Siapa yang melarang suami istri untuk tidur bersama?" Ujar Arya bersikeras dan menarik Dini pergi ke kamarnya
Di Rumah Darwin.
Terlepas dari Dini dan Ansel yang kini tinggal di sebuah rumah milik Arya secara terpaksa. Keluarganya di rumah Darwin sangat mengkhawatirkan mereka berdua. Awalnya hanya Dini yang tidak bisa dihubungi dan dinyatakan hilang, sekarang Ansel pun mengikuti jejak ibunya yang membuat keluarga semakin khawatir mengenai keberadaan orang yang dicarinya.
Darwin sudah menduga jika ada dalang dibalik semua kejadian ini. Dini benar-benar tidak hilang, ia hanya sedang disembunyikan oleh seseorang yang ingin menjalankan ambisinya. Segera mungkin ia akan membawa Dini keluar dari tahanan orang itu!
Bagaimanapun selama tujuh tahun Darwin sudah banyak membantu. Hari-hari di negara orang lain tanpa status yang jelas mereka habiskan bersama seperti sebuah keluarga kecil yang sempurna!
Darwin dan Dini tidaklah menikah! Mereka hanya teman yang saling membantu. Berbeda dengan Darwin yang memiliki perasaan lebih dari sebagai teman. Ia sudah mencoba untuk mengungkapkan perasaan dan juga keinginannya untuk menikahi Dini. Namun, Dini belum bisa membuka hati pada pria lain dan memilih sebagai teman saja di saat anaknya Ansel memanggil serius Darwin adalah ayahnya!
__ADS_1