Terbelenggu Oleh CEO Angkuh

Terbelenggu Oleh CEO Angkuh
S2 29 - Menorehkan Luka Membekas


__ADS_3

"Aku tidak akan pernah menyakitimu. Aku juga tidak akan pernah melepaskan mu sampai kapanpun. Aku hanya meminta mu untuk kembali padaku." Ungkap Arya berjanji


"Tidak bisa. Aku tidak ingin kembali denganmu."


"Kau sendiri telah berbohong mengenai anak yang kau lahir kan. Siapa Ansel sebenarnya?" Tanya Arya mengeluarkan isi pemikirannya selama ini. Sejak pertama kalinya ia menyadari jika Dini sudah berada di dekatnya.


"Ansel adalah putraku!"


"Siapa ayahnya?"


"Kau adalah orang hebat yang sudah mencari segala informasi dari sejak awal, bukan? Dan informasi yang kau dapat adalah Ansel merupakan anakku dengan Tuan Darwin. Aku dan dia saling mencintai dan Ansel merupakan bentuk dari cinta kami. Aku sudah menikah dengan adikmu!" Pernyataan Dini pada Arya yang tidak bisa diterima begitu saja


"Kau bohong. Kau tidak mungkin menikah dengannya. Jangan jadikan Darwin sebagai alasan untuk pergi dariku." Sentak Arya


"Itulah alasan sebenarnya mengapa aku memang ingin pergi darimu dan kau melepaskan ku. Aku sudah menikah dan status ku adalah seorang istri untuknya, aku juga memiliki seorang anak darinya, dan itulah mengapa aku harus bertanggung jawab pada mereka." Ujar Dini


"Aku belum mendapatkan informasi apapun mengenai mu saat ini. Aku hanya melihat apa yang ku lihat hari ini, kau bersama Ansel dan juga Darwin, tapi aku tidak percaya akan kalian yang sudah menikah. Tapi secepatnya aku akan mendapatkan informasi mengenai mu jika apa yang kau katakan tadi adalah kebohongan saja."


"Terserah padamu saja. Aku hanya ingin kau melepaskan ku saja." Kata Dini


"Temuilah keluarga ku hanya sebentar saja. Aku yakin mereka akan senang melihat mu. Apalagi ibuku yang selalu menunggumu datang, dia adalah ibu mertua yang menyayangi mu lebih dari anaknya." Pinta Arya


Dini ingin sekali bertemu dengan Bu Amira dan yang lainnya. Tapi dia belum siap. Rasanya tidak ada nyali yang besar untuk muncul dihadapan mereka langsung saat ini. Ia hanya ingin menunggu waktu tiba yang membawanya bertemu dengan mereka.


"Maaf, Untuk saat ini aku tidak bisa." Ujar Dini yang melenggang pergi melewati Arya begitu saja


Arya sendiri tidak menghentikannya. la membiarkan Dini pergi tanpa ia cegah. Mungkin Dini masih membutuhkan waktu untuk jauh dari orang yang menyakitinya.


Beberapa kali penolakan ia dapatkan dari Dini. la cukup senang akhirnya bisa bercengkerama walaupun sepanjang pembicaraan hanya meluapkan kekesalan. la yakin ada waktunya takdir untuk menyatukan mereka kembali dan berbicara dari hati ke hati.

__ADS_1


"Arya dari mana saja? Kau melewatkan filmnya karena sudah selesai sekarang." Ujar Bu Amira yang tidak mengerti kondisinya saat ini


"Kita akan pulang sekarang." Ujar Arya melenggang mendahului mereka dan jalannya pun terlihat gusar membuat orang lain heran


Mereka berada di tempat yang sama, namun keluarga Pratama sama sekali tidak melihat keberadaan Darwin yang tidak luput dari pencarian mereka selama tujuh tahun ini. Terutama Bu Amira yang merasa kehilangan anaknya yakni Darwin yang tidak pernah ia temui lagi saat Dini melahirkan dan dia pergi entah kemana tanpa pamit.


"Ibu... Lama sekali di Toilet. Filmnya sampai sudah selesai. sayang sekali ibu tidak bisa menyaksikannya." Ujar Ansel yang telah menunggu di luar


"Dini... Kau kenapa? Kenapa kau seperti habis menangis?" Darwin pun turut bertanya


"A-aku tidak apa-apa." Balas Dini mencoba tersenyum agar Darwin tidak curiga


"Kau jangan berbohong. Jelas-jelas kau seperti habis menangis." Darwin merasa tak puas dengan jawaban Dini


"Benar... Ada apa denganmu, Bu?" Timpal Ansel menganggap demikian


"Dini..." Darwin pun turut mengeluarkan suara lembutnya hingga membuat Dini merasa bingung harus menjawab apa


"Aku benar-benar tidak apa-apa. Aku hanya merasa sedang tidak enak badan saat ini. Emm... Tuan... Bisakah kita pulang sekarang?" Tanya Dini pada Darwin karena saat ini tubuhnya benar-benar merasa lemas setelah berbicara kembali dengan masa lalunya setelah sekian lama mereka saling membisu


Darwin nampak menimbang-nimbang. Apalagi masih ada rencana lain yang harus ia lakukan selain menonton di bioskop.


"Jika Tuan tidak bisa tidak masalah, aku akan pulang naik taksi online saja. Kau dan Ansel bersenang-senang saja." Ucap Dini lagi


Darwin dengan cepat menggeleng. "Baiklah. kita akan pulang saja sekarang." Ucap Darwin dengan cepat lalu segera bangkit dari kursi tunggu


Selama dalam perjalanan pulang, Dini hanya diam sambil memeluk erat putranya yang kini tengah tertidur di pelukannya. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya menetes juga. Mengingat kembali pertemuan mereka yang berhasil membuat hatinya semakin terluka. Untung saja saat ini ia duduk di kursi penumpang sehingga Darwin tidak dapat melihat dengan jelas jika saat ini ia tengah menangis.


Rasa takut pun kini mulai menghantui Dini jika saja suatu saat nanti Darwin akan mengetahui sebuah fakta jika Ansel adalah anak kandungnya sedangkan ia belum menyiapkan apa pun untuk mempertahankan Ansel untuk tetap berada di sisinya, dia sendiri takut Arya akan mengambil Ansel darinya. karena ia sendiri tidak akan mungkin kembali pada Arya.

__ADS_1


"Ansel putraku... putra kecil ibu... Ibu harap kau tetap berada di sisi ibu. Apa pun yang terjadi kita akan tetap bersama, Tanpa Arya, Tanpa seorang pria yang tidak menginginkan kehadiran seorang anak dari rahimku. Biarkan kami hidup bahagia tanpa bayang-bayang nya. Kami sungguh tidak membutuhkan sosok pria seperti dirinya."


Dini semakin menangis dengan deras. Menakuti jika apa yang ada di dalam pemikirannya akhirnya terjadi. Arya sebelumnya tidak menginginkan anak dari rahimnya, walaupun ia tahu dia menerima Arsen sebagai anaknya, akan tetapi Ansel sejak kecil sudah dirawat olehnya dan tidak mungkin diterima begitu saja setelah mengetahui Darwin yang menjaga mereka selama ini.


Mendengar isakan kecil mulai lolos dari mulut Dini, Darwin pun menepikan mobilnya. "Dini... Kau kenapa?" Darwin menolehkan kepala ke arah belakang. Menatap wajah Dini yang kini tenggelam dalam tubuh Ansel


Bahu Dini naik turun terisak. Darwin semakin khawatir. Ia pun keluar dari dalam mobil lalu membuka pintu belakang.


"Dini..." Darwin mencoba melepaskan tubuh Dini yang masih memeluk erat tubuh Ansel


Ansel pun turut terbangun saat merasakan ada yang mengganggu tidurnya.


"Hiks... Hiks..." Dini semakin sesegukan


"Dini... Ada apa denganmu?" Darwin mengarahkan tubuh Dini menghadap ke arahnya. Menghapus air mata yang masih mengalir di kedua pipi Dini dengan jari jempolnya.


"Ibu... Kenapa menangis?" Darwin pun turut memasang wajah takut saat melihat Dini yang menangis


Merasa Dini belum sanggup untuk bercerita, Darwin pun kembali menutup pintu belakang mobilnya lalu masuk ke dalam mobil di belakang kemudi. Mobil pun kembali melaju hingga sampai di rumah.


Di Mansion Pratama.


"Ibu dan Ayah merasa tidak jika Kak Arya terlihat sangat aneh saat ini?" Tanya Luna sambil menatap punggung Arya yang mulai lenyap dari pandangannya


Bu Amira dan Pak Barma mengangguk bersamaan.


"Ibu juga ingin bertanya dari sejak tadi. Tapi melihat Arya yang tidak memungkinkan untuk ditanya, ibu mengurungkan niat." Ujar Bu Amira


"Mungkinkah dia sedang memiliki masalah. Bukankah perusahaannya kembali pada posisi pertama. Dan apa yang dia permasalahkan?" Ujar Pak Barma

__ADS_1


"Tidak perlu terlalu banyak bertanya. Kita hanya perlu menjadi pendengar yang baik jika Arya ingin bercerita." Ucap Bu Amira menjawab


__ADS_2