
"Ansel, Maafkan paman, paman bukan bermaksud untuk menipu dirimu. Tapi paman harus segera datang karena ada orang yang sudah menunggu paman saat ini. jika paman mengantarkan mu lebih dulu, mungkin orang itu akan kesal. Jika kau tidak keberatan kau bisa ikut dengan paman lebih dulu. Paman akan memberitahu ibumu jika kau akan diantarkan terlambat."
"Kita akan pergi kemana paman?" Tanya Ansel
"Kita akan pergi ke sebuah perusahaan. ada hal yang harus dilakukan di sana."
"Baiklah. Aku akan ikut dengan paman saja. Aku sangat senang jika harus masuk dalam gedung yang tinggi dan besar itu. mungkin sekalian aku ingin melihat gedung paman." Ucap Ansel yang memiliki ketertarikan terhadap gedung yang menjulang tinggi dan selalu ada rasa keinginan untuk melihat isinya
"Baguslah. maafkan paman sudah merepotkan mu."
"Tidak apa-apa paman, tenang saja." Jawab Ansel
Pada akhirnya Zayn tidak langsung mengantarkan Ansel pulang ke rumahnya. la mendadak mendapatkan telepon dari Arya yang memintanya untuk segera menghadiri pertemuan.
Waktu tak berselang lama, Akhirnya Zayn telah sampai di perusahaan Arya dan sedang memarkirkan mobilnya. la membawa Ansel masuk ke dalam.
"Kemarin aku baru saja kesini. Apa yang akan paman lakukan dengan paman tampan?" Tanya Ansel mengenali perusahaan milik Arya itu
"Kau sudah ke tempat ini dan kenal dengan Tuan Arya?" Ujar Zayn melontarkan pertanyaan
"Iya. Dia adalah ayah temanku Arsen. Kami sudah saling sempat bertemu, Dan aku sering memanggil dia dengan paman tampan, karena ayahnya Arsen sangat tampan sekali. Pama juga terlihat tampan!"
"Hhh... Terima Kasih. Kau juga sangat tampan." Jawab Zayn saling memuji
"Terima Kasih paman, ternyata paman sangat baik. Aku pikir paman adalah penculik. hhh..." Ansel terkekeh akibat dugaannya pada Zayn ternyata salah
"Tidak apa-apa. Paman hanya heran apakah wajah paman terlihat seperti penculik?"
"Hhh... Mungkin lebih dari penculik. Maka dari itu aku akan memanggil paman dengan paman penculik." Ucap Ansel yang senang memanggil seseorang dengan memberikan mereka julukan
"Kau bisa saja..." Gemas Zayn mencubit lembut pipi Ansel
"Paman belum menjawab pertanyaan ku tadi. Untuk apa kita bertemu dengan paman tampan?" Tanya Ansel
"Paman adalah temannya Tuan Arya. paman bekerja sama untuk perusahaan dengan paman tampan mu itu. Saat di mobil dia menelepon paman untuk menemuinya sekarang." Jawab Zayn
"Owh... Ayahku juga memiliki teman kerja sama. Dia juga memiliki gedung yang tinggi seperti paman tampan, tapi aku tidak tahu di mana tempatnya."
"Sebagian besar seorang CEO memang memiliki gedung yang tinggi. Saat kau besar nanti dan sudah mengerti dalam segala hal, jika kau berkeinginan menjadi seperti ayahmu kau bisa memiliki gedung yang tinggi. Lain kali paman akan bertemu dengan ayahmu itu."
"Datanglah sekarang ke rumah saat paman mengantarkan aku pulang nanti. Tapi sepertinya ayah akan pulang malam dan tidak bisa bertemu paman."
"Tentu saja. Paman akan datang ke rumah mu sambil mengantar mu sekaligus paman juga sudah membuat janji dengan ibumu untuk datang ke sana."
"Yeay... Aku sangat senang memiliki banyak teman di sini. Sekarang bertambah paman penculik yang menjadi temanku."
Zayn tertawa kecil melihat Ansel yang kegirangan.
Di ruangan Arya~
"Maaf Tuan Arya, Saya sudah lancang membawa anak kecil ke dalam ruangan anda. Saya benar-benar tidak bisa meninggalkannya karena dia menjadi tanggung jawab saya saat ini. Jika anda tidak berkenan, saya akan memintanya untuk menunggu di luar sebentar." Kata Zayn
Arya terheran mendapati Zayn yang datang bersama dengan Ansel. Pikirannya pun mencuat berbagai persepsi yang belum jelas sampai membuatnya bimbang.
"Tidak masalah. Bawa saja Ansel masuk. Tidak baik bagi anak kecil jika harus menunggu di luar sendirian tanpa pengawasan orang dewasa." Titah Arya
Zayn dan Ansel pun senang mendengar keputusan Arya yang murah hati. Ia tahu saat Ansel bercerita tadi jika Arya sudah mengenali Ansel sebelumnya.
"Hai paman tampan, Kita bertemu lagi! Padahal di sekolah kita sudah bertemu tadi pagi." Sapa Ansel
"Hai juga Ansel!" Jawab Arya dengan datar dan dingin
"Ansel, Kau duduk di sana sebentar ya. setelah pekerjaan ini selesai, kita akan segera pulang."
"Baiklah, aku berjanji akan menjadi anak baik yang tidak akan mengganggu kalian bekerja."
Ansel pun pergi jauh dari mereka dan duduk di dekat jendela untuk melihat
pemandangan kota yang indah dari atas. Zayn pun turut duduk dihadapan Arya.
Arya terlihat kebingungan menatap kliennya sampai mengerutkan keningnya melihat interaksi Zayn dan Ansel yang sangat dekat. Dalam pikirannya banyak sekali pertanyaan yang ingin segera dia lontarkan pada Zayn.
"Ada apa Tuan Arya? Anda melihat saya begitu tajam." Singgung Zayn merasa tidak enak hati dilihat mata elang Arya seperti itu
"Agh,,, Tidak ada. Kita berbicara langsung pada intinya saja membahas masalah yang sedang terjadi." Kata Arya
Arya, Zayn, dan terlihat Damar yang mengikuti rapat itu sebelum menyalurkan hasil rapat pada tim dan karyawan mereka. Mereka sangat serius membicarakan jalan keluar masalah yang sedang dihadapi. mereka mulai membicarakan banyak kontribusi apa yang akan dilakukan untuk memposisikan perusahaan mereka menjadi yang pertama kembali.
Suasana ruangan sangat tenang hanya ada suara rapat penting yang terdengar saling berambisi itu. Walaupun demikian di sana terdapat seorang anak kecil yakni Ansel yang sama sekali tidak membuat kekacauan atau kegaduhan dan ia sibuk dengan dunianya sendiri mengagumi keindahan kota.
Tak berselang lama, Akhirnya rapat kecil mereka telah usai. banyak sekali rancangan strategi yang sudah didapatkan. mereka bernapas lega bisa mengakhirinya.
Saat ini giliran kebutuhan Arya yang harus segera disalurkan yang menjadi bahan pikiran beban sangat berat mengganggu dirinya sejak perjalanan rapat tadi hingga sedikit membuat tidak fokus.
__ADS_1
"Emm... Aku hanya ingin tahu, apa hubunganmu dengan Ansel?" Kata Arya tiba-tiba bertanya yang tidak mengenal basa-basi dan tidak pernah bermain dengan perkataannya
"Kemana Tuan bertanya seperti itu?" Heran Zayn
"Apakah kau adalah ayah dari Ansel? Apa dia putramu?" Itulah pertanyaan yang ingin Arya tanyakan sampai mengganggu pikirannya sejak dari tadi
"Aghh,,, Ternyata Ansel menjadi beban pikiran anda saat ini. Jangan berpikir lain terhadap saya. Saya sama sekali belum menikah Tuan. jika anda berpikir Ansel adalah anak saya, itu tidak benar."
"Lalu, Hubunganmu dengannya?"
"Biarkan saya untuk menjelaskan agar tidak terjadi kesalahpahaman. Ansel adalah anak dari wanita yang sudah ku anggap seperti adik. Wanita itu adalah seorang dokter yang membantu masalah ingatanku saat ini. Ibunya sedang sibuk dan Itulah mengapa sebabnya saya datang bersama Ansel setelah menjemput dan mendapatkan panggilan dari anda." Jelas Zayn
Perasaan Arya sangat lega. Ternyata apa yang dia kira tidaklah benar adanya. masih ada harapan baginya untuk tetap berpikir positif pada Dini bahwa ia belumlah menikah dengan pria lain. Namun, Arya masih dibingungkan dengan asal usul Ansel.
"Kau kenal dengan Dini?" Lontar Arya menyebut nama Dini
"Ehh,,, Seharusnya saya yang bertanya seperti itu. Anda juga mengenalinya?" Tanya Zayn
"Kemarin baru saja bertemu dengannya dan sempat berkenalan saat putranya Ansel dikabarkan menghilang. Tapi dia ada bersamaku." Ujar Arya untuk meyakinkan lawan bicaranya
"Iya. Ansel juga bercerita bagaimana pertemuannya dengan anda sampai bisa mengenal."
"Berapa banyak kau mengenalinya?" Tanya Arya ingin sekali menggali informasi yang banyak dari orang yang mengenalnya
"Tidak begitu banyak yang saya ketahui tentang dia. Saya hanya tahu bahwa dia adalah Dokter yang hebat."
"Selama dia pergi, ternyata impiannya tidak terhenti begitu saja. Apa yang sempat menjadi cita-cita yang tertunda, dia berusaha keras untuk menggapai cita-cita nya itu. Aku tidak pernah menyangka sekarang dia adalah seorang Dokter." Gumam Arya salut dan dilanda rasa bersalah atas kejadian di masa lalu yang menimpa Dini hanya karena dirinya
"Selain itu, Apalagi yang kau tahu?" Tanya lebih dalam lagi
"Sepertinya yang sudah saya jelaskan tadi Ansel adalah putranya. Itu artinya dia sudah menikah dan memiliki keluarga kecil yang sangat bahagia. Ansel baru saja saya dengar kerap membanggakan ayahnya." Jelas Zayn membuat Arya kembali simpang siur dan putus asa
"Ayah??" Pendapat Arya sudah tertuju pada hal yang lain. Ia menganggap artinya Dini sudah menikah dan bahkan bisa saja Ansel adalah hasil dari pernikahannya dengan pria lain. Tapi siapa pria itu?
Sekilas Zayn sempat kebingungan dengan Arya yang seolah sangat mengenal Dini dan kerap sekali terkejut mendengar penjelasannya. Ia berpikir jika bisa saja mereka memiliki hubungan, namun hal itu tidak mungkin. Tugas Zayn hanya menjawab pertanyaan Arya dan bukan berarti jawaban yang ia berikan mengetahui segalanya tentang Dini.
"Kau benar-benar yakin jika dia sudah menikah?"
"Jika tidak harus bagaimana Tuan? Ansel memiliki seorang ibu dan ayah, tentu saja mereka adalah kedua orang tuanya. Jika bukan, bagaimana cara Dini bisa memiliki seorang anak?" Tegas Zayn
Arya berpikir keras, ia tidak bisa menerima kenyataan jika perkataan Zayn adalah kebenaran menyangkut Dini wanita yang dicintainya sudah menikah dengan pria lain dan memiliki seorang anak selama ini.
Semampu mungkin Arya menepis pikiran itu terhadap Dini yang sudah menjadi istri pria lain.
"Ansel, Maafkan paman, paman bukan bermaksud untuk menipu dirimu. Tapi paman harus segera datang karena ada orang yang sudah menunggu paman saat ini. jika paman mengantarkan mu lebih dulu, mungkin orang itu akan kesal. Jika kau tidak keberatan kau bisa ikut dengan paman lebih dulu. Paman akan memberitahu ibumu jika kau akan diantarkan terlambat."
"Kita akan pergi kemana paman?" Tanya Ansel
"Kita akan pergi ke sebuah perusahaan. ada hal yang harus dilakukan di sana."
"Baiklah. Aku akan ikut dengan paman saja. Aku sangat senang jika harus masuk dalam gedung yang tinggi dan besar itu. mungkin sekalian aku ingin melihat gedung paman." Ucap Ansel yang memiliki ketertarikan terhadap gedung yang menjulang tinggi dan selalu ada rasa keinginan untuk melihat isinya
"Baguslah. maafkan paman sudah merepotkan mu."
"Tidak apa-apa paman, tenang saja." Jawab Ansel
Pada akhirnya Zayn tidak langsung mengantarkan Ansel pulang ke rumahnya. la mendadak mendapatkan telepon dari Arya yang memintanya untuk segera menghadiri pertemuan.
Waktu tak berselang lama, Akhirnya Zayn telah sampai di perusahaan Arya dan sedang memarkirkan mobilnya. la membawa Ansel masuk ke dalam.
"Kemarin aku baru saja kesini. Apa yang akan paman lakukan dengan paman tampan?" Tanya Ansel mengenali perusahaan milik Arya itu
"Kau sudah ke tempat ini dan kenal dengan Tuan Arya?" Ujar Zayn melontarkan pertanyaan
"Iya. Dia adalah ayah temanku Arsen. Kami sudah saling sempat bertemu, Dan aku sering memanggil dia dengan paman tampan, karena ayahnya Arsen sangat tampan sekali. Pama juga terlihat tampan!"
"Hhh... Terima Kasih. Kau juga sangat tampan." Jawab Zayn saling memuji
"Terima Kasih paman, ternyata paman sangat baik. Aku pikir paman adalah penculik. hhh..." Ansel terkekeh akibat dugaannya pada Zayn ternyata salah
"Tidak apa-apa. Paman hanya heran apakah wajah paman terlihat seperti penculik?"
"Hhh... Mungkin lebih dari penculik. Maka dari itu aku akan memanggil paman dengan paman penculik." Ucap Ansel yang senang memanggil seseorang dengan memberikan mereka julukan
"Kau bisa saja..." Gemas Zayn mencubit lembut pipi Ansel
"Paman belum menjawab pertanyaan ku tadi. Untuk apa kita bertemu dengan paman tampan?" Tanya Ansel
"Paman adalah temannya Tuan Arya. paman bekerja sama untuk perusahaan dengan paman tampan mu itu. Saat di mobil dia menelepon paman untuk menemuinya sekarang." Jawab Zayn
"Owh... Ayahku juga memiliki teman kerja sama. Dia juga memiliki gedung yang tinggi seperti paman tampan, tapi aku tidak tahu di mana tempatnya."
"Sebagian besar seorang CEO memang memiliki gedung yang tinggi. Saat kau besar nanti dan sudah mengerti dalam segala hal, jika kau berkeinginan menjadi seperti ayahmu kau bisa memiliki gedung yang tinggi. Lain kali paman akan bertemu dengan ayahmu itu."
__ADS_1
"Datanglah sekarang ke rumah saat paman mengantarkan aku pulang nanti. Tapi sepertinya ayah akan pulang malam dan tidak bisa bertemu paman."
"Tentu saja. Paman akan datang ke rumah mu sambil mengantar mu sekaligus paman juga sudah membuat janji dengan ibumu untuk datang ke sana."
"Yeay... Aku sangat senang memiliki banyak teman di sini. Sekarang bertambah paman penculik yang menjadi temanku."
Zayn tertawa kecil melihat Ansel yang kegirangan.
Di ruangan Arya~
"Maaf Tuan Arya, Saya sudah lancang membawa anak kecil ke dalam ruangan anda. Saya benar-benar tidak bisa meninggalkannya karena dia menjadi tanggung jawab saya saat ini. Jika anda tidak berkenan, saya akan memintanya untuk menunggu di luar sebentar." Kata Zayn
Arya terheran mendapati Zayn yang datang bersama dengan Ansel. Pikirannya pun mencuat berbagai persepsi yang belum jelas sampai membuatnya bimbang.
"Tidak masalah. Bawa saja Ansel masuk. Tidak baik bagi anak kecil jika harus menunggu di luar sendirian tanpa pengawasan orang dewasa." Titah Arya
Zayn dan Ansel pun senang mendengar keputusan Arya yang murah hati. Ia tahu saat Ansel bercerita tadi jika Arya sudah mengenali Ansel sebelumnya.
"Hai paman tampan, Kita bertemu lagi! Padahal di sekolah kita sudah bertemu tadi pagi." Sapa Ansel
"Hai juga Ansel!" Jawab Arya dengan datar dan dingin
"Ansel, Kau duduk di sana sebentar ya. setelah pekerjaan ini selesai, kita akan segera pulang."
"Baiklah, aku berjanji akan menjadi anak baik yang tidak akan mengganggu kalian bekerja."
Ansel pun pergi jauh dari mereka dan duduk di dekat jendela untuk melihat
pemandangan kota yang indah dari atas. Zayn pun turut duduk dihadapan Arya.
Arya terlihat kebingungan menatap kliennya sampai mengerutkan keningnya melihat interaksi Zayn dan Ansel yang sangat dekat. Dalam pikirannya banyak sekali pertanyaan yang ingin segera dia lontarkan pada Zayn.
"Ada apa Tuan Arya? Anda melihat saya begitu tajam." Singgung Zayn merasa tidak enak hati dilihat mata elang Arya seperti itu
"Agh,,, Tidak ada. Kita berbicara langsung pada intinya saja membahas masalah yang sedang terjadi." Kata Arya
Arya, Zayn, dan terlihat Damar yang mengikuti rapat itu sebelum menyalurkan hasil rapat pada tim dan karyawan mereka. Mereka sangat serius membicarakan jalan keluar masalah yang sedang dihadapi. mereka mulai membicarakan banyak kontribusi apa yang akan dilakukan untuk memposisikan perusahaan mereka menjadi yang pertama kembali.
Suasana ruangan sangat tenang hanya ada suara rapat penting yang terdengar saling berambisi itu. Walaupun demikian di sana terdapat seorang anak kecil yakni Ansel yang sama sekali tidak membuat kekacauan atau kegaduhan dan ia sibuk dengan dunianya sendiri mengagumi keindahan kota.
Tak berselang lama, Akhirnya rapat kecil mereka telah usai. banyak sekali rancangan strategi yang sudah didapatkan. mereka bernapas lega bisa mengakhirinya.
Saat ini giliran kebutuhan Arya yang harus segera disalurkan yang menjadi bahan pikiran beban sangat berat mengganggu dirinya sejak perjalanan rapat tadi hingga sedikit membuat tidak fokus.
"Emm... Aku hanya ingin tahu, apa hubunganmu dengan Ansel?" Kata Arya tiba-tiba bertanya yang tidak mengenal basa-basi dan tidak pernah bermain dengan perkataannya
"Kemana Tuan bertanya seperti itu?" Heran Zayn
"Apakah kau adalah ayah dari Ansel? Apa dia putramu?" Itulah pertanyaan yang ingin Arya tanyakan sampai mengganggu pikirannya sejak dari tadi
"Aghh,,, Ternyata Ansel menjadi beban pikiran anda saat ini. Jangan berpikir lain terhadap saya. Saya sama sekali belum menikah Tuan. jika anda berpikir Ansel adalah anak saya, itu tidak benar."
"Lalu, Hubunganmu dengannya?"
"Biarkan saya untuk menjelaskan agar tidak terjadi kesalahpahaman. Ansel adalah anak dari wanita yang sudah ku anggap seperti adik. Wanita itu adalah seorang dokter yang membantu masalah ingatanku saat ini. Ibunya sedang sibuk dan Itulah mengapa sebabnya saya datang bersama Ansel setelah menjemput dan mendapatkan panggilan dari anda." Jelas Zayn
Perasaan Arya sangat lega. Ternyata apa yang dia kira tidaklah benar adanya. masih ada harapan baginya untuk tetap berpikir positif pada Dini bahwa ia belumlah menikah dengan pria lain. Namun, Arya masih dibingungkan dengan asal usul Ansel.
"Kau kenal dengan Dini?" Lontar Arya menyebut nama Dini
"Ehh,,, Seharusnya saya yang bertanya seperti itu. Anda juga mengenalinya?" Tanya Zayn
"Kemarin baru saja bertemu dengannya dan sempat berkenalan saat putranya Ansel dikabarkan menghilang. Tapi dia ada bersamaku." Ujar Arya untuk meyakinkan lawan bicaranya
"Iya. Ansel juga bercerita bagaimana pertemuannya dengan anda sampai bisa mengenal."
"Berapa banyak kau mengenalinya?" Tanya Arya ingin sekali menggali informasi yang banyak dari orang yang mengenalnya
"Tidak begitu banyak yang saya ketahui tentang dia. Saya hanya tahu bahwa dia adalah Dokter yang hebat."
"Selama dia pergi, ternyata impiannya tidak terhenti begitu saja. Apa yang sempat menjadi cita-cita yang tertunda, dia berusaha keras untuk menggapai cita-cita nya itu. Aku tidak pernah menyangka sekarang dia adalah seorang Dokter." Gumam Arya salut dan dilanda rasa bersalah atas kejadian di masa lalu yang menimpa Dini hanya karena dirinya
"Selain itu, Apalagi yang kau tahu?" Tanya lebih dalam lagi
"Sepertinya yang sudah saya jelaskan tadi Ansel adalah putranya. Itu artinya dia sudah menikah dan memiliki keluarga kecil yang sangat bahagia. Ansel baru saja saya dengar kerap membanggakan ayahnya." Jelas Zayn membuat Arya kembali simpang siur dan putus asa
"Ayah??" Pendapat Arya sudah tertuju pada hal yang lain. Ia menganggap artinya Dini sudah menikah dan bahkan bisa saja Ansel adalah hasil dari pernikahannya dengan pria lain. Tapi siapa pria itu?
Sekilas Zayn sempat kebingungan dengan Arya yang seolah sangat mengenal Dini dan kerap sekali terkejut mendengar penjelasannya. Ia berpikir jika bisa saja mereka memiliki hubungan, namun hal itu tidak mungkin. Tugas Zayn hanya menjawab pertanyaan Arya dan bukan berarti jawaban yang ia berikan mengetahui segalanya tentang Dini.
"Kau benar-benar yakin jika dia sudah menikah?"
"Jika tidak harus bagaimana Tuan? Ansel memiliki seorang ibu dan ayah, tentu saja mereka adalah kedua orang tuanya. Jika bukan, bagaimana cara Dini bisa memiliki seorang anak?" Tegas Zayn
__ADS_1
Arya berpikir keras, ia tidak bisa menerima kenyataan jika perkataan Zayn adalah kebenaran menyangkut Dini wanita yang dicintainya sudah menikah dengan pria lain dan memiliki seorang anak selama ini.
Semampu mungkin Arya menepis pikiran itu terhadap Dini yang sudah menjadi istri pria lain.