Terbelenggu Oleh CEO Angkuh

Terbelenggu Oleh CEO Angkuh
S2 111 - Sudah Waktunya


__ADS_3

3 Bulan Kemudian...


Kini, usia kehamilan itu sudah menduduki 9 bulan. Hanya tinggal menghitung hari dan dunia akan kedatangan bayi baru yang siap untuk menggandrungi badai kehidupan ini. Berharap dunianya akan baik-baik saja, tak ada awan mendung yang menaungi.


Suatu malam...


Seorang wanita tengah menjerit kesakitan malam-malam. Sakit pada bagian perutnya yang terasa mulas.


Dini. Ia terbangun tengah malam terus mengerang kesakitan, sambil memegang perutnya yang terasa sakit, keringat dingin keluar dari seluruh tubuhnya, hanya mampu berteriak meminta tolong berharap ada seseorang yang datang membantu dengan kebesaran hati nuraninya dalam mansion itu tergerak untuk menolong.


*


*


Rumah sakit



(Hanya Visual)


Dini, sudah terbaring di atas ranjang rumah sakit, selang infus yang terpasang, menandakan kondisinya lemah saat ini. Untunglah mereka masih memiliki hati nurani untuk membawa Dini ke rumah sakit, memberikan wanita melahirkan ruang dan napas sedikit.


Waktu sudah terhitung 10 jam Dini berada di rumah sakit, kini waktu telah menunjukkan pukul 10.00, Menunggu pembukaan persalinan yang baru menduduki pembukaan tujuh. Rasa sakit kontraksi terus bermunculan, ingin sekali mengejan, namun bukan waktunya.


Akan melahirkan bertemankan kesepian, tak ada keluarga ataupun suami yang menemani. Ingin sekali berharap suaminya datang diberikan kesempatan keluar walau hanya sebentar untuk melihat istrinya yang akan berjuang melahirkan anak mereka. Desir kabar akan melahirkan pun tak mungkin akan sampai ke telinganya.


Dini hanya terbaring lemah, menangis, meringis, kecewa, dan sakit hati. Ia membutuhkan semangat dan dukungan saat ini, tangan kekar dari sang suami melingkar genggam erat di tangannya menguatkan dia.


Akan tetapi, itu hanyalah khayalan belaka. Ia harus mengubur dalam-dalam mimpinya itu sedalam Palung Mariana. Tak ada lagi mimpi baginya dapat merasakan sentuhan sang suami. Bukan hanya ia yang akan sakit, prianya juga akan lebih kesakitan. Ia akan bersalah telah menyakiti suaminya.


Begitu berat persalinannya kali ini, tak ada dukungan moril yang mampu menguatkannya, bahkan seekor semut pun tidak ada yang datang untuk melihat betapa sulitnya wanita yang akan melahirkan itu.


Di tempat lain,


Tempat yang dingin, pasokan udara segar masuk sedikit, tak ada pencahayaan. Bu Amira, ia salah satu anggota yang selamat, kini telah berjalan di lorong penjara bersama polisi yang mengantar untuk menemui anaknya.

__ADS_1


Bu Amira menyaksikan betapa kejam penjara yang menaungi putranya itu. Satu anak dari ketiganya yang tersisa, kini terkulai lemah di lantai yang dingin. Hingga tak sadar, butir air mata telah lolos menetes dari matanya yang tidak mampu menahan diri.


Pria yang hari-harinya selalu kosong. Menunduk menatap lantai dingin tak berdaya. Saat melihat kedua kaki yang menapak di depan sel nya, pria itu mendongakkan kepalanya menatap siapa yang datang. Antusias melihat ibunya datang memunculkan rasa bahagia dan rindu yang tersalurkan. Ibu yang sudah mengandung sembilan bulan dan melahirkan tak pernah melupakan sosok anaknya.


Dengan gusar ia bangkit dan menghampiri ibunya.



Melalui celah sel yang berongga, ia mengeluarkan kedua tangan untuk memegangnya.


Dingin. Itu yang dirasakan sang ibu kala pertama kalinya lagi dapat merasakan sentuhan putranya. Pria itu terlihat sangat kurus saat terakhir kali polisi membawanya.


Tiga bulan tak bertemu Arya terlihat seperti orang asing baginya, baju yang itu-itu saja, kulitnya sawo matang tak bersih putih lagi, debu di ruangannya, wajah tampan mulus yang ternoda debu di pori-porinya.


Bu Amira terisak. Ia tak tega melihat tampak Putranya saat ini. Hati sebagai seorang ibu sangat sakit tak kala melihat anaknya dengan kondisi yang mengkhawatirkan. Sejak kecil, tumbuh bertahun-tahun selalu ia manjakan hingga menikah, tak ada sedikitpun perlakuannya ingin melihat anaknya menderita.


"Ibu, Kenapa kemari?" Tanya Arya, suaranya yang khas dan selalu dirindukan untuk didengar walaupun tidak pernah berbicara dan berbagi cerita padanya.


Suara itu menusuk hingga relung hati. Saat bayi, ia hanya bisa menangis, melalui tangisannya hati kecil seorang ibu yang tengah memasak tergerak berlari untuk segera menenangkannya. Bu Amira bergetar ingin sekali memeluk putranya yang sayangnya sel itu tidak di buka.


"Jangan menangis. Tak ada yang perlu ditangisi." Ucap Arya demikian dengan senyum kakunya


H-h-hh-hah...


Bu Amira bernapas sesak.


"Ibu tidak tega melihatmu kali ini. Tanganmu sangat dingin sampai ibu tidak bisa merasakan kehangatan mu lagi. Kau juga terlihat kurus sekali, pulanglah ke rumah di sana ibu akan memberimu makan yang enak, kau pasti rindu dengan masakan ibu, bukan." Getir Bu Amira berkata


"Iya. Aku pasti akan pulang." Jawab Arya demikian


"Ikutlah sekarang dengan ibu." Ucap Bu Amira


"Tidak bisa. Untuk kali ini aku melawan Ibu. Masih banyak bertahun-tahun agar aku bebas dari penjara ini." Tolak Arya menduga ibunya ingin membawa dia terbebas


"Kita memiliki harta yang berlimpah. Ibu bisa saja mengeluarkan mu dengan uang jaminan. Jika perlu akan ibu berikan harta keluarga kita pada penjara ini hanya untuk mengeluarkan mu dari penjara."

__ADS_1


"Tidak akan bisa, Bu. Aku mendengar saat itu dan masih jelas terdengar di telingaku, pengadilan mengatakan aku tidak bisa dibebaskan melalui jaminan sekalipun."


"Lalu, bagaimana ibu bisa mengeluarkan mu dari sini?"


"Hanya waktu yang bisa menjawabnya." Jawab Arya demikian


"Tapi saat ini kau bisa keluar bersama ibu. Lucas datang ke mansion kita."


"Apa yang dia lakukan? Apa sebelumnya ibu terluka." Pekik Arya langsung khawatir saat mendengar Lucas datang ke mansion


"Tidak ada. Dia malah berbaik hati memberi kabar jika Dini..." Ucapnya terhenti dan terasa berat


"Jika Dini apa? Katakan sesuatu dengan jelas. Apa yang terjadi pada istriku?"


"Dini akan melahirkan. Saat ini dia ada di rumah sakit sendirian." Ungkap Bu Amira


Perasaan bahagia mendengar akan lahirnya anggota baru seharusnya muncul. Apalagi kehamilan dan kelahiran anak ketiga mereka itu selalu dinantikan. Tapi kali ini Arya hanya diam seribu bahasa, tatapannya kosong, raut wajah yang tidak bisa ditebak. Entah apa yang sedang menyerang pikirannya.


"Kau ingin ikut dengan ibu, Bukan? Kita akan temui istrimu yang akan berjuang hari ini. Kau pasti sangat merindukannya juga. Saat ini Dini membutuhkanmu ada di sisinya, dia pasti sangat senang melihatmu datang. Antonio dan Lucas sudah meminta polisi untuk membawamu keluar dari penjara bersama pengawalannya yang ketat. Tapi tak masalah, Ini semua demi kebahagiaan istrimu yang akan melihatmu dekat dengannya. Kau bersedia untuk ikut?" Tanya Bu Amira


Arya mengangguk antusias. Anggukan kepalanya sangat cepat. Dia ingin sekali menemui istrinya.


"Maka dari itu Ayo. Kita akan sama-sama menemui Dini." Bahagia Bu Amira yang akhirnya bisa melihat Arya menginjakkan kakinya di luar walaupun dengan waktu yang terbatas


Polisi pun membuka kunci sel Arya.


Saat Arya keluar dari sel, Bu Amira pun langsung menerjang Arya dengan pelukannya. Akhirnya ia bisa mendekap putranya lagi.


"Malang sekali nasibmu putraku." Lirih Bu Amira berkata


Bu Amira menatap wajahnya nanar.


"Ini Pakailah! Ibu sengaja membawa pakaianmu supaya kau bisa memakainya. Setelah ini, ganti lebih dulu pakaian yang tidak cocok menempel di badan mu ini menggunakan pakaian yang ibu bawa, Ya." Pinta Bu Amira


Arya hanya mengangguk, menurut pada ibunya.

__ADS_1


__ADS_2