Terbelenggu Oleh CEO Angkuh

Terbelenggu Oleh CEO Angkuh
S2 12 - Nasib Yang Sama


__ADS_3

Di Mansion~


Arya dan Arsen kembali setelah menjemput ia pulang dari keterlibatan pertengkaran yang terjadi.


"Untung kau ada di sini, Luna. Tadi aku ingin pergi ke rumah sakit mu. Tapi lukanya tidak terlalu parah dan bisa diobati di sini, sehingga tidak jadi dan memutuskan pulang saja." Ujar Arya


"Memangnya ada apa, Kak? Kakak terluka?" Tanya Luna


"Tidak. Bukan aku, tapi keponakan mu." Ketus Arya berkata


Luna melihat Arsen yang berada di belakang Arya, bersembunyi dengan menunduk lesu.


"Wajahnya lebam! Apa yang terjadi?" Tanya Luna menghampiri Arsen dengan cemas


"Dia terlibat pertengkaran dengan temannya. Gurunya pun sampai harus memanggilku ke sekolah."


"Pasti ini sakit, kan? Kenapa kau bisa bertengkar dengan temanmu?" Pungkas Luna menelisik luka lebam keponakannya


"Gurunya mengatakan kesalahan bukan terletak padanya. Anak yang bertengkar dengan Arsen adalah cucu dari menteri, dia memang sangat nakal. dan karena mereka berasal dari keluarga seorang menteri, mereka menggunakan kekuasaan itu untuk menindas orang lain. mungkin dengan begitu ayah dan ibunya tidak mengajarkan tatakrama pada anak itu." Jelas Arya


"Aku menduga Arsen tidak mungkin melakukan itu pada temannya. Aku sampai terkejut karena Arsen tidak mungkin akan bertengkar. Ya sudah, bibi akan mengobati lukamu. Biarkan Arsen aku yang mengurusnya, kakak silakan saja kembali ke perusahaan."


"Baiklah, Tolong obati lukanya dengan baik." Ujar Arya langsung pergi kembali ke perusahaan setelah mengantarkan Arsen pulang


Luna pun mengambil kotak p3k di tas dokternya. ia segera mengobati lebam Arsen di sudut mata, pipi, dan ujung bibirnya.


"Akhh... Bibi. Jangan terlalu kuat. Aku kesakitan." Ringis Arsen yang sedang di balut lebamnya oleh Luna


"Saat saling pukul tadi, kau tidak mungkin sampai meringis seperti ini. dorongan apa sampai membuat mu melayani anak yang ingin bertengkar dengan mu, Arsen?"


"Bibi tidak akan mengerti, Devan itu anak yang nakal, dia selalu membuat onar di sekolah. Aku sudah berusaha menghindari tapi dia terus mengganggu kami." Jawab Arsen


"Ya, Tapi kau juga yang salah. Seharusnya kau bisa menahan emosi mu." Nasihat Luna


"Bibi sama saja seperti ayah. Dia tahu jika bukan aku yang salah, tapi masih tetap memarahi ku." Kesalnya


"Eh,,, kenapa kau merajuk. Arsen tidak pernah mengekspresikan perasaan seperti ini. Apa karena kau sedang kesal?" Goda Luna


"Bibi, apa bibi tahu mengenai keberadaan ibuku? Sepertinya hanya bibi salah satu harapan untuk jawaban ku." Tanya Arsen


"Agh,,, Bibi tidak tahu di mana keberadaannya." Lirih Luna dengan nada kecil


"Kenapa kalian menyembunyikan keberadaan ibu padaku. Nenek, Kakek, Ayah dan saat ini bibi selalu menjawab tidak tahu."


"Masalahnya ibumu hanya pergi sebentar. Bibi yakin secepatnya ia akan kembali." Harap Luna yang sangat yakin untuk meyakinkan keponakannya bahwa tidak perlu sedih ataupun khawatir


"Apakah dari sejak kecil itu hanya sebentar? Sampai sekarang buktinya dia tidak menemui ku, sepertinya benar yang dikatakan orang tua Devan jika ibuku seorang penjahat, seorang ibu mana mungkin meninggalkan anaknya sendiri." Ketus Arsen

__ADS_1


"Itu tidaklah benar. mungkin yang kau maksud adalah kak Valerie karena dia memang seorang penjahat dan merupakan istri ayahmu, tapi dia bukan ibu yang melahirkan mu Arsen. Bagaimana caraku untuk menjelaskannya padamu, ayahmu sendiri melarang kami untuk menceritakan ibumu. Penjelasan tidak akan cukup untuk kau bisa bertemu dengan ibu mu."


"Dini, ini sudah lama kau bersembunyi dari kami. Sekali saja datang untuk bertemu dengan anakmu, dia sudah besar dan selalu menanyakan dirimu." Gumam Luna bersedih hati


...***...


Malam Hari~


"Ibu, aku ingin bercerita tentang temanku." Ujar Ansel pada Dini sebelum ia menidurkan putranya


"Ya, Kau bisa menceritakannya pada ibu." Ujar Dini yang ingin menidurkan Ansel, namun Ansel ingin bercerita padanya


"Ini mengenai teman ku yang diceritakan kemarin, Arsen, dia sangat kasihan sekali."


"Memangnya apa yang terjadi? Apa kalian bertengkar?"


"Bukan aku, tapi Devan yang nakal itu. Dia mengejek Arsen dengan anak penjahat karena ibunya saat ini di penjara. Dia bertengkar dengan Arsen, tapi Devan sendiri yang memulainya dari awal, bahkan dia mendorongku sampai akan terjatuh, dan Arsen yang menolongku."


"Nakal sekali, sesama teman seharusnya saling mengasihani bukan malah bertengkar."


"Iya benar. Dan ibu tahu? Tadi ayahnya Ansel datang ke sekolah, ayahnya sangat tampan sekali, Bu. Aku ingin sekali menyapa tapi aku malah diam saja karena paman itu tampan sekali."


"Oh,,, Karena Ansel terkagum oleh wajahnya itu, Kau jadi terpaku menatapnya?" Pungkas Dini


"Iya Bu. Lain kali jika aku bertemu dengan ayah Arsen, aku akan mencoba untuk menyapa."


"Dia sangat tampannn sekaliii... Bu. Ayah masih kalah dengan Ayah nya Arsen." Puji Ansel yang mengagumi


"Hhh... sutt... Jangan keras-keras! Nanti jika ayahmu mendengar, dia pasti cemburu." Bisik Dini


"Hhh... biarkan saja ayah mendengarnya. Agar ayah tidak terlalu percaya diri menyebutnya tampan, Dan agar ayah bisa tahu jika Ayahnya Arsen lebih tampan. darinya." Kekeh Ansel tertawa bersamaan dengan Dini


Lalu, Berkata kembali


"Tapi Ibu makanan yang ibu buatkan untuk Arsen, Devan juga menghempaskannya sampai jatuh ke tanah, Bu. Sehingga saat istirahat tadi Arsen jadi tidak makan, dan wajahnya juga lebam. ketika aku sakit, ibu pasti akan mengobati dan merawat ku karena ibu sendiri seorang dokter. tapi Arsen tidak ada ibu, bagaimana dia bisa sembuh dari lukanya setelah dibawa ke rumah sakit?" Ujar Ansel


Dini jadi terhanyut dalam pikirannya sendiri, ia jadi teringat putranya yang bersama dengan Arya. Ia sendiri bahkan meninggalkannya bersama keluarga itu, bagaimana jika anak yang diceritakan Ansel sama persis seperti yang dialami putranya itu, karena ia sendiri sebagai ibunya tidak ada di sana.


"Putraku, Bagaimana dengan mu saat ini? Apakah kau pernah merindukan ibumu? ibu ada di sini, tapi ibu tidak mengenal wajahmu, bagaimana cara ibu menggapai dirimu. Ibu harap kau bahagia bersama ayahmu di sana dan juga nenek yang pasti sangat menyayangimu. Ibu berharap nasibmu tidak sama seperti anak yang diceritakan Ansel di sekolahnya." Gumam Dini mengeluarkan air mata


Karena merasa ada air yang menetes ke wajahnya, Ansel menengok dan melihat ibunya sedang menangis.


"Ibu, kenapa ibu menangis? Apa aku berbuat salah?" Tanya Ansel sampai terbangun dari baringnya


Sadar akan Ansel yang bersama dengannya, Dini menghapus air matanya.


"Tidak ada, ibu tidak sedang menangis. ibu terlalu lama tidak mengedip, jadi bisa sampai seperti ini."

__ADS_1


"Ibu bohong, aku tahu ibu terlihat menangis tadi." Ujar Ansel


"Sebaiknya saat ini kau tidur saja, Ya. Ini sudah malam dan besok kau harus berangkat sekolah pagi hari." Kata Dini menidurkan Ansel


"Baiklah, Tapi jangan menangis lagi."


"Siapa yang menangis? Ibu tidak menangis. Kau tidur agar tidak bangun kesiangan." Ucap Dini menyelimuti Ansel


Ansel pun sudah tertidur saat Dini menidurkannya dengan mengusap-usap kepala Ansel sampai membuatnya mengantuk dan akhirnya tidur.


Sejak dari tadi terdapat seseorang yang melihat mereka berdua dari balik pintu.


Darwin sedang menunggu Dini keluar dari kamar Ansel.


"Kenapa kau berbohong pada anak kecil? Apa kau selalu menanamkan kebohongan atas didikan mu padanya?" Ucap Darwin saat ini sampai di depan pintu


"Tuan Darwin, apa maksud yang kau katakan?"


"Aku melihatmu menangis dan kau sendiri mengatakan pada Ansel jika itu tidaklah benar terjadi. Ansel sendiri melihatmu menangis dihadapannya, dan kau menepis semua itu? Secara tidak sadar, kau membuat seorang anak akan berpikir lain terhadap sebuah kejujuran." Kata Darwin


"Ta-tapi aku benar-benar tidak menangis. Lihat! Apakah mataku terlihat sembap?"


"Apa yang sudah membuat mu menangis?" Tanya Darwin yang masih tetap tak percaya


"Tuan Darwin, ini sudah malam, aku mengantuk dan sebaiknya kau juga tidur." Ucap Dini pergi untuk menghindar


Tapi Darwin menahan tangan Dini.


"Katakan dan jangan menghindar dari pertanyaan ku." Ucap Darwin yang tegas


Hah...


Dini menghela napas panjang.


"Aku merindukan putraku yang lain!" Lirihnya


"Kau ingin bertemu dengan dia?" Tanya Darwin


"Bagaimana mungkin aku tidak ingin bertemu dengan putraku itu. putraku yang selalu aku rindukan dan selipkan setiap doa untuknya, kau juga tahu sendiri. mendengar Ansel bercerita tentang temannya itu, aku takut jika putraku bernasib sama seperti anak itu yang jauh dari ibunya. aku tidak bisa membayangkan seberapa menderitanya dia." Jelas Dini terus terang


"Jika kau ingin, kita bisa pergi menemuinya." Tawaran Darwin


"Aku selalu bersedia untuk bertemu dengan anakku. Tapi aku tidak siap untuk bertemu dengan keluarga yang lain, terutama orang yang ku hindari."


Darwin mengerti maksud dari perkataan Dini.


"Aku akan mencari tahu informasi dan cara agar kau bisa bertemu dengan putramu."

__ADS_1


"Terima Kasih. Kau memang selalu membantuku." Pungkas Dini senang


__ADS_2