Terbelenggu Oleh CEO Angkuh

Terbelenggu Oleh CEO Angkuh
106. Aroma Parfum?


__ADS_3

Mansion Keluarga Pratama~


"Ibu, Apakah kakak sudah pulang dari luar kota? Bukannya kakak Kembali hari ini." Ujar Darwin yang tengah duduk di sofa ruang keluarga bersama ibunya


"Seharusnya begitu. Tapi ini masih pagi, mungkin kakak mu masih dalam pesawat menuju pulang." Jawab Bu Amira


"Jika seperti itu, Alangkah lebih baiknya aku pergi ke rumah kakak sekarang. Mungkin bersama kakak ipar, Aku akan menyambut kepulangan kakak." Ujar Darwin


"Ibu tidak setuju. Biarkan kakak mu istirahat terlebih dahulu beberapa jam. ibu dengar kakak mu tidak suka jika ada orang lain yang datang lalu masuk ke rumahnya di saat ia tidak ada di rumah."


"Tapi, Kan di rumahnya ada kakak ipar. Aku bisa menemui kakak ipar di sana."


"Tidak, Darwin. Kau ini seperti tidak tahu bagaimana kakak mu. Biarkan nanti ibu coba untuk menghubungi Arya, untuk bertanya apakah dia sudah pulang atau belum? Jika sudah ibu akan minta kakak dan kakak ipar mu itu untuk datang ke sini."


"Iya, Ibu. Aku setuju itu." Jawab Darwin senang


"Kau sudah makan, Kan?" Tanya Bu Amira


"Sudah, Bu. Aku makan mendahului kalian, perutku sudah keroncongan dari semalam. maafkan aku, Ibu."


"Tidak, Apa." Jawab Bu Amira


"Ibu, Aku ingin bercerita tentang sesuatu pada ibu!" Ujar Darwin malu-malu


"Ini pasti mengenai wanita. Wanita yang pernah kau temui dahulu, Kan. memangnya kenapa? kau bertemu dengannya lagi?" Ujar Bu Amira


"Ibu selalu tahu lebih dulu sebelum aku memberitahu, ibu."


"Naluri alami seorang ibu adalah selalu memahami apa yang sedang dialami anaknya." Tawa kecil Bu Amira


"Iya, Ibu. Kemarin aku bertemu dengannya kembali di pasar tradisional."


"Pasar Tradisional? Sedang apa kau di sana?" Pungkas Bu Amira terkejut


"Panggilan alam menelpon! Terpaksa aku harus menghentikan mobil saat berada di pasar tradisional, dan segera pergi untuk mencari toilet di sana. setelah selesai dan merasa lebih lega, aku senang karena bisa bertemu dengan wanita itu."


"Cintamu bersemi di pasar tradisional. Dulu ayah dan ibu bertemu di taman, di sana cinta kami bersemi. Tapi kau...hhhh." Kekeh Bu Amira menertawakan anaknya


"Ibu jangan meledekku. Apa salahnya dengan pasar tradisional? Jangan mentang-mentang ibu selalu berbelanja di supermarket, ibu jadi sombong dan menghina orang yang berbelanja di pasar." Pungkas Darwin kesal


"Bukan seperti itu, Ibu hanya merasa lucu saja. Jangan pikir kau menganggap ibu tidak pernah menginjakkan kaki di pasar. ibu ada di posisi saat ini, itu berkat menikah dengan ayahmu. Saat kecil, ibu sering ikut dengan nenekmu ke pasar tradisional membeli barang atau bahan dapur."


"Benarkah? Kenapa ibu tidak pernah menceritakan hal ini?"


"Aku ingin mencoba untuk mendekatinya, dan menumbuhkan rasa cinta dia padaku. setelah itu, aku ingin kita menikah."


"Ibu akan mendukung setiap jalan yang ingin kau ambil." Jawab Bu Amira


"Ibu serius?" Senang Darwin


"Iya. Ibu sangat serius. kejar wanita itu sampai dia berbalik mengejar dirimu." Dukung Bu Amira


"Terima Kasih, Ibu. Aku berjanji wanita yang ku sukai itu tak akan kalah menjadi menantu kesayangan ibu seperti kakak ipar." Ucap Darwin sambil memeluk ibunya sangat erat


"Lepaskan ibu! Ibu sulit bernapas jika kau memeluk ibu seperti ini." Ujar Bu Amira

__ADS_1


"Hehe...Maaf, Ibu. Aku terlanjur sangat senang hari ini. Selain mendapatkan gelar, aku juga mendapatkan pujaan hatiku." Kekeh Darwin


...***...


Setelah seharian penuh sampai pukul 13.00 WIB menghabiskan waktu bersama anak-anak di panti asuhan. Arya dan Dini kembali pulang ke rumah. Saat sampai, Arya mengatakan untuk tidur beberapa jam pada Dini. Karena semalam dia belum tidur sama sekali, ataupun faktor kelelahan lainnya.


Sedangkan Dini, Dia melanjutkan pekerjaan rumahnya yang belum sempat selesai karena pagi hari terburu-buru untuk bersiap ikut bersama Arya.


Ia mulai dari mencuci pakaian dirinya sekaligus pakaian kotor Arya dalam koper yang baru saja pulang dari luar kota, ia mencuci dalam mesin cuci yang terpisah karena kebetulan terdapat 2 mesin cuci.


Satu persatu pakaian diambil dan masuk ke dalam mesin cuci. Awalnya tidak ada masalah kala Dini memasukkan pakaian Arya yang kotor namun, masih tercium bau parfumnya ke dalam mesin cuci dan menganggap itu hal biasa. Namun, kecurigaannya semakin bertambah saat mencium aroma parfum asing yang melekat dari kemeja yang berbeda dengan aroma parfum yang melekat dari kemeja lainnya. Serta noda merah berbentuk bibir bekas lipstik terdapat di bagian kemeja bahunya.


Dini semakin bertambah keanehan saat ia mencium aroma parfum asing di baju kemeja Arya. Ia membandingkan aroma itu dengan aroma parfum di kemeja lainnya. Dan benar saja, aroma parfum itu hanya terdapat di kemeja itu saja. Dini merasa Arya hanya memiliki satu aroma parfum yang selalu ia pakai, dan tidak memiliki parfum dengan aroma seperti itu bahkan setahunya Arya selalu memiliki wangi parfum yang tidak pernah berbeda. Otomatis Arya adalah pemakai Parfum yang setia pada satu merek.


"Tuan, Sama sekali tidak memiliki aroma parfum seperti ini. Wanginya selalu sama dan tidak pernah berubah." Ujar Dini terus menghirup membedakan aromanya


"Tapi, Bagaimana mungkin parfum wangi wanita ini melekat pada kemeja Tuan?" Ujar Dini terus bergelut dengan pikirannya sendiri


"Tidak bisa! Aku tidak bisa berpikir buruk mengenai Tuan. mungkin saja parfum wanita ini menempel saat tuan bersalaman dengan kliennya atau tidak sengaja menabrak seorang wanita saat berjalan."


"Tenangkan pikiranmu Dini! Kau tidak boleh berpikir hal yang buruk terhadap suami mu. Kau sudah tahu jika suamimu itu sekarang sudah berubah dan tidak mungkin akan mengkhianati dirimu lagi." Ujar Dini mencoba untuk berpikir positif


"Tapi, Bagaimana dengan Noda lipstik ini? Ini tidak mungkin menempel secara tidak sengaja pada kemeja, Tuan. Noda ini terlihat jelas dan tidak samar sekali." Ujar Dini semakin bingung antara pikiran negatif dan positifnya


Dalam ruangan mencuci pakaian, Dini terus merenung memikirkan noda lipstik dan aroma parfum wanita itu. Pikirannya tidak dapat dicerna atau menyaring hal-hal positif terhadap suaminya saat ini.


Namun, ia tidak begitu larut dalam pikirannya. Dan tetap berpikir bahwa hal itu memang saja terjadi karena ketidaksengajaan. ia bersih keras bahwa Arya sudah berubah, dan tidak mungkin berbuat macam-macam diluaran sana untuk membuatnya merasa dikhianati. Sehingga ia tidak akan bertanya pada Arya untuk menganggapnya ke arah serius.


Lagipula Arya dan Valerie yang sempat menjalin hubungan sepasang kekasih, sekarang hubungannya sudah kandas dan tidak memiliki hubungan yang terjalin apapun lagi.


Mansion Keluarga Pratama~


"Ibu, Apakah kakak sudah pulang dari luar kota? Bukannya kakak Kembali hari ini." Ujar Darwin yang tengah duduk di sofa ruang keluarga bersama ibunya


"Seharusnya begitu. Tapi ini masih pagi, mungkin kakak mu masih dalam pesawat menuju pulang." Jawab Bu Amira


"Jika seperti itu, Alangkah lebih baiknya aku pergi ke rumah kakak sekarang. Mungkin bersama kakak ipar, Aku akan menyambut kepulangan kakak." Ujar Darwin


"Ibu tidak setuju. Biarkan kakak mu istirahat terlebih dahulu beberapa jam. ibu dengar kakak mu tidak suka jika ada orang lain yang datang lalu masuk ke rumahnya di saat ia tidak ada di rumah."


"Tapi, Kan di rumahnya ada kakak ipar. Aku bisa menemui kakak ipar di sana."


"Tidak, Darwin. Kau ini seperti tidak tahu bagaimana kakak mu. Biarkan nanti ibu coba untuk menghubungi Arya, untuk bertanya apakah dia sudah pulang atau belum? Jika sudah ibu akan minta kakak dan kakak ipar mu itu untuk datang ke sini."


"Iya, Ibu. Aku setuju itu." Jawab Darwin senang


"Kau sudah makan, Kan?" Tanya Bu Amira


"Sudah, Bu. Aku makan mendahului kalian, perutku sudah keroncongan dari semalam. maafkan aku, Ibu."


"Tidak, Apa." Jawab Bu Amira


"Ibu, Aku ingin bercerita tentang sesuatu pada ibu!" Ujar Darwin malu-malu


"Ini pasti mengenai wanita. Wanita yang pernah kau temui dahulu, Kan. memangnya kenapa? kau bertemu dengannya lagi?" Ujar Bu Amira

__ADS_1


"Ibu selalu tahu lebih dulu sebelum aku memberitahu, ibu."


"Naluri alami seorang ibu adalah selalu memahami apa yang sedang dialami anaknya." Tawa kecil Bu Amira


"Iya, Ibu. Kemarin aku bertemu dengannya kembali di pasar tradisional."


"Pasar Tradisional? Sedang apa kau di sana?" Pungkas Bu Amira terkejut


"Panggilan alam menelpon! Terpaksa aku harus menghentikan mobil saat berada di pasar tradisional, dan segera pergi untuk mencari toilet di sana. setelah selesai dan merasa lebih lega, aku senang karena bisa bertemu dengan wanita itu."


"Cintamu bersemi di pasar tradisional. Dulu ayah dan ibu bertemu di taman, di sana cinta kami bersemi. Tapi kau...hhhh." Kekeh Bu Amira menertawakan anaknya


"Ibu jangan meledekku. Apa salahnya dengan pasar tradisional? Jangan mentang-mentang ibu selalu berbelanja di supermarket, ibu jadi sombong dan menghina orang yang berbelanja di pasar." Pungkas Darwin kesal


"Bukan seperti itu, Ibu hanya merasa lucu saja. Jangan pikir kau menganggap ibu tidak pernah menginjakkan kaki di pasar. ibu ada di posisi saat ini, itu berkat menikah dengan ayahmu. Saat kecil, ibu sering ikut dengan nenekmu ke pasar tradisional membeli barang atau bahan dapur."


"Benarkah? Kenapa ibu tidak pernah menceritakan hal ini?"


"Aku ingin mencoba untuk mendekatinya, dan menumbuhkan rasa cinta dia padaku. setelah itu, aku ingin kita menikah."


"Ibu akan mendukung setiap jalan yang ingin kau ambil." Jawab Bu Amira


"Ibu serius?" Senang Darwin


"Iya. Ibu sangat serius. kejar wanita itu sampai dia berbalik mengejar dirimu." Dukung Bu Amira


"Terima Kasih, Ibu. Aku berjanji wanita yang ku sukai itu tak akan kalah menjadi menantu kesayangan ibu seperti kakak ipar." Ucap Darwin sambil memeluk ibunya sangat erat


"Lepaskan ibu! Ibu sulit bernapas jika kau memeluk ibu seperti ini." Ujar Bu Amira


"Hehe...Maaf, Ibu. Aku terlanjur sangat senang hari ini. Selain mendapatkan gelar, aku juga mendapatkan pujaan hatiku." Kekeh Darwin


...***...


Setelah seharian penuh sampai pukul 13.00 WIB menghabiskan waktu bersama anak-anak di panti asuhan. Arya dan Dini kembali pulang ke rumah. Saat sampai, Arya mengatakan untuk tidur beberapa jam pada Dini. Karena semalam dia belum tidur sama sekali, ataupun faktor kelelahan lainnya.


Sedangkan Dini, Dia melanjutkan pekerjaan rumahnya yang belum sempat selesai karena pagi hari terburu-buru untuk bersiap ikut bersama Arya.


Ia mulai dari mencuci pakaian dirinya sekaligus pakaian kotor Arya dalam koper yang baru saja pulang dari luar kota, ia mencuci dalam mesin cuci yang terpisah karena kebetulan terdapat 2 mesin cuci.


Satu persatu pakaian diambil dan masuk ke dalam mesin cuci. Awalnya tidak ada masalah kala Dini memasukkan pakaian Arya yang kotor namun, masih tercium bau parfumnya ke dalam mesin cuci dan menganggap itu hal biasa. Namun, kecurigaannya semakin bertambah saat mencium aroma parfum asing yang melekat dari kemeja yang berbeda dengan aroma parfum yang melekat dari kemeja lainnya. Serta noda merah berbentuk bibir bekas lipstik terdapat di bagian kemeja bahunya.


Dini semakin bertambah keanehan saat ia mencium aroma parfum asing di baju kemeja Arya. Ia membandingkan aroma itu dengan aroma parfum di kemeja lainnya. Dan benar saja, aroma parfum itu hanya terdapat di kemeja itu saja. Dini merasa Arya hanya memiliki satu aroma parfum yang selalu ia pakai, dan tidak memiliki parfum dengan aroma seperti itu bahkan setahunya Arya selalu memiliki wangi parfum yang tidak pernah berbeda. Otomatis Arya adalah pemakai Parfum yang setia pada satu merek.


"Tuan, Sama sekali tidak memiliki aroma parfum seperti ini. Wanginya selalu sama dan tidak pernah berubah." Ujar Dini terus menghirup membedakan aromanya


"Tapi, Bagaimana mungkin parfum wangi wanita ini melekat pada kemeja Tuan?" Ujar Dini terus bergelut dengan pikirannya sendiri


"Tidak bisa! Aku tidak bisa berpikir buruk mengenai Tuan. mungkin saja parfum wanita ini menempel saat tuan bersalaman dengan kliennya atau tidak sengaja menabrak seorang wanita saat berjalan."


"Tenangkan pikiranmu Dini! Kau tidak boleh berpikir hal yang buruk terhadap suami mu. Kau sudah tahu jika suamimu itu sekarang sudah berubah dan tidak mungkin akan mengkhianati dirimu lagi." Ujar Dini mencoba untuk berpikir positif


"Tapi, Bagaimana dengan Noda lipstik ini? Ini tidak mungkin menempel secara tidak sengaja pada kemeja, Tuan. Noda ini terlihat jelas dan tidak samar sekali." Ujar Dini semakin bingung antara pikiran negatif dan positifnya


Dalam ruangan mencuci pakaian, Dini terus merenung memikirkan noda lipstik dan aroma parfum wanita itu. Pikirannya tidak dapat dicerna atau menyaring hal-hal positif terhadap suaminya saat ini.

__ADS_1


Namun, ia tidak begitu larut dalam pikirannya. Dan tetap berpikir bahwa hal itu memang saja terjadi karena ketidaksengajaan. ia bersih keras bahwa Arya sudah berubah, dan tidak mungkin berbuat macam-macam diluaran sana untuk membuatnya merasa dikhianati. Sehingga ia tidak akan bertanya pada Arya untuk menganggapnya ke arah serius.


Lagipula Arya dan Valerie yang sempat menjalin hubungan sepasang kekasih, sekarang hubungannya sudah kandas dan tidak memiliki hubungan yang terjalin apapun lagi.


__ADS_2