Terbelenggu Oleh CEO Angkuh

Terbelenggu Oleh CEO Angkuh
S2 62 - Arsen Kakak Mu!


__ADS_3

"Ansel... Putra ayah..." Arya memeluk erat tubuh Ansel seakan tak ingin melepaskannya. Air matanya semakin mengalir dengan deras tanpa henti.


Arya memejamkan kedua matanya. Menikmati hangatnya pelukan putranya yang kini sudah mengetahui siapakah dirinya yang selama ini sangat ia nantikan. akhirnya ribuan purnama menyembunyikan kebenaran, Arya bisa mendengar Ansel memanggilnya dengan Ayah dan bukan Paman tampan lagi. Ia sangat senang bisa mendapatkan hak itu!


Cukup lama Arya dan Ansel berpelukan hingga akhirnya Ansel melerai pelukan mereka.


"Paman Tampan benar adalah ayahku?" Tanya Ansel dengan wajah yang sudah basah dan tampak masih bingung.


Arya mengangguk, lalu mencium kening putranya. "Ansel adalah anak Ayah. Ibumu dan Ayah adalah kedua orang tuamu." Jawab Arya.


"Ayahku..."


Arya kembali menghangat mendengar panggilan Ayah yang keluar dari bibir mungil putranya.


"Ansel merasa senang?" Tanya Dini


"Sangat senang. Ayah Arya sangat tampan sekali. Aku senang saja." Jawabnya tanpa beban


Dini menghela napas panjang.


Entah mengapa putranya itu sangat mengidolakan sosok Arya begitu dalam dan menganggapnya tampan padahal Ansel pun tidak kalah tampan dengannya.


Dini mengalihkan pandangannya pada Arya yang kini sedang menghapus air mata yang membasahi pipinya. Jujur saja Dini tidak menyangka jika pria berkuasa seperti Arya bisa menangis seperti ini.


"Untuk saat ini sudah cukup bagi Ansel mengetahui jika Arya adalah ayahnya. Aku harap dengan berjalannya waktu Ansel tidak akan bingung lagi atas apa yang dialaminya. Aku juga mengharapkan jika Arsen memanggilku dengan ibu." Batin Dini penuh harap.


Setelah merasa cukup memberikan kebenaran pada Ansel. Perasaanya masih tidak tenang memikirkan bagaimana keadaan putranya yang lain yakni Arsen yang menghilang.


"Jika aku adalah Anak Ayah... Lalu, ayah juga memiliki anak yakni Arsen. Jadi, Aku siapanya Arsen?"


"Ibu akan memberitahu hal ini padamu sekarang. Saat itu Ibu mengandung anak kembar. anak kembar adalah seorang adik kakak yang selalu berdua ketika masih berada dalam perut ibu, dan mereka pun akan terlahir dengan bersamaan di waktu yang berbeda. Dan Arsen, lebih dulu keluar dari perut ibu, maka dari itu dia adalah menyandang anak pertama. Dan juga Ansel terlahir setelah Arsen berhasil keluar dan beberapa menit kemudian Ansel terlahir dari perut ibu yang menyandang Anak kedua. Itu Artinya, ARSEN ADALAH KAKAK MU!!" Ungkap Dini


"Kakak??" Tegun Ansel yang kedua kalinya mendapatkan kenyataan


Dini mengangguk.


"Iya. Arsen adalah kakakmu, Kau sering bercerita pada ibu bagaimana jika kau memiliki kakak yang senantiasa akan menjaga dan bermain denganmu. Kau tak perlu khawatir karena sebenarnya Ansel sudah memiliki hal itu, Arsen adalah kakak yang bisa menjadi teman baikmu. Kalian bersaudara kakak beradik kembar, Dan kau adalah adiknya..."

__ADS_1


"Benar Ansel, Kalian berdua adalah anak-anak kembar kami." Timpal Arya ikut menjelaskan


"Arsen kakak ku! Aku tidak percaya ini. Ternyata aku memiliki seorang kakak, dan dia sangat tampan sekali seperti Ayahku." Ujar Ansel yang membuat semua terkekeh


"Memangnya Ansel tidak tampan? Padahal kalian sama miripnya, dan ketampanan ayahmu menurun pada kalian." Ujar Bu Amira


"Jangan lebih dulu memuji Arya. Arya terlahir dari mu dan juga lihat dulu siapa ayahnya. Arya bisa seperti ini, semua berawal dariku dan akan terus turun temurun." Timpal Pak Barma yang tidak bisa menerima begitu saja


Semua terkekeh dalam keadaan kesedihan satu anggota tak berkumpul ditengah-tengah kebahagiaan.


"Kakek sangat lucu..." Ujar Ansel terkekeh dan perlahan ia mulai memahami anggota keluarganya yang terbukti memanggil Pak Barma dengan sebutan kakek.


"Tapi Kakak ku tidak ada di sini. Kakak sudah dijebak oleh bibi jahat itu, dan kita tidak tahu di mana kakak." Ujar Ansel


"Seharusnya juga aku tak pantas tertawa. Kita semua di sini bahagia, Tapi kita melupakan Arsen yang entah di mana keberadaannya dan bagaimana keadaannya saat ini. Apa dia sudah makan?" Ujar Dini kembali tak tenang memikirkan Arsen


Dibalik suka pasti ada duka. Itulah yang menggambarkan keadaan keluarga mereka saat ini. Mereka terpukul dengan hilangnya Arsen dan belum ditemukan kabar apapun juga.


...***...


Byurr...


Suara air yang disiramkan pada seseorang.


Arsen yang mulai tersadar saat ia merasakan wajahnya tersiram air. Richo menyuruh bawahan nya menyiram wajah Arsen dengan segelas air agar Arsen semakin cepat sadar dari tidur pulas nya yang semalam tak bisa tidur.


Arsen pun langsung terkesiap dan gelagapan, ia tentunya merasa sangat terkejut dan juga takut, saat ia berusaha menggerakkan tangan nya, ia sadar jika tangan nya terikat ke belakang.


Matanya semakin membulat sempurna saat ia melihat seorang pria jahat itu duduk menyilangkan kaki nya dengan santai melihat nya.


Tubuhnya langsung gemetar, Ia pun ingin lari dari sana tapi tidak bisa, matanya melihat ke sekeliling di mana ia berada tidak seperti saat malam tadi, ia berada seperti di ruangan penjara, ruangan kosong yang membuatnya berdigik ngeri karena ia melihat banyak pria bertopeng jauh dipisahkan dengan sesama anak kecil yang menjadi korban penculikan.


"Di mana yang lain? Kenapa aku sendirian di sini?" Tanya Arsen gemetar


"Hahaha... Anak Arya Razvan Pratama sedang bertanya padaku. Apa kau membutuhkan jawaban? Hahaha..." Richo tertawa terbahak-bahak yang menggema di seisi ruangan itu yang seolah mengejek Arsen


"Kau kenal Ayahku? Maka saat dia datang, Kau akan habis bersama teman-teman mu ini." Ucap Arsen berani

__ADS_1


"Diam kau anak kecil!!" Sentaknya


"Ayahmu itu sangatlah bodoh. Aku sudah mengenalnya dari sejak dulu. Beruntung sekali aku bisa bertemu dengan anaknya ini." Ujar Richo meletakkan pistol di wajah Arsen dan pistol itu diajak jalan-jalan menelusuri setiap tubuh Arsen


"Jauhkan pistol mu itu dari tubuhku!!" Teriak Arsen sampai urat rahangnya terlihat


"Hahaha... Kau takut Anak Arya? Anggap saja ini adalah bagian dari kesempatan untuk membalaskan dendam kejahatan ayahmu padaku."


"Ayahku tidak jahat. Dia melakukan semua itu karena kalian penjahat!"


"Coba katakan sekali lagi! Jika kau berani berbicara lagi, maka pistol ini akan menemukan makanannya." Kecam Richo menekankan pistol dan menarik pelatuk di dada Arsen


Pastinya Arsen mencari aman dan tidak ingin mengambil risiko dengan terus diam.


"Kau ingin melihat ku segera menembak? Tidak, Kau memiliki mata yang indah seperti ayahmu. Aku yakin jika dijual maka harganya akan lebih mahal dibandingkan ragamu yang hidup. Apa aku perlu menjual setiap apa yang melekat dalam dirimu ini satu persatu dengan memutilasinya? Maka keuntungan yang akan kudapatkan akan jutaan berkali lipat,,, hahaha..."


"Jangan paman. Aku masih ingin hidup. Aku masih ingin meminta maaf pada ibuku..." Rengek Arsen


"Ya, Ibumu, Ibumu yang cantik gemulai itu. Aku akui kecantikannya melebihi dewi dunia parasnya. Di dunia ini banyak sekali beragam macam perempuan, Tapi ibumu pernah mengguncang hatiku ini. Tapi karena ulah ibumu, Aku dan Valerie mendekam di penjara! Untuk apa dia cantik jika hanya bisa memberi luka." Ungkap Richo yang tidak menyangka jika selama ini orang semacamnya bisa memendam perasaan


Lalu, berkata lagi


"Menurut mu berapa harga dari mata mu?" Tanya Richo dengan seringai di wajahnya, dan membuat Arsen semakin bergetar ketakutan ternyata ia menyukai dan masih membahas mata yang dimilikinya.


Arsen pun langsung menurunkan pandangan nya, ia tak berani lagi melihat ke arah pria jahat di hadapan nya.


"Ma-mata ku jelek... Aku tidak yakin harganya akan mahal! Tak akan laku jika di jual..." Ucap Arsen polos dengan suara bergetar.


"Pffttt.... HAHAHAHA..." Suara tawa Richo yang menggema di seluruh ruangan, ia tak habis pikir bagaimana anak di hadapan nya masih mampu membalas ucapan nya padahal ia sudah hampir mati karna ketakutan.


"A-aku salah apa? Ke-kenapa wanita itu memberikan ku padamu?" Tanya Arsen dengan suara bergetar dan mulai menjatuhkan bulir bening nya karena merasa sangat takut.


"Kau memiliki orang tua yang harusnya tak kau miliki..." Jawab Richo dengan seringai di wajahnya.


Deg...


"Ya, Kau harus membalas dendam kan kejahatan ayahmu padaku. Aku tidak akan membiarkan Arya si brengsek itu bahagia menjalani hidupnya setelah dia membuat hidupku menderita. Ini adalah kesempatan yang tidak datang dua kali dengan membuatmu MATI..."

__ADS_1


__ADS_2