Terbelenggu Oleh CEO Angkuh

Terbelenggu Oleh CEO Angkuh
S2 56 - Bahasa Anak


__ADS_3

Dini berkata Valerie selalu memaksakan keputusannya pada semua orang, dirinya tidak akan membiarkan dia menghancurkan kehidupan keluarganya lagi, Valerie bertekad akan membuat hidup Dini seperti neraka.


Pagi itu, Valerie menyiapkan bekal makanan untuk Arsen yang makanan itu sebenarnya bukan dibuat olehnya melainkan Bu Shani. Valerie mengatakan dia membawa bekal khusus untuk Arsen.


"Arsen, Ibu sudah menyiapkan bekal makanan untuk sekolahmu. Kau ingin membawanya?" Ujar Valerie lemah lembut


Bersamaan dengan itu, Dini datang dari arah dapur dan membawa kotak bekal makanan yang rencananya akan diberikan pada Arsen. Namun, pada saat ia melihat Valerie sedang memberikan bekal yang sama untuk Arsen dan bahkan putranya itu mengambilnya dari tangan Valerie.


"Terima Kasih ibu. Aku sangat senang sekali bisa mendapatkan kotak bekal makanan darimu. Rasa masakan mu pasti sangat enak." Ujar Arsen demikian


"Sama-sama sayang..." Jawab Valerie mengecup lembut pipi Arsen


Arsen pun sama demikian nya sangat senang mendapatkan kecupan dari Valerie yang dianggap ibunya itu.


"Yasudah, Kau boleh pergi sekarang. Ayahmu pasti sudah menunggu di depan." Ujar Valerie


"Aku juga ingin memberikan sesuatu untuk ibu sebelum berangkat." Arsen pun meminta Valerie untuk sedikit menunduk dan ia pun memberikan kecupan di dahi Valerie


"Anak yang pintar. Terima Kasih atas kecupan mu. Ibu sangat senang sekali bisa mendapatkan kecupan dari Arsen yang tampan ini." Tutur kata Valerie yang menunjukkan orang baik


Senyum Arsen terlihat mengembang. Dini yang sedari tadi memperhatikan mereka hanya bisa menghela napas panjang, menatapnya dengan sendu melihat Arsen sedekat itu dengan Valerie. Ia sangat menyayangkan Arsen yang bilamana mengetahui Valerie tidak sebaik itu.


Arsen pun pergi meninggalkan Valerie dan sekilas melihat Dini yang menatapnya sendu. Arsen hanya memasang wajah datar dan tidak memperdulikan Dini.


Terjadi perdebatan di pagi itu.


"Kenapa kau selalu membuat masalah? Aku tahu bekal itu bukan dibuatkan olehmu, tapi Bu Shani. Kau selalu membuat masalah dengan mencari wajah di depan Arsen. Apa kau tidak lelah terus menjalankan sandiwara mu?" Dini mengatakan mengapa Valerie mengambil begitu banyak masalah


"Tidak ada kamus lelah bagi diriku untuk membuatmu menderita melihat Arsen terus membenci ibunya sendiri." Jawab Valerie


"Sudahi sandiwara mu dan lebih baik pergi dari sini." Bentak Dini


"Apakah ada yang peduli? Arsen malah akan semakin membencimu. Suamimu saja tidak peduli jika kau menderita di sini, Dia sibuk bekerja tanpa memikirkan hubungan mu dengan Arsen. Sebaiknya kau saja yang pergi bersama anakmu itu dari sini, Toh ada pria lain yang menunggu kedatangan mu kembali padanya." Imbuh Valerie tetap bicara angkuh


Bu Shani yang di dapur dan mendengar pertengkaran dari luar pun ikut melihat dan rencananya ingin menderai pertengkaran mereka.


Dini melihat wajah Bu Shani. Dini memberi isyarat padanya jika dia tidak apa-apa.


"Tidak ada gunanya berbicara denganmu. Andai saja masa-masa aku bisa menindas mu itu terjadi hingga sekarang, dan Arya masih memperlakukan mu dengan buruk, bagaimana senangnya aku bisa melihat mu terpuruk hidup di dunia ini." Kata Valerie


"Dan andai saja polisi menghukum kejahatan mu dengan hukuman mati. Mungkin dunia ini akan sangat tenang tidak menampung beban manusia jahat seperti dirimu." Balas Dini tak ingin kalah


"Sekarang kau sangat pintar berbicara, Ya. Padahal dulu kau lemah dan tidak mampu melawan ku. Tapi itu tidak ada artinya, di dunia ini aku memiliki Arsen yang akan selalu ada untukku."


Keduanya sangat geram. Dini terlalu terbakar emosi jika harus terus meladeni keserakahan Valerie yang tidak akan ada habisnya terus berdebat dengannya.

__ADS_1


...***...


Di Ruang Tamu~


Di sana terdapat Ansel yang tengah bermain dengan banyak mainan miliknya. Ia memainkan sebuah mobil mainan dan sibuk sendiri bermain dengan mainan miliknya.


Di sana juga terdapat Valerie yang tengah bersantai duduk di sofa tengah memainkan handphone dan juga menopang kakinya tidak sopan di meja.


"Ngeng... Ngeng... Awas mobil ini akan menabrakkk... Dush, Duarrr..." Sibuk Ansel dengan mainan mobilnya


Ansel pun melihat Valerie ada di sana dan mencoba untuk menghampirinya.


"Bibi, Ayo bermain denganku. Jangan terus bermain handphone. Ibuku mengatakan terlalu banyak bermain handphone itu tidak baik, mata bibi akan lelah." Ujar Ansel yang menghampiri Valerie yang sedang asyik bersantai


"Aku bukan anak kecil. Aku juga seorang ibu bagi Arsen, Ibu mana yang di nasihati anak kecil? Seharusnya aku yang memintamu untuk menjauh dariku dan jangan ganggu aku." Bentak Valerie


"Tapi bibi harus beranjak dari sofa ini dan bergerak seperti diriku. Terlalu lama duduk sambil menatap layar handphone bisa menggangu kesehatan."


"Kau siapa, Hah? Kau pikir kau adalah seorang dokter di rumah sakit yang memberitahu banyak kesehatan bagi orang lain? Terserah padaku ingin seperti apa, ini adalah tubuhku, ingin duduk atau berdiri aku akan tetap hidup." Bentak Valerie lagi yang tidak bisa diberitahu


Otaknya terlalu kecil mirip bayi baru lahir yang belum mendapatkan isi oleh ilmu pengetahuan yang luas. Salah Ansel juga yang sudah menasihati orang yang sampai kapanpun akan merasa dirinya paling benar.


Ansel pun memutuskan untuk kembali bermain. Kali ini dia memainkan mainan pesawat terbangnya.


Pesawat terbang itu terbang mengelilingi ruangan itu yang dikendalikan oleh remote kontrol. Valerie sangat terganggu dengan suara bising mainan dan Ansel itu, Tapi dia tetap berbaik hati membiarkan Ansel melakukan sesuka hatinya.


"Yah.. Mainan ku patah!" Pekik Ansel yang melihatnya


"Siapa suruh kau menyimpannya di bawah ku. Bukan salahku mainan mu bisa patah, Ya. Aku ingin berdiri dan mainan mu ini berada di bawah kaki ku." Ketus Valerie


"Baiklah, Tidak apa-apa. Aku akan mengumpulkan uang jajanku lagi untuk membelinya nanti." Kata Ansel


Memang benar, Dini mendidik Ansel dengan sangat baik, walaupun mereka memiliki anggota keluarga yang mampu dan bisa membelikan banyak mainan hanya tinggal meminta, Ansel selalu diajarkan mengenai usaha sejak kecil jika dia menginginkan sesuatu. Ansel sering menyisihkan sebagian dari uang jajannya, hanya untuk membeli mainan baru ataupun barang yang ia inginkan.


Kembali pada Ansel dan mainan pesawat terbangnya yang dimainkan.


Pesawat terbang itu mengalami kesalahan akibat Ansel sedang berbincang dengan Vakerie, Dan Ansel sendiri tidak mengendalikannya dengan remote control. Ibarat seorang Pilot gagal membuat pesawatnya terbang tinggi, ia malah jatuh sampai mengenai kepala Valerie.


Suara Valerie memekik tertimpa mainan terbang yang berbobot berat itu terdengar menakutkan.


Ah... Awww


Refleks ia berdiri dan memegang atas kepalanya.


"Oh tidak, Pesawat ku jatuh mengenai Ibunya Arsen..." Pekik Ansel terkejut

__ADS_1


"Dasar anak kecil tidak tahu diri. Kau sengaja ingin membalas dendam, Ya!" Gertak Valerie bernada tinggi


"Maaf Bibi, Aku tidak tahu pesawat ku akan terjatuh." Menunduk Ansel ketakutan


"Aku sudah memintamu untuk pergi dan jangan menggangguku lagi, Kan? Lalu, Kenapa kau masih bermain dengan mainan sampah mu itu sampai membuatku celaka."


"Bibi saja tadi mematahkan salah satu mainan ku. Bibi sendiri yang menginjaknya..." Balas Arsen


"Kecil-kecil kau sudah berani melawan rupanya. Sama seperti ibumu yang tidak tahu aturan terus melawan ku."


"Aku kan sudah meminta maaf. Aku juga tidak sengaja pesawat itu jatuh." Kata Ansel masih menunduk


"Anak seperti mu harus diberi pelajaran." Valerie mengacungkan tangannya dan hendak akan memukul Ansel


Ansel tak sampai tertampar. Dini datang tepat waktu berhadapan langsung dengan Valerie dan memegang tangannya yang sedang dilayangkan untuk menampar Ansel itu.


"Dia adalah anakku! Kau tidak berhak memukulnya..." Ujar Dini dengan sorot mata tajam dan menghempaskan tangan Valerie kuat


"Anakmu ini sudah kurang ajar. Dia menjatuhkan mainannya sampai mengenai kepala ku."


"Tapi bukan berarti kau harus memukulnya." Gertak Dini


"Hanya itu bahasa yang dimengerti anak-anak. Mereka tidak akan pernah berhenti sebelum di pukul."


"Dia masih kecil. Anak-anak tidak akan mengerti dengan bahasa yang kau maksud itu. Yang ada jika kau memukul dia, dia akan menangis kesakitan, dan bukannya jera, dia akan lebih melunjak. Sampai dewasa nanti, dia akan ingat bagaimana kau memukulnya yang akan terus ia kenang seumur hidupnya hingga dia keras kepala." Marah Dini


"Anakmu saja yang nakal. Dia terus bermain di sini dan menggangguku. Jadi, jangan salahkan aku jika pipinya terdapat bekas tamparan." Masih menjawab Valerie


"Ansel sendiri sudah meminta maaf padamu. Anak-anak akan percaya jika dengan hanya kau memberi maaf, ia sendiri akan mengerti dan tidak akan mengulangi kesalahannya lagi."


"Ansel itu anak kecil. Dia sudah berumur 7 tahun tapi sikapnya masih seperti anak 3 tahun. Memangnya dia tidak malu terus memainkan mainannya hingga dewasa nanti. Seharusnya kau ajarkan dia bersikap dewasa, seperti Arsen yang berwibawa di usianya." Kata Valerie


"Apa yang salah? Mainannya bukan hanya mobil-mobilan dan pesawat terbang, dia memiliki banyak mainan yang bisa melatih mengembangkan motorik otaknya."


"Itulah dirimu yang selalu berbicara dengan berlandaskan ilmu tanpa tahu apa yang seharusnya ia lakukan di seusianya." Ucap Valerie melenggang begitu saja meninggalkan Dini


Dini hanya menggelengkan kepalanya.


"Ansel, Kau tidak apa-apa, Nak? Tidak terjadi sesuatu padamu sebelum ibu datang, Kan?" Ujar Dini berjongkok dan memegang kedua bahu putranya


"Tidak ada Bu. Aku baik-baik saja." Jawab Ansel terlihat lesu


"Maafkan ibu ya, Kau harus mendengar nyonya Valerie memarahi mu. Jika saja ibu terlambat, mungkin kau akan kesakitan akibat tamparannya." Peluk Dini sangat erat pada Ansel


"Aku tidak apa-apa, Bu. Ibu sendiri yang mengatakan akan selalu ada untukku disaat mengalami masalah. Saat ibunya Arsen akan menamparku, Aku tidak takut karena tahu ibu pasti akan datang. Dan benar saja ibu datang." Jawab Ansel menggemaskan yang membuat Dini tersenyum dan kembali memeluknya erat

__ADS_1


Dibalik dinding, Seseorang telah menyaksikan kejadian sedari tadi. Valerie yang terlihat arogan dan juga Dini yang sangat lemah lembut. Ia tertegun merasakan perbedaan dari keduanya, melihat ibu kandung sebenarnya begitu sampai membela anaknya habis-habisan.


"Begitukah kasih sayang seorang ibu kandung? Ansel sangat beruntung bisa dekat dengan ibunya. Seharusnya dia juga adalah ibuku, tapi aku malah membencinya." Gumam Arsen yang merasa menginginkan pelukan dari Dini


__ADS_2