Terbelenggu Oleh CEO Angkuh

Terbelenggu Oleh CEO Angkuh
187. Rujak


__ADS_3

3 Bulan Kemudian~


Di usia kandungan Dini menjadi 7 bulan dan Valerie 8 bulan.


Selama 3 bulan lebih sudah Arya melewati dan menjalani hidupnya tanpa ada sosok Dini di rumahnya. sebenarnya kehadiran Dini sangat penting bagi keseharian hidup sehari-harinya. Itu terlihat dari dia yang selama 3 bulan ini tak seceria bahkan kembali seperti dulu dengan Arya yang lebih dingin, arogan, murung, tanpa ekspresi, dan kini menjadi tambah marah-marah.


Sedangkan sepertinya keluarga Pratama menjaga dan memperlakukan Dini baik-baik dalam mansionnya yang saat ini terlihat bahagia bahkan tubuhnya lebih berisi akibat kehamilannya, namun tidak gemuk seperti kebanyakan ibu hamil lain.


"Sudah cukup ibu, aku tidak bisa menampung makanan ini lagi dalam perutku. tubuhku sudah gemuk seperti ini."


"Eitss,,, siapa yang mengatakan sudah gemuk. kau masih terlihat ramping hanya saja tubuhmu lebih berisi karena bahagia." Ujar Bu Amira terus menyuapi Dini makanan


"Tidak, tidak, Aku sudah kekenyangan." Ucap Dini penuh dengan makanan di mulutnya


"Tapi bayimu harus tetap makan dari suapan pamannya." Darwin langsung memasukkan makanan ke mulut Dini saat terbuka


Hal itu langsung di respon gelagat tawa Bu Amira dan Darwin yang melihat kondisi muka Dini yang penuh dengan makanan di mulutnya.


Di sisi lain,


"Presdir, bisakah ana mempercepat tanda tangannya. divisi bagian sedang menunggu di luar untuk segera di berikan pada klien." Ucap


"Bisakah kau melihat apa yang sedang aku lakukan sebelum berkata sesuatu! Apa kau tidak sedang melihat jika aku sedang berusaha menyelesaikan tanda tangan di setiap lembar dokumen yang banyak ini." Marah Arya


"Maaf Presdir, Hanya saja jika klien menunggu lama, kita akan kehilangan pelelangan ini." Ujar karyawan itu


"Jangan berlagak so pintar dihadapan ku. Apa kau sudah bosan bekerja di sini sampai mencari masalah denganku?" Emosi Arya


"Maaf Presdir, Silakan dilanjutkan." Ujarnya menciut


Dengan emosi Arya menandatangani dokumen tersebut.


"Dulu dia sudah memperlakukan karyawannya sangat baik. Tapi sekarang dia kembali seperti dulu bahkan lebih parah." Gumam Karyawan


Dan,


"Aku akan segera datang. Minta klien itu untuk menunggu sebentar." Ucap Arya dalam telepon ada Darwin sambil berjalan tergesa-gesa di koridor perusahaan


Dan tak sengaja dari arah berlawan ada seorang karyawan wanita yang berpas-pasan dengannya, kesalahan Arya sendiri yang tak melihat jalan sampai mereka saling bertabrakan.


"Apa kau tidak memiliki mata untuk melihat jalan, hah? Kau seenaknya berjalan seolah jalan ini milikmu!" Hardik Arya


"Maaf Presdir, saya tidak sengaja." Ucap Karyawan wanita itu ketakutan. dia tahu jika di sini Arya yang sebenarnya salah, namun nyalinya ciut untuk melawan


"Gara-gara dirimu aku terlambat 3 menit." Hardiknya kembali dan segera bergegas pergi


"Akhir-akhir ini Presdir Arya selalu marah-marah. bagaimana karyawannya bisa senang bekerja di sini jika pemimpinnya saja terlalu kasar." Sedih karyawan itu


Lagi,


"Buatkan aku teh!" Perintah Arya pada office girl


Setelah teh itu datang dan ia meminumnya.


Baru saja menyeruput, Arya sudah menyemburkan teh itu sampai mengenai office girl itu.

__ADS_1


Byurr...


"Cuihh... Teh macam apa ini, hah? Jika kau tidak bisa membuatnya katakan dari awal. jangan hanya menurut dengan hasil yang tidak memuaskan!" Hardik Arya lagi


Banyak sekali rekan dan karyawan yang menjadi korban kemarahan Arya dalam waktu bersamaan. mereka sangat tertekan dan tersakiti akibat hardikan nya. jika bukan hanya gaji tinggi, mereka sudah keluar dari sejak awal.


...***...


Siang hari~


Darwin pergi ke luar mengendarai mobilnya, namun saat pulang ia menentang sebuah kantung dan menghampiri Dini yang sedang duduk di sofa ruang keluarga dengan sedang menonton televisi lalu, memberikan kantung tersebut pada Dini.


"Apa ini??" Tanya Dini sampai mengerutkan dahinya


"Ambil saja. Kau akan tahu sendiri." Ucap Darwin sambil tersenyum-senyum


Dini pun meraih kantung itu dan membukanya.


"Rujak? Kau membelinya untukku?" Tanya Dini antusias


"Jika buka untuk mu, siapa lagi? Sesuai pengetahuan ku, ibu hamil selalu menginginkan sesuatu di masa kehamilannya atau yang sering disebut mengidam. Apa kau juga seperti itu?" Pertanyaan Darwin yang membuat Dini merenung


"Sebenarnya selama usia kehamilanku menginjak 4 bulan, ada rasa keinginan tinggi yang timbul dalam diriku.mungkin aku memang termasuk ibu hamil yang mengalaminya juga." Kata Dini seketika sedih mengingat kenangan dia bersama Arya dulu yang mengidam bersamanya


"Kakak pasti selalu menuruti keinginan mengidam mu." Kata Darwin


"Tentu saja, dia menjaga bayinya dengan sangat baik. Tapi tidak! Tuan, tidak pernah mengetahui apa yang aku inginkan dari setelah dia mengajakku ke taman hiburan saat itu. Aku masih ingat saat itu aku menginginkan sebuah puding, dan tuan membelikannya untukku.selama mengidam, sebagian keinginan ku tidak pernah terpenuhi karena aku tidak ingin merepotkan nya." Kata Dini semakin sedih dan murung


"Jadi, selama ini kau menderita? Kenapa kau tidak terus mengatakannya pada kakak.jika bukan untuk mu, dia bisa melakukan itu untuk anaknya." Geram Darwin


Setelahnya mereka tidak saling berbicara, Darwin hanya sedang merasa geram terhadap Arya yang tidak memperlakukan baik Dini saat hamil. Sedangkan Dini sibuk memakan rujak yang ia idamkan.


Darwin merasa kasihan dan sedih pada Dini yang sedang memakan lahap rujak yang ia belikan untuknya dengan menatap nanar.


"Ini enak sekali. Terima Kasih karena sudah membelikan rujak ini untukku." Kata Dini yang senang dan berterima kasih pada Darwin yang masih frustasi terhadap perilaku kakaknya


"Kapan kau mengidam Rujak?"


"5 Hari yang lalu. Bahkan Beberapa bulan ke belakang saat masih bersama dengan Tuan."


Pernyataan Dini membuat Darwin tersiksa.


"5 hari kau menahan rasa keinginanmu? Aku tidak tahu apa yang kau rasakan selama itu dengan mengidam yang berbeda-beda. Yang ku ketahui seorang ibu hamil tidak pernah bisa menahan rasa mengidam nya hanya 1 menit, dan hal itu tidak mengenal waktu pada waktu malam atau siang. DAN KAU BISA MENAHANNYA? Din, Why you can do it?" Pungkas Darwin yang benar-benar tidak habis pikir


"Itu bukan masalah bagiku.buktinya aku bisa menahannya sampai sekarang dan lolos dari rasa mengidam." Kata Dini menjawabnya dengan santai padahal lawan bicaranya kelimpungan


"Aku tidak bisa mengerti apa yang ada dalam dirimu sebenarnya."


"Tapi kau sudah menuruti keinginan ku, Bukan?" Kata Dini


"Dan kau senang?" Tanya Darwin


"Bukan aku, tapi keponakanmu yang senang dan berterima kasih pada pamannya." Ujar Dini sambil tersenyum manis pada Darwin


Melihat Dini tersenyum padanya membuat kefrustasian Darwin menghilang dan merasa lebih tenang dari emosinya.

__ADS_1


"Jika seperti itu, kenapa kau tidak membelinya sendiri setiap kali kau mengidam?"


"Aku tidak memiliki uang sama sekali, sepeserpun tidak." Kata Dini dengan tersenyum


"Kau benar-benar membuatku semakin membenci kakakku sendiri.istri dan anaknya menderita, dia malah sibuk dengan wanita lampir itu." Kata Darwin


"Jangan seperti itu, dia adalah kakakmu. Jangan hanya karena aku kau membencinya. Aku tidak apa-apa."


"Lain kali jika kau menginginkan sesuatu, kau hubungi aku atau ibu agar aku bisa membelikannya untukmu." Ujar Darwin


"Akan ku usahakan." Jawab Dini


"Oh, tidak. Air bumbu rujaknya tumpah mengenai pakaian ku." Kejut Dini yang tidak memperhatikan saat memegang rujak itu


Dengan gerak cepat Darwin mengambil tissue di jok belakang mobil. Setelah itu, Dengan segera ia berusaha mengelap tumpahan bumbu rujak itu.


"Ini kesalahanku yang tidak berhati-hati. Sofanya jadi kotor juga tertumpahi sedikit bumbunya." Kata Dini bersalah


"Tidak apa. Saat seorang wanita hamil pasti memiliki keunikan yang selalu ia perbuat karena sifatnya manja." Kata Darwin yang masih mengelap


"Jadi, kau mengejekku manja?" Cetus Dini menjadi sensitif


"Selain manja, ibu hamil juga akan sensitif." Kekeh Darwin


Pernyataan Dini membuat humor perubahannya saat hamil memang menjadi sangat sensitif. Berbeda dengan dulu yang tenang dan penuh dengan kesabaran.bisa dikatakan Darwin memahami betul apa yang terjadi pada ibu hamil.


"Nanti aku akan mengantarkan mu ke kamar agar bisa mengganti pakaianmu. karena jika dalam keadaan hamil besar seperti ini ditakutkan akan terjadi sesuatu saat harus menaiki anak tangga." Ujar Darwin yang sudah selesai mengelap


"Iya, Terima Kasih." Jawab Dini


"Apa kau masih ingin memakan rujaknya?" Tanya Darwin


"Iya, Entah kenapa aku belum merasa puas."


"Baiklah." Darwin mengambil rujak itu dari tangan Dini dan menyuapinya


"Ini! Buka mulutmu saja, Aku yang akan menyuapimu agar bumbu rujaknya tidak tumpah lagi." Kata Darwin yang buah rujak itu sudah berada di depan mulut Dini


"Tidak perlu. Aku bisa sendiri." Kata Dini yang menolak


"Aku tidak ingin jika sofa milik ibuku menjadi semakin kotor dan juga lengket." Bercanda Darwin agar membuat Dini terbelenggu


Karena paham, Dini perlahan membuka mulutnya dan memakan buah rujak itu dari suapan Darwin. Sekilas penglihatannya menjadi tidak normal karena muncul wajah Arya dari sosok Darwin yang kala itu jelas bersamanya.


Dalam penglihatan dan benaknya berpikir jika saat ini Arya sedang menyuapi dirinya, maka dari itu dalam imajinasinya ia merasa senang dengan mengunyah pelan sambil tersenyum menatap suaminya.


Darwin yang mengira jika Dini benar-benar sungguh tersenyum padanya, Semakin membuat jantungnya berdebar kencang.


Tanpa disadari Dini tersadar akan imajinasinya yang salah mengira bahwa Darwin adalah Arya.


Ia memalingkan wajahnya dari tatapan Darwin yang penuh arti dengan merasa malu.


"Maaf. Aku tidak sengaja, Jangan berpikir aneh-aneh terhadapku." Kata Dini yang sudah sadar dan sekaligus merasa malu


Darwin semakin senang melihat Dini tersipu malu. pipinya seperti tomat yang membuatnya menjadi lucu.

__ADS_1


__ADS_2