
Pukul 01.00 dini hari.
Dini sedang semakin gelisah, karena hingga saat ini, suaminya belum juga pulang sejak kepergiannya pagi hari. Dia sudah mencoba berkali-kali menghubungi Arya, tapi ponselnya tak aktif.
"Tuan belum juga pulang sampai saat ini, padahal waktunya sudah larut malam seperti ini.aku harus menghubungi siapa? haruskah menelpon Adiknya? tidak, tidak. aku takut nanti tuan akan marah. atau Tuan Damar? Ck, masalah apalagi ini."
"Ya, Tapi sebaiknya aku menghubungi Tuan Damar. siapa tahu jika mereka memang sedang bersama mengurus masalah pekerjaan." Kata Dini langsung mengambil handphone dan mencari nama Damar lalu menelponnya
Diuntungkan waktu yang sudah larut sekalipun, Handphone Damar masih aktif dan dengan sigap Damar menjawab telepon dari Dini.
"Iya, Halo!" Kata Damar
"Tuan Damar, Apakah Tuan Arya ada sedang bersama denganmu? Sampai saat ini dia belum juga pulang. Jika memang pekerjaannya belum selesai, bisakah tolong beritahu dia untuk memberitahunya lanjutkan saja nanti." Ujar Dini
"Tuan Arya? Tapi Nona Dini dari pukul 7 malam tadi Tuan Arya sudah meninggalkan perusahaan. Saya pikir Tuan sudah selesai dan pulang ke rumahnya."
"Pukul 7 tadi?? Tapi sampai saat ini Tuan Arya belum pulang juga, Dia tidak ada di rumah ataupun kamarnya. Lalu, ke mana perginya dia?" Kata Dini yang semakin gelisah
"Saya juga tidak tahu ke mana Tuan Arya pergi selarut ini. Anda tidak perlu khawatir, saya akan mencoba untuk mencari tuan saat ini juga." Kata Damar
"Iya, tolong cari tahu keberadaan tuan. Jika sudah menemukan informasi keberadaan Tuan Arya, tolong beritahu saya nanti." Kata Dini terdengar khawatir
"Iya, Baiklah." Jawab Damar
Ding...Dong...
Sibuk dengan pikirannya sendiri, Dan telepon yang belum dimatikan. Di sela menelpon, Dini tersentak ketika suara bel dibunyikan dan terdengar mengejutkan.
"Tunggu dulu, Tuan Damar. mungkin itu Tuan Arya sudah pulang, anda tidak perlu mencarinya." Kata Dini yakin kembali berbicara dalam telepon dengan Damar
"Semoga saja itu benar Tuan Arya. Jika memang benar tuan, beritahu kembali saya nanti, Nona Dini."
"Baiklah, akan ku pastikan dan menghubungi mu lagi nanti." Jawab Dini
Panggilan telepon pun ditutup.
__ADS_1
Dini segera berlari menuju pintu dan membuka.
Ceklekk...!!
Dibalik pintu menampilkan wanita cantik.
"Kau...Siapa??" Tanya Dini
"Nona, Maaf. Tapi ini..." Bicara wanita itu
"Tuan Arya!!!" Pekik Dini melihat suaminya dan segera membantu wanita itu memapah Arya ke dalam
Dini membaringkan tubuh Arya pada ranjang di kamar Arya dibantu dengan wanita tadi karena dia tak akan kuat jika harus memapah tubuh atletis Arya ke kamarnya di lantai 2 jika sendiri.
"Terima Kasih karena sudah mengantarkannya pulang." Ujar Dini
"Sama-sama, Nona." Jawab Wanita itu
"Kebetulan aku belum mengenalmu." Kata Dini
Dini mengangguk mengiyakan.
"Sekali lagi terima kasih. Aku tidak memiliki sesuatu untuk membalas kebaikanmu." Ujar Dini
"Sama-sama, Nona. Anda tidak perlu repot-repot, jika begitu saya permisi." Pamit wanita itu
"Jika aku bisa mengendarai mobil, akan ku pakai untuk mengantarkan mu. Tapi sayangnya aku tidak bisa."
"Tidak perlu, Nona. saya membawa mobil dan dengan mobil itu saya bisa mengantar tuan ini. terima kasih banyak atas tawarannya. Saya permisi."
"Baiklah jika begitu. Berhati-hatilah! sekali lagi terima kasih." kata Dini
Wanita itu pun segera pergi dari rumah Arya.
Dini menoleh cepat mendengar gumaman Arya.
__ADS_1
Dilihatnya, Arya masih dalam posisi tertidur. sepertinya baru saja suaminya mengigau, Dini menghampirinya untuk memperbaiki posisi tidur suaminya agar tetap nyaman.
Dengan telaten dia melepaskan sepatu yang masih terpakai dengan kakinya. Saat ingin menyelimuti tubuh Arya, amat tercium aroma alkohol yang menyengat dari baju kemejanya dan membuatnya pusing. selain itu juga tercium aroma parfum wanita yang menempel bersamaan dengan itu, terdapat noda merah yang susah untuk diartikan menonjol sedang dari kemeja putih Arya.
"Jangan tinggalkan aku! wanita itu yang mengganggu kita, dia yang merusak hubungan kita, aku tak pernah menginginkan pernikahan ini, aku akan segera menceraikannya, aku membencinya, dan aku, mencintaimu Va-."
Ucapan Arya terpotong ditengah kesadarannya, rupanya dia sudah kembali tertidur. Dini sempat menghentikan pergerakannya untuk mendengar perkataan suaminya.meskipun dalam keadaan mabuk dan tak sadar, perkataan Arya mampu membuat perasaan Dini tak karuan.
Tanpa memikirkan ucapan Arya, Dini melangkah pergi menuju sofa yang terdapat dalam kamar Arya dan mengambil selimut untuk dirinya tidur di sana. Bagaimana pun belum lama ini dia sudah tidur di kamar Arya, dan karena Arya sedang mabuk, tidak memungkinkan bagi dia untuk tidur disamping Arya.
Paginya, Arya terbangun dan memegang kepalanya yang terasa berdenyut dan tubuhnya yang sangat teramat sakit dan pegal dirasakannya.
"Aaargh...pusing dan sangat sakit sekali." Ringis Arya
"Tuan, kau sudah bangun?" Dini datang dari arah dapur dengan nampan ditangannya
"Makanlah! selagi masih hangat aku buatkan sup penghilang pengar untukmu." Kata Dini
"Siapa yang membawaku pulang?" Tanya Arya
"Aku juga tidak tahu. Tapi seorang wanita baik hati membantu semalam kau yang mabuk, jadi dia yang mengantarkan mu pulang." Jawab Dini
Dini sedikit linglung melihat Arya yang tiba-tiba berdiri dan hendak pergi.
"Tuan, kau ingin ke mana? Sup nya harus dimakan lebih dulu selagi hangat." Kata Dini
"Mandi. Aku akan ke kantor." Jawab Arya dingin
"Tapi kau belum sehat betul. istirahatlah sehari dulu di rumah." Usul Dini
Arya diam tak menjawab, terus melangkah menuju kamar mandi di kamarnya.
"Baiklah. Jika begitu makanlah sup ini nanti setelah tuan selesai mandi."
"Iya, Aku akan memakannya nanti." Jawab Arya sambil mengambil handuknya
__ADS_1
Dini hanya tersenyum mendengar Arya yang tidak menolak dan menurut dengan perkataannya. Hal itu membuat Dini senang dan semakin mencintai suaminya. ia semakin yakin jika perkataan Arya semalam adalah mengigau dan tidak benar-benar mengatakannya sepenuh hati, dia berpikir otak memorinya masih menangkap masa lalu dulu yang bersih keras menolak ketidakhadirannya